Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Menembus Langit Timur


__ADS_3

Setelah acara walimatul ursy selesai, aku beranjak dari pelaminan menuju kamar untuk membersihkan diri.


Rasanya aku masih tidak percaya jika Syams adalah suamiku, meski masih mengganjal di pikiran kenapa nama kecilnya Adi? Bukan Syamsul, atau mungkin Hadi. Bisa dikatakan, dia adalah lelaki yang baik, penuh perhatian dan penuh kejutan.


Tak terasa senyuman menghias bibirku ketika teringat senyum laki-laki itu. Dia sangat memesona.


Aku duduk di ranjang dengan niatan beristirahat sebentar. Kakiku terasa kram karena sepatu sandal yang aku kenakan berhak tinggi.


Apalagi kepalaku ini, rasanya berat sekali dengan konde dan segala macamnya. Huft, ternyata begini rasanya jadi pengantin.


Senyuman seolah tidak mau luntur dari parasku. Sekali lagi, aku ingin melihat wajah dan riasanku sebelum aku menghapus dan berganti pakaian. Aku tersenyum, rupaku tidak buruk juga.


Baiklah, sudah cukup kebahagiaan untuk hari ini yang membuat dadaku tidak berhenti berdegub kencang. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.


Astagfirullahaladzim, aku bahkan melupakan sholat Magrib karena acara seharian tadi. Dengan langkah cepat, aku berusaha membongkar satu persatu hiasan di kepalaku. Mulai dari roncean melati yang mewangi, lalu pernak-pernik bros dari perak yang direkatkan dengan penjepit ataupun jarum pentul.


Baru saja aku selesai melepas satu jarum pentul, tiba-tiba tanganku terasa perih saat sisi tajamnya menancap di jariku.


"Auw," pekikku.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" Suara itu segera membuyarkan konsentrasiku, kulihat seorang laki-laki tampan berbadan tegap dengan sigap mengambil jariku dan mengecup jariku yang tertusuk jarum pentul.


"Udah, nggak apa-apa kok," tambahnya, meyakinkanku yang masih terbengong-bengong.


'Hey, Afin? ada apa sama kamu sih?' batinku bergulat dengan hati kecil yang kini terasa bak taman seribu bunga-bunga mekar. Perasaan yang bahkan belum pernah aku bayangkan.


"Fin?" Laki-laki itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku, barulah aku menyadari dan kembali menginjak tanah setelah terbang bersama pergulatan batinku sendiri.


Kulihat laki-laki itu lagi, dada bidangnya yang terbuka seolah menyetrumkan ratusan volt listrik ke tubuhku.


"Aaaa!" Aku berteriak dan kedua telapak tanganku segera menutup wajah. ya Allah, maafkanlah hambaMu yang khilaf melihat aurat lawan jenisnya.


"Afin, kamu kenapa lagi?" Suara Syams terdengar mencemaskanku.


'Eh, bukankah dia sudah menjadi suamiku?'


Aku membuka kedua telapak tangan untuk melihat rupa laki-laki yang kini duduk di sampingku ini. Syams masih terus menanyakan sebab aku berteriak histeris seperti tadi.

__ADS_1


"Kenapa?" Syams kembali bertanya, sedangkan aku menggeleng malu. Syams melirik jam dinding dan berdecak kepadaku.


"Sudah hampir Isya, sayang. sini aku bantu nglepasin jilbabnya. Nanti kalau kamu nggak segera bersih-bersih, bisa-bisa kita terlambat melaksanakan sholat Isya."


Kurasakan tangan laki-laki itu cekatan mencabut satu persatu pernak-pernik di jilbabku. Aku masih terdiam, seolah terbius oleh harum badannya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tapi kapan dia masuk kamarnya? Atau mungkin aku yang tidak memperhatikannya?


Setelah semua pernak-pernik di jilbabku terlepas, aku segera berganti pakaian di depan Syams. Toh aku mengenakan kaus panjang dan celana panjang di dalam kebayaku tadi.


Laki-laki itu tersenyum aneh melihatku melipat kebaya yang telah aku kenakan. Syams mendekat, dan ini berhasil membuat irama jantungku tidak beraturan.


"You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik cantik dari hatimu," aku tidak kuasa menahan gelak tawa kala Syams memperagakan gaya girlband cherrybelle saat menyanyikan lagu itu. Masyaallah, ada-ada saja laki-laki yang telah menjadi imamku ini.


"Sudah, sudah Syams, please. Aku sakit perut," kataku meminta ampun karena laki-laki itu terus memperagakan gayanya yang centil namun sangat kaku.


Masyaallah, aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa.


"Sudah, aku mau mandi," tambahku sambil bergerak ke arah kamar mandi yang ada di kamarku.


