
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Dengan mata yang sembab karena banyak menangis, Gus Ali keluar dari kamar Pak Kyai. Itupun karena diusir oleh Pak Kyai yang ingin istirahat.
Langkahnya sedikit terseok karena kakinya kesemutan kelamaan berlutut di samping ranjang Abahnya. Fatimah yang melihat tubuh suaminya keluar dari kamar sedikit bernapas lega. Meski juga merasa heran karena mata Gus Ali sangat sembab.
"Mbak, tolong jaga Abah baik-baik ya. Kalau ada apa-apa tolong lekas kabari saya," lirihnya pada Ning Faza.
Pandangan Gus Ali lalu beralih pada istrinya. Ia masih mengucek matanya untuk menghilangkan bekas air mata yang menumpuk di netranya.
"Bantu saya siapkan perlengkapan untuk dibawa ke Surabaya."
Fatimah mengangguk lalu berjalan di samping suaminya. Tapi saat Gus Ali kembali menoleh ke arah belakang, Fatimah tetap berusaha berjalan.
"Mbak, kalau Abah sudah bangun tolong bilang kalau resepsinya ditunda saja bulan depan."
"Iya, Li. Antum sama Fatimah hati-hati di Surabaya ya," pesan Ning Faza lalu berlalu dari ruangan itu.
Fatimah dengan langkah berat sudah sampai di depan pintu kamar Gus Ali. Ingin masuk tapi ia merasa tidak berhak. Ia menunggu suaminya yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Gus Ali sedikit tidak fokus. Kesedihannya belum juga tuntas.
"Ini kan kamarnya Mas, saya nggak berani masuk duluan."
Gus Ali segera meraih pergelangan tangan istrinya dan mengajak Fatimah masuk ke dalam ruangan pribadinya. Gus Ali sangat ingat setiap inchi dari kamar ini selalu menjadi saksi bagaimana ia mencintai Fatimah.
Fatimah terperangah melihat kamar Gus Ali. Keadaannya sudah pasti tidak serapi kamarnya.
"Kenapa?" tanya Gus Ali menyadari keterkejutan istrinya.
Fatimah buru-buru menggeleng. Tidak enak mengomentari keadaan kamar ini. Meski dia sendiri tidak terlalu rapi. Apalagi jika ingat mata Gus Ali masih sembab oleh kesedihannya.
"Katakan saja apa yang ingin anti katakan, jangan merasa anti harus menjadi orang lain saat bersama saya."
Fatimah menelan saliva. Rupanya Gus Ali menyadari kalau Fatimah berusaha menahan diri saat bersamanya.
"Dan begitupun saya, saya akan jadi diri sendiri saat bersama anti ataupun bersama orang lain." Gus Ali mencoba tenang. Ia masih belum bisa melupakan perbincangan dengan Abahnya. Rasa takut kehilangan itu masih sangat terasa mencekik lehernya.
"Kalau begitu, apa saya boleh tahu apa yang antum bicarakan dengan Abah hingga Mas menangis?" tanya Fatimah hati-hati. Ia sebenarnya ragu untuk menanyakan ini.
Entah setan dari mana, Gus Ali malah terpikir untuk mengerjai Fatimah. Siapa tahu ia beruntung.
"Saya sedih karena memikirkan kalau umur Abah tidak lama lagi." Gus Ali lalu tergugu. Air matanya otomatis kembali mengalir.
Fatimah terbawa suasana yang penuh kesedihan. Ia sendiri membayangkan jika kelak rezeki Abah atau uminya telah sampai pada akhirnya. Membayangkannya saja membuat dadanya nyeri. Apalagi Gus Ali yang tadi mengetahui kalau Abahnya sedang tidak sehat.
Fatimah terdiam. Ia tidak bisa menjawab apapun. Tangis Gus Ali semakin terasa berat. Gus Ali menarik tubuh Fatimah untuk dipakainya bersandar. Sebagaimana Gus Ali memperlakukannya dengan baik. Fatimah ingin membalas kebaikan suaminya. Ia mengelus punggung Gus Ali.
Lalu menit demi menit berlalu begitu saja. Gus Ali meringkuk di dekapan Fatimah bagai anak kecil berlindung pada ibunya.
