Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Ikhlas


__ADS_3

Selang sedetik kemudian, suara hangat Tante Nafisah menyapa Mega. Suara hangat yang membuat Mega merasa akan mudah menyayangi perempuan itu sebagai ibu keduanya. Ya, Mega harus tawadhu untuk menjadi anaknya.


Dada Mega berdebar sejenak. Tante Nafisah berbicara panjang tentang unek-uneknya. Ia dengan leluasa mengungkapkan kebahagiaan setelah Dika menemukan calon istri.


"Mega harus sabar ya kalau Dika anaknya mood swings. Mega harus jadi Superwoman saat nanti Dika nggak bisa diandalkan dalam banyak urusan. Umi hanya ingin Mega dan Dika saling sabar."


Dika menatap uminya yang juga kini mendaratkan padangan pada wajahnya. Mata sang ibu terlihat membendung lautan air mata. Dika tahu itu bukan kesedihan. Itu adalah kebahagiaan seorang ibu.


"Mohon sambung doanya untuk ana dan Kak Dika ya Tante," balas Mega sembari mengelap air matanya. Momen sakral yang selalu dinanti orang tua adalah hari bahagia sang anak. Rasa haru dan bahagia itu amat membuat hatinya didera rasa syukur. Tak lupa hatinya memintal doa. Semoga diberi kelancaran proses menuju kebaikan itu.


"Panggil Umi ya Meg, jangan Tante lagi."


"Nggeh, umi," lirih Mega.


"Satu lagi yang ingin umi sampaikan. Mega dan Dika harus belajar ikhlas ya. Ikhlas itu bukan hanya ucapan. Tapi benar-benar diilhami dari hati. Kehidupan pernikahan itu tidak mudah. Bisa teramat berat ujiannya, maka dari itu Mega dan Dika harus sama-sama mau belajar. Tholabul Ilmi. Bahkan sampai sekarang umi dan abinya Dika juga masih belajar setiap detik."


Sembari mendengarkan setiap kalimat dari uminya, Dika merasakan tangan halus uminya menyentuh pipi. Dika segera mencium tangan itu. Tangan yang sejak ia lahir selalu menyentuhnya dengan cinta. Dika juga yakin tangan itu pula yang selalu ditengadahkan untuk bermunajat kepada Allah.


Perlahan, mata Dika juga berembun. Ia teringat betapa banyak dosa yang ia lakukan pada perempuan malaikatnya ini. Sejak kecil ia merengek, membuat kesal, berkata melukai atau bahkan dengan sadarnya.


Batin Dika kini berkecamuk hebat. Ia belum pernah merasa sangat berdosa seperti ini.

__ADS_1


****


Malam ini, Fatimah kembali tersungkur di atas sajadah. Hatinya yang terluka berharap belas kasih Allah dalam mengurangi rasa nyeri luar biasa. Bahkan tadi sebelum merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kalimat kecil dari lisan suaminya kembali menggores kalbunya.


"Sudahlah, Tim. Kita harus lebih sabar lagi. Lihat Ning Rere tempo hari, bahkan ia yang sudah jelas-jelas tidak mampu memberi keturunan untuk suaminya, bisa begitu berbesar hati mencarikan istri kedua untuk suaminya. Kita harus mengambil ibroh dari kesabarannya," ujar Gus Ali berniat menenangkan Fatimah masih perihal kegundahan Fatimah tentang momongan.


Tapi, alih-alih menjadi penenang, kalimat itu justru diterima Fatimah sebagai isyarat jika Gus Ali ingin ia seperti Ning Rere untuk ikhlas mencarikan jodoh kedua demi hadirnya momongan.


Fatimah masih membisu, tidak menjawab. Setelah suaminya tertidur, Fatimah yang tadinya pura-pura memejamkan mata segera beranjak dari tempat tidur.


Hingga kini, Fatimah masih menangis di atas sajadah. Rasanya begitu sakit saat Gus Ali mengatakan tentang istri kedua. Mungkin urusan momongan yang belum hadir saat ini memang menjadi masalah besar bagi rumah tangganya.


