Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Dijodohin?


__ADS_3

Angin malam menyapu wajah Fatimah. Gadis berhidung mancung itu tetap hening. Memilih menikmati waktu malam dengan menyandarkan kepala di depan jendela.


Sekali lagi, bayangan Gus Ali mampir di netranya. Susah payah segera ia hapus wajah itu dengan istighfar.


"Astaghfirullah." Fatimah memukul kepalanya sendiri.


"Aku tidak bisa begini terus. Bisa-bisanya efek dari telepon Gus Ali sedemikian dahsyat pada diriku," gumamnya pada diri sendiri.


Ada yang berkembang di dadanya. Tapi sungguh, Fatimah berusaha memupus bunga itu, meski tak serta-merta.


"Gimana nih."


Fatimah mengacak jilbabnya frustasi. Sejak kecil ia terbiasa berteman dengan Gus Ali. Apa boleh buat, bocah laki-laki itu duluan yang mengajaknya berteman.


Fatimah tak menyangka jika pertemanan itu begitu mengusik hari-hari pubernya. Ya, bagi Fatimah semua tak lebih dari berteman.


Tapi sejak ia mendengar suara Gus Ali tadi, ia menjadi tidak baik-baik saja.


"Huft!" Fatimah mengembuskan napas kasar.


Daripada terus terbawa perasaannya yang labil dan belum setabil, mending Fatimah tidur.


Fatimah menutup jendela lalu beranjak dari tempatnya. Setelah membersihkan diri, Fatimah mencoba menutup matanya.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Fatimah kembali membuka mata. Ia tidak bisa tidur. Ia coba menutup wajah dengan selimut, berharap segera terlelap.


Lama sekali Fatimah memaksa matanya menutup. Ia terus berusaha hingga rasa kantuknya malah hilang sama sekali.


Fatimah melihat gawai di meja belajarnya. Ia pikir akan sedikit memainkannya hingga tertidur. Tapi tidak jadi ia lakukan. Nanti kalau ia memilih bermain handphone, yang ada ia akan begadang nonton drama Korea.


Akhirnya Fatimah bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Barangkali mencuci muka bisa membuatnya mengantuk.


"Tapi, Bah. Fatimah masih terlalu muda. Umi nggak mau ia kehilangan masa mudanya."


Suara umi menghentikan langkah Fatimah. Matanya melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul satu. Abah dan uminya belum tidur? Fatimah terdiam beberapa saat. Di ruang tengah ada tempat pasolatan yang cukup luas. Fatimah kira Abah dan uminya sudah tidur, ternyata masih murojaah di sana. Fatimah yakin karena melihat Quran yang terbuka di depan uminya.


Ia sebenarnya akan lurus saja ke kamar mandi. Tapi ia juga sedikit penasaran perbincangan kedua orang tuanya menyangkut dirinya.


"Pokoknya umi nggak setuju, siapa tahu Fatimah masih mau meneruskan pendidikan," tambah uminya memasang wajah tidak setuju.


"Kalaupun Fatim mau nerusin kuliah, dia kan bisa sambil menjadi istri."


Klutek. Sebuah vas bunga keramik tersenggol tangan Fatimah saat berusaha mendekat ke dinding pemisah antara ruang tengah dan kamar mandi.


Abah dan uminya Fatimah segera menoleh dan menemukan Fatim yang berdiri menempelkan tubuhnya ke dinding. Saat ketahuan seperti ini, Fatimah hanya bisa meringis. Memperlihatkan gigi gingsulnya.


"Hehe, maaf umi, Abah, Fatim nggak sengaja dengar. Mau ke kamar mandi kok."

__ADS_1


Fatimah menarik tubuhnya lalu beringsut berjalan ke kamar mandi. Setelah pintunya ditutup Fatimah segera membasuh wajah sambil mencari alasan ketika nanti ditanya macam-macam.


Fatimah menyadari betul Abahnya itu orang yang bagaimana. Keras dan tegas. Bahkan di kelas tak segan-segan memukul peserta didiknya dengan penggaris kayu jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah.


"Aduh, mampus aku! Pasti disidang lagi sama Abah."


Setelah lama sekali mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan kedua orang tuanya, Fatimah berjalan sangat pelan. Untungnya saat lewat di ruang tengah, ia tak menemukan kedua orang tuanya di sana.


Fatimah bisa bernapas sangat lega. Ia segera berjalan ke kamar dan segera tidur. Meski ada banyak pertanyaan dalam dirinya, tapi ia segera lupa karena kantuk yang menyerang.


***


Saat adzan subuh berkumandang, Fatimah segera bangun dan bergegas mandi. Seperti biasanya, kedua orang tuanya sudah ada di tempat sholat.


Setelah mengambil wudhu, Fatimah mengambil tempat di samping uminya. Sholat berjamaah selain pahalanya besar, juga menjadi waktu untuk berdiskusi dengan para anggota keluarga.


Sebelum membaca niat sholat, Fatimah teringat kejadian kemarin malam. Ia sedikit gemetar membayangkan kalau nanti Abah dan uminya membahasa soal dirinya yang semalam menguping pembicaraan antara Abah dan uminya.


Seusai sholat dan wiridan, Fatimah mengambil Qurannya dan duduk di depan Abahnya. Rutin melaksanakan murojaah hapalan agar tetap terjaga.


