Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Persembahan Cinta


__ADS_3

Aku mengerjap tidak bisa berkata-kata. Di depan sana aku sedang menyaksikan pemandangan yang mengejutkan. Ini bermula setelah aku dan Mas Adi menjemput ustazah Naf. Aku bingung saat Mas Adi mengemudikan mobilnya ke arah lain, bukannya pulang ke rumah. Bahkan Mas Adi mengingkari janjinya, ia tidak bersuara apapun. Ia tidak menjelaskan apapun.


Beberapa kali mataku menatap spion di depan untuk melihat ustazah Nafisah yang juga diam terpaku. Aku hanya menangkap kekhawatiran di matanya. Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang disembunyikan Mas Adi? Aku menjerit di dalam batin.


Setibanya di sebuah rumah di selatan kota Tarim, ustazah Naf segera turun. Kekhawatiran di wajahnya semakin pekat saja. Mas Adi terpaku di kemudi beberapa saat. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang aneh. Sangat aneh, tapi aku seperti merasakan hawa yang sama seperti saat kutemukan air mata membasahi pipinya di subuh itu.


"Maafkan aku, Fin. Aku mengingkari janji dan belum juga menjelaskan apapun padamu," ucapnya parau. Aku masih terdiam.


"Sebenarnya aku ingin sekali menje-," kalimat Mas Adi terpotong saat sebuah jeritan terdengar dari dalam rumah. Serta merta kami berdua bergerak menuju halaman depan rumah bergaya timur tengah itu. Mas Adi melesat untuk membuka pintu itu.


"Allah! Pintunya dikunci," pekik Mas Adi berkali-kali memutar gagang pintu tetapi tidak juga mampu membuka pintu itu. Mas Adi memukul gagang itu, lalu menyentuh kepalanya. Terlihat ia berpikir sangat keras, aku tidak memahami keadaan ini hanya bisa terdiam sambil berusaha menerka-nerka.


"Fahmi, buka pintunya." Teriak Mas Adi, aku mengerutkan dahi mendengar nama itu. Bukankah itu nama laki-laki yang menghadang di depan mobil tadi? Dan juga laki-laki yang menusuk bahu Mas Adi. Allah! Aku bingung, kepalaku mulai pening. Setelah berkali-kali memanggil nama itu, Mas Adi mengacak rambutnya frustasi. Kutepuk bahu Mas Adi sangat halus.


"Tenanglah Mas, semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya." Lirihku berusaha hati-hati menenangkan Mas Adi yang terlihat sangat kalut.


"Sebenarnya ada apa, Mas? Jujur saja aku bingung menghadapi situasi ini." Akuku, lalu bergerak untuk duduk di kursi yang ada di depan rumah. Beberapa menit Mas Adi masih memandangi pintu yang tertutup itu, lalu menyusulku untuk duduk di sampingku. Walau berkali-kali ia masih menoleh dan berharap pintu itu segera terbuka.


"Fin, sebenarnya aku dan Sofia itu mahram, kau ingat waktu dia menemuiku saat kau mendaftar di Al-Amin dulu?" Aku memutar ingatan sampai menemukannya, ya saat itu aku agak menjauh untuk mengisi formulir pendaftaran. Ustazah Sofia menemui Mas Adi dan menangis. Aku mengingatnya dengan jelas, juga rasa hati yang panas saat itu juga kembali aku rasakan saat ini.


"Kau sudah tahu kan? Bahwa aku, Rahman dan Syams itu tidak hidup bersama, Aku dan Rahman diasuh oleh orang lain," aku benar-benar menunggu kelanjutan cerita Mas Adi. Tanpa sadar aku berdoa agar tiada aral yang melintang untuk memotong cerita Mas Adi tentang ini. Dan aku sangat menantikan cerita ini.

__ADS_1


"Aku diasuh oleh bibinya Sofia, namun karena sesuatu, beliau tidak bisa menyusui dan ibunya sofialah yang menyumbangkan asinya untukku. Secara tidak langsung, sejak saat itu kami menjadi mahram, saudara sepersusuan. Kau masih ingat kan siapa saja wanita yang tidak boleh dinikahi?" Aku mengangguk, lalu bersiap melafalkan ayat dalam al-quran.


"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. an-Nisa: 23)


Mas Adi mengulas sebuah senyum kecil, akhirnya aku mengerti kenapa Mas Adi tidak menceraikanku dan menikahi ustazah Sofia.


