Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Cinta Tata Tak Tertaut


__ADS_3

Tata masih melakukan kesehariannya seperti biasa. Tak menyadari jika handphone yang dibawanya bukan miliknya.


Seperti biasa menemui Gus Ali yang menyendiri di perpustakaan dengan setumpuk buku bacaan. Terkadang Tata heran mengapa laki-laki yang sering ia panggil Mr. Ali Khan itu masih menyukai kebiasaannya.


"Hai," sapa Tata sambil tersenyum. Walau ia tak pernah dianggap lebih oleh Gus Ali, baginya lelaki di depannya itu sosok yang harus ia jumpai setiap saat. Bahkan jika bisa Tata ingin selalu menatap wajahnya yang cerah.


Sayangnya angan-angan Tata harus jatuh dari ketinggian setiap kali Gus Ali membuka mulut. Lelaki dengan kopiah yang tak pernah absen di kepalanya selalu menolak kehadiran Tata.


"Ucapkan salam ketika bertemu sesama muslim, Ta," tegur Gus Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh ya akhi." Tata mencoba menggoda temannya ini. Hatinya akan semakin senang jika Gus Ali menanggapi candaannya. Meski dengan marah-marah. Bukankah itu lebih baik dari pada tidak ditanggapi sama sekali?


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


"Kenapa tadi aku ditinggal?" tanya Tata setelah lama mencari topik pembicaraan.


"Ya anti kan cuma bilang mau jamaah sama saya. Selesai jamaah ya saya balik ke sini," balas Gus Ali lirih. Ia masih belum terganggu dengan kehadiran Tata di depannya.


"Tapi kan harusnya ditungguin."


"Anti sudah dewasa, bukan anak kecil. Ngapain ditungguin?" Gus Ali sedikit menekankan kata-katanya.


"Apa nanti kalau sama istri antum juga cuek begini?" tanya Tata lagi. Ia sudah mulai kehabisan topik pembicaraan.


Apa boleh buat? Ia harus terus memulai perbincangan dengan Gus Ali meski hanya topik ringan.


"Jangan berbicara jika hanya sia-sia," peringat Gus Ali.


Yang berarti lampu kuning, alias hati-hati sebelum Gus Ali yang pendiam itu menegluarkan jurus cueknya. Tata bisa menebak itu karena sudah menjadi makanan sehari-harinya berhadapan dengan Gus Ali. Meski begitu ia masih belum ingin menyerah.


"Li, apa saya tidak berharga sampai berbicara dengan saya pun antum tidak mau menatap lawan bicara?" ujar Tata dengan mata menahan kabut.


Kadang ia tak kuat menahan perasaannya pada Gus Ali. Tapi ia juga tak bisa menjauh dari Gus Ali. Pesona yang luar biasa selalu membut Tata terbayang-bayang ketampanan wajah Gus Ali.


"Anti bicara apa sih?" geram Gus Ali. Ia mulai kehilangan kesabaran.


Tata tak kuasa menahan tangis. Ia kembali merasakan sakit yang tiga tahun lalu ia rasakan. Semua berawal dari keterbukaannya atas perasaan kepada Gus Ali.


Tak enak dengan pandangan orang lain, Tata memilih beranjak dari depan Gus Ali. Untuk apa sebenarnya ia mempermalukan dirinya? Bukankah Gus Ali sudah berkali-kali mengatakan kalau Gus Ali memiliki kekasih lain.


"Ta, jangan kekanakan seperti ini."


"Lalu?"


"Duduk."


"Ada apa?"


"Kenapa anti tetap bersikeras kepada saya? Bukankah saya sudah bilang saya sudah punya calon?" kata Gus Ali dengan tenang.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan dengan perasaan ini, Li? Antum juga tahu kalau saya berusaha keras melupakan antum tapi tetap tidak bisa," jelas Tata dengan menunduk. Menyembunyikan air matanya yang meleleh.


Hening. Keduanya terdiam. Gus Ali merasa tak enak pada Tata. Tapi ia harus melakukan ini agar Tata menjauh.


