
Braakk. Aku dan Mas Rois segera bangkit. Kami tidak melihat siapapun di depan rumah. Kecuali sebuah pot bunga yang pecah.
Tak lama kemudian, seekor kucing liar berjalan dengan santainya.
Aku berusaha berkhusnuzon. Semoga saja memang kucing yang telah memecahkan pot bunga itu.
Semoga saja bukan kucing kepala hitam. Kecurigaan Afin semoga mulai reda. Semoga, semoga, dan semoga. Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Aku dan Mas Rois kembali masuk ke dalam rumah. Melanjutkan perbincangan kami yang terputus karena suara kucing.
"Ana tahu kalau nikah muhallil ada di dalam Al-Qur'an, Mas. Tapi hukum undang-undang belum shahih," terangku ragu-ragu.
Jika ditanya dalam hati kecilku, aku pasti memilih tidak melakukan nikah muhallil. Sungguh tidak ingin melakukannya.
"Ana mohon, Di. Siapa lagi yang bisa ana minta bantuannya?" Wajah Mas Rois kembali memelas.
"Ana tidak ingin menyakiti istri ana." Aku bersikeras.
"Ana tahu itu, Di."
"Lantas mengapa Mas Rois masih berharap pada ana? Jika Mas sudah tahu kalau ana tidak bisa membantu?"
Mas Rois tidak menjawab, ia diam seribu bahasa. Sudah tidak menemukan kata-kata untuk membujukku.
"Siapa lagi yang bisa ana mintai pertolongan?" Mas Rois terlihat frustasi.
"Afwan, Mas. Ana benar-benar tidak bisa membantu banyak."
Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada. Rasanya ingin segera kembali pulang. Memeluk dan menemui Afin. Bagaimanapun juga dia istriku.
Memetik hikmah dari rumah tangga Mas Rois dan Mbak Nusaibah yang runtuh, semoga aku bisa lebih menjaga kalimatku.
"Ya sudah, Di. Ana tak mungkin memaksamu."
Wajah Mas Rois kembali muram. Ia sudah tidak berdaya. Pukulan berat bagi laki-laki adalah mengecewakan seseorang yang dicintainya.
Mataku menatap jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul dua puluh dua. Hampir jam sepuluh malam. Dan aku harus segera pulang.
"Afwan, Mas. Ana harus segera kembali ke rumah."
Aku berdiri dan bersiap melangkah keluar dari rumah, saat tangis Mas Rois pecah. Sangat pilu.
__ADS_1
Dadaku turut nyeri melihat keadaan Mas Rois kali ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Menjadi sang muhallil aku tak sanggup. Tak akan sanggup.
Karena di hatiku hanya ada Afin. Dan selamanya akan begitu. Bukan tanpa alasan aku menolak keras permintaan Mas Rois.
Selain karena aku tak ingin melukai Afin, aku juga tak ingin menempatkan diriku pada tempat yang sulit. Menjadi muhallil, sama saja aku mempermainkan pernikahan.
Apalagi tujuan menikah adalah untuk menambah keturunan, tidak mungkin aku mematahkan sendiri apa yang aku yakini.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Pamitku dengan sangat lirih. Mas Rois masih menutup wajahnya dengan dua belah tangan. Tangisnya belum reda.
Aku melangkah dengan beban pikiran. Kembali menimang segala kemungkinan. Tapi tetap saja aku tak bisa melakukan nikah muhallil. Barangkali yang bisa aku lakukan kini hanya mendoakan yang terbaik untuk Mas Rois dan Mbak Nusaibah.
Semoga dengan kejadian ini, Mas Rois mendapat pelajaran. Semoga juga untuk diriku lebih sabar dalam menghadapi ujian rumah tangga.
Aku tiba-tiba teringat kata guruku di Indonesia saat mengaji kitab qurrotuluyyun. Kitab yang isinya membabat habis segala permasalahan rumah tangga hingga tentang tata cara jima.
Tapi bukan itu yang kini singgah di kepalaku. Tentang kala istri memperlihatkan keburukannya di depan suami, yang bisa dilakukan suami harus mengingat kembali kebaikan yang ada pada pasangannya.
Begitu pula ketika pasangannya terlihat sangat baik, harus pula diingat bahwa ia hanyalah manusia biasa yang tak mungkin sempurna.
