Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Kemarahan Orang Tua Mega 3


__ADS_3

Udara terasa sedikit berembun. Dika sempat beberapa kali bersin karena perbedaan iklim di Surabaya dan Ngantang.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga memasuki daerah Ngantang. Dika terkesan dengan udara sejuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi tetap saja ia harus fokus menyetir. Saking fokusnya, ia tidak menyadari kalau raut wajah Mega terlihat lesu.


"Ngantang ternyata masih tetap dingin seperti dulu ketika mondok di sini." Umi Sofia menatap suaminya. Ia memang sudah sangat lama tidak sowan ke sini.


"Em, Bulek dan Paklek tidak keberatan kan kalau kita mengantar Mega dulu? Sekalian menemui orang tuanya," ujar Dika hati-hati.


"Kenapa Dik? Antum mau melamar Mega?" tanya Rahman terkejut dengan keberanian keponakannya. Bisa dibilang ia sedikit lebih jantan daripada Abahnya yang dulu ketika di Yaman meneror ustaz Adi hanya karena galau digantung ustazah Naf.


"Eh, enggak, Paklek. Dika cuma mau menjelaskan tentang masalah itu, kok."


Rahman menahan ketawa ketika melihat wajah Dika memerah. Entah karena malu, atau karena marah. Itu tidak penting.


"Mega?" panggil Dika ingin menanyakan alamat rumahnya, atau Mega memberi arahan dimana rumahnya. Sayangnya Mega yang sedang memikirkan nasibnya seolah asyik dengan kegalauannya sendiri. Mega tidak mendengar panggilan itu.


'Kenapa nasibku begini banget? Ngejar Gus Ali, Fatimah yang dapat. Baru mulai suka sama Kak Dika, ternyata Kak Dika ngejar Bu Tata. Kapan aku bahagia ya Allah?' batin Mega menatap jalanan yang didominasi persawahan.


"Mega?" panggil Dika lagi merasa tidak disahuti. Masih tidak ada jawaban, akhirnya Bulek Sofia menepuk pundak wanita di sampingnya itu.


"Kapan aku bahagia ya Allah?" tanya Mega spontan, membuat umi Sofia terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Mega tanpa sadar. Bisa jadi sejak tadi Mega memikirkan nasibnya?


"Eh, ada apa Tante?" Mega meralat ucapannya. Berharap tidak ada yang mendengar kalimatnya tadi.


"Dipanggil Dika tuh."


"Eh, ada apa, Kak Dika?" Mega mengalihkan pandangannya ke depannya. Tanpa sengaja tatapan mereka sempat bertubrukan meski hanya lewat kaca spion.


"Rumah kamu dimana?" Kejengkelan Dika tiba-tiba lenyap melihat Mega yang tadi melamun. Apa mungkin sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Ngantang gadis itu melamun terus? Tanya Dika dalam hati, ia jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu.


"Eh, nanti pertigaan belok kiri, Kak. Searah dengan pondoknya Gus Ali."


"Searah gimana? Orang aku juga belum pernah ke sana."


"Ck. Maksud saya ngasih tahu, kalau rumah saya dan tempat resepsinya Gus Ali dan Fatimah itu searah. Jadi nanti kan kelihatan ada penunjuknya." Mega merasa sebal karena nada suara Dika kembali dingin kepadanya.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan berantem. Gitu aja berantem."


"Siapa yang berantem?" Mega dan Dika serempak mengatakan hal yang sama. Membuat Sofia dan Rahman terkejut.


Merasa salah tingkah setelah itu, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Ternyata benar apa yang dikatakan Mega. Begitu sampai di pertigaan, sudah ada penunjuk jalan menuju pondok pesantren tempat digelarnya acara.


Mega mulai sedikit risau karena melihat rumahnya di depan sana. Mau tak mau. Meski berani atau ketakutan, Mega harus menghadapi kemarahan papa dan mamanya. Entah bagaimana ia melewati ini semua.


"Stop, Kak. Rumah cat biru itu rumah Mega." Mega menunjuk rumah yang ia maksud.


Setelah mobil terhenti, semua beranjak turun. Kecuali Mega yang harus menyiapkan hatinya. Sofia dan Rahman sudah hampir mencapai pintu. Dika yang berada di belakang suami istri itu terhenti ketika menyadari si empunya rumah belum turun dari mobilnya. Dengan wajah kesal, Dika kembali menghampiri mobilnya.


"Meg, ini rumah kamu. Masak kita duluan yang masuk? Kamu dong harusnya yang duluan."


"I, iya, Kak. Bentar ana nyiapin hati dulu."


"Cepetan."


"Iya, Kak. Sabar dikit kenapa sih?"


"Iya, iya, ini Mega turun." Mega juga kesal kepada Dika.


Mega menghela napas sebelum akhirnya menekan bel rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan munculah mamanya yang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Akhirnya kamu pulang juga, ya." Nyali Mega menciut seketika melihat tatapan tajam mamanya. Ia tahu, mama manapun akan murka ketika anaknya melakukan hal yang salah.