"Lalu apakah dengan menggoda saya seperti tadi anti puas?" tanya Gus Ali dingin.


Tata hanya bisa menghela napasnya. Karena Gus Ali adalah cinta pertamanya. Hal itu pula yang membuat Tata kembali berusaha. Barangkali Gus Ali akan membuka hati untuknya.


"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Tata dengan suara lirih. Sesungguhnya ia sudah putus asa dengan perasaannya sendiri.


"Menikahlah."


"Menikah dengan siapa?"


"Siapapun yang datang untuk melamarmu."


"Tidak ada yang datang ke rumah."


"Tunggu saja, suatu hari nanti pasti ada. Dan saat ini jaga hatimu hanya untuk laki-laki yang akan meminangmu."


"Baiklah, asal antum berjanji tidak akan meninggalkan saya."


"Saya tidak mau berjanji."


"Kenapa?"


"Maafkan saya. Mintalah hal lain yang saya bisa." Gus Ali menutup buku yang tengah ia baca. Ia tak melihat wajah Tata secara langsung karena ia tahu hanya akan ada duka di sana.


Wanita yang patah hati mungkin saja melakukan hal yang diluar batas. Dan Gus Ali hanya berharap iman Tata begitu kuat agar mampu melewati ini semua.


"Kalau gitu, jangan menikah sampai saya bisa berdamai dengan rasa sakit ini."


Gus Ali terdiam. Ucapan Tata seolah sabda yang kuat. Ingin ia menolaknya, tapi ia tak mungkin menghancurkan hati yang telah patah itu.


"Baik, saya akan berusaha. Tapi tolong jangan lama-lama. Di sana ada hati yang menanti untuk saya bahagiakan."


Tata kembali tertunduk. Hatinya sama sekali tak bahagia meski Gus Ali menyetujui syarat yang ia ajukan. Mungkinkah Gus Ali akan menepatinya?


Di sisi lain perpustakaan, Mega dan Fatimah mencari buku untuk membuat tugas materi teori pendidikan dari ahli terkemuka. Keduanya begitu fokus dengan deretan buku hingga tak sadar ada seseorang yang mereka cari di dalam sini juga.


"Meg, ana coba tanya petugas ya. Kita nggak akan bisa nyari sendiri buku tadi," kata Fatimah berpamitan pada temannya. Setelah Mega mengangguk, Fatimah segera berjalan ke meja petugas perpustakaan.


Saat yang sama Tata berdiri dan akan pergi dari hadapan Gus Ali. Satu langkah, dua langkah, dan tiga langkah. Dua wanita itu saling bersenggolan.


Melihat orang yang dikenalnya di hadapan, Tata menegur Fatimah. Tak menyangka akan bertemu dengan wanita yang membuatnya kagum itu.


"Hey, Fatimah."


"Bu Tata disini?"


"Panggil aja kakak."


"Eh, iya Kak Tata. Sebentar." Fatimah segera meraih handphone di dalam tasnya. Ia ingin mengembalikan handphone itu pada pemiliknya.


"Ada apa, Tim?"


"Afwan, Kak. Sepertinya tadi saya keliru ambil handphone. Ini handphone kakak." Fatimah menyerahkan handphone itu.


Tata menerimanya dan membuka layarnya. Dan memang benar itu handphone miliknya.


"Kalau begitu, berarti ini milikmu." Tata juga meraih handphonenya dan mengembalikan pada Fatimah.


"Sekali lagi, maaf ya kak, ...."


"Maaf apa sih, kan nggak sengaja? Lagian kayaknya tadi saya yang salah ambil handphone kamu."


"Ya sudah, saya keluar dulu ya, ada keperluan. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Tata mohon undur diri.


Sedangkan Fatimah mengecek handphone itu dan memang benar miliknya. Tapi ada satu pertanyaan yang timbul karena insiden handphone tertukar ini.


"Apakah Kak Tata kenal Gus Ali?" lirih Fatimah. Hanya ia yang bisa mendengarnya.


