
Dua garis merah yang terang benar-benar membuatku tersenyum tanpa tahu bagaimana cara menghentikannya. Aku bergegas melangkah kembali ke kamar.
Mas Adi sedang membaca kitab berbahasa Arab saat aku datang padanya. Sengaja aku memasang datar di depannya.
"Bagaimana?" tanyanya antusias. Aku duduk di sampingnya. Ah, sebenarnya sangat tidak betah menyembunyikan kebahagiaan ini.
"Dua garis, Mas." Aku menutup mulut melihat kedua mata Mas Adi berbinar.
"Alhamdulillahirobbil alamin."
Mas Adi meraup wajahnya. Merambat kan rasa haru ke dalam hatiku juga. Setelah itu ia memelukku hangat. Tak terasa air mata menetes di pipi. Kebahagiaan yang Allah hadirkan di hidupku luar biasa. Bagaimana bisa aku mengingkarinya?
"Kok Mas Adi punya pikiran ana hamil, Mas? Padahal ana saja tidak menyadarinya?" tanyaku setelah Mas Adi melepaskan pelukannya.
"Karena anti aneh."
Ucapan singkat itu berhasil membuatku cemberut. Entah kenapa aku jadi cengeng. Tak perlu waktu lama air mata menetes dari sudut mata membuat Mas Adi kelimpungan.
"Ana becanda, Fin. Jangan nangis." Mas Adi menyeka air mata yang jatuh.
Diam-diam aku mengerti mengapa Mas Adi langsung mengetahui ada yang tidak beres pada diriku. Maksudnya mood swing yang entah sejak kapan kualami.
"Afwan, Mas. Ana bingung jika ana hamil, gimana kuliahnya?" ujarku mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi tak mau hilang dari pikiran.
"Kalau anti merasa tidak sanggup, cuti saja."
Aku menatap ke dalam mata suami yang selalu terlihat tenang ini. Bagaimana bisa kata-kata yang keluar dari lisannya begitu menenangkan? Apa ini karomah?
"Jangan, Mas. Kalau cuti eman. insyaallah aku nggak apa-apa kok. Anak kita pasti kuat."
Mas Adi menoleh ke arahku. Lalu kembali membawaku dalam dekapannya. Mataku merem, merasakan kedamaian yang selalu hadir dalam pelukan Mas Adi.
__ADS_1
"Tapi anti jaga diri ya," Mas Adi kembali melekatkan pandangannya pada mataku. Aku mengangguk untuk membuatnya tenang.
"Jangan berlebihan, Mas. Ana ini hamil, bukan sakit," tambahku.
”Tapi Mas sering dengar katanya ibu hamil tidak boleh stres."
"Asal Mas nggak dekat-dekat dengan Sofia, ana tidak akan stres." Entah bagaimana kalimat itu meluncur begitu saja.
Tidak ada jawaban dari Mas Adi. Kami saling menatap satu sama lain. Sepertinya suasana hatiku sudah mengalami mood swing. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga. Tak perlu waktu lama mataku sudah terasa penuh dengan air yang akan tumpah. Memilih menoleh ke arah lain agar tidak dilihat Mas Adi.
"Apa anti cemburu?" tanyanya padaku.
Alih-alih menjawab pertanyaan yang menurutku konyol, perasaan marahku semakin menggelegak. Tanganku spontan memukul lengan Mas Adi.
"Kok mukul?"
"Kok nyebelin?" balasku sengit.
"Wanita bisa memendam rasa cinta empatpuluh tahun, tapi tidak akan bisa menyembunyikan rasa cemburunya," lanjutku.
"Dek, jangan marah dong, Mas hanya bercanda." Mas Adi mengetuk pintu, tapi aku malah pura-pura tidak mendengarnya. Lalu meringkuk di dalam selimut. Entah mengapa badanku tiba-tiba jadi meriang.
Akhirnya aku tertidur dengan membawa rasa sebal pada Mas Adi.
***
"Bisakah anti menghargai Afin?" Mas Adi berdiri di samping Sofia. Aku yang tak sengaja melihat keduanya di depan taman jadi ingin menyimak percakapan keduanya. Sengaja mengintip di balik tembok.
"Apa maksud Mas Adi? Apa Afin ngadu yang enggak-enggak?"
