Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Fans Gus Ali


__ADS_3

Pukul tujuh lebih lima, Fatim baru sampai di gerbang madrasah. Padahal bel telah berbunyi lima menit yang lalu. Dan sialnya lagi kelas Fatim yang berada di ujung koridor dekat ruang ustaz. Fatim masih berlari. Berharap ustaz pengajar belum masuk kelas.


Saat melewati kantor ustaz, Fatimah tak terlalu fokus sampai sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik pintu dan Fatimah tidak bisa mengerem laju larinya.


Bruuukk. Fatim terjatuh. Untung saja tangan Fatimah segera menahan tubuh agar tidak sampai jatuh terlentang. Fatim jatuh terduduk.


"Duh, apes banget sih. Pake jatuh lagi."


Fatimah tidak memperhatikan siapa yang kini berdiri memandangnya. Sosok yang ia tabrak itu melihat sekilas wajah Fatimah lalu segera menunduk. Teringat ia harus gadul bashor, menjaga pandangan.


Fatimah bukan anak yang cengeng. Ia segera kembali bangkit setelah memungut tasnya yang jatuh.


"Afwan, ustaz, ...." Fatim terdiam melihat Gus Ali yang kini berada di depannya.


Berarti yang tadi dia tabrak adalah Gus Ali? Dada Fatimah kembali berdegub kencang. Bertemu Gus Ali sepertinya benar-benar mengancam kesehatan jantungnya.


"Lain kali hati-hati."


Tak banyak bicara, Gus Ali langsung meninggalkan tempat. Ia memilih segera menuju kelas. Begitupun dengan Fatimah.


Dalam hati Gus Ali, ia juga merutuki kejadian ini. Bertabrakan dengan gadis yang sangat ia jaga juga berpengaruh pada hatinya. Bertahun tahun ia telah sukses menjaga diri dari pesona Fatimah yang kelak akan dipinangnya, tapi akhir-akhir ini ia mulai lengah.


Fatimah masih menatap punggung Gus Ali yang berjalan melewatinya. Fatimah heran sekaligus sebal. Lelaki itu selalu menghubunginya di telepon. Selalu ada untuknya meski hanya lewat kata-kata. Tapi setelah menabraknya, Gus Ali bahkan hanya berkata tiga kata.


"Huh, dasar Gus aneh! Persis tokek. Dari kejauhan bunyi terus, ketika dideketin diem-diem bae," oceh Fatimah.


Merasa sia-sia menatap punggung Gus Ali, Fatimah segera berbalik. Berjalan ke kelasnya. Walau tragedi tadi sudah membuatnya tertahan lebih lama. Biarlah dia mendapat hukuman ustaz Musa.


Saat itulah Gus Ali membalikkan badannya. Melihat Fatimah yang berjalan terburu. Gadis itu telah tumbuh besar. Sebentar lagi, tunggu sedikit lagi. Gus Ali hanya meminta sedikit waktu lagi agar Fatimah siap membersamai dalam suka dan duka.


"Dalam setiap doa, aku hanya merangkai namamu. Kau yang kusemogakan untuk masa depanku," bisik Gus Ali pada diri sendiri.


Mahabbah memang hal yang sulit. Apalagi untuknya yang baru sampai bab itu dalam kitab ihya Ulumuddin. Kitab yang membahas perkara hati itu begitu berat dipelajari oelh hati yang telah ternoda.


Sejenak Gus Ali terdiam. Hanya bisa mengembuskan napas berkali-kali. Dalam ingatan ia tak akan pernah lupa hari dimana ia matur kepada Abahnya untuk meminta Fatimah.


Lebih tepatnya melamar Fatimah. Sayangnya hingga kini lamaran itu masih sekedar ikatan lisan. Ia merasa bahwa Fatimah mungkin belum tahu soal itu.

__ADS_1


"Wes, Li. Ojo kesuwen. Yen tenan ndang diijab. Yen ragu ndang dijauhi." Dhawuh Pak Kyai hampir setiap pertemuan dengan putranya.


"Mboten, Bah. Fatimah dereng siap," jawab Gus Ali. Ia menggigit bibir bawahnya.


Setiap bertemu hanya perihal itu yang ditanyakan Pak Kyai pada sang putra. Hingga sang putra malas bertemu dan menghindar. Hal ini pula yang membuat isu tidak rukun antara Abah dan anaknya ini.


"Assalamualaikum, ustaz. Kelas kami di sini," ujar salah satu siswa saat Gus Ali terus berjalan sedangkan kelas yang ia tuju sudah terlewat.


"Waalaikumsalam, Afwan."


