
Fatimah bangun dengan hati yang terasa berat. Semalam tidak ada pesan satupun dari Gus Ali. Entah mengapa rasanya ada yang kurang.
Fatimah juga teringat tentang Haikal. Ia tak habis pikir bagaimana bisa laki-laki yang pendiam itu ternyata calon suaminya. Betapa pandai sekali Haikal menyembunyikan diri.
Huft. Fatimah mendengkus kesal. Baru sehari saja Gus Ali tidak menyapanya, Fatimah sudah merasa hidupnya tidak lengkap. Lalu bagaimana ia melupakan Gus Ali? Sepertinya Fatimah memang telah jatuh hati dengan ustaznya itu.
Terdengar ketukan pintu membuyarkan lamunan Fatimah. Suara uminya terdengar nyaring. Fatimah segera melompat dari tempat tidur setelah melihat jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul lima.
'Telat subuhan. Pantesan umi gedor-gedor pintu.' Pikir Fatimah segera membuka pintu dan menunjukkan wajah bersalahnya pada umi Afin.
"Fatim, ayo subuhan. Kok bisa terlambat sih?" tanya uminya masih mengenakan mukena.
"Iya, Mi." Fatimah menunjukkan deretan giginya. Lalu segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh.
Satu rakaat, Fatimah masih bisa khusyuk. Namun di rakaat kedua ia gagal fokus hingga melupakan qunut. Jadi sebelum salam, Fatimah segera melaksanakan sujud sahwi. Sujud yang dilakukan karena melupakan salah satu gerakan atau bacaan wajib sholat.
Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw.
Maha Suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.
Setelah itu baru Fatimah membaca tahiyat akhir dan salam. Seusai sholat, zikir, dan wirid, Fatimah terdiam sesaat. Hatinya terasa tidak tenang. Ia tidak bahagia meski akhirnya mengetahui kalau yang akan melamarnya adalah Haikal.
"Nduk, ada apa? Kok sepertinya ada yang dipikirkan?" tanya umi Afin menyadari sejak tadi anaknya banyak melamun.
"Enggak, kok, Mi. Cuma tadi kurang tidur aja, jadi masih agak ngantuk."
Kening umi Afin berkerut. Heran sekaligus curiga karena Fatimah yang biasanya selalu semangat sekali sholat subuh, kini akan kendor.
Belum lagi wajah Fatimah yang terlihat sangat terbebani. Jangan-jangan Fatimah memikirkan perjodohannya sampai tidak bisa tidur? Pikir umi Afin. Tapi ia tak mau mengorek informasi lebih dalam selagi wajah putrinya itu tidak bersahabat. Bisa-bisa watak buruk Fatimah yang menurun darinya akan kembali muncul. Apalagi kalau bukan uring-uringan tak peduli dengan siapapun itu.
"Ya sudah, Fatim ke kamar ya, Mi. Mau belajar lagi. Nanti kan ujian kelulusan." Fatimah mencoba tersenyum meski dengan wajah kaku.
Di kamar Fatimah segera mengecek handphone-nya, barangkali Gus Ali mengiriminya pesan. Tapi nihil. Wajah Fatimah kembali murung. Ternyata Gus Ali tidak menghubunginya sama sekali.
"Ya sudah kalau memang nggak we-a sama sekali. Aku juga bisa kok melupakan Gus Ali. Toh jodohku Haikal," omel Fatimah pada dirinya sendiri.
Selanjutnya Fatimah menyibukkan diri dengan belajar. Tak lupa ia banyak-banyak berdoa. Setidaknya membaca Ummul kitab, yaitu Al-Fatihah.
Pukul 06. 30 Fatimah berangkat ke sekolah. Hari ini ia harus berjuang keras. Seluruh kemampuannya harus dikerahkan. Hari inilah penentuan hasil belajarnya selama tiga tahun.
***
Di tempat lain, Gus Ali duduk di meja makan bersama Pak Kyai Huda, Ning Faza, dan Gus Badar. Mereka menikmati sarapan yang dihidangkan Ning Faza.
Kondisi Pak Kyai sudah mulai normal meski wajahnya masih kuyu. Seperti yang sudah ia inginkan, Pak Kyai tetap tersenyum dan seperti biasa. Gus Ali akan berangkat ke Surabaya, dan Pak Kyai sangat mendukung itu.
"Li, timbang uangmu wingi kok kasihkan keluarga calonmu, mending titipkan Mbakmu, biar dibelikan seserahan lamarannya," ucap Pak Kyai setelah selesai meminum obat yang diberikan Gus Badar.
