Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Sementara Itu, ....


__ADS_3

JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.


JAZZAKUMULLAH KHAIR


****


Sementara itu, Mega sudah sampai di depan rumah yang ia yakini tempat tinggal Fatimah. Ia memperhatikan lagi alamat di pesan Fatimah dan nomor rumah yang tertera.


Setelah yakin kalau ini rumahnya, barulah Mega menekan bel. Ia hanya berharap ia tidak kesasar. Ia juga penasaran dengan keadaan Fatimah setelah terkena musibah.


Di dalam kamar, Fatimah mendengar suara bel dan berusaha berdiri. Ia meraih tongkat di samping lemari kecilnya lalu dengan tertatih berjalan ke ruang tamu.


Bel berbunyi lagi, Fatimah sedikit terburu karena suara bel kedua. Mega memang tidak sabaran.


Selangkah lagi ia sampai di pintu, tapi kakinya tersandung karpet. Fatimah terjatuh dan kepalanya terbentur pojok kursi.


"Allahu!" pekiknya sambil berusaha mencari pegangan.


Mega kembali menekan bel. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah. Dengan menahan sakit, Fatimah berusaha berdiri dan meraih pintu.


"Sebentar, Meg."


Fatimah menahan rasa pening di kepalanya. Apalagi pandangannya mulai sedikit kabur. Ia tidak menyadari ada cairan merah yang menembus jilbab yang ia kenakan.


Setelah pintu terbuka, Mega segera menghambur ke pelukan sahabatnya. Fatimah merasa semakin kesakitan. Sudah habis terserempet, kakinya terluka, ditambah kepalanya terasa pening.


Fatimah mulai goyah. Pusing di kepalanya semakin mencengkram kuat. Ia baru menyadari saat terasa ada yang mengalir dari keningnya. Fatimah menyentuh bagian kepala yang terasa perih itu.


"Ana kangen banget sama anti, Tim."


Mega merenggangkan pelukannya. Ia tidak sabar untuk menceritakan apa yang terjadi di kampus saat Fatimah tidak masuk.


Menyadari wajah Fatimah memucat, kata-kata yang sudah ia susun tiba-tiba terberai. Apalagi melihat ada darah di kepala sahabatnya itu.


"Fatimah, apa yang terjadi dengan anti?" Mega menyentuh kedua pipi Fatimah.


Karena kehilangan banyak darah, Fatimah limbung dan terjatuh ke kursi. Membuat Mega tergopoh-gopoh.


"Apa yang harus ana lakukan? Haduh Fatimah, bangun dong?" Mega terlihat cemas dan berkali-kali menepuk pipi Fatimah.


Tidak ada respon, akhirnya Mega berinisiatif memanggil taksi online untuk membawa Fatimah ke klinik terdekat. Untungnya saat taksi datang, Fatimah sudah mulai sadar meski dengan kepala yang terasa sangat berat, Fatimah berjalan dengan tongkat dan dibantu Mega menuju ke rumah sakit.


Setengah jam berlalu, Gus Ali yang mengendarai motor sampai di depan rumahnya. Diikuti oleh Tata yang berjarak lima menit di belakang kendaraan Gus Ali dengan mobilnya.


"Ali, istri antum beneran di rumah?" Tata bergegas berdiri di samping sahabatnya. Sesekali ia mengerjap karena panasnya matahari terasa membakar kulitnya.


"Ck. Bukannya saya sudah bilang? Nggak usah ikut ke sini?" Gus Ali berdecak. Tidak percaya kalau Tata nekad mengikutinya. Tapi tidak apa, mungkin ini saat yang bagus untuk membuka semua kenyataannya.


Gus Ali berpikir hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Tata berhenti berharap padanya. Dan juga agar Fatimah tidak lagi menyembunyikan pernikahan mereka.


Kadang Gus Ali merasa bersalah karena menyembunyikan hal sebesar pernikahan. Tapi di sisi lain ia juga ingin menghargai istrinya yang juga memiliki keinginan.


Apalagi jika kembali diingat Gus Ali menikahi wanita yang masih sangat muda. Masih belum siap dengan keadaan yang berbeda di hidupnya. Gus Ali hanya terus menyemangati dirinya bahwa diketahui orang ataupun tersembunyi, ikatan itu telah direstui Tuhannya.


Gus Ali menekan bel lalu menunggu. Tata di sampingnya meski tetap dengan menjaga jarak. Gus Ali hanya fokus dengan dirinya. Tak menyadari wanita di sampingnya yang terlihat menahan diri.


