Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Melamar Tata 2


__ADS_3

Tata baru saja akan melangkah, saat suara sang Abi terdengar memanggil namanya. Dengan wajah penasaran, Tata mendatangi ke abinya dengan langkah cepat.


"Ada apa, Bi?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Ada laki-laki yang gentle datang melamarmu." Abinya itu mengangsurkan kotak kecil perhiasan.


Dengan penasaran dan hati yang menyimpan ragu, Tata menyentuh kotak itu lalu membukanya. Melihat cincin dengan emas berkilauan itu malah membuat hati Tata seperti diremas.


"Afwan, Abi. Tata tidak bisa menerimanya," balas Tata dengan wajah murung. Ingatannya selalu terpaku saat uminya menceritakan tentang keviralan Dika dan berkata tidak ingin memiliki menantu sepertinya.


"Ada alasan logis yang bisa Abi terima?" tanya abinya. Sepertinya sang ayah memang tidak mengetahui tentang viralnya video Dika.


"Yaampun, ternyata benar, non. Ini di tivi ditayangkan lagi kelanjutan video itu." Bibi yang juga tidak jauh dari mereka menutup mulutnya yang terbuka melihat video klarifikasi tayang di televisi.


Sontak sang ayah juga melihat berita itu. Seakan tidak percaya jika lelaki yang terlihat berusaha bersikap baik di depannya, itu adalah lelaki yang diam saja di samping dua perempuan.


Merasa ingin mencari tahu lebih dalam, abinya Tata menyimak berita yang disiarkan lengkap itu. Abinya menahan diri. Rasanya tidak percaya jika Dika lelaki seperti itu. Entah mengapa dalam hati abinya merasa video klarifikasi itu benar.


Video yang awal menjadi viral hanya kesalahanpahaman. Hati kecil abinya Tata merasa perlu memberi kesempatan kepada Dika untuk menjelaskan duduk perkara ini.


"Abi akan temui dia. Abi akan tanya tentang berita ini. Kita harus bertabayyun, mendengar dari sumbernya langsung. Kalau di media, pasti sudah digoreng sana-sini." Abinya bangkit dan kembali mengantongi kotak kecil milik Dika.


Tata melenguh. Sebenarnya ia juga tidak percaya jika Dika melakukan hal itu. Tapi hatinya sudah terlanjur sakit. Jika pernikahan benar terjadi, Tata takut tidak bisa melupakan kasus ini.


"Jadi dia melamar non?" tanya bibi art dengan berbisik. Ia tidak ingin pertanyaannya menjadi hal yang buruk untuk kebahagiaan juragannya.


Sejujurnya Bi Inah juga sudah melihat bagaimana Tata hancur karena cintanya pada Gus Ali tidak bersambut. Malah lelaki yang digadang-gadang anak juragannya itu menikahi gadis lain. Meski tidak mengenalnya, Bi Inah juga merasa kasihan.


Alih-alih menjawab, Tata hanya mengangguk samar. Mau tak mau hati Tata sedikit terbuka. Tapi jika boleh jujur, dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Dika. Malah ia menyimpan satu nama yang ia sendiri takut untuk menyebutnya.


"Lagipula umi nggak akan setuju jika Tata nikah sama dia, Bi. Kemarin waktu ke Ngantang ketemu dia, dan umi kelihatan nggak suka gitu." Tanpa sadar Tata menceritakan semuanya.


"Tapi benar kata Bapak, non. Kita harus bertabayyun, siapa tahu video viral itu hanya salah paham. Kita kan belum dengar cerita keseluruhan," jelas Bi Inah. Merasa perlu mengatakan ini. Mengingat dirinya sendiri perawan tua karena pernah sakit hati kepada satu lelaki. Ia tidak ingin anak juragannya itu mengalami hal serupa.


"Tapi, Bi. Mau benar atau salah, apa yang sudah viral pasti dilihat sebelah mata." Tata berdiri dengan emosional. Ia berkecil hati jika uminya merestui. Atau bahkan hatinya sendiri yang tidak akan menerima Dika.

__ADS_1


"Iya ya, non."


"Ah, udah, Tata mau ke kampus, Bi. Siapin sarapan ya." Akhirnya Tata mengakhiri perbincangan itu dengan berlalu ke kamar.


