Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Cemburu


__ADS_3

JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.


JAZZAKUMULLAH KHAIR


****


Menjelang siang, Fatimah dan Gus Ali masih asyik berdua di ruang tengah. Fatimah beberapa kali kepergok menatap wajah suaminya dengan sebuah senyum. Tapi demi menjaga hati istrinya, Gus Ali pura-pura tidak tahu.


"Gus, ada yang mau saya tanyakan."


"Apa?"


"Soal wanita yang saya pikir kekasih, Mas."


"Tadi manggil Gus, sekarang Mas."


"Maaf, belum terbiasa."


"Kalau begitu biasakan ya." Gus Ali mendekat pada Fatimah lalu mendaratkan kecupannya di ujung kepala sang istri.


Fatimah tentu saja terkejut. Setiap kali suaminya itu menyentuhnya, ia merasakan ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengat nya.


"Ish, kenapa gitu sih." Wajah Fatimah sedikit memerah. Ia senang kalau berada di dekat Gus Ali. Tapi kesehatan jantungnya benar-benar terancam setiap kali lelaki dengan dua lesung pipi itu mendekat padanya.


"Biarin deh, Tim. Senda gurau suami istri itu lebih baik daripada sholat seribu rakaat." Gus Ali kembali tersenyum.


Tanpa disadari wajah Fatimah mulai berubah. Ia kembali teringat tentang Mega. Bagaimana cara mengatakan pernikahan padanya.


"Mas, kapan kembali ke Surabaya?" tanya Fatimah membuka percakapan.


"Mungkin tiga hari lagi. Anti ikut saya kan?"


"Em, apa boleh buat."


"Kok kayaknya nggak ikhlas gitu?"


"Tempat kerja Mas dan kampusku mungkin berjauhan. Gimana dong?" tanya Fatimah yang masih belum mengetahui kalau Gus Ali salah satu dosennya.


"Memangnya anti kuliah dimana?" Gus Ali mencomot sebuah gorengan yang ada di depannya. Tadi setelah umi dan abahnya Fatimah pulang jogging, mereka membawa makanan dan gorengan. Dan kini kedua orang tua itu sedang pergi. Katanya ingin jalan-jalan. Atau itu hanya akal-akalan kedua orang tua Fatimah agar pengantin baru itu lebih banyak berbincang berdua.


"Universitas Islam Surabaya, Mas."


"Ngambil fakultas apa?"


"Tarbiyah."


"Lhoh, itu kelas yang kemarin Mas tinggalkan karena disuruh pulang."


"Maksud Mas?"


"Mas ngajar di tempat anti kuliah."


Keduanya hanya melongo. Tak percaya kalau skenario Allah begitu indah.


"Oh, yang digantikan Bu Tata itu?" tanya Fatimah sembari melengos. Menyebut nama Bu Tata saja membuat hatinya sedikit nyeri.


"Kenapa, Tim? Anti cemburu?" canda Gus Ali membuat istrinya semakin membuang muka.


"Enggak, kok. Kenapa harus cemburu sama Bu Tata yang sudah begitu sempurna. Udah cantik, baik, kayaknya Sholeha lagi." Fatimah menatap tembok. Ia tak mau Gus Ali melihat matanya yang mulai menghangat.


"Sudahlah, Tim. Saya dan Tata tidak ada apa-apa. Cinta saya hanya untuk perempuan di depan saya ini."


"Gombal." Fatimah berusaha menahan senyumnya dengan susah payah. Tapi begitu melihat wajah manis Gus Ali, ia tak bisa untuk tidak tersenyum.


"Buktinya saya nikahi anti, berarti saya tidak hanya menggombal."


"Kalau begitu kenapa banyak video antum menyanyi lagu India di handphone Bu Tata?" tanya Fatimah lagi. Ia menatap tajam Gus-nya itu. Berharap Gus Ali meyakinkannya kembali jika Bu Tata bukan orang yang spesial.


"Biasalah, artis."


Fatimah geregetan dengan Gus Ali. Tak sadar ia mencubit lengan suaminya dengan tenaga besar. Sudah pasti Gus Ali mengaduh karena kesakitan.


"Ampun, sayang. Ampun. Kenapa nyubit sih?"


"Habisnya Mas bikin sebel."


"Ya anti tanya, kan saya jawab."