Tata, wanita yang sejak perjumpaan pertama dengan Gus Ali telah menanam harapan terus mengawasi pintu yang tertutup. Irama jantungnya sudah pasti seperti genderang perang.


Lama sekali pintu tak terbuka sedikitpun. Gus Ali mencoba menekan bel lagi. Tapi tetap tidak ada yang datang untuk membukakan pintu. Gus Ali maju dan memutar kenop pintu. Terbuka. Ternyata rumahnya tidak terkunci.


"Astaghfirullah."


Gus Ali segera berlari masuk dan memeriksa kamarnya. Semoga saja tidak ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.


Melihat raut cemas di wajah Gus Ali, Tata merasa ucapan pria itu tidak main-main. Gus Ali benar-benar sudah menikah. Dengan menahan hati yang remuk, Tata melangkah masuk ke ruang tamu. Ia duduk di sana sambil menunggu Gus Ali yang langsung menuju kamar.

__ADS_1


Tata memperhatikan ruang tamu Gus Ali. Tidak ada yang mencurigakan. Detik demi detik berlalu, membuat Tata menunggu-nunggu sosok yang diakui Gus Ali sebagai istrinya. Ia menerka siapa yang pantas untuk sahabatnya itu.


Sedangkan Gus Ali semakin panik melihat Fatimah tidak ada di kamarnya. Ia menghubungi nomor telepon Fatimah, ternyata handphone itu ada di atas nakas.


Gus Ali duduk sejenak di ranjang. Ia menenangkan pikirannya. Mencoba menebak dimana Fatimah kini. Tapi tetap nihil.


Teringat Tata di depan, Gus Ali beranjak. Melihat handphone Fatimah di nakas, Gus Ali ingin meraihnya. Tapi di saat yang sama, suara Tata terdengar di memanggilnya.


Tata menanti dengan perasaan cemas. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia ingin segera bertemu wanita yang memenangkan hati Gus Ali.


"Ali?"


"Ada apa, Ta?" Gus Ali berjalan tergopoh. Berpikir kalau Tata mungkin akan berpamitan untuk pulang.


"Dimana istri antum? Ana pengen ketemu." Tata menatap tajam ke wajah Gus Ali. Melihat Gus Ali menghampirinya ke ruang tamu sendirian, membuat Tata berpikir kalau ia sedang dikerjai Gus Ali. Hati kecilnya sedikit bernapas lega.


"Itu, itu, dia lagi keluar." Gus Ali gelagapan menjawab pertanyaan Tata. Apalagi dengan tatapan mata yang belum pernah dirasakan Gus Ali mencekam hingga ke paling hati.


Ia belum pernah merasa Tata seperti ini. Dan awalnya ia berharap Tata akan menerima pernikahan Gus Ali dan Fatimah.


Tata kembali menatap tajam ke arah Gus Ali. Ia mencari kepercayaan di dalam netra itu. Dan selanjutnya ia hanya bisa tertawa karena Gus Ali menghindari tatapan matanya.


"Ha ha ha, udah Li. Jangan mimpi. Ana tahu antum lagi ngeprank." Gurat wajah Tata langsung terlihat santai. Tentu saja karena ia menganggap bahwa Gus Ali bercanda.


"Tidak, Ta. Ana tidak bercanda." Gus Ali menggeser duduknya karena Tata berani mendekat padanya.


"Sudah, Li. Saya sudah jantungan gara-gara foto hoax yang di kampus, ditambah lagi antum pandai bersandiwara," gertak Tata merasa dirinya sedang dipermainkan.


"Wallahi, ana tidak bercanda." Gus Ali berkata namun dengan lirih. Bahkan tidak sampai ke telinga Tata.


Merasa harapannya kembali menyala, Tata menatap mesra kepada Gus Ali. Ia merasa Gus Ali sudah kebelet menikah hingga berimajinasi telah memiliki istri.


"Li," panggilnya.


"Ada apa?" Gus Ali menoleh sekilas, ia tidak nyaman berduaan dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya. Apalagi ia sudah menikah. Gus Ali harus memutar otak untuk mengusir Tata.


"Maksud anti?"


"Eh, tidak, Li. Nggak maksud apa-apa kok." Tata tidak bernyali untuk melanjutkan godaannya.


Tapi setan merayu dengan sangat halus. Tata merasa perlu bertindak lebih jauh untuk membuktikan cintanya pada Gus Ali. Toh ia merasa selama ini Gus Ali selalu baik padanya.