Fatimah masih tidak curiga. Ia berusaha membiarkan Gus Ali mengeluarkan segala kesedihannya agar lebih lega. Tapi rupanya tidak bagi Gus Ali. Ia menyeringai tanpa diketahui Fatimah.
"Apalagi saya anak yang buruk. Hu hu hu hu." Gus Ali menenggelamkan kepalanya pada tubuh Fatimah. Keduanya kini sangat dekat.
"Sabar, Mas. Jangankan Mas, ana juga bukan anak yang baik."
"Kita sama-sama anak yang tidak baik, Tim. Apalagi berani membohongi orang tua," ujar Gus Ali disela tangisnya.
"Bohong apa, Mas?"
"Menjalani kewajiban sebagai suami istri. Kita berdua telah membohongi orang banyak. Abah, kedua orang tua anti, dan juga yang hadir malam itu."
Fatimah melongo. Mengapa baru kali ini ia merasa tak enak karena telah berdusta sejauh itu? Apalagi ia tahu kalau kebohongannya menjadi bumerang untuknya sendiri. Bisa saja Gus Ali curiga kalau Fatimah sudah tidak suci.
"Lalu bagaimana, Mas?"
"Apa anti mau dosa kita semakin lama semakin banyak?" tanya Gus Ali masih dengan air mata yang berurai di wajahnya.
Fatimah cepat-cepat menggeleng. Siapapun takkan sanggup menanggung dosa. Jikalau bisa ia ingin segera bertaubat dan tidak mengulanginya. Tapi ini berarti, ....
Entah siapa yang memulai, detik selanjutnya Fatimah dan Gus Ali sudah saling memandang. Setelah Fatimah mengangguk pelan, Gus Ali baru berani bertindak lebih lanjut.
****
Sorot merah matahari menembus jendela kamar. Gus Ali dan Fatimah membuka mata mereka. Keduanya saling memandang, lalu senyum Fatimah terbit membuat Gus Ali kembali mendekap wanita itu. Kini sudah resmi mereka menjadi seorang suami istri.
"Mohon keridaannya ya, Tim."
"Untuk apa, Mas?" tanya Fatimah polos.
"Untuk segalanya, segala yang saya berikan pada anti."
Fatimah hanya mengangguk pelan. Lalu ia bangkit untuk melakukan mandi jinabat. Meski setelah meraih pintu, Fatimah kembali menoleh kepada suaminya.
"Ada apa?"
"Ana kan belum tahu kamar mandinya dimana."
__ADS_1
"Lurus saja, sebelah dapur. Atau anti memang sengaja ingin mengundang suami anti untuk mandi bersama?" Gus Ali melirik genit kepada Fatimah.
"Tidak, Mas. Terimakasih."
Gus Ali tertawa kecil melihat Fatimah segera berjalan keluar setelah ia goda. Ada kebahagiaan tersendiri bagi dirinya saat ini. Kebahagiaan pengantin baru. Rasanya ingin menikmati waktu hanya berdua. Sayangnya mereka harus segera hijrah ke Surabaya.
Sejenak senyum di wajah Gus Ali pudar. Ia teringat Tata. Sahabat wanitanya itu bagaimana kabarnya? Gus Ali merasa tak enak hati karena memakai mobilnya. Apalagi jika nanti ia mengetahui kalau Gus Ali sudah menikah. Entah bagaimana tanggapan Tata setelah ini.
Gus Ali berjalan keluar. Melihat bercak darah di sprei kembali membuatnya tersenyum. Kini ia tak akan meragukan lagi akan istrinya. Dan ia berjanji akan berusaha membahagiakan dan mengayomi istrinya.
Dengan gerakan cepat, Gus Ali melepas sprei dan mengganti dengan yang baru. Ia harus segera mencuci sprei ini.
Di saat yang bersamaan, Gus Ali melihat Fatimah dan Ning Faza di dekat kamar mandi. Sepertinya Fatimah baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut Fatimah yang basah membuat Ning Faza tersenyum. Lalu berusaha mencandai adik iparnya.
"Haduh, pengantin baru. Jam berapapun keramas terus," ujar Ning Faza membuat Fatimah menunduk.
Gus Ali yang melihat pemandangan itu segera mendekat. Ia tak ingin istrinya itu malu. Harus ia yang menghadapi Ning Faza.