Aku mengembuskan napas. Tak terasa sudah sampai di depan rumah. Setelah masuk dan membersihkan diri, aku segera menemui Afin yang ternyata telah tertidur.
Atau tengah pura-pura tidur. Aku tak tahu, hanya saja terkadang merasa dibuntuti kemanapun aku pergi.
"Afin, ana uhibuki Fillah," bisikku di telinganya.
Kukecup ujung kepalanya lalu mengambil tasbih yang biasa aku gunakan untuk berdzikir hingga tertidur.
***
Sebelum azan subuh berkumandang, aku dan Afin telah selesai melakukan qiyamullail. Amalan malam yang sejak dulu kami bawa dari pondok.
Kalau kata orang dulu, perbanyak membuka mata agar badan lebih sehat. Keterangan itu juga yang membuat kami berusaha merutinkan sholat malam.
Ada yang berbeda di wajah Afin hari ini. Sejak tadi kulihat wajahnya masam. Ia juga tak banyak bicara. Membuatku risau. Apalagi kesalahanku kali ini?
Masyaallah, menghadapi ibu hamil ternyata sangat menguji kesabaran. Semoga aku bisa bertahan hingga Afin kembali normal seperti istriku yang dulu.
"Yaa sidati sauqi, what happen with you?"
__ADS_1
Aku sengaja menggodanya dengan bertanya dengan bahasa Inggris. Bukankah bersenda gurau dengan istri menambah keharmonisan rumah tangga?
"Laa."
Afin memalingkan wajah. Matanya juga sedari tadi menghindari tatapanku. Sepertinya ada yang tidak beres.
Dan harus segera aku bereskan. Tidak enak jika bermasalah di rumah. Intinya aku hanya tidak ingin membuat Afin sedih atau marah.
"Katakanlah, sayang," ujarku lagi dengan nada yang sedikit manja. Tak apa walau hati ini berkata bohong, toh demi kerukunan dengan pasangan halal.
"Ana ingin pulang, huhu."
Deg. Detak jantungku seakan ingin berhenti. Apa yang membuat Afin ingin pulang? Bukankah kemarin-kemarin saat aku tawari cuti untuk pulang ke Indonesia ia menolak?
Aku menggelengkan kepala. Tak paham apa yang menimpa istri kesayanganku kali ini. Apalagi yang ia pikirkan?
"Ada apa? Bukannya kemarin anti menolak saat ana mengajak cuti?"
Afin tak menjawab, hanya air matanya yang terus mengucur. Aku jadi tidak tega kepadanya. Apa yang harus aku lakukan? Ingin rasanya meminta menghentikan tangis itu, tapi aku sudah berpengalaman jika menegurnya saat menangis malah akan menambah masalah baru.
"Katakanlah, Fin." Aku masih berusaha membuatnya terbuka. Barangkali akan ada petunjuk setelah tangisnya reda.
"Ana ingin pulang," katanya mengulang kalimatnya tadi.
Rahangku kini sedikit mengeras. Walau aku berusaha bertanya dengan suara lembut, masih saja Afin begitu mendramatisir keadaan.
Seolah hanya aku yang bersalah. Padahal aku bahkan tak merasa menyakitinya. Tadi sewaktu tidur, aku juga sempat memeluknya. Jangan heran dengan kalimatku ini.
Beberapa hari yang lalu Afin juga menangis hanya karena katanya aku tak lagi memeluknya di saat tidur. Dan dia memvonis aku tak lagi menyayanginya. Astaghfirullah.
"Mas akan cuti dan kita bisa pulang." Akhirnya aku mengalah. Mengikuti kemauan istri manjaku ini.
Kalian tahu apa selanjutnya? Afin malah menangis lebih kencang. Aku sampai bingung dibuatnya.
"Nanti kalau Afin dan Mas Adi cuti, kita nggak lulus-lulus. Hikshikshiks."
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. Lalu bagaimana ini? Apalagi yang harus aku lakukan? Menolak keinginannya pasti menyakiti hati Afin, tapi menuruti juga bukan solusi.
Yaa Rabb. Rasanya aku ingin menggigit sajadah.
"Jadi gimana mau anti, Fin?" tanyaku akhirnya.
__ADS_1