"Fatimah, kok malah ngelamun disitu? Katanya mau nanya ke petugas perpustakaan?" tegur Mega. Suaranya yang lantang membuat geger perpustakaan. Ia segera menerima teguran dari beberapa mahasiswa dan dosen yang ada disana.


"Sssttt. Diam. Ini perpustakaan," tegur salah satu dosen killer yang tak ada di dekatnya. Setelah meminta maaf, Fatimah segera mengajak Mega keluar dari perpustakaan.

__ADS_1


Suara lantang Mega juga sampai ke telinga Gus Ali. Lelaki yang duduk tak jauh dari tempat Mega dan Fatimah itu merasa mengenal suara itu. Dan lagi nama Fatimah yang diucapkan.


'Apa mungkin Fatimah ada di sini?' tanyanya segera berdiri.


Ia berusaha mengedarkan pandangan. Setiap lorong rak buku ia cek. Berharap akan menemukan Fatimah. Hati Gus Ali tiba-tiba bersemi. Ia jadi teringat sudah sangat lama tidak menghubungi gadis itu. Gadis yang akan menjadi istrinya itu.


Mengingat hal itu Gus Ali jadi kembali tertegun. Jika ia ingin segera menikahi Fatimah, berarti ia juga harus berani menjalani tradisi itu. Gus Ali bergidik sendiri.


'Ah, mending tanya Haikal. Minta tolong dia carikan informasi tentang keberadaan Fatimah,' pikirnya.


Gus Ali segera menghubungi Haikal. Sayangnya nomor Haikal tidak aktif. Entah mengapa Gus Ali jadi murung. Untuk menelepon ustaz Adi, ia tak punya nyali.


Apalagi jika ia disalahkan karena tak datang di hari lamaran. Sudah pasti kedua orang tua Fatimah itu kecewa dan tersinggung karena ia tak datang di hari lamaran.


Gus Ali jadi memikirkan untuk pulang ke Ngantang. Ia akan datang ke rumah ustaz Adi dan meminta maaf. Gus Ali memikirkan kapan kiranya yang tepat untuknya pulang ke Ngantang sembari melihat jadwalnya.


***


Di kosan, Fatimah dan Mega yang tinggal di satu lingkungan sering menghabiskan waktu bersama. Kamar kost mereka hanya berjarak lima belas meter.


Awalnya Mega meminta Fatimah ngekost di tempatnya yang sama. Hanya saja Fatimah tidak berkenan. Ini semua karena kamar mandi di kostan Mega memiliki bak yang kecil. Fatimah sengaja tidak mengatakan itu pada Mega karena tidak ingin temannya itu tersinggung.


Bagi Fatimah bak mandi yang kecil membuatnya tidak tenang dalam bersuci. Takut jika air yang telah ia gunakan bersuci tercemar najis atau bahkan bekasnya bersuci jatuh kembali ke bak mandi (Air musta'mal). Fatimah teringat kembali pelajaran tentang taharah saat di pondok dulu.


Air itu dibagi menjadi dua:


1. Air sedikit (air yang kurang dari dua qullah)


2. Air banyak (air yang lebih dari dua qullah)


Air yang kurang dari dua qullah akan dihukumi najis manakala terkena percikan najis walaupun air tersebut TIDAK BERUBAH.


Sementara air lebih dari dua qullah akan tetap suci manakala terkena najis. Kecuali jika air tersebut sudah mengalami perubahan; rasa, warna dan aromanya. Maka air tersebut dihukumi najis.


Ketika air sudah mutanajjis, maka otomatis pula ia tidak suci dan tidak pula bisa mensucikan. Maka wudhu kita TIDAK SAH. Sholat kitapun TIDAK SAH. Jika sholat kita tidak sah. Bukankah hangus semua ibadah?


"Fat, coba deh dengerin." Mega mendekat ke Fatimah yang berada di depan meja komputer.


Fatimah menyimak perkataan Mega. Ia segera mengalihkan pandangan dari layar komputer ke handphone Mega.


Tujhko... Main Rakh Loon Wahaan...


-Aku ingin menjagamu di tempat


Jahaan Pe Kahin... Hai Mera Yaqeen...


