Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Ujian Kesetiaan


__ADS_3

Malam begitu gelap. Saat ini Gus Ali duduk di atas sajadah. Menengadahkan tangannya untuk menguntai doa. Akhir-akhir ini beban perasaannya sedikit bertambah. Ini semua karena mimpi yang demikian mengganggu.


Gus Ali hanya menghirup napas dalam saat menyadari kini imannya sedikit lemah. Jika ia tak bisa membawa diri, menaklukan nafsu perasaannya berarti ia sedang tidak baik-baik saja.


Lekas-lekas Gus Ali memohon ampunan. Melewati detik demi detik dengan istighfar. Hingga ia larut dalam munajatnya dalam diam.


“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).


Gus Ali terus mendalami wiridnya. Berusaha menyatukan jiwanya untuk tunduk dalam muhasabah.


Tak terasa, malam bergulir. Hingga dinihari yang hening Gus Ali terhenyak. Bayangan yang baru saja mampir di netranya begitu jelas.


"Yaa Rabb, inikah jawaban atas doaku? Inikah waktu yang tepat?"


Gus Ali membuka matanya. Memikirkan berulang apa yang nampak di depan matanya. Fatimah, saudari dari Siti Aisyah telah siap menjadi bagian dari hidupnya. Meski penyatuan yang mendadak itu akan sedikit membuat rasa kesal Fatimah padanya.


Tak banyak yang tahu bahwa Gus Ali telah mendapat pertanda sejak masih kecil. Sejak mimpi itu datang, Gus Ali kecil pernah memimpikan bersanding dengan gadis kecil bernama Fatimah yang memiliki saudar kembar Siti Aisyah.


Apa yang mampu dikatakannya saat kecil itu seakan menjadi angin segar bagi Pak Kyai. Gus Ali adalah anak terkecilnya, ada keinginan dalam dirinya yang telah sepuh menikahkan anak ragilnya sebelum berhadapan maut.


Dan saat Gus Ali kecil mengungkapkan kalau dia akan menikah dengan gadis bernama Fatimah, Pak Kyai langsung saja mencari gadis itu.


Dan waktu berjalan tak seperti yang diinginkan. Pak Kyai ingin Gus Ali segera mengakhiri masa lajangnya, sedangkan Gus Ali yang telah menanam cinta untuk Fatimah masih diombang-ambingkan takdir.


Beberapa kali ia melihat sosok Fatimah tak menarik. Atau bahkan Fatimah nampak tak layak untuknya. Untuk menjadi seorang Ning yang kelak bertirakat tanpa henti demi santrinya.


***


"Kapan le?" tanya Pak Kyai kepada Gus Ali saat keduanya baru turun ngaji pagi.


"Bah, Ali belum mau nikah."


Tanggapan Gus Ali membuat nyeri hati Pak Kyai. Sebenarnya dzahirnya sudah lelah. Sudah merasa ingin beristirahat, tapi sayangnya ada perkara yang mengganjal. Ingin segera mengentaskan anak bungsunya ini.


"Ati-ati lek ngomong, biyen sopo sing njaluk Fatimah?" Suara Pak Kyai bergetar. Cukup terkejut dengan respon anaknya.


"Ngapunten, Bah. Tapi Ali lihat Fatimah dereng siap." Gus Ali memalingkan pandangan. Tak ingin tertangkap mata tua Abahnya yang jelas penuh pengharapan.


"Wong lanang kuwi pantang ngedol omongan. Isuk dele sore tempe, ga patut le. Pisan njaluk Fatimah yo kudu dinikahi. Opo ora mesakke wong tuwone biso wirang?"


Pak Kyai tak mau kalah. Kali ini ia menatap tajam putranya. Ingin menunjukkan kekuatannya pada sang anak. Sekali-kali Pak Kyai tak ingin dibantah.


"Kalau Abah masih maksa nikah sekarang, mending Ali pergi dari pondok."

__ADS_1


Gus Ali kalah dengan egonya. Masih menuruti nafsu untuk tidak patuh dengan orang tuanya. Padahal dirinya juga tahu bagaimana Pak Kyai marah atau memaksakan kehendak demi putra-putrinya.


"Opo ono wadon liyo sing ngganggu atimu?" tanya Pak Kyai serius. Melihat putranya itu menolak perjodohan, seolah menunjukkan karakter buruk putranya.


"Mboten wonten, Bah," jawab Gus Ali lemah.


Sesungguhnya memang ia tak memiliki cinta lain selain Fatimah, tapi ia belum siap untuk menggapai cintanya. Apalagi Fatimah terlihat begitu cuek padanya.


"Mari lulusane Fatimah, ndang lamaran," putus Pak Kyai lalu berlalu di hadapan Gus Ali yang melongo.


Lulusan tinggal sebulan lagi. Jadi ia hanya punya waktu sebulan untuk pendekatan dengan Fatimah? Kepalanya mendadak pening. Membayangkan Fatimah terkejut saat lamaran, apalagi ada hal yang begitu mengganggu pikirannya. Yaitu sebuah tradisi yang masih ia anggap tidak berdasar.


Jika ditanya mengapa tak siap menikahi Fatimah, Gus Ali akan menjawab ia tak. punya keberanian untuk melaksanakan tradisi setelah ijab itu. Membayangkan saja ia sudah bergetar.