Ia baru saja akan membuka juz dua belas saat Abahnya memandang Fatim dengan tatapan tak biasa. Hati Fatimah langsung risau.


"Tunggu, jangan murojaah dulu. Abah mau ngomong."


Fatimah menelan saliva. Jantungnya mulai berdetak kencang. Sama rasanya seperti saat di kelas ia tak membawa buku tugas tepat saat pelajaran Abahnya sendiri.


"Nggak, mi. Biar Abah aja."


Fatimah menahan napas. Jika Abahnya tak menuruti kata umi, ini pasti soal yang serius. Tidak bisa dipungkiri wajah Fatimah terlihat tegang. Ia ketar-ketir menunggu abahnya membuka suara.


"Apapun yang Fatim dengar semalam, tolong dilupakan. Fatim fokus madrasah dulu," kata Abahnya dengan wajah super serius.


Setelah menatap Fatimah, abahnya mengalihkan pandangan. Fatimah merasakan tatapan cinta sang Abah pada uminya. Sejenak Fatim terdiam. Saat uminya tersenyum manis, barulah Fatimah merasa Abahnya manut kepada uminya.


"Ciye ciye Abah sama umi," ledek Fatim.


"Apa sih?" sahut umi Afin menunduk menutupi wajahnya yang bersemi.


"Fatim tau Abah sama umi lagi fall in love, kan?"


"Anak umi ini ya, sudah ngerti fall in love. Yang penting kamu sekolah dulu yang fokus. Jangan cinta-cintaan dulu ya," pesan umi sembari menyentuh kedua pipi anaknya.


"Iya, Tim. Kalau kamu pacaran sama saja menjerumuskan Abah ke dalam neraka," timpal Abah tetap dengan wajah seriusnya.


"Enggeh, Bah. Fatim ngerti."


"Nggeh nggeh mboten kepanggih?" ledek umi lagi.

__ADS_1


"Lha gimana, mi?"


Fatimah segera teringat sosok Gus Ali. Apakah selama ini Fatim mengumbar nafsu kepada Gus Ali? Atau hubungan keduanya murni hanya bersahabat? Fatim jadi ragu.


"Emm."


"Ada apa, Tim? Seperti ada yang dipikirkan?"


"Kalau hubungan Fatim dan Gus Ali itu gimana, Mi, Bah?" Fatimah nampak berpikir keras.


"Fatim sama Gus Ali hanya berteman. Tapi sering whattsapp-an, gimana, Bah?"


Abah dan uminya saling berpandangan. Fatimah menangkap ada kecemasan di wajah kedua orang tuanya. Kadang Fatimah berpikir hubungannya tidak berlebihan. Tapi juga tidak memungkiri kalau kedekatan itu menyita perhatian banyak orang.


"Apa anti terus menghubunginya?" tanya umi Afin, wajahnya berusaha setenang mungkin.


Fatimah menggeleng. Ia memang tidak pernah menghubungi Gus Ali, tapi ia juga tidak berani jika tak menjawab pertanyaan Gus Ali lewat pesan itu.


"Gus Ali yang selalu we-a Fatim."


Fatimah menunduk. Merasa bersalah. Tapi ia juga tidak berani memblokir Gus Ali, apalagi beliau juga salah satu ustaz pengajar.


"Fatimah harus punya batasan sendiri dalam menanggapi setiap pesan Gus Ali," ujar Abah setelah lama berpikir.


Sebagai anak perempuan yang manut, Fatimah segera menangkap maksud Abahnya. Barangkali Fatimah harus membuat jarak antara dirinya dan Gus Ali.


"Kadang Fatim mikir kenapa Gus Ali harus jadi sahabat Fatim, kenapa nggak perempuan aja yang jadi sahabat Fatim? Kalau laki-laki kan dekat dengan fitnah," cerocos Fatimah lagi.


Ia merasa seperti simalakama. Tetap menjaga persahabatan dengan Gus Ali akan membuat rumor beredar semakin kencang. Tapi ia juga tak bisa menutup komunikasi dengan Gus-nya yang sering memberi nasehat dan pelajaran itu.


"Siapa tahu, Gus Ali jodohmu," bisik umi Afin sembari menutupi mulutnya dengan tangan agar kalimat itu tak sampai terdengar oleh Abahnya.


"Tidak, Mi. Fatimah nggak mau dijodohin sama Gus Ali."


Fatimah juga membalas bisikan itu sambil menutupinya.


"Kenapa?"


"Gus Ali galak, kayak Abah."


Keduanya saling berbisik-bisik lalu terkikik. Abah tidak menghiraukan dan tetap memasang wajah datar.


"Jadi mau murojaah atau bisik-bisik?" tegur Abah dengan suara meninggi. Fatim dan umi buru-buru membuka Qur'an sembari membaca Ummul kitab, yaitu alfatihah.


"Audzubillah himinnsyitonirrojim. Bismillahirrahmanirrahim, "


Mereka melanjutkan murojaahnya. Padahal langit sudah mulai terang. Karena berdiskusi tentang Gus Ali, membuat murojaah tertunda terlalu lama. Tak lama kemudian umi Afin menutup murojaahnya, segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


__ADS_2