Gus Ali sempat salah tingkah. Hal itu terlihat hingga wajahnya memerah. Tak mau semakin kikuk, Gus Ali masuk ke dalam kelas. Berusaha menjadi normal ketika dadanya berdetak tak normal hanya karena satu nama. Fatimah.


***


Jam istirahat datang. Seperti biasa, Fatimah berjalan bersama dua temannya menuju warung. Yang membedakan sekolah dengan Madrasah salah satunya adalah warung yang dipisah. Dimana siswa laki-laki dan perempuan tidak bisa berbaur.


Sudah pasti tujuan utamanya terpisahnya santri laki-laki dan perempuan adalah agar menjaga hal yang tidak diinginkan.


"Fat, tungguin aku," ujar Salsa yang menunduk mengencangkan tali sepatunya.


Fatimah dan Zahra menghentikan langkah. Keduanya menanti Salsa yang sibuk mengikat tali sepatu.


"Eh, ukhti Fatimah?"


Fatimah menoleh, merasa asing dengan akhwat yang berdiri menatapnya. Fatimah merasa tidak mengenali perempuan ini.


"Perkenalkan, ana Mega, murid baru."


"Oh, salam kenal."


Fatimah merespon biasa saja. Ia bukan anak yang gampang akrab. Ia hanya menghargai gadis di depannya menegur duluan.


"Ana dengar anti bersahabat dengan ustaz Ali ya?"


Mendengar nama itu disebut, sontak wajah Fatimah berubah. Ia merasa risih dikenali sebagai sahabat Gus Ali. Tapi ia juga tidak bisa menutup kenyatan itu.


"Ada apa dengan Gus Ali?" tanyanya balik kepada Mega yang terkejut melihat perubahan wajah Fatimah.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin bersahabat juga dengannya, bisa kan?"


Mendengar kalimat terakhir Mega, Fatimah berpandangan dengan Zahra. Mereka langsung bisa menebak untuk apa Mega berada di sini.


"Kamu fans-nya Gus Ali?"


Mega tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Berarti benar dugaan mereka.


"Yang bisa bersahabat dengan Gus Ali itu cuma Fatimah. Lainnya jangan harap deh," oceh Zahra segera berhadiah cubitan dari Fatimah.


Lagi-lagi kedekatan Fatimah dengan Gus Ali membawa masalah yang sebenarnya Fatimah sudah lelah. Banyak gadis-gadis yang mendekatinya hanya agar bisa tahu lebih banyak tentang Gus Ali.


"Jangan ngomong gitu, Ra. Inget, kamu dulu juga ngefans sama Gus Ali," peringat Fatimah.


Sedangkan Zahra wajahnya langsung berubah pias. Memang dulu ia mendekati Fatimah karena termakan rumor itu. Walau akhirnya Zahra menjadi teman Fatimah, tapi ia merasa malu jika hal itu diungkit.


"Afwan, ana juga murid seperti kalian. Ana juga tidak dekat dengan Gus Ali. Hanya sebatas ustaz dan murid," jelas Fatimah merasa perlu menegaskan tentang hal ini.


Namun sayangnya, kalimatnya ini selalu terpatahkan. Entah mengapa rumor kalau Gus Ali dan Fatimah adalah pasangan yang cocok selalu menyebar.


"Anti kenapa sombong sekali?"


"Heh sombong apa?"


"Lagian anti hanya sahabat ustaz Ali, ana akan buktikan kalau ana bisa jadi istri ustaz tampan itu," ujar Mega sembari melengos pergi.


Fatimah hanya bisa mengelus dada. Ujian para penuntut ilmu adalah nafsu. Ia tak mau langsung menghakimi. Tapi melihat ambisi Mega untuk mendapatkan Gus Ali, Fatimah yakin pendidikan gadis itu akan menemukan ketumpulan. Bukan cinta yang ada pada Mega, melainkan hanya nafsu sesaat.


Fatimah juga sering terbawa perasaan. Beruntunglah Gus Ali selalu mengingatkan padanya lewat pesan singkat. Yang terpenting adalah ilmu. Jadi fokuslah mencari ilmu. Apalagi mereka sudah kelas 3 madrasah Aliyah. Tinggal satu semester lagi mereka lulus.


"Emangnya Gus-nya mau sama kamu?" tanya Salsa di samping Fatimah dan Zahra.


"Kalian awas aja!" Mega segera berjalan melewati mereka bertiga dengan wajah merah padam.


"Kasian fansnya Gus Ali, ya," komentar Zahra.


Tapi Fatimah memilih tak berkomentar apa-apa. Ia memilih terus berjalan ke warung.

__ADS_1


__ADS_2