Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Masih Tentang Dika


__ADS_3

"Tapi aku nggak suka sama dia." Dika berdiri. Ia tidak tahan jika nama Mega terus disebutkan.


Bisa-bisa ia gila karena gadis itu. Dika mendengkus kesal. Hingga akhirnya memutuskan pergi dari sepasang suami istri itu.


"Assalamualaikum." Meski dalam keadaan marah, Dika tetap berpamitan. Entah sejak kapan ia tidak tahu, tapi ia berusaha lebih baik dari sebelumnya.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh." Fatimah dan Gus Ali hanya menatap punggung Dika yang perlahan menjauh.


Keduanya terpaku sesaat. Entah apa yang berkecamuk di pikiran keduanya. Tapi tatapan mata keduanya menyiratkan hal yang sama. Melihat itu keduanya memilih diam dan mengungkapkan hal itu di saat yang tepat.


Di sisi lain, Dika kini kembali ke penginapan. Ia disambut uminya dengan omelan yang panjang dan lebar. Dika terlalu bosan. Tapi Dika tidak mungkin lari dari sana.


"Tadi Mega ke sini lho, bawain bolu." Senyuman umi Nafisah terlihat melebar. Ia lalu berjalan cepat ke arah kulkas dan mengambil sepotong bolu untuk Dika.


"Mega lagi, Mega lagi. Bisa nggak sih mi bahas yang lain gitu?" Dika kembali bersungut. Ia sangat muak dengan hal ini.


"Emangnya kenapa? Umi suka sama Mega, malah umi berharap antum bisa dekat sama dia." Umi Naf memberikan bolu itu ke tangan Dika, tapi Dika hanya melihatnya saja.


"Udahlah, mi. Jangan terlalu berharap Dika dekat sama Mega. Denger namanya aja Dika udah muak." Dika tak mau menerima sepotong kue itu, malah berlalu ke kamar.


"Lhoh, Dika? Kok kuenya nggak dimakan? Jangan ngomong begitu, pamali. Benci dan cinta itu beda tipis lhoh." Umi Naf memiliki firasat lain tentang hubungan anaknya dan gadis bernama Mega. Hanya saja putranya itu terlihat begitu membenci Mega. Padahal menurut umi Naf, sosok Mega itu cocok untuk anaknya yang menggebu-gebu.


"Nggak bakalan, Mi. Udah deh, Dika itu nggak suka dan nggak akan pernah suka sama Mega!"


Braakk! Dika menutup pintu dengan keras. Pertanda ia sangat marah. Padahal tak sengaja, Mega masih ada di dekat penginapan itu. Rumah tempat keluarga Dika adalah rumah tinggal sementara.


Bahkan Dika tadi tidak menutup pintu depan. Apa yang dikatakan Dika, bisa didengar jelas oleh Mega yang ada di depan pintu. Maksud hati ingin meminta tebengan untuk esok kembali ke Surabaya.


Tapi kata-kata Dika yang luar biasa tajam, seketika meluruhkan keinginan itu. Hati Mega terluka sangat dalam. Ia tak menyangka jika Dika begitu membencinya.


Umi Naf yang terpaksa melahap sepotong kue bolu yang ia berikan kepada Dika tadi, mulai menyadari jika pintu depan tidak ditutup. Dengan mulut masih penuh dengan kue, umi Naf berjalan menuju pintu.


Semakin dekat dengan pintu, ia mendengar suara isakan yang semakin jelas. Umi Naf berusaha mencari asal suara itu. Dan bola matanya melebar begitu melihat sosok Mega duduk di depan rumahnya. Walau gadis itu memakai cadar, umi Naf bisa melihat kesedihan di matanya.

__ADS_1


"Mega?" panggil Umi Naf, ia prihatin dengan isakan Mega yang begitu menyayat. Umi Naf langsung menyadari jika gadis ini pasti mendengar kata-kata Dika yang jahat tadi.


"Umi bisa jelasin, ...."


Umi Naf belum selesai berbicara tapi Mega segera berlari menjauh. Bahkan tidak menoleh ke arahnya. Umi Naf hanya bisa menunduk, ia menyadari kesalahan besar telah diperbuat anaknya.


Menyakiti hati seorang perempuan, tidak akan pernah membuat hati tenang. Umi Naf mulai merasa takut jika anaknya itu akan memanen lukanya sendiri.


***


Hari berganti, keluarga Dika beserta Paklek Buleknya akan kembali ke Surabaya. Mereka sudah bersiap di mobil. Tapi umi Naf terlihat sangat resah.


"Ada apa, Mbak Naf? Sepertinya Mbak tidak tenang sekali?" tanya Bulek Sofia yang duduk di sampingnya.