"Nggeh, Bah." Hanya dua kata singkat itu yang dikatakan Gus Ali. Hatinya yang belum tenang seperti semula, membuat Gus Ali tak siap berangkat.
Drrrrttt. Sebuah panggilan masuk ke handphone Gus Ali. Nama Tata muncul di layar. Tak sengaja nama itu terbaca sekilas oleh Pak Kyai.
"Halo, Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Ali, kamu jadi berangkat hari ini?" tanya di seberang.
Sebelum menjawab, Gus Ali melihat di sekitarnya. Meyakinkan diri bahwa Pak Kyai baik-baik saja dan ada Ning Faza di rumah, Gus Ali menghela napas sebelum mengambil keputusan.
"Iya, Ta. Saya berangkat hari ini."
Diam-diam Pak Kyai Huda lega karena anaknya itu mau berangkat ke Surabaya. Setidaknya akan banyak hal baru yang membuat Gus Ali belajar. Tapi melihat nama wanita yang menghubungi Gus Ali saat ini, Pak Kyai Huda sedikit cemas. Jangan sampai anaknya itu kecantol cewek kota.
"Ya sudah, sampai ketemu di sana. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Panggilan terputus. Pak Kyai Huda menatap anaknya. Lalu berdehem. Ia ingin memastikan kalau anaknya tidak berpindah ke lain hati meski nanti di kota banyak cewek cantik.
"Li, ojo lali. Sasi ngarep tanggal Pitu, moleh Yo lamaran," peringat Pak Kyai Huda sambil menepuk pundak anaknya.
"Insyaallah, Bah."
Sebenarnya bukan tanpa alasan Gus Ali mengatakan insyaallah, tapi karena ia ragu bisa pulang di hari itu. Di tanggal itu artinya tak sampai dua minggu lagi. Bagaimana mungkin Gus Ali baru dua Minggu di Surabaya lalu kembali ke Ngantang? Yang ada boros diongkos.
Gus Ali menatap Abahnya dalam-dalam. Di hatinya ia terus memanjatkan doa agar masih diberi waktu untuk membaktikan diri pada Abahnya. Satu-satunya orang tua yang dimilikinya kini.
"Napo?"
"Abah nggak apa-apa Ali berangkat ke Surabaya?" tanya Gus Ali sangat dramatis. Bahkan Ning Faza dan Gus Badar merasakan atmosfer sedih ketika anak dan bapak itu saling menatap penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ono Mbakmu, Ojo kuatir."
"Nggeh, Bah." Gus Ali menahan tangisnya. Sungguh hatinya berat meninggalkan Abahnya.
Setelah itu Gus Ali pergi ke kamarnya, mengambil amplop yang tempo hari ditolak orang tua Fatimah. Ia menyerahkan kepada Ning Faza.
"Ndek kene wes ngelamar anak e uwong, sing ati-ati ndek Suroboyo," pesan Ning Faza sambil menerima amplop dari adiknya.
"Nggeh, Mbak. Pasti." Gus Ali tersenyum. Ia jadi ingat kalau belum mengabari Fatimah. Baru saja akan mengambil handphone, suara deru mobil terdengar di depan rumahnya.
Tiiiiinnnn. Suara klakson membuyarkan konsentrasi Gus Ali yang akan mengabari Fatimah. Akhirnya Gus Ali sibuk menyiapkan keberangkatannya. Mulai dari menyiapkan bawaannya hingga berpamitan dengan kang ndalem yang selama ini banyak membantunya.
Saat tiba berpamitan dengan Pak Kyai, Gus Ali tak bisa menahan air matanya. Ia memeluk erat pria tua yang rambutnya sudah memutih sebagian itu.
"Bah, Kulo nyuwun pangestune." Gus Ali berkali-kali mengusap matanya yang basah.
Sedangkan Pak kyai berusaha tegar. Berusaha bijak sesuai usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Iyo, Li. Ati-ati yo, adoh Paran. Sing eleng marang Gustine."
Gus Ali mengangguk, lalu beralih berpamitan kepada Ning Faza dan suaminya. Lalu sosok Haikal terlihat paling menunduk. Gus Ali segera menghampiri muridnya itu. Ada keheranan karena ia terlihat paling sedih atas kepergian Gus Ali.
Begitu Gus Ali di depannya, Haikal mencium tangannya berkali-kali. Gus Ali menarik tangannya dan memeluk Haikal. Tak menyangka Gus-nya itu akan memeluknya, Haikal menangis tersedu. Teringat bagaimana Gus Ali selalu memberikan pengetahuan yang berarti.
"Wes, Kal. Ojo lebay."