-Dimana keyakinanku tinggal


Main Jo... Tera Na Hua...


-Jika aku tidak menjadi milikmu


Kisi Ka Nahin... Kisi Ka Nahin...


-Maka aku takkan jadi milik yang lain


Le Jaaye Jaane Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawa kita?


Le Jaaye Tujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawamu?


-Angin ini tidak diketahui dan memberontak


Le Jaaye Mujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tidak ada yang tahu kemana angin ini akan membawaku?


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tidak ada yang tahu kemana mereka akan membawa kita


Na Mujhko Khabar, Na Tujhko Pata ...


-Baik aku maupun kau tidak tahu


O... Hawayein, Hawayein


-O.... Angin, angin


O... Hawayein, Hawayein


-O.... Angin, angin


O... Hawayein, Hawayein


-O.... Angin, angin


O... Hawayein, Hawayein


-O.... Angin, angin


Banaati Hai Jo Tu, Woh Yaadein Jaane Sang Mere Kab Tak Chale


-Kenangan yang kau buat, aku tak tahu berapa lama ia akan bersamaku


Inhi Mein To Meri, Subah Bhi Dhale, Shamein Dhale, Mausam Dhale


-Pagi, malam, dan musim akan berubah dengan kenangan itu saja.


Khayalon Ka Shehar, Tu Jaane Tere Hone Se Hi Aabaad Hai


-Kau tahu bahwa kota impianku ada karena kehadiranmu


Hawayein Haq Mein, Wohi Hai Hai Aate Jaate Jo Tera Naam Le


-Hanya angin yang baik, yang menyebut namamu saat berhembus.


Deti Hain Jo Sadayein Hawayein, Hawayein


-Angin yang memanggil..


Na Jaane Kya Batayein Hawayein, Hawayein


-Aku tidak tahu apa yang angin itu coba sampaikan


Le Jaaye Tujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawamu?


Le Jaaye Mujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawaku?

__ADS_1


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawa kita


Na Mujhko Khabar, Na Tujhko Pata...


-Baik aku maupun kamu tidak mengetahuinya


O ... Oo ... Ooo ... Oo ...


Chehra... Kyun Milta Tera...


-Mengapa wajahmu memiliki kemiripan?


Yun Khawabon Se Mere... Yeh Kya Raaz Hai ...


-Pada yang ku lihat dalam mimpiku, apa rahasianya di balik ini?


Kal Bhi... Meri Na Thhi Tu...


-Kau bukan milikku kemarin


Na Hogi Tu Kal... Meri Aaj Hai...


-Kau juga tidak akan jadi milikku esok, kau milikku hanya untuk hari ini


Teri Hai Mere Saari Wafayein, Wafayein


-Kesetiaanku hanya untukMu


Maangi Hai Tere Liye Duaaein, Duaaein


-Aku baru saja berdoa untukMu


Le Jaaye Tujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawamu?


Le Jaaye Mujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawaku?


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tidak ada yang tahu kemana ia akan membawa kita


Hawayein, Hawayein...


-Angin, angin..


Le Jaaye Tujhe Kahaann


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawamu?


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tak ada yang tahu kemana mereka akan membawa kita


Hawayein, Hawayein...


-Angin, angin..


Le Jaaye Tujhe Kahaan...


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawamu?


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawa kita


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


Le Jaaye Mujhe Kahaan ...


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawaku?


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


Le Jaaye Jaane Kahaan


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawa kita


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


Le Jaaye Mujhe Kahaan ...


-Tak ada yang tahu kemana ia akan membawaku?


Hawayein, Hawayein ...


-Angin, angin..


O ... Oo ... Ooo ... Oo ... O ...


Fatimah terdiam. Antara terkejut dan kagum dengan kepiawaian orang dalam video itu menyanyi dan bergitar. Tapi hatinya resah.


"Anti nyuri video ini?" tanya Fatimah melotot pada Mega. Sedangkan sahabatnya itu hanya meringis menunjukkan giginya yang tidak rapi.


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏

__ADS_1


__ADS_2