Keduanya terdiam. Lalu Gus Ali mendekat ke arah istri kecilnya. Ya, istri kecil. Karena bagi Gus Ali, Fatimah tetaplah Fatimah kecil yang kerap ia goda sejak dulu.


"Jadi nanti anti pindah ke rumah saya saja ya? Anti ngekost kan?"


Fatimah menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ragu dan bingung. Jika ia pindah, bagaimana nasip Mega? Sahabatnya itu pasti kesepian. Lalu alasan apa yang bisa ia gunakan kepada Mega?


"Kenapa, Tim? Kok mukanya bingung gitu?"

__ADS_1


"Ana bingung cara mengatakannya pada Mega."


Gus Ali mengembuskan napas dalam. Persoalan persahabatan memang sulit. Apalagi wanita. Mereka ribet dengan hal-hal kecil yang tidak berguna.


"Bilang saja apa adanya."


"Jangan, Mas. Mega orang yang baik banget. Saya nggak tega."


"Lalu anti tega ga tinggal serumah sama suami?"


"Ya nggak gitu juga, Mas."


"Lalu gimana?"


Fatimah semakin terlihat cemas. Ia butuh waktu untuk mengatakan ini semua kepada Mega. Tapi berbohong adalah pilihan yang paling buruk. Jika ia sampai melakukannya, ia akan melakukan kebohongan lainnya untuk menutupi satu kebohongan.


"Saya bingung, Mas."


Gus Ali menyandarkan tubuh istrinya kepadanya. Tangannya langsung mengelus pundak Fatimah yang berefek sangat menenangkan.


"Mau anti gimana?"


"Ya kita jangan bilang dulu kalau sudah menikah. Saya takutnya Mega tidak siap dan melakukan hal yang nekad."


"Hey, jangan suudzon dulu. Mega memang kekanakan, tapi sepertinya pengaruh berteman denganmu akan sedikit merubahnya."


Gus Ali meletakkan tangan di dagu. Turut memikirkan cara agar sahabat istrinya itu mau menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Kalau kita menyembunyikan pernikahan ini, lambat laun akan tetap ada yang tahu."


"Setidaknya biar Mega menyiapkan diri dulu, Mas."


"Lalu kalau saya ketemu anti, harus diam saja gitu?" tanya Gus Ali sedikit tidak suka.


"Berarti anti nggak mau tinggal serumah dengan suami anti?" lanjut Gus Ali. Wajahnya kini sangat serius.


"Ya nanti ana cari alasan untuk pindah."


"Kalau Mega nggak mau anti pindah lalu ikut pindah gimana?"


"Ya saya bilang saya ikut om gitu," jawab Fatimah dengan wajah keruh.


"Oh, jadi saya om-om gitu?" Gus Ali pura-pura ngambek. Ia bahkan menggeser kembali duduknya dan tidak memandang Fatimah.


"Yaudah, silakan anti sendiri mikir bagaimana caranya. Yang jelas saya mau tinggal serumah sama istri saya. Jangan berbohong. Dosa."


"Tenang aja, dosa saya kan Mas yang nanggung." Fatimah melebarkan bibirnya sambil menatap genit Gus Ali.


"Eh, kok gitu? Nggak gitu konsepnya."


"Ya kan sebagai seorang suami, Mas bertanggung jawab atas istrinya," kilah Fatimah.


"Jangan salah paham, kalau anti ingin saya bertanggungjawab terhadap anti, berikan dulu hak saya sebagai suami."


Hening. Fatimah terdiam. Tak menyangka suaminya akan mengatakan hal itu. Atau memang benar dirinya telah zalim karena menunda hal dari suaminya?


Sedangkan Gus Ali memikirkan hal lain. Yup. Tentang kebohongannya di malam pertama ia menikahi Fatimah. Kebohongan itu sesungguhnya sudah sangat keterlaluan. Dan ia sangat merasa bersalah. Tapi diam-diam Gus Ali memperhatikan Fatimah. Ia melihat Fatimah dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Mas kenapa lihatin saya kayak gitu?" Fatimah merasa tidak nyaman dengan tatapan Gus Ali. Ia merasa ditelanjangi meski masih menggunakan pakaian lengkap.


"Jawab jujur ya, Tim."


"Apa, Mas?"


"Apa anti memang benar masih suci?"


"Mas kok ngomong gitu sih," ujar Fatimah menjadi naik pitam. Memangnya ia wanita seperti apa hingga diragukan kesuciannya.