"Dalem mboten lebay, Gus. Dalem sedih harus berpisah sama Gus."
"Oh Iyo, titip Fatimah yo."
Haikal menghentikan tangisnya. Ia ingin menolak tugas itu, tapi ia tak mampu. Biarlah dia menjadi bodyguard Fatimah. Mata Haikal tak sengaja mengedar dan melihat sosok wanita berjilbab di dalam mobil yang menjemput Gus Ali.
"Gus, Gus, itu siapa?" tanya Haikal pada Gus Ali. Matanya masih belum beralih dari pemandangan gadis yang sibuk dengan handphone-nya itu.
"Itu Tata, dia dosen juga. Kebetulan habis penelitian di Malang, jadi aku sekalian bareng," jelas Gus Ali menatap heran mata Haikal yang berbinar.
"Kenalin dong, Gus."
"Hush, antum fokus sekolah dulu. Jangan mikir perempuan." Entah mengapa Gus Ali merasa perlu memperingatkan Haikal. Mungkin cukup dirinya saja yang merasakan beratnya godaan cinta. Layaknya dia sendiri yang berusaha menghilangkan bayang-bayang Fatimah dengan susah payah.
"Astaghfirullahalladzim." Haikal langsung memalingkan wajahnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Gus Ali hanya bisa melambaikan tangan sembari menatap wajah orang-orang terkasihnya dari dalam mobil. Wajah-wajah itu mulai hilang saat mobil menyala dan dijalankan oleh Tata, teman Gus Ali.
"Ta, apa aku boleh minta tolong?"
"Apa Li?"
"Bisa kita mampir ke Madrasah dekat jalan itu? Ana mau pamit sebentar sama ustaz di sana."
"Oke."
Sesampai di depan Madrasah, mobil berhenti dan Gus Ali muncul di balik pintu. Secara kebetulan Fatimah bersama Mega sedang lewat di depan gerbang setelah memfotokopi rumus-rumus matematika.
"Eh, eh. Itu Gus Ali, kan?" tanya Mega.
Keduanya menghentikan langkah. Fatimah otomatis memandang ke arah yang dimaksud temannya itu. Hatinya terasa terbakar melihat Gus Ali berbicara dengan wanita di dalam mobil. Mereka nampak akrab sekali.
Berbeda dengan Mega yang terlihat lebih santai mengetahui Gus Ali bersama gadis lain. Toh dia sudah ditolak oleh Gus Ali. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya bermuhasabah dan memperbaiki diri. Siapa tahu nanti dapat jodoh yang lebih baik.
"Iya."
"Sama siapa tuh?" pancing Mega lagi.
"Ya nggak tahulah, mungkin calonnya. Atau mungkin sudah istrinya," jawab Fatimah sekenanya. Ia masih sibuk dengan hatinya yang tiba-tiba sakit.
"Yaudah ayo ke kelas, bentar lagi bel masuk lhoh."
Kedua santri itu segera meneruskan perjalanan ke kelas. Kebetulan posisi Gus Ali yang sedang berbincang dengan Tata membelakangi gerbang Madrasah. Jadi tak melihat saat Mega dan Fatimah melewati mereka.
"Yaudah, aku masuk dulu ya." Gus Ali membalikkan badannya.
Menghadap ke bangunan sederhana tempatnya mengajar, Gus Ali jadi teringat saat-saat bertemu Fatimah. Apalagi kemarin, saat Fatimah terpergok membuntutinya.
Gus Ali melangkah masuk ke ruang ustaz. Ia perhatikan setiap sudut sekolah ini. Barangkali nanti ia akan merindukannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Gus Ali menginjakkan kaki di ruang ustaz. Sudah pasti tujuannya menemui ustaz Adi. Secara kebetulan orang yang ia cari sedang duduk membaca karya ilmiah dari para siswa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Gus Ali?" Ustaz Adi berdiri menyambut calon suami anaknya itu. Meski ia sedikit heran dengan pakaian yang dikenakan Gus Ali. Ia bahkan jarang sekali melihat Gus Ali memakai pakaian kasual yang membuat aura mudanya begitu bersinar.
"Ustaz, saya mau minta maaf karena kemarin mengirim Haikal untuk, ...."
"Tidak apa-apa, Gus. Mungkin Gus lupa. " Ustaz Adi memotong percakapan.
Gus Ali merasa cukup beruntung karena tanpa banyak berbicara, calon mertuanya itu sudah memahami maksud kata-katanya.
"Ngomong-ngomong Gus Ali mau kemana? Kok trendy sekali?" tanya ustaz Adi tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Saya mau berangkat ke Surabaya, Bah."