Menyegarkan dirinya dan bersiap ke kampus. Walau nanti ia akan bertemu Dika, tapi Tata berusaha menjaga kredibilitas dan integritas kerjanya.


Hati kecil Tata sempat berontak. Diakui atau tidak, ia merindukan seseorang yang bahkan tidak berani ia sebut namanya. Ia mengharapkan pertemuan. Tapi ia juga tidak mau terlalu terbawa perasaan. Tata menggelengkan kepalanya untuk menghapus wajah lelaki yang baginya tidak mungkin diraih itu.


***


Di sisi lain, Mega mencengkeram erat berkas yang akan ia serahkan ke forum ta'aruf. Ia merasa deg-degan melakukan ini. Tapi ia harus melakukannya.


"Apa sudah dituliskan dengan lengkap pria yang diinginkan?" tanya seorang akhwat memindai formulir yang ada di meja.


"Sudah," jawab singkat Mega.


Setelahnya Mega menyerahkan CV dirinya. Menjawab beberapa pertanyaan umum dari akhwat itu, lalu berpamitan setelah hajatnya selesai.


Keluar dari forum itu, tak sengaja ia bertemu seseorang di saat akan menyeberang.


"Mega kan?" tanya pria dengan kopyah yang melekat di kepalanya itu.


Mega mengangguk. Ia masih tidak percaya jika lelaki ini mengenalinya meski ia bercadar. Pun tidak cuek padanya layaknya orang lain yang sudah melihat viralnya video itu.


"Mau kemana?" tanya Mega berbasa-basi.


"Ke kampus itu."


"Antum kuliah di sana?"


"Tidak, Meg. Ana tidak kuliah di sana. Ada keperluan."


"Owh."


Hening, tidak ada kelanjutan perbincangan mereka. Mega hanya memendam sendiri rasa penasarannya dengan rantang yang dibawa lelaki di sampingnya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berpisah setelah memasuki gerbang kampus. Mega menghentikan langkahnya saat handphonenya berdering. Fatimah memanggilnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Tim. Ada apa?" tanya Mega.


"Bagaimana kabar anti, Meg?" tanya Fatimah yang kini bersama Gus Ali menyiapkan tas untuk kembali ke Surabaya.


"Alhamdulillah, baik. Tim. Anti bagaimana? Sudah kerasan di Ngantang ya?"


"Ya enggaklah, Meg. Ini mau balik ke Surabaya."


"Oh, kirain mau di samping suami anti terus. Ha ha ha."


Keduanya saling bercanda di telepon. Mega merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Fatimah. Ia merasa selalu ditunjukkan jalan oleh karibnya itu.


"Ya sudah, sampai bertemu di Surabaya ya."


"Iya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Setelah panggilan terputus. Mega terdiam. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Dika duduk dengan wajah semringah.


Mega penasaran. Tapi mengingat pria itu membencinya, ia tidak berani mengganggu. Mega duduk agak jauh dari tempat duduk Dika.


"Eh, jangan jauh-jauh. Sini aja." Dika menegur Mega. Barangkali lupa jika ia membenci gadis itu.


"Afwan." Mega terkejut karena Dika memintanya mengambil duduk di sampingnya. Bukankah Dika begitu membencinya?


Dengan ragu, Mega duduk di samping Dika. Masih ada jarak. Mega mencuri pandang kepada lelaki di sebelahnya. Senyum lelaki itu tersemat awet di wajah. Membuat dada Mega berdetak lebih kencang.


Dika sebenarnya tampan jika tersenyum seperti itu. Sayangnya, Mega selalu melihat Dika begitu membenci dan penuh amarah.


"Kamu tahu, Meg? Aku lagi bahagia."


Mega mendelik. Terkejut jika Dika mengatakan sesuatu padanya. Ia kira kebencian Dika itu tidak akan hilang, nyatanya Mega mendengar lelaki itu bercerita padanya dengan riang.


"Bahagia ke-napa Kak Dik?" tanya Mega sedikit ragu.

__ADS_1


"Aku habis ngelamar Bu Tata." Dika masih sibuk dengan perasaannya sendiri.


Deg. Senyum di wajah Mega lenyap seketika. Dadanya seperti diremas. Sakit sekali. Untungnya ia memakai cadar, ia sangat berharap cadarnya mampu menutupi kesedihannya.


__ADS_2