"Ya Mas kan cuma tanya. Tolong jawab dengan jujur."


"Ya masih lah, Mas. Jangankan itu, dekat dengan laki-laki lain saja saya tidak berani."


Gus Ali langsung tersenyum. Ia meyakini jika Fatimah berbicara jujur. Hanya saja ia juga bingung mengatakan kalau mereka harus melakukan kewajiban itu agar tidak ada lagi prasangka yang mengganggu ketentraman rumah tangga mereka.


"Jadi kapan kita bisa, ...." Gus Ali menyatukan dua tangannya, memberi isyarat pada Fatimah tentang ibadah sepasang suami istri.


"Ya tunggu sampai Fatimah siap."


"Semakin anti menunda, semakin prasangka Mas buruk. Ingat, Tim. Syetan itu selalu mengambil celah di hati manusia yang ragu atau digantung tanpa kepastian."


"Mas mau maksa Fatimah?"


Gus Ali menggelengkan kepalanya. Ia tak berani memaksa. Dan ia sedikit kesal dengan banyaknya kata-kata yang keluar dari mulut Fatimah. Ternyata semua wanita itu sama saja. Banyak bicara.


"Mikir apa, Mas?" tanya Fatimah karena Gus Ali diam dan tidak lagi berkata apapun.

__ADS_1


"Nggak kok, Tim. Jangan galak-galak napa?" Kalimat kedua sengaja Gus Ali pelankan. Tak ingin perempuan di depannya semakin marah.


"Ini nggak galak, Mas. Ini tegas."


"Oh." Gus Ali hanya bisa ber-oh saja. Tapi dalam hati ia ingin mengerjai istrinya dengan kata-kata yang barusan ia katakan.


Hari terus berganti, kini sudah tiba waktunay Gus Ali dan Fatimah kembali ke Surabaya. Tak lupa mereka berpamitan kepada Pak Kyai Huda yang saat ini masih berbaring di kamarnya.


"Abah, apa Ali tidak usah kembali ke Surabaya? Ali ingin merawat Abah." Air mata sudah mengumpul di mata Gus Ali. Tak tega meninggalkan satu-satunya orang yang paling ia sayangi itu.


"Jangan, Li. Antum laki-laki tidak boleh cengeng. Tanggungjawab antum sudah bertambah. Jadilah pemimpin yang baik untuk Fatimah." Pak Kyai membuka matanya dengan sedikit berat. Entah mengapa setelah malam itu melihat sendiri bagaimana putranya ijab Qabul, ia merasa tenang sekali. Hingga tubuhnya terasa sangat ringan.


"Tapi, Abah, ...."


"Kan ada Mbakmu, insyaallah sudah cukup."


"Tapi, Bah."


"Sudah, laki-laki harus memakai pikiran. Jangan mudah baper."


"Gimana Ali nggak baper? Abah kan Abahnya Ali, satu satunya orang tua yang ingin Ali rawat selamanya." Gus Ali mulai menangis. Tidak tahu mengapa perasaannya sangat berat untuk kembali ke Surabaya. Ia sangat ingin tetap di sini. Membaktikan dirinya untuk Pak Kyai.


"Orang tua Fatimah kan jadi orang tuamu juga. Jangan mikir kalau mereka orang lain, Li."


Gus Ali diam saja. Tenggorokannya terasa sakit karena menahan air mata. Ia tak menyangka akan sesedih ini saat akan kembali ke Surabaya. Rasanya ia tak ingin sedetikpun jauh dari Abahnya, apalagi saat Abahnya mulai lemah seperti saat ini.


"Sudah sunatullah kalau semakin tua usia, maka fisik akan semakin lemah. Antum lupa tentang itu?" tanya Pak Kyai ingin menguatkan putranya.


"Tapi Ali nggak siap, Ali masih pengen sama Abah terus."


"Jangan seperti anak kecil, Li. Antum sudah jadi seorang suami. Harus kuat. Nggak boleh cengeng."


Pak Kyai Huda memejamkan matanya sebentar. Tangis Gus Ali semakin keras. Gus Ali mengira Abahnya itu telah tiada.


"Abah, jangan tinggalin Ali. Umi sudah tinggalin Ali, Abah jangan dulu. Hu hu hu."


"Abah mau tidur, Li. Jangan berisik. Abah itu nggak mau kemana-mana. Abah mau tidur."


