Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Keadaan Dika


__ADS_3

Dika membuka mata dan tidak terkejut saat melihat tembok putih. Ia pasti berada di rumah sakit. Benar saja saat menengok, ia mendapati seorang perempuan yang duduk di sampingnya.


"Mega?" Dika terkejut. Ia berusaha ingin duduk tapi kepalanya terasa sedikit pusing. Walau begitu Dika tidak ingin cengeng atau merasa perlu dikasihani.


Dengan menahan pusing di kepala, Dika beranjak dari tempat tidurnya. Mega terkejut dan khawatir dengan keadaan lelaki di depannya.


"Kak Dika masih sakit, jangan bangun dulu," ujarnya menahan tangan Dika.


Dika tidak menjawab, ia hanya melihat wajah Mega sekilas. Hatinya terasa hangat karena perlakuan Mega. Tapi saat ia teringat Bu Tata, perempuan yang selalu ada dalam impiannya, Dika langsung menepis tangan Mega.


"Lepasin."


Mata Mega langsung menatap ke dalam manik hitam pria di depannya. Mega merasakan sakit di hatinya saat Dika melepas tangannya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mega belum pernah seperti ini pada siapapun.


"Maaf, maksudku kita bukan muhrim," lanjut Dika merasa ucapannya tadi mungkin saja menyakiti hati Mega.


"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Dika mencari topik pembicaraan lain.


"Iya, ana dengar ada kecelakaan tidak jauh dari kost, jadi ana lihat ternyata Kakak yang kecelakaan." Mega menunduk.


Sebenarnya kondisi Dika tidak parah. Hanya kepalanya yang terbentur setir mobilnya harus diperban. Selain itu tidak ada luka lain.


Dika tidak tahu harus mengatakan apa. Ia diam saja. Begitupun Mega yang tidak menemukan bahasan lain. Dika hanya duduk di ranjang rumah sakit dengan mengedarkan pandangannya.


"Assalamualaikum." Seorang ibu-ibu menyingkap gorden pemisah ruang.


"Waalaikumsalam." Mega langsung menghampiri wanita itu dan menyaliminya.


Walau awalnya ragu, wanita yang melahirkan Dika itu menerima perlakuan sopan wanita yang ia yakini telah menolong anaknya yang terkena musibah itu.


"Oh, jadi anti yang menolong Dika? Syukron ya, nak, ...."


"Mega, Tante."


"Iya, terimakasih banyak ya Mega." Wanita itu tersenyum tulus kepada Mega. Melihat perawakan Mega, ia jadi teringat dirinya sendiri dulu ketika masih mondok.


Lalu wajah wanita itu berubah garang ketika menatap putra semata wayangnya yang tidak pernah berhenti membuat masalah.


"Apalagi sih mau antum, Nak? Kenapa selalu buat masalah?" tanya ibunya itu dengan emosional.


"Umi nggak habis pikir, antum kuliah nggak beres-beres. Tiap saat selalu bikin masalah. Antum mau umimu ini mati muda? Ha?" Wanita itu menjewer telinga Dika tanpa ampun. Bahkan tidak perduli meski mereka sedang berada di UGD.

__ADS_1


Mega kaget dan hanya mematung melihat anak dan ibu itu. Di matanya, ibu dari Dika yang membahasakan dirinya umi, berarti wanita itu memiliki pengetahuan agama yang bagus. Sedikit mengherankan jika Dika ternyata tidak mewarisi sedikit kelembutan atau itikad baik ibunya.


"Aduh, ampun, Bu." Dika akhirnya membuka suara. Di depan wanita yang melahirkannya, Dika tidak bisa berkutik.


Sedangkan Mega kembali dibuat heran saat Dika memanggil ibunya dengan sebutan ibu. Padahal setahunya tadi wanita itu menyebut dirinya umi. Mega jadi sedikit penasaran dengan hubungan antar anak dan ibu ini. Seperti ada yang tidak beres. Tapi apa dayanya yang bukan siapa-siapa.


"Yasudah, umi nggak mau tahu ayo pulang. Nggak parah kan?"


"Iya, Bu."


Dika berdiri dan segera mengikuti langkah ibunya. Sedangkan Mega masih berdiri di tempatnya. Lalu merasa bodoh karena menunggu Dika mengajaknya pulang. Bukankah itu hal yang mustahil? Mega jadi tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.