"Kayak Mbak belum pernah jadi pengantin baru aja."
Tak ingin wajah istrinya semakin tertunduk, Gus Ali meraih pergelangan tangan Fatimah. Lalu keduanya berjalan masuk kembali ke kamar.
"Anti kalau tidak siap, di kamar saja. Saya cuci sprei dulu ya," pesan Gus Ali lalu meninggalkan Fatimah di kamar.
Mendengar mencuci sprei, sontak Fatimah menggigit bibirnya. Akhirnya ia menuruti saja perintah sang suami.
Lamunan Fatimah akhirnya buyar saat nada dering handphonenya terdengar nyaring. Buru-buru Fatimah mengangkat telepon dari Mega.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Tim. Kok gak balik-balik sih? Aku kesepian nih di kosan."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Mega. Afwan ya. Tapi setelah ini anti akan semakin kesepian sepertinya."
"Kenapa?"
Fatimah terdiam sesaat. Inginnya ia tak berbohong, tapi nyatanya bibirnya begitu lancar diajak berbohong.
"Mulai besok ana pindah ke rumah om. Kita jadi jauh deh."
"Lhoh kok mendadak?" tanya Mega sangat terkejut.
"Iya, Meg." Fatimah menutup matanya.
"Kapan ambil barang-barang di kosan? Biar aku bantu, hitung hitung perpisahan juga."
"Besok ana ke Surabaya."
"Jam berapa?"
"Yah, jam segitu ada matkul lagi." Mega terdengar risau.
"E, enggak apa-apa kalau anti nggak bantu Meg. Nanti saya beri alamatnya kalau anti mau main." Fatimah menepuk kepalanya sendiri. Ceroboh mengatakan hal ini. Bagaimana kalau Gus Ali tidak mengijinkan?
"Yaudah, deh. Aku usahain ya, Tim. Stay safe ya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Iya, Meg. Anti juga. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Tut. Telepon terputus. Fatimah menghela napas. Memang berbohong adalah racun. Sekali berbohong, akan ada banyak kebohongan lain untuk menutupi kebohongan pertama.
Fatimah jenuh di dalam kamar, ia mencoba sedikit mengintip luar kamar lewat celah di jendela. Tak lama ia terperangah melihat Gus Ali dengan senyum lebar menanggapi santri yang banyak bertanya.
"Kok tumben sore-sore begini mencuci sprei, Gus?"
Fatimah melihat raut wajah Gus Ali yang begitu lepas. Ia menduga santri itu pasti awalnya ingin membantu Gus Ali untuk mencuci baju.
"Hehe, iya. Lagi pengen bersih-bersih saja. Lagipula bukankah kebersihan itu sebagian dari iman?" balas Gus Ali.
Fatimah sedikit tersindir. Entah ia yang memang baperan atau memang kalimat Gus Ali benar adanya. Ia segera berdiri dan membereskan kamar Gus Ali. Fatimah berpikir kamar ini juga akan menjadi kamarnya.
Sembari bernyanyi, Fatimah membersihkan kamar Gus Ali. Mulai dari merapikan tatanan kitab di rak, sampai baju-baju Gus Ali yang ditaruh asal.