Melihat Abahnya kembali membuka mata, Gus Ali tersenyum dan menghapus air matanya. Ia kira ini adalah saat terakhir ia melihat Abahnya, ternyata Pak Kyai hanya ingin tidur.


"Bah, janji Abah jaga kesehatan ya. Nanti tiap Minggu Ali pulang."


"Lha kalo pulang terus kapan dapat uangnya?"


Gus Ali terdiam. Benar kata Abahnya. Tapi Gus Ali hanya ingin bersama Abahnya. Tanpa membalasnya, Gus Ali menangkupkan wajah ke tubuh Abahnya. Bermanja seperti saat kecil dulu.


"Kematian itu pasti, Li. Entah kapan Abah akan menyusul umimu itu. Tapi yang jelas masih ada kehidupan lagi setelah kematian. Jadi di dunia itu hanya sebentar. Kita pasti kembali kepada sang Pencipta. Hanya Ia yang tak bisa rusak ataupun hancur."


Gus Ali mengangguk lemah. Ia tahu betul ayat itu. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al qashah, 88)


"Kalau mengingat hal ini dengan benar, insyaallah antum nggak akan neko-neko dalam menjalani kehidupan di dunia."


"Iya, Abah. Tapi Ali belum siap kehilangan Abah." Gus Ali kembali menangis. Semakin mengaji tentang kematian, ia semakin takut dipisahkan oleh maut.


"Ngger, putraku. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Itu sangat tidak baik. Antum adalah pemimpin Fatimah. Jadi jangan lemah."


Gus Ali menunduk. Kalimat Abahnya terasa berbeda dari sebelumnya. Bahkan ia tak pernah merasa sesedih ini. Ia jadi teringat banyak hal tentang masa lalu. Dimana Gus Ali dan Pak Kyai Huda selalu dianggap tidak akur.


Karena yang sebenarnya Gus Ali yang selalu menghindar dari bertemu dengan abahnya. Karena apa? Karena ia takut akan dicecar tentang kapan Gus Ali akan menikahi Fatimah. Dan saat itu Gus Ali sudah ketakutan tentang tradisi.


Di ruang tengah, Fatimah duduk bersama kakak iparnya. Ning Faza yang saat itu hanya terdiam. Membuat Fatimah bingung untuk membuka percakapan. Ning Faza sepertinya sosok yang pemikir. Apalagi Fatimah bukan kalangan seperti Ning Faza.


"Eh, Tim. Sejak kapan di sini?" Ning Faza akhirnya menyadari kalau di ruangan ini ada orang lain. Rupanya Ning Faza sangat fokus dengan pikirannya hingga tak menyadari kedatangan Fatimah dan Gus Ali.


"Baru saja, Ning." Fatimah berusaha menjawab sesantun mungkin.


"Panggil saja Mbak, jangan Ning. Kesannya sama siapa, padahal ana kakak suamimu."


Fatimah menghela napas. Ia merasa tak puny topik untuk diperbincangkan. Ia hanya menunggu kapan Gus Ali keluar dari kamar. Tapi sepertinya Gus Ali masih sangat rindu hingga tak lekas keluar.


"Gimana kuliahmu?" Akhirnya Ning Faza yang membuka percakapan. Ia sudah melihat wajah tak nyaman Fatimah.


"Alhamdulillah, baik, Mbak. Ternyata Mas Ali salah satu dosen di tempat saya."


"Kok bisa? Nggak pernah ketemu gitu?"


"Belum, Mbak. Saya juga terkejut saat tahu Mas Ali mengajar fakultas Tarbiyah juga."


"Pokoknya hati-hati ya di sana. Jangan lupa, Ali dibeliin kacamata. Biar nggak lirik sana lirik sini."


Fatimah tersenyum kecil. Apakah benar suaminya itu gampang PHP? Disadari atau tidak, kata-kata Ning Faza membuat hati Fatimah meragu.


"Bercanda, Tim. Ali orangnya setia kok. Apalagi udah nikah. Hihi. Jangan serius gitu."


Fatimah mengembuskan napas lega. Semoga saja benar kata Ning Faza. Semoga pernikahan menjadikan Gus Ali setia. Walau kadang Fatimah ragu. Gus Ali tampan dan berkharisma. Begitu mudah menarik perhatian lawan jenis.

__ADS_1


__ADS_2