
Aku segera bergerak masuk ke dalam rumah sakit yang tadi menelpon ke rumah.
"Afwan, ana istri Syamsul Hadi, dimana ia sekarang?" Tanyaku pada resepsionis yang segera mengangguk dan membuka bukunya. Rahman tidak bisa turut ke rumah sakit karena ia ada pekerjaan jam ini. Aku menanti dengan harap-harap cemas. Pikiranku sudah jauh menembus awang-awang.
Dahulu, tanpa aku kira Allah mengambil Syams dari sisiku. Jujur saja sekarang aku takut untuk ditinggal lagi. Ya Rabb, aku memohon kepadaMu. Berikanlah aku waktu untuk meminta maaf dan merawat suamiku.
"Dia berada di ruang rawat nomor 101," ucap resepsionis. Detik berikutnya, aku telah berjalan cepat menuju ruangan itu.
Terlihat wajah pucat Mas Adi yang terlelap. Aku menemui dokter yang baru saja meneriksa Mas Adi. Laki-laki mengenakan jas putih itu terlihat berpikir keras saat melihatku membuntutinya.
"Tuan Syamsul Mujahidin, telah melalui masa kritis. Tadi tusukan itu hampir mengenai syaraf pusatnya," dokter itu menjelaskan bagaimana luka tusukan itu hampir merenggut nyawa suamiku. Dan sekali lagi, aku merasa menjadi istri yang tidak bisa menjaga dan merawat suamiku. Seperti halnya dengan Syams dahulu. Kedua mata ini mulai memanas, dadaku seperti diremas.
Sakit sekali. Beberapa kali dokter laki-laki itu membenahi gagang kacamatanya yang melorot. Baru setelah dirasanya cukup menjelaskan kondisi Mas Adi, laki-laki itu bergerak melewati tubuhku yang masih membeku menatap Mas Adi yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit.
"Ya Allah, jangan Engkau ambil suamiku." Mohonku dalam hati kecil.
Dengan langkah gemetar aku bergerak memasuki ruangan tempat Mas Adi dirawat. Laki-laki itu masih memejamkan matanya.
Kini, aku telah berada di samping ranjangnya. Mataku yang sedari tadi menahan gejolak, segera menjatuhkan bulir-bulir air.
Kupandangi suami yang selama ini selalu berusaha tidak menyakitiku walau mungkin saja di dalam hati kecilnya ia tidak bahagia.
__ADS_1
Ya, kenyataannya memang pahit. Tapi bukannya ia menceraikanku agar bisa menikah dengan ustazah Sofia, Mas Adi memilih mempertahankan rumah tangga kami dan berusaha keras mencintaiku lagi.
Dari keterangan dokter tadi, aku tahu bahwa tusukan di bahu Mas Adi menyebabkan kesakitan yang luar biasa sehingga dokter memilih menyuntikkan obat penenang dengan dosis sedang.
Aku duduk di samping ranjangnya, rasanya rindu sekali pada sosok laki laki di depan ini. Apalagi saat kebersamaan kami yang mungkin masih agak kaku, tidak bisa dipungkiri bahwa kami masih belajar hidup bersama. Belajar berbagi dan belajar lebih sungguh-sungguh untuk masa depan rumah tangga kami. Tapi sekali lagi ingatanku terbang pada kemesraan di depan mata. Masih adakah masa depan rumah tanggaku? Masih bisakah aku berharap ada cinta di antara kami?
Kuelus tangan Mas Adi yang tertancap jarum infus. Rasa hangatnya menyebar ke hati kecil, ada sebuah rasa yang merayap sangat halus di sana.
"Hanya kepadaMu aku memohon pertolongan, ya Allah." Bisikku pada diri sendiri.
****
Langkah kaki kupercepat, ingin segera menemukan di mana asal suara ini. Aku berjalan terus sampai suara itu terdengar sangat jelas. Kini aku berada di depan sebuah pintu, suara itu terus terdengar melantunkan ayat demi ayat surah Ar Rahman. Dengan jantung yang berdegup kencang aku membuka pintu itu. Ruangan berukuran 3 meter kali 4 meter itu bercat hijau, sama seperti ruangan lain di sini, namun yang membedakan adalah luasnya ruangan ini.
Dahiku mengerut saat melihat tiga laki-laki sedang mengaji sambil duduk bersila di sudut ruangan. Mereka bertiga mengenakan sarung, koko, dan kopiah yang sama. Aku kembali tersenyum melihat kebersamaan mereka yang meneduhkan. Syamsul Hadi, Syamsul Mujahidin, dan Syamsurrahman. Ketiganya Sholih dan berakhlak baik. Aku ingat Syams, dia adalah laki-laki penuh kejutan, manis dan selalu menjalankan qiyamullail. Kalau Mas Adi berbeda, dia selalu mengaji di manapun ia berada. Bahkan saat mengantri bisa dan di dalam pesawat ia juga mengaji. Sedangkan Rahman, pertemuan yang baru saja ini menumbuhkan keyakinan bahwa ia pun memiliki kualitas yang sama dengan abang-abangnya. Ia pun pasti memiliki amalan yang Istiqomah ia jalankan. Aku menghembuskan napas dalam. Aku merasa beruntung mengenal, bahkan menjadi istri Mas Adi. Ia memang tidak semanis Syams, tapi ia selalu berusaha tidak menyakiti hatiku. Tiba-tiba, arah pandangan mereka bertiga terarah kepadaku. Tentu saja aku menjadi gugup.