Tanpa sadar aku menahan napas. Ustazah Sofia sepertinya masih menyimpan perasaan pada Mas Adi. Apa mungkin ia akan menjadi duri dalam rumah tanggaku? Padahal suaminya sendiri sangat baik. Rahman terlihat sangat memuliakannya.
__ADS_1
"Jaga ucapan anti, Afin sedang mengandung, dan ana tidak mau terjadi apa-apa padanya." Suara Mas Adi sedikit meninggi. Aku cukup terkejut bahwa suamiku mampu bertindak tegas demi aku.
Aku menggigit bibir. Ternyata Mas Adi sangat peduli denganku. Apalagi melihat raut wajahnya tadi, aku menyesal meragukan perasaannya.
Melihat kedua orang di sana sama-sama terdiam, aku malah ingin menangis. Haruskah gara-gara aku hubungan Mas Adi dan Sofia menjadi rusak?
Apa aku salah kalau cemburu pada Sofia? Apalagi mengetahui tentang masa lalu mereka yang hampir menikah. Tapi aku merasa keterlaluan dalam berkata. Menyebabkan Mas Adi berkata demikian pada Sofia.
"Ana sangat menghargai Rahman, tapi jangan salahkan ana kalau tega menjauhkan kalian dari kehidupan rumah tangga kami." Mas Adi menutup percakapannya lalu bangkit.
Aku buru-buru menjauh dari sana. Dan menenangkan diriku sendiri. Hal yang kulihat dan dengar hari ini sangat mengejutkan. Tapi di sisi lain aku merasa keterlaluan dalam bersikap.
Mataku tak sengaja melihat Rahman yang menghampiri Sofia di meja makan. Sofia masih menundukkan wajahnya, hingga Rahman meraih dagu Sofia untuk mampu melihat wajah istrinya.
"Apa ada sesuatu yang membuat anti sedih?" Rahman begitu menyayangi Sofia. Nada bicaranya yang halus, terdengar hati-hati dalam berucap. Ia pasti takut menyakiti hati istrinya.
Sofia menggeleng. Mulutnya bagai terkena lem. Masih membisu. Lalu memeluk pinggang suaminya yang berdiri di sampingnya. Aku menahan napas. Mereka begitu romantis. Apakah Sofia masih belum mencintai Rahman? Padahal sikap Rahman sangat lembut padanya. Wanita manapun pasti akan luluh menerima perlakuan seperti itu.
Aku menggeleng sendiri. Tapi setan sangat kuat. Jika iman di hati Sofia melemah, pasti ia mudah saja kufur pada nikmat yang tak semua wanita dapatkan itu. Bersuami laki-laki yang beriman dan berilmu.
Semua tergantung Sofia. Dan yang bisa aku lakukan adalah mendoakannya agar segera sadar dari khilafnya. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku belum melaksanakan sholat Ashar. Aku baru saja akan berbalik. Saat sebuah telapak tangan mencubit pipiku dari arah belakang.
Saat aku berbalik, Mas Adi tersenyum memandangku yang sebal. Aku mendengkus. Perasaanku menjadi lebih sebal padanya. Sudah tak peduli jika tadi Mas Adi menemui Sofia untuk menjauhinya.
Perasaanku terus meluap-luap. Ingin memukul Mas Adi, tapi Mas Adi meraih tanganku dan segera memelukku.
"Untunglah kemarahanmu segera mereda, ana takut anti masih memendam marah."
Perasaanku mendadak berubah. Seperti api yang disiram air. Perlahan tanganku membalas pelukan Mas Adi. Rasanya tetap saja tentram. Kuhidu aroma khas Mas Adi yang semakin menambah syahdu. Lama sekali kami berpelukan, hingga akhirnya aku tersadar belum melaksanakan kewajibanku.
Aku menjauhkan tubuh Mas Adi. Memaksanya membuat jarak denganku. Wajah Mas Adi terlihat heran. Apa dia menganggapku masih marah padanya?
__ADS_1
"Bukannya anti iri melihat keromantisan Rahman dan Sofia?" tanyanya dengan wajah datar.
Aku pura-pura menggeleng. Menutupi perasaan yang sebenarnya berbunga. Memiliki suami seperti Mas Adi, siapa yang tidak bahagia?