"Kok mendadak?"
"Tidak, Bah. Tapi memang pihak kampus butuh tenaga pendidik cepat." Gus Ali memandang ustaz Ali. Kesedihan juga merayap di hatinya.
"Hati-hati di sana ya, Gus," pesan ustaz Ali menatap haru Gus Ali. Entah mengapa hatinya juga merasakan kehilangan ustaz muda yang biasanya selalu jadi tempat tukar pikiran itu.
"Nggeh, Bah. Saya titip Fatimah, ya ustaz. Semoga dia sabar menunggu saya dan juga berhasil dalam pendidikannya."
"Iya, Gus. Semoga Gus sehat selalu di sana. Tolong jaga diri dan jaga hati."
"Nggeh, Bah. Semoga Abah, umi, dan keluarga selalu dalam lindungan Allah."
Keduanya lalu saling berpelukan. Lama sekali keduanya saling melepas rasa syahdunya perpisahan. Walau begitu keduanya harus belajar menerima perpisahan itu. Gus Ali harus belajar berpisah dengan Abahnya, sedangkan ustaz Adi harus belajar berpisah dengan Fatimah meski belum terjadi.
Berpisah dengan orang yang dikasihi memang sangat berat. Tapi hakikatnya kita memang akan berpisah dengan segala yang disenangi di dunia. Hanya dengan Allah yang tidak berpisah. Maka butuh waktu yang lama untuk mempelajari itu.
"Ya sudah, Bah. Saya minta doa restunya."
Gus Ali lalu mencium tangan ustaz Adi. Sontak ustaz Adi terperangah. Merasa tak pantas manusia biasa seperti dirinya dicium tangannya oleh seorang Gus. Tapi ia tak ingin merusak momen perpisahan ini.
"Hati-hati ya, Gus."
"Iya, Bah. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Gus Ali melangkah keluar dari kantor ustaz. Ingin hatinya membawa langkah ke kelas dimana Fatimah belajar dan hari ini melaksanakan ujian. Tapi terpaksa ia lawan keinginan itu karena melihat jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul sembilan.
Perjalanan dari Ngantang ke Surabaya itu hampir enam jam. Jika Gus Ali tidak segera berangkat, ia dan Tata akan sampai di Surabaya hampir sore hari. Itu akan sulit baginya mencari rumah kontrakan.
Gus Ali mempercepat langkahnya kembali ke mobil. Ia tak enak hati jika terlalu lama di Madrasah ini. Selain karena ia sudah tidak mengajar di sini, juga karena sungkan kepada Tata yang telah bersedia menumpanginya ke Surabaya.
"Ayo, Ta. Kita berangkat."
Gadis di depan kemudi menoleh dan membuat wajah mengejek Gus Ali. Tata memang sudah lama mengenal Gus Ali. Empat tahun saat Gus Ali hijrah ke Surabaya untuk menuntut ilmu.
"Kok tambah ngeledek?" tanya Gus Ali merasa aneh dengan respon temannya ini.
"Enggak, Li. Cuma heran aja, antum mau mengajar di Madrasah ini, tapi kok butuh waktu berpikir untuk ngajar di kampus kita?" tanya Tata memerhatikan Gus Ali duduk di bangku belakang.
"Jangan lihat pekerjaan dari gajinya, Ta."
"Lalu dilihat dari apa?"
"Dari berkahnya."
"Apa berkahnya antum ngajar di Madrasah?"
"Dekat sama calon istri dan calon mertua."
Gus Ali tak menyadari perubahan di wajah Tata saat Gus Ali mengatakan calon istri. Baginya tak ada yang perlu ditutupi. Bahkan sejak masih duduk di bangku kuliah, Gus Ali juga sudah mengatakan kalau dirinya sudah memiliki calon istri. Makanya Tata hanya bisa menjadi teman. Ia tak bisa melewati batasannya karena Gus Ali tak pernah mengijinkan siapapun masuk ke dalam hatinya.
Padahal jika diingat, Tata adalah anak salah satu dosen di Surabaya. Bahkan kabarnya karena link itu juga Tata bisa menjadi dosen juga di sana. Tata dulu juga menyukai Gus Ali, bahkan sempat sangat dekat dengan Gus Ali. Sayangnya Gus Ali langsung menyadari perasaan Tata yang lebih kepadanya. Dan Gus Ali menceritakan tentang perjodohannya.
Sejak itulah Tata membunuh angannya untuk merebut hati Gus Ali. Dia tahu kalau Gus Ali tidak akan mungkin menduakan hati seorang gadis.
***********************************************
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.
Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗
Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.
Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.
__ADS_1
Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