"Yaa Rabb, jika memang ana tidak sempurna, mengapa Gus Ali harus berkata begitu?" lirihnya dengan rasa perih di hati.


"Fatimah? Ya Allah!" pekik Gus Ali sembari meraup tubuh istrinya yang menangis tersedu-sedu. Sangat pilu. Kini Gus Ali bingung.


Di benaknya muncul tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya terjadi pada Fatimah? Apa yang membuat istri sholehanya itu hingga menangis seperti ini?


Apakah masih tentang keturunan? Bagaimana Gus Ali harus menjelaskan berkali-kali bahwa keturunan itu adalah hak mutlak Allah. Kepala Gus Ali kini terasa berat. Fatimah dalam rengkuhannya belum juga ada tanda-tanda tangisnya akan reda.


Memilih diam sembari mengelus pucuk kepala Fatimah, Gus Ali membiarkan Fatimah menangis. Meluapkan kesedihan demi kesedihan yang ia rasakan.

__ADS_1


Mungkin memang butuh waktu lama. Gus Ali tak peduli, ia akan tetap berada di samping istrinya. Malam ini mungkin tidak akan terlupakan bagi keduanya. Dalam keheningan, sepasang suami istri itu merasa saling asing. Sang istri tak mampu mengerti maksud suaminya. Dan lelaki penuh ilmu itu lupa menata hatinya sebelum mengeluarkan kalimat dari lisannya.


Tak lama kemudian, Fatimah menghentikan tangisnya. Rasa dalam dadanya sudah memuncak. Biarlah keluar dari lisannya segala gundah dan ketakutan yang ia pendam. Biarlah ia dengar langsung jika memang Gus Ali ingin keturunan yang rahimnya tak mampu wujudkan.


"Fatimah, istri ana yang dimuliakan Allah, maafkan Mas jika belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Ana juga masih belajar bersamamu," ungkap Gus Ali setelah tangis Fatimah selesai dan wajah sendu itu terus menunduk.


Gus Ali mengecup ujung kepala Fatimah. Melihat perempuan yang ia nikahi setahun yang lalu tetap diam dan tidak mengucap sepatah katapun, Gus Ali berduka. Apa kali ini ia tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya? Apakah kali ini ia tidak mampu membesarkan hati istrinya?


"Bicaralah, Tim. Mas tidak bisa melihat anti begini." Kini Gus Ali menyentuh pipi Fatimah. Berusaha mencari cahaya di mata perempuan yang telah bersedia menemaninya ini.


"Mas minta maaf jika selama menjadi suami anti tidak bisa membahagiakan anti," akhir Gus Ali lesu.


"Mengapa Mas membandingkan ana dengan Ning Rere? Sedangkan Mas bahkan kuajak ke dokter tidak mau?"


"Ya Allah, Tim. Kapan Mas membandingkan anti dengan wanita lain? Bahkan tidak pernah terbersit sedikitpun untuk begitu."


"Percayalah Tim, Mas tidak pernah dan tidak ingin melakukan hal itu," ulang Gus Ali berusaha meyakinkan Fatimah.


"Tapi hari ini Mas melakukannya."


"Maafkan Mas jika menurut anti Mas melakukannya, Tim. Maksud Mas tidak begitu. Mas bermaksud mengingatkan tentang sabar dan ikhlas. Bukan membandingkan. Jangan salah paham, Tim."

__ADS_1


Melihat ketulusan di mata Gus Ali, kini ganti Fatimah yang malu. Apakah dirinya begitu bengkok sehingga terbawa nafsunya?


Astaghfirullah. Hanya kalimat itu yang kini ia dengungkan dalam hati. Malah kini Fatimah merasa bersalah telah menuduh suaminya begitu buruk. Padahal ia tahu suaminya adalah orang berilmu. Dan keluhuran ilmu itu akan membuat tentram yang memandangnya dengan ilmu juga. Seperti itulah yang diajarkan kedua orang tua Fatimah, umi Afin dan Abi Adi. Tapi hari ini ia harus merasa malu karena melupakan satu pengetahuan itu.


__ADS_2