"Masuklah, Fin," Syams tersenyum dan mempersilakan aku memasuki tempat mereka mengaji. Aku bergerak dan berhenti tepat dua langkah dari mereka, tapi Mas Adi bangkit dari duduknya dan menghampiriku. Laki-laki dengan wajah teduh itu meraih sesuatu di tangannya dan mengenakan kain hitam itu di wajahku. Ia, Mas Adi memasangkan sebuah cadar padaku. Lalu ia mengecup keningku. Aku hanya menunduk tidak mampu bersuara apapun. Syams telah ada di samping Mas Adi, mereka berdua saling berpandangan. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang tiba-tiba mengusik kedamaian ku. Syams meraih tangan Mas Adi. Keduanya lalu berjalan melewati tubuhku. Sedangkan aku hanya terdiam. Hanya hati yang berontak, menatap punggung Mas Adi yang mulai menjauh. Bahkan beberapa langkah lagi ia telah sampai di pimtu.
"Tunggu, kalian mau kemana?" Akhirnya, aku dapat berkata-kata meski dengan susah payah. Syams tidak peduli dengan kata-kataku, sepertinya Mas Adi pun begitu. Tapi laki-laki di belakang Syams itu menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku. Detik ini, aku sangat berharap Mas Adi akan kembali padaku. Atau membawa aku bersamanya.
"Ayolah, Mas Adi, kan ada Rahman yang akan menjaga Afin," sahut Syams meraih tangan Mas Adi. Hatiku disergap rasa sedih dan kecewa. Mas Adi akan meninggalkanku. Air mata langsung deras mengucur. Bahkan aku jatuh bersimpuh menahan duka ini.
__ADS_1
"Afin," sebuah suara sangat jelas membuatku mengernyitkan kening. Aku segera membuka mata, Ya Allah ternyata hanya mimpi. Aku tertidur di samping tubuh Mas Adi. Saat ini laki-laki itu telah membuka matanya, ia melihatku dengan heran.
"Kamu kemana saja, istriku. Aku merindukanmu." Suaranya terdengar parau, kalimat yang melluncur dari bibirnya itu segera mengundang air mata kembali mengalir. Kuraih punggung tangannya dan kuciumi dengan berlinangan air mata. Aku mencintaimu, Mas. Jangan tinggalkan aku.
"Kamu kenapa?" Tanya Mas Adi, namun aku belum sanggup berbicara. Aku hanya menggeleng kecil sambil memajukan tubuhku untuk memeluknya. Sesungguhnya aku juga merindukannya. Berkali-kali kugerakkan buku-buku jari untuk menghapus air mata yang masih menggantung agar tidak sampai mengalir.
"Mas, maafkan aku yang telah suudzon padamu," ucapku lirih sambil menempelkan tangan Mas Adi di pipi. Lelaki itu hanya tersenyum kecil. "Sejak kapan kamu jadi manja gini, Fin?" Godaannya itu segera menyadarkanku. Aku memang sangat jarang menunjukkan sikap manja di depannya. Tanpa sadar aku mengerucutkan bibir karena sebal dengan godaan Mas Adi.
"Siapa yang menusukmu, Mas?" Tanyaku menatapnya tajam, namun mata Mas Adi malah meredup dan terlihat dipenuhi beban.
Apa aku salah bertanya seperti itu? Mas Adi mengembuskan napas berkali-kali sebelum bercerita tentang hal yang belum pernah aku tahu sebelumnya.
"Fahmi, Muhammad Fahmi Alfaruqi, dia adalah abangnya ustazah Shofia. Mungkin dia masih sakit hati karena aku menikahi orang lain, bukan adiknya." Kisah Mas Adi.
"Allah, dia memusuhimu, Mas?" Aku terkejut bukan main, bahkan aku tidak tahu-menahu tentang Fahmi yang diceritakan Mas Adi.
Air mataku kembali meleleh saat Mas Adi memohon maaf karena meninggalkanku malam itu. Mas Adi terpaksa menuju ke rumah ustazah Sofia karena Fahmi, abang ustazah Sofia mengancam ibu dan ustazah Sofia jika Mas Adi tidak menikahi ustazah Sofia. Perih sekali saat Mas Adi mengatakan ia sangat peduli dengan ustazah Sofia. Masihkah dia mencintai sahabatku itu?
"Jangan salah paham Fin, aku hanya menganggap Sofia adikku." Mata Mas Adi berapi-api mengatakan hal ini.
"Karena kenyataannya kami memang mahram, kami tidak bisa menikah." Aku hanya bisa menggigit bibir mendengar ungkapan yang membuat kepalaku berputar-putar. Dan sangat penasaran.
__ADS_1