"Aduh." Tata merasa perih karena matanya tiba-tiba kelilipan.


Gus Ali ingin membantu, tapi ia tidak mungkin menyentuh kulit wanita yang bukan muhrimnya. Gus Ali menahan diri. Ia hanya bisa mengangsurkan tisu ke arah Tata.


"Li, bantuin, dong." Tata pura-pura kesakitan karena matanya kelilipan. Tentu saja ini cara agar Gus Ali semakin dekat dengannya.


"Maaf, Ta. Pakai tisu ini saja. Maaf, bisakah anti pergi dari sini jika urusannya sudah selesai?" Gus Ali menunduk. Tidak ingin melihat ekspresi kecewa di wajah Tata.


"Li, ana mencintai antum dan antum sudah ingin menikah. Kenapa kita tidak menikah saja?" Tata menyudahi akting kelilipannya setelah menyapu matanya dengan tisu.


Dada Tata terlihat naik turun menahan tangisnya. Sudah cukup ia memohon-mohon kepada Gus Ali tapi tetap saja tidak ada jawaban dari lelaki itu.


"Apa antum ingin tahu cinta ini dulu? Baru antum mau menikah denganku?" Tata emosional. Merasa selama ini dipermainkan oleh Gus Ali. Apalah gunanya kedekatan keduanya selama ini jika Gus Ali tidak percaya dengan cintanya?


Tangan Tata dengan sigap meraih kancing baju Gus Ali, untungnya Gus Ali langsung menghindar. Gus Ali juga shock dengan apa yang baru saja akan dilakukan sahabatnya.


"Astaghfirullah, istighfar, Tata. Tsabita istighfar. Apa yang anti lakukan?" Gus Ali panik karena Tata berusaha mendekat lagi.


Dengan sangat terpaksa, Gus Ali berlari keluar dari rumahnya. Meninggalkan Tata yang menangis meraung-raung.


"Apa kurangnya ana, Li? Ana sudah terlalu mencintai antum. Hu hu hu." Tata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ia merasa sangat kacau. Hati kecilnya juga menyesali apa yang sudah ia lakukan pada Gus Ali. Setelah ini, laki-laki yang amat ia cintai itu akan menjauh darinya.

__ADS_1


Gus Ali terus berlari hingga ke rumah salah satu perangkat daerah di sana. Ia meminta pertolongan untuk menghadapi Tata. Dengan sigap, Bu RT datang ke rumah Gus Ali. Tak bersama Gus Ali karena Gus Ali masih sangat shock dengan apa yang terjadi padanya.


Tak percaya jika Tata bahkan bisa berbuat seperti itu. Gus Ali tak habis pikir. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Ia teringat kata Abahnya dahulu tentang qalbun/hati yang pasti akan berubah.


"Astaghfirullahalladzim." Gus Ali menekan keningnya yang terasa pening. Belum lagi ia tidak tahu Fatimah ada dimana. Gus Ali semakin pusing.


***


Di tempat lain, tepatnya klinik tempat Mega membawa Fatimah untuk dirawat akibat luka di kepalanya. Fatimah diminta untuk istirahat sejenak sampai keadaannya stabil.


"Masih pusing ya?" tanya Mega sambil membantu Fatimah duduk.


Akibat luka di kakinya juga, Fatimah semakin kesulitan untuk bangun. Sebenarnya ada lagi bagian tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Tapi Fatimah mencoba tidak memedulikan rasa sakit itu.


"Em, mau minum ya? Ana ambilkan ya?" pinta Mega akan beranjak, tapi Fatimah cepat menggelengkan kepalanya karena merasa mampu mengambil gelas itu sendiri.


Baru saja meraih gelas itu, tidak ada angin, Fatimah melepaskannya. Gelas berisi teh itu langsung pecah begitu membentur lantai.


Mega sampai berdiri karena terkejut. Tak kalah kagetnya dengan Fatimah. Hatinya tiba-tiba tidak tenang. Seperti telah terjadi sesuatu. Secara mendadak Fatimah memikirkan keadaan suaminya. Ia merasa ada feeling tidak enak. Seperti suaminya tertimpa musibah.


"Astaghfirullah, Fatimah. Hati-hati ya, anti nggak apa-apa kan?" tanya Mega raut wajahnya semakin tidak karuan.