Nafsil hanin fill bode wizekerool ghomilah
Aku masih memiliki kerinduan yang sama dan mengingat kenangan indah kami
Ma'a shortak kulli yum nafsil kalaam
Sambil memegang fotomu setiap hari
Mak'dar shatomin ruhi wa la ghamad fii lillah
Aku tidak bisa merasa nyaman dan menutup mataku dimalam hari
Ablamma fakor fiikanan ghaait manaam
Aku tidak bisa merasa nyaman dan manutup mataku dimalam hari
Waa syuk biibat ya habibif hudhni sa'at
Saat merasa terbebani oleh kerinduan selama berjam jam
Wasa'at lau zadi syuk mainaimniiss
__ADS_1
Dan kemudian kerinduan mencegah saya dari tidur
Lanhar wa la liil, malaksif khayaa li badiil
Siang dan malam, Aku tidak bisa menggantikanmu dalam pikiranku
Wa la min ayyamakki yum mabiyu hassniss
Dan tidak ada satu hari pun Anda tidak terjawab
Allah ya Salam
Allaaah yaa Salaaaam
Faaniik ahla kalam
Dimatamu Aku menemukan kata-kata yang paling indah
Arrab menni shwayya shwayya
Mendekatlah sedikit demi sedikit
Albi wa albak sawa yetla u
Jadi hatiku dan hatimu bisa menemukan satu sama lain
Eddon'ya enta malet'ha alayya
Kamu telah memenuhi duniaku
Dal hubbili mahadesh da u
Inilah Cinta yang tak seorang pun pernah rasakan
Arrab menni shwayya shwayya
Mendekatlah sedikit demi sedikit
Edd ma te'dar arrab tany
Sebisa mungkin mendekatlah
Eddon'ya enta malet'ha alayya
Kamu telah memenuhi duniaku
Wekaennak makhlook alashani
Dan itu seperti Anda diciptakan hanya untuk saya
Wal hagabansaha wa awad'na lahna khadna haa
Dan tidak ada yg bisa menghapus janji yang kita buat satu sama lain
Selesai membersihkan keseluruhan kamar suaminya, Fatimah terkejut saat mendapati Gus Ali berdiri di ambang pintu sembari memandangnya. Tak lupa lengkungan senyum di wajah Gus Ali yang membuat Fatimah semakin kelimpungan. Suaminya itu sangat tampan.
"Lhoh, Mas sejak tadi di sana?" tanya Fatimah membuat Gus Ali melangkah mendekat.
Alih-alih menjawab, Gus Ali semakin merapatkan jarak antara dirinya dan Fatimah. Ia menatap tajam Fatimah.
"Suara anti sangat bagus. Tolong jangan bernyanyi untuk orang lain ya?"
Fatimah mengerutkan keningnya. Sedikit kaget dengan permintaan suaminya kali ini. Tapi pada akhirnya ia mengangguk pelan. Ia hanya ingin menjadi perhiasan dunia untuk Gus Ali. Jika itu pinta suaminya, Fatimah tak akan pernah keberatan untuk mengabulkannya.
"Ngomong-ngomong, kita akan berangkat ke Surabaya besok. Ada yang mau anti katakan?" tanya Gus Ali memberi kesempatan kepada Fatimah.
"Anu, Mas. Soal Mega."
"Kenapa Mega? Anti sudah bilang sama Mega?" tanya Gus Ali santai.
Fatimah menggeleng lemah. Ia juga merasa bersalah telah memulai berbohong. Tapi bagaimana lagi? Ia tidak memiliki pilihan lain.
"Apa anti lupa dengan hadits ini?"
"Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan, hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong."
"Dan hendaklah kalian jujur, sebab jujur menggiring kepada kebaikan, dan kebaikan akan menggiring kepada surga. Dan sungguh, jika seseorang berlaku jujur dan terbiasa dalam kejujuran hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai orang yang jujur." (HR Abu Dawud)."
Tenggorokan Fatimah tercekat. Ia merasa sangat bersalah. Adakah hal lain yang bisa ia lakukan?
"Begini saja, Mas." Fatimah membenarkan duduknya sebelum berkata.
"Nanti saya akan bilang sama Mega saat resepsi. Jadi untuk sementara ini kita jangan bahas ini dulu. Ana janji akan mengatakan yang sebenarnya pada Mega."
Gus Ali hanya berdehem. Masih tak percaya kalau wanita yang sudah ia nikahi dan ia anggap sangat baik itu masih memiliki kekurangan. Ia mudah berbohong, juga belum bisa disiplin.
Gus Ali menghela napas. Ia teringat siapa yang ia nikahi. Bukan wanita terbaik. Hanya wanita kecil yang membuatnya sangat jatuh cinta. Semoga setelah ini Gus Ali tak berekspektasi tinggi. Atau ia akan kembali diingatkan jika ia pun memiliki kekurangan. Sama dengan Fatimah yang masih sangat muda.
"Ya sudah, kita ikut jamaah Magrib di masjid Jami ya. Setelah itu kita ngaji sampai isya. Lalu segera istirahat. Besok kita harus ke Surabaya."
Setelah mengatakan itu, Gus Ali beranjak dari depan istrinya. Ia ingin menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1