Setengah jam kemudian, aku kembali ke kamar. Kulihat laki-laki yang tadi bertelanjang dada itu telah mengenakan baju koko, sarung dan lengkap dengan kopyah hitamnya.


Ia sedang duduk di atas sajadah sambil mengaji. Aku masih tidak bisa memungkiri keunikan laki-laki yang menjadi imam dunia akhiratku ini. Sholihnya, usilnya, dan tidak bisa ditebaknya benar-benar membuatku kelimpungan dua hari ini.


"Ayo sembahyang Isya, sayang. Aku sudah menunggumu."


Aku bergerak maju dan mengeringkan rambut sebelum meraih mukena dan menggelar sajadah di belakangnya.


Tanpa suara, aku mengerjakan sembahyang Isya diimaminya. Dan lagi, Syams membacakan surah Ar-rahman di rakaat pertama. Tanpa terasa air mataku terus meluruh mendengar bacaannya yang indah dan makna dari ar-rahman itu sendiri.


Selesai wirid, aku bergerak bangkit saat melihat sebuah amplop di ranjang.


Kapan amplop itu di situ? Bukankah tadi tidak ada? Aku mengambilnya dan membaca tulisan di sana. Tiket pesawat? lalu mataku kembali meneliti satu persatu amplop yang bersama amplop tadi. Berkas-berkas passport? Lalu surat nikah dan lain-lain? Aku terlonjak bukan main, apa artinya ini? Syams yang telah selesai wirid, melangkah mendekat padaku dan senyumnya kembali melelehkan hatiku.


"Kita akan berangkat ke Yaman dua minggu lagi," katanya.


Tanpa sadar, aku merengkuhnya. Air mata kebahagiaan kucurahkan di dadanya. Aku bahagia akan ke Yaman untuk menuntut ilmu. Mencari pengetahuan yang dibutuhkan bangsaku agar maju.


"Tap-tapi, aku kuliahnya kan masih bulan depan? Apa nggak boros kalau kita tinggal di sana lama?" tanyaku khawatir.

__ADS_1


Syams tersenyum dan kembali meyakinkanku. Keharuan itu segera menyusup lagi dan aku kembali menghamburkan diriku dalam dekapannya, malaikat yang akan selalu menemaniku kemanapun aku pergi.


"Fin, bolehkah aku mengajakmu?" Kalimat Syams membuatku mengangkat wajah dari dalam peluknya.


"Kemana?"


"Ke syurgaNya, menyempurnakan ibadah kita."


Aku mengernyit. Namun detik berikutnya aku mengangguk. Inilah saatnya aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri. Pemuas dahaga suamiku.


Tak terasa, waktu terus bergulir, dan Syams benar-benar mengajakku ke syurgaNya yang indah. Aku berjanji kepada diri sendiri untuk menuruti perkataannya mulai saat ini, sampai napasku terhenti kelak.


****


Hari terus bergulir, tidak terasa tiba saatnya untukku dan Syams berangkat menuju negeri Timur. Negeri yang mashyur dengan kisah Uwais Al-qarni nya. Negeri dimana pengetahuan dan para penuntut ilmu berikhtiar disana.


Abi dan umi terus menatapku dan Syams yang telah berjalan menuju pesawat. Air mata terus mengucur deras, perpisahan ini amat membebaniku.


Aku sedih karena harus berpisah dengan kedua malaikat tanpa sayapku. Abi dan umi. SYams di sampingku, segera menggenggam erat telapak tanganku.


Walau dengan berat, aku melanjutkan langkahku menuju pesawat. Ya Allah, jagalah kedua orang tuaku. Peliharalah mereka sebagaimana mereka memelihara dan merawatku semasa kecil dulu.


"Fin, apakah kamu sedih?" Syams menepuk pundakku dengan halus. Aku menoleh padanya.


"Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan, Fin. Kuatkan dirimu," tambahnya membisikkan kalimat itu ke arahku.


"Aku sedih karena harus meninggalkan abi dan umi dalam keadaan begini, Syams," balasku lirih.


Dadaku seolah berhenti berdetak karena kesedihan yang terus merayap kuat. Aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Aku belum bisa berbakti kepada mereka.


"Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi. Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir. Mereka pun datang silih berganti. Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.. Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati. Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada. Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya. Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru" Syams mengusap bahuku untuk menguatkanku.


"Kamu harus bersyukur, Fin. Allah memberimu waktu untuk menembus langit timur demi membawa pengetahuan itu untuk bangsa," kalimat terakhir Syams membuatku tersenyum.


Ya, benar kata-katanya. Aku harus bisa membawa pengetahuan untuk bangsaku.


Tanpa kusadari, sebuah kecupan menghangatkan suhu tubuhku.

__ADS_1


'Aku sangat beruntung mendapatkanmu, Syams,' bisik hati kecilku.


__ADS_2