Fatimah hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Masih memikirkan perasaannya yang mendadak tidak tenang. Fatimah merogoh sakunya. Ia bahkan lupa membawa handphone. Sekarang ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Meg, anti punya nomernya Pak Ali?" tanya Fatimah. Hanya ini satu, ini cara untuk menghubungi suaminya itu.


"Punya, mau nanya tugas ya? Nih." Mega tidak curiga dan memberikan handphonenya kepada Fatimah.


Saat Fatimah menyebut nama Pak Ali, otomatis Mega teringat gosip yang sedang beredar di kampus.


"Oh iya, Tim. Ngomongin Pak Ali, beliau lagi kena masalah lhoh. Masak ada yang majang di mading foto Pak Ali pelukan sama cewek."


Handphone di tangan Fatimah langsung jatuh begitu mendengar cerita Fatimah. Ia sama sekali tidak tahu kalau Gus Ali sedang menghadapi masalah sebesar itu.


Dada Fatimah berdegub kencang. Ia merasa bersalah. Fitnah yang sedang diceritakan Mega secara tidak langsung adalah akibat dari keinginannya menutupi pernikahan mereka. Jika saja ia menuruti keinginan Gus Ali untuk go public, pasti tidak akan terjadi seperti ini.


"Jangan dijatuhin dong hapeku. Hu hu." Mega cemberut sambil memungut handphonenya. Lalu memberikannya kembali pada Fatimah karena ia tahu Fatimah belum menggunakan handphone itu.


"Eh, Tim. Ana ke kamar mandi dulu ya. Kebelet nih."


Setelah Mega keluar dari ruangannya, Fatimah langsung mencari kontak Gus Ali. Ia harus mengabari suaminya dimana ia saat ini.


*****


Sementara itu Bu RT mencoba membujuk Tata untuk bercerita. Barangkali wanita itu butuh tempat untuk meluapkan perasaannya sekarang.


"Saya sangat mencintai Ali, Bu. Bahkan saya siap dinikahkan dengannya saat ini juga."


Bu RT hanya terpana melihat keseriusan Tata. Tak menyangka kalau wanita bisa tergila-gila karena cinta. Jika diamati, wanita di hadapannya ini terlihat cantik, baik, dan juga cerdas. Tapi perkara cinta sepertinya dewi keberuntungan menjauh darinya.


"Jangan berbicara begitu, Neng. Kalau Ali juga mencintaimu, harusnya dia yang datang ke rumahmu. Bukan kamu yang ke rumahnya, ini salah kaprah. Reputasi dan kehormatanmu jadi tercoreng." Bu RT menasehati dengan lembut. Ia jatuh iba dengan gadis di depannya.


"Tapi, Bu, hu hu hu. Sekarang kan jamannya emansipasi wanita. Khadijah saja berani melamar kanjeng nabi. Kenapa saya tidak?" Tata semakin terbawa perasaan. Rupanya ia sudah hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan hati Gus Ali. Perlahan akal sehatnya tidak ia pergunakan sebagaimana mestinya. Ia terlalu berambisi untuk memiliki Gus Ali.


"Kalau menurut ibu, jangan gegabah, Nduk. Dunia ini tidak selebar daun kelor. Jangan terpaku dengan satu orang saja. Di luar sana masih banyak laki-laki yang mau mempersuntingmu." Bu RT kembali meyakinkan Tata.


"Apakah benar kalau Ali telah menikah, Bu?" tanya Tata kemudian.


Bu RT kebingungan menjawab. Tentu saja ia belum mengetahui pernikahan Gus Ali. Karena Gus Ali jarang terbuka pada warga sekitar. Walau sebenarnya Gus Ali telah melaporkan pernikahannya, tapi Bu RT yang saat itu tidak mengetahui Gus Ali melaporkan pernikahannya, hanya bisa menggeleng.


"Beneran, Bu?" Mata Tata berbinar, ia merasa hatinya memiliki harapan.


"Kalau begitu kenapa Bu RT dan Pak RT tidak menikahkan kami? Bukankah saya dan Gus Ali sudah berdua-duaan di rumah ini?"


Bu RT terdiam. Ia tidak bisa menjawab karena jika dipikirkan memang ada benarnya kalimat Tata itu.

__ADS_1


Saat keduanya sama-sama diam karena tidak menemukan pokok bahasan, suara dering handphone Gus Ali terdengar nyaring. Otomatis Tata menoleh ke atas meja kecil dimana handphone itu berada.


Tata melihat nomor tidak dikenal itu menghubungi Gus Ali. Karena ia masih merasa belum lega, ia sengaja mereject telepon itu.


__ADS_2