"Rencana Allah itu sangat indah, Dia menyandingkanku denganmu, dan membuat pernikahan yang haram hukumnya itu tidak menjadi nyata. Aku mencintaimu," Mas Adi maju dan membelai jilbabku lembut. Aku menutup mata, merasakan hembusan segar yang kini terasa membahagiakan. Namun mataku kembali terbuka, saat aku mengingat perkataan Mas Adi dan ustazah Sofia kala itu, kala di taman rumah sakit.


"Tapi perkataan Mas saat bersama ustazah Sofia waktu itu?" Mas Adi mengernyitkan kening, aku baru sadar bahwa Mas Adi tidak mengetahui jika aku berada di sana saat itu. Aku hanya bisa menggigit bibir.


"Bagaimana kau tahu tentang itu?" Mas Adi menatapku tajam. Kepalaku hanya bisa tertunduk tidak mampu menatap Mas Adi.


"Kau mengikutiku?" Mas Adi terkejut, walau berat akhirnya aku mengangguk. Mas Adi berdecak, namun diiringi sebuah senyuman.


"Harusnya aku mempercayai feelingku jika wanita bercadar di sampingku saat itu adalah kamu, Fin." Kini ganti aku yang terkejut. Mas Adi menyadari keberadaanku saat itu, tapi mengapa ia tidak menegur atau menanyaiku?


"Aku ingin menjodohkan Sofia dengan lelaki baik yang sekualitas dengannya, Fin. baik, pekerja keras, sholih, insyaallah." Aku menangkap sesuatu dari ungkapan Mas Adi. Apa yang dimaksud dalam perkataannya itu adalah adiknya? Mas Adi mengangguk.


"Ya, aku ingin menjodohkan Sofia dengan Rahman, hanya saja perkara Fahmi yang menghalangi niatan itu." Jelas Mas Adi, aku hanya bisa membulatkan bibir. Kini wajah lelaki yang penuh kemarahan itu kembali membayang, lalu apa yang menyebabkan Fahmi, abang ustazah Sofia begitu murka dan membenci Mas Adi?


"Fahmi adalah laki-laki yang baik, dik. Hanya saja kekecewaan mengubahnya." Aku menggigit bibir lagi. Otak ini bekerja keras mencerna kalimat Mas Adi.

__ADS_1


"Fahmi kecewa karena dua tahun ia menunggu jawaban lamarannya kepada Nafisah, tapi belum juga ia dapatkan. Saat itu aku pernah mengatakan keinginanku padanya, jadi ia ingin aku menikahi Sofia apapun yang terjadi. " Aku hanya bisa melongo mendengar kalimat Mas Adi. Lalu mata kami segera tertuju pada sebuah mobil yang tak asing. Rahman ada di sini?


"Assalamualaikum, Mas, Mbak." Rahman menyalimi Mas Adi dan mengatupkan kedua tangannya kepadaku. "Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa Mas Adi menyuruh Rahman ke sini?" Suara Rahman menyiratkan kebingungannya.


"Kau kenal Fahmi kan, Man? Tolong kau bujuk dia untuk bisa memaafkan aku dan Nafisah," mataku melirik Mas Adi yang mendekat Rahman dan meraih bahu bidang Rahman. Laki-laki yang tadi bingung itu mengangguk.


"Apa Rahman mengenal Fahmi?" Bisikku kepada Mas Adi, dia hanya mengangguk mantap.


####


Akhirnya, di sinilah kami saat ini. Menyaksikan kesakralan ijab kabul dua pasangan. Yaitu Rahman dan ustazah Sofia, lalu Fahmi dan ustazah Nafisah. Aku duduk di dekat kedua pengantin itu. Fahmi dan ustazah Nafisah telah berada di depan meja penghulu.


Dengan satu tarikan napas, Fahmi berhasil melafalkan ijab kabul. Setelah berdoa, kini gantian Rahman yang deg-degan untuk mengijab ustazah Sofia.


"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq," terdengar suara pakk Penghulu yang menanyakan kepada saksi. Mas Adi sendiri duduk di samping Rahman sebagai saksi. Kami semua segera menengadahkan tangan untuk mengaminkan doa setelah ijab.


Akhirnya, rasa penasaranku selama ini terjawab sudah. Mas Adi menggenggam erat tanganku. Ya, aku tidak ingin lagi jauh darinya. Setelah bersalaman dengan abi dan uminya, ustazah Sofia menatapku ragu. Namun aku segera maju untuk memeluknya.


"Maafkan aku, ustazah, aku telah berburuk sangka padamu," ucapku tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk. Ustazah Sofia juga menangis, ia mengeratkan pelukannya sebentar.


"Akhirnya, Allah mengganti kekecewaanku dengan indahya qadarullahNya."

__ADS_1


__ADS_2