Tak lama kemudian, Dika benar-benar kembali mencari Mega. Mereka bersitatap sebentar.


"Aku antar pulang ya."


"Tapi antum kan masih sakit, ...."


"Jangan khawatir, bukan ada pak sopir kok."


Mega mengangguk dan mengikuti langkah Dika. Di dalam mobil, Dika duduk di depan, di samping pak sopir. Sedangkan Mega duduk di belakang bersama uminya Dika. Mega diam saja tidak berani berbicara. Apalagi ibunya Dika sedang menerima telpon.


Lalu ibunya Dika tertawa dengan orang di seberang telepon. Tak lama kemudian panggilan diakhiri saat sebelumnya ibunya Dika mengatakan alamat rumahnya.


"Siapa sih Bu? Kayaknya seneng banget?"


"Ada, deh. Nanti antum pasti tahu," balas ibunya sengaja membuat Dika kesal.


"Jangan antum antum an deh, Bu."


"Ya ini hasil didikan Abah antum, coba dari dulu antum nurut sama umi mau dipondokin, nggak akan jadi bandel kayak gini."


"Kok nyalahin ayah sih?"


Mata Mega melebar mendengar percakapan Dika dan ibunya yang terlihat tidak terlalu harmonis ini. Dari masalah kecil, panggilan saja Dika dan ibunya tidak sepakat. Mega berpikir jauh, pasti dua orang ini sering adu mulut.


"Sudahlah, Bu. Kayak orang biasa aja, panggilannya ibu dan ayah. Nggak usah maksa Dika buat panggil Abah atau umi. Kuno banget." Dika mengomentari kembali kalimat ibunya.


"Tuh kan, ya ini yang umi nggak suka. Antum itu nggak bisa diatur. Persis sama Abah antum. Biar saja nanti antum sama Abah antum ketemu Pakdemu, biar dicuci itu otak."


Mega terus mengamati bagaimana perselisihan antara ibu dan anak itu. Bahkan ia tidak lagi keberatan didiamkan. Karena memang lebih seru melihat mereka beradu pendapat.

__ADS_1


"Pakde? Mau ke sini? Tumben?" Akhirnya suara Dika sedikit melunak. Wajahnya juga tidak sekesal tadi.


Diam-diam Mega memperhatikan wajah Dika yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dika terlihat sedikit cemas mengetahui Pakdenya akan datang.


"Iya, biar antum dinasehati, biar lurus. Masak jadi anak selalu nyusahin. Nggak pernah sekalipun bikin umi bangga."


"Udah dong, Bu. Jangan cerewet terus. Dika pusing dengernya." Dika menyentuh kepalanya yang memang terasa pening saat ibunya berbicara.


"Ya ini, sifat buruk abahmu yang nurun."


Setelah merasa perdebatan itu tidak akan sampai ujungnya, ibunya Dika mengalihkan pandangannya pada Mega. Ia merasa tidak enak mengabaikan Mega.


"Nak Mega teman sekampus Dika ya?" tanya ibunya Dika berubah ramah dengan gadis di sampingnya itu.


"Naam Tante, bahkan kami sekelas." Mega berusaha sangat hati-hati menjawab pertanyaan ibunya Dika.


"Apa anti anak pondokan?"


Mega mengangguk. Mungkin merasa melihat aura santri di wajah Mega.


"Naam, Tante. Ana pernah nyantri di Ngantang."


"Wah, Ngantang. Tante juga punya sahabat pondok yang rumahnya sana. Bahkan sekarang jadi budenya Dika. Makanya anti santun sekali, tuh Dik. Cari istri itu yang pernah nyantri, biar bisa diajak susah seneng."


"Apa sih, Bu. Bahas istri melulu," balas Dika dengan jengkel.


"Tante boleh minta nomor anti, Meg?"


"Boleh Tante."


Mega mengeluarkan handphonenya lalu mendiktekan nomor teleponnya. Tak lama kemudian handphone di tangan Mega berdering sebentar.


"Simpan nomor Tante ya, barangkali nanti Tante minta tolong buat ngawasin Dika."


Mega terkejut dengan ucapan ibunya Dika. Tapi ia berusaha memasang wajah biasa.


"Maaf Tante, boleh tahu namanya?" tanya Mega hati-hati karena takut menyinggung.


"Nafisah."


Mega bergerak lincah di keyboard handphonenya lalu menyimpan nomor ibunya Dika dengan nama itu.

__ADS_1


__ADS_2