Mata mamanya Mega beralih pada Dika yang juga ia kenali. Mamanya Mega kembali masuk ke dalam rumah. Mereka berempat yang masih berdiri di depan pintu baru dipersilakan masuk oleh Mega. Tapi mamanya kembali ke hadapan mereka sambil membawa sapu.


"Jadi kamu yang sudah merusak anak saya, ha?" sentak mamanya Mega dengan sekuatnya memukul Dika dengan gagang sapu.


Dika berusaha menjauh, tapi mamanya Mega tidak melepaskannya begitu saja. Mamanya Mega terus mengejar Dika. Hingga keduanya lelah.


Mega kasihan dengan Dika, tapi ia juga tidak mampu menghentikan mamanya yang sudah tidak tahan menahan marah.


"Ma, sudah, jangan pukulin Kak Dika, dia nggak salah." Mega berusaha mengejar dua orang yang berlari mengitari halaman rumahnya itu.

__ADS_1


"Ampun Tante, ini cuma salah paham. Ampun." Dika berusaha menjelaskan, tapi mamanya Mega seperti tidak terkendali.


Mendengar keributan di depan rumahnya, papanya Mega melangkah ke depan. Ia terkejut melihat Sofia dan Rahman yang diam saja karena bingung harus mengambil sikap.


"Pak tolong hentikan mereka, kami akan menjelaskan duduk perkaranya. Tapi tolong hentikan mereka. Jangan sampai keponakan saya babak belur," ujar Sofia dengan panik.


Papanya Mega segera menghampiri istrinya dan menahan tangannya. Saking kuatnya, papanya Mega juga hampir kena pukul sapu. Untungnya ia lincah bisa menghindar. Lagipula mamanya Mega sudah kelelahan.


"Ma, yang viral itu salah paham. Dengarkan dulu penjelasan kami." Mega tidak sadar menghampiri Dika dan menanyakan keadaannya. Ia sangat cemas jika Dika mengalami cidera atau luka karena ulah mamanya.


"Kamu jangan belain dia ya. Kalau kamu bucin, nanti dia seenaknya sendiri sama kamu," terang mamanya Mega sambil mengatur napas.


Semua yang mendengarnya ingin tertawa menyadari kalimat itu terasa rancu karena ada kata bucin. Tapi tidak ada yang berani tertawa.


Setelah dibujuk, akhirnya mereka masuk ke dalam rumah untuk berembug. Tentu saja Mega dan Dika hanya diam. Sofia dan Rahman yang banyak menjelaskan kesalahpahaman ini. Tidak lupa juga mereka memperlihatkan video klarifikasi yang mereka buat. Dan sekarang harapan mereka semoga video kedua ini segera viral juga seperti yang pertama.


"Jadi kamu tidak hamil, nak?" tanya mamanya Mega menatap Mega dengan berkaca-kaca. Hati ibu mana yang tidak hancur saat mengetahui anaknya terkenal dimana-mana dengan berita buruk?


Mega menggeleng. Tapi mamanya kembali bersikap murung. Meski kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang sedang ramai diperbincangkan, bagaimana cara mereka membersihkan nama keluarga yang terlanjur tercoreng?


"Mega, ayo ikut mama ke bidan dulu. Mama tidak mau ambil resiko jika ternyata anak mama telah ternoda." Mamanya Mega menyeret anaknya, tapi dihentikan oleh Sofia.


"Bu, tolong percayalah kepada Mega. Mega anak baik, dia benar-benar menjaga diri. Kalau ibunya saja tidak mempercayainya, bagaimana orang lain bisa percaya?" Sofia menyentuh pundak mamanya Mega dengan halus.


Sejenak mamanya Mega menatap putrinya dengan nanar. Menyadari jika hati anaknya itu sudah ringkih. Mungkin beberapa waktu ketika video itu menjadi viral, Mega sempat stres dan frustasi.


"Tapi anak itu tetap harus bertanggungjawab menikahi Mega," ujar mamanya Mega yang banyak berbicara. Berbeda dengan suaminya yang sejak tadi diam mencerna keadaan.


"Saya tidak pernah ngapa-ngapain Mega, kok," tolak Dika dengan wajah keberatan.


"Meski berita itu tidak benar, semua orang terlanjur men-cap anak kami buruk. Jadi bagaimana Mega akan mendapat jodoh?" tanya mamanya dengan berderai air mata. Bagaimanapun juga, seorang ibu hanya ingin anaknya bahagia.


"Tapi ya jangan minta dinikahin sama saya," balas Dika tapi dengan suara pelan. Ia melihat kesedihan mendalam yang dialami keluarga ini. Ia tak bisa membohongi diri jika hatinya juga iba dengan keadaan Mega.


"Mama tenang aja, Mega punya Allah. Bukankah jodoh itu bukan kuasa kita?" Mega terlihat berusaha tegar. Melihat ibunya begitu sedih, ia tidak mungkin menampakkan pula hatinya yang hancur.

__ADS_1


Sofia dan Rahman sempat bersitatap. Melihat bagaimana cara Mega menenangkan hati kedua orang tuanya, mereka jatuh iba dan merasa kagum.


__ADS_2