Wajah Gus Ali sudah sedemikian masam. Ditambah seorang santri putri yang kini menghadang jalannya. Berani sekali gadis ini? Pikir Gus Ali.


"Assalamualaikum, Gus." Mega benar-benar tak memberi ruang untuk Gus Ali menghindar darinya.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Gus Ali cuek.


Ia memang sangat menjaga perasaan cintanya pada Fatimah, hingga membuat batas untuk dirinya berkomunikasi dengan lawan jenis.


"Ana ingin meminta bimbingan kepada antum, Gus," tambah Mega sambil memainkan ujung jilbabnya.


Gus Ali meraup wajah. Merasa muak dengan pemikiran dan hatinya sendiri yang kadang tak mampu menjangkau pemikiran orang lain. Tak bisa pula mengira-ngira perasaan orang lain padanya.


Meski perasaan wanita yang selalu berada di dekatnya itu sangat kentara berharap pada Gus Ali, Gus Ali tetap tak mau tahu.


"Ana sibuk. Afwan." Gus Ali menangkupkan kedua tangan di depan dada. Berharap ujian kesetiannya pada Fatimah kali ini dengan mudah ia hindari.


Saat ada kesempatan, Gus Ali segera berjalan melewati Mega yang terus berbicara tentang dirinya.


"Lho, Gus saya kok ditinggal?" teriak Mega tapi tidak dihiraukan Gus Ali.


Sesampai di depan ndalem, Gus Ali terperangah melihat mobil mewah di halaman rumahnya. Tak biasanya tamu Pak Kyai datang dengan menunjukkan banda dunya yang gemerlap.


Gus Ali sedikit curiga. Tapi ia tak mau menduga-duga. Matanya segera melebar saat melihat sebuah motor datang dari arah barat.


Dadanya kini bergemuruh melihat siapa yang kini turun dari sepeda motor itu. Gus Ali sontak salah tingkah. Ia sama sekali gak memiliki ancang-ancang untuk bertemu orang penting hari ini. Bukan pejabat, melainkan orang penting dalam hidupnya kelak.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Gus." Suara umi Afin begitu halus.


"Waalaikumsalam, umi dan abah tumben sowan ke ndalem?" Gus Ali memasang senyum. Berusaha mencairkan sendiri rasa groginya.

__ADS_1


Sedangkan Afin dan Adi yang dipanggil Abah dan umi saling berpandangan. Kedua heran, tapi juga ada rasa bahagia yang menguat.


"Cuma mau sowan, Gus."


Afin yang kini menunduk meremas tangan suaminya. Ia masih sangat kesal dengan ustaz Adi karena menyembunyikan hal besar darinya.


"Pareng, umi, Abah." Gus Ali mempersilakan kedua orang tua Fatimah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sayangnya kedua orang tua Fatimah itu memilih berhenti sebelum mencapai pintu karena melihat mobil mewah yang terparkir di depan ndalem.


"Sepertinya Pak Kyai sedang ada tamu penting, Bah. Apa kita balik aja?" tanya umi Afin pada suaminya.


"Gus, sepertinya kami kembali pulang saja. Lain kali saja kalau Pak Kyai sedang senggang," pamit ustaz Adi pada Gus Ali yang terlihat salah tingkah.


"Ngoten, ngggeh, Bah, mi?" Gus Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nggeh, Gus. Pareng."


Sebelum umi Afin dan ustaz Adi yang notabene orang tua dari Fatimah berpamitan lalu akan kembali ke motor yang mereka tumpangi, Gus Ali segera menghampiri mereka. Tak apa cari muka di depan calon mertua.


"Ngapunten, umi, Abah. Barangkali tamunya Abah kali ini hanya sebentar. Daripada pulang lagi mending bisa menunggu di depan," pinta Gus Ali sembari tetap memasang senyum.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Gus Ali masuk ke dalam rumah.


Semua mata yang ada di dalam ruang tamu segera melihat sosoknya sembari menjawab salam.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


"Kebetulan, ini ada anaknya. Rene, Li."


Pak Kyai meminta Gus Ali mendekat dan duduk di sampingnya. Tepat di seberang sepasang suami istri yang nampak berbisik-bisik melihat Gus Ali dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Ngganteng, Pa. Pantesan Mega kepincut," kata ibu-ibu sosialita dengan tas bermerk di sampingnya itu.


"Iya, Ma. Kalau kayak gini, papa juga mau ngelamar duluan," balas sang suami yang memakai jas dan setelan mahal. Sangat nampak kalau dia seorang bos besar di sebuah perusahaan.


"Ngene le, Pak Anton dan Bu Anton ke sini mau melamarmu, untuk anak mereka yang bernama Mega."


Bagai tersambar petir di siang hari, Gus Ali merasakan tubuhnya menegang. Jadi mereka orang tua dari Mega yang tadi menghadang jalannya?


Gus Ali menatap Abahnya, masih bingung karena Abahnya tak langsung menolak lamaran untuknya. Bukankah Pak Kyai sudah tahu kalau Ali hanya mencintai Fatimah?


Wajah Gus Ali membuat senyum walau sangat sulit. Baru kali ini ada orang yang melamarnya dan harus dijawabnya sendiri.

__ADS_1


Tak hanya soal dirinya. Tapi juga kehormatan Abahnya kini berada di ujung lidahnya. Kalau ia menolak dan membuat mereka tersinggung, Gus Ali tahu akan ada bencana yang terjadi.


__ADS_2