"Ini, ana nelpon Mega biar bisa bareng balik ke Surabaya tapi kok nggak diangkat ya?" balas Umi Naf terlihat cemas.


"Kenapa harus Mega lagi sih? Dia kan anak orang, punya kehidupan sendiri. Nggak usah terlalu dipikirkan, mi." Dika yang berada di belakang setir kembali bersungut.


"Gimana nggak dipikirkan, Dik? Gadis itu kehidupannya hancur gara-gara antum." Umi Naf jadi terpancing juga untuk berdebat dengan anaknya.


"Ikh, yang udah berlalu nggak usah diungkit lagi, Mi." Dika terlihat tidak suka.


"Apa kita ke rumah Mega dulu, biar Mbak tenang?" tanya Bulek Sofia memegang telapak tangan umi Nafisah.


"Iya, ana setuju. Kita ke rumahnya dulu, Dik."


"Ck, ngapain lagi sih Mi nemuin dia?" Dika sangat sebal.


"Keras kepala banget," bisiknya sangat pelan. Namun pendengaran umi Naf masih begitu mudah mendengar suara itu.


"Apa? Ya kamu itu yang keras kepala, Dik. Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi semut di seberang lautan terlihat jelas. Antum ngomong umi keras kepala, nggak sadar kalau antum itu yang keras kepala." Omelan umi Naf kini terasa sedikit emosional. Ia merasa Dika masih tidak berubah.


"Iya, iya, kepala Dika keras karena terbuat dari semen," balas Dika sekenanya. Sepertinya ia harus mengalah kali ini.

__ADS_1


"Yaudah, ini udah sampai di depan rumah Mega. Umi temuin Mega biar umi tenang," ujar Dika dengan wajah datar. Ia malas berdebat jika uminya itu sudah emosional, nanti pasti ia sendiri yang merasa bersalah jika uminya sudah mengeluarkan dalil-dalil.


Umi Naf ditemani Bulek Sofia keluar dari mobil dan menekan bel di rumah Mega. Kebetulan Mega yang sudah bersiap kembali ke Surabaya menunggu ojek yang ia pesan.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam, Tante?" Mega terkejut melihat ibu dari laki-laki yang membencinya itu ada di depan rumahnya. Wajah Mega mendadak berubah.


"Si silakan masuk, Tante." Mega terlihat kaku saat mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.


Umi Naf langsung melihat tas besar yang berada di ruang tamu. Menandakan kalau Mega memang akan kembali ke Surabaya.


"Anti mau ke Surabaya ya?" tanya umi Naf.


"I iya, Tan." Mega tergagap. Ia berpikir keras mencari cara menolak permintaan ibunya Dika jika nanti wanita itu memintanya kembali ke Surabaya bersama.


"Kebetulan, Tante juga mau balik. Bareng sama Tante saja ya?" umi Naf tersenyum. Membuat Mega merasa sungkan untuk menolak.


"Wah, ada jeng Naf, kebetulan. Mega bareng aja sama mereka. Saya titip anak saya ya jeng." Mamanya Mega yang tadi mendengar permintaan umi Naf segera berkata demikian dengan tujuan Mega agar tetap dekat dengan keluarga Dika.


Sejenak, kepala Mega terasa berat. Ia kembali teringat bagaimana sang mama mengatakan hal yang terdengar tidak masuk akal.


'Kamu harus minta tanggung jawab Dika dan keluarganya untuk menikahimu. Kalau tidak, Mama yang akan carikan jodoh untukmu. Ingat, harga diri kamu sudah hilang karena laki-laki itu. Mama ragu akan ada pria yang mau menerimamu sebagai istri,' kata Mamanya Mega setelah Dika dan Bu Sofia menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Ayo, Mega, kita berangkat," ajak umi Naf kepada Mega saat terdengar suara klakson mobil Dika.


"I iya, Tante." Mega akhirnya menyerah. Walau ia sebenarnya tidak ingin melihat wajah Dika. Jika nanti ia bertemu lelaki itu, pasti Mega akan teringat kembali pada lukanya kemarin.


Setelah Mega berpamitan kepada kedua orang tuanya, mereka segera kembali ke mobil. Umi Naf dan Bulek Sofia segera ke bangku belakang. Membuat Mega tercenung sesaat melihat Dika di belakang setir. Apakah lelaki itu tidak keberatan jika Mega duduk di sampingnya?


"Ayo, Mega. Anti duduk di depan ya. Tante sudah pe-we di sini." Kini Bulek Sofia yang berkata. Membuat Mega tersadar dan dengan ragu membuka pintu depan.


Mega terlihat menunduk. Ia tidak mau ambil resiko dengan mengganggu Dika yang harus fokus menyetir. Mega masuk dan duduk di samping Dika pandangannya langsung lurus ke depan.

__ADS_1


__ADS_2