Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Perempuan dengan Senyum Fajar


__ADS_3

Tak terasa, kedua sudut bibirku terangkat. Aku menggeleng kuat, memang hubunganku dengan Mas Adi akhir-akhir ini telah membaik.


Tapi tetap saja terasa ada yang kurang. Karena kami belum menyempurnakan ibadah. Ah, pikiranku mulai ngawur. Kupukul pelipis dengan kepalan tangan untuk merontokkan pikiran-pikiran yang diluar kendaliku ini.


Tak terasa, aku telah hidup bersama dengan Mas Adi selama enam bulan. Ada kesedihan dan kebahagiaan yang selalu mewarnai hari kami. Dan bukankah itu hal wajar dalam setiap hubungan? Aku mengendikkan bahu.


Bayangan-bayangan aneh berseliweran di pelupuk mata. Ya, apa lagi saat umi dan abi menanyakan apakah aku telah mengandung. Bagi setiap perempuan, pertanyaan itu adalah pertanyaan paling horor.


"Doakan saja, umi. Tapi sepertinya kami masih terlalu fokus dengan pendidikan." Jawabku menenangkan, padahal hatiku seperti diremas saat melihat wajah kecewa umi. Wajah umi terlihat berubah, tapi ia berusaha tidak memperburuk keadaan.


"Fin, jaga diri ya di sana." Pesan umi, tak tahu sudah berapa kali perempuan yang telah melahirkanku ini berkata demikian. Aku mengangguk dengan diiringi sebuah senyuman.


"Umi dan abi juga jaga kesehatan, ya. Afin sayang kalian." Tak terasa mataku memedih, seperti bulir-bulir air mata telah siap jatuh membasahi pipi.


Berkata sayang kepada orang tua selalu membetot jiwaku, jiwa seorang anak yang tidak bisa terus bersama serta merawat kedua orang tuanya. Umi terlihat menahan kerinduannya pula.


Matanya yang bulat dan hitam terlihat basah. Mungkin beberapa menit lagi air mata itu akan mengalir. Akhirnya umi berpamitan dan menutup panggilan videonya.


"Robbighfirlii wa li waalidayya wa liman dakhola baitiya mu'minaw wa lil mu'miniina wal mu'minaati wa laa tazididz dzoolimiina illaa tabaaroo."


Ayat tersebut mengandung arti: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan orang yang memasuki rumahku dalam keadaan beriman dari kalangan laki-laki dan beriman dari kalangan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan kepada orang-orang yang zalim melainkan kebinasaan." Quran Surat Nuh Ayat 28.


Air mataku kembali menetes, bahkan tidak hanya menetes. Tapi mengalir, aku menyayangi mereka karenaMu, Ya Allah. Semoga kelak kami dikumpulkan kembali di dalam jannahMu.


****


Malam menjelang, terlihat langit telah menghitam. Aku dan suami baru saja melaksanakan sholat Isya. Setelah Mas Adi menyelesaikan wiridnya, Mas Adi memutar tubuhnya ke arahku.


Aku mengerti, segera menyongsong punggung tangannya dengan takzim. Keridaan suami adalah surga bagi seorang istri, tak terkecuali rumah tangga kami walau belum sempurna.


Entahlah, kapan penyempurnaan itu terjadi. Karena sebagai sorang wanita, aku tidak pantas berkata terlebih dahulu. Atau mungkin egoku yang terlalu tinggi? Bukankah ibadah itu mendatangkan pahala dan juga kenikmatan yang dibutuhkan manusia normal?


"Dik," panggil Mas Adi sambil membenahi duduknya menghadapku yang masih berada di belakangnnya sebagai makmum.

__ADS_1


"Iya, Mas?" Wajah Mas Adi yang cerah, tiba-tiba terlihat memerah. Ia juga jadi salah tingkah saat menatapku.


"Hm, bolehkah,...." Sebelum Mas Adi melanjutkan ucapannya, aku yang mengerti langsung mengangguk. Baiklah, mungkin memang sudah tiba saatnya untuk menyempurnakan ibadah kami sebagai suami istri.


Mas Adi bangkit dan menuntunku, aku tetap diam walau dengan dada yang sangat bergetar. Mas Adi sendiri terus menatapku dengan senyumannya yang indah.


"Tersenyumlah, Dik. Sejak kecil dulu, aku selalu bahagia saat kau tersenyum. Kaulah perempuan dengan senyum fajar."


Mas Adi merayuku. Ya, dia tahu benar bagaimana cara membuat dadaku semakin bergejolak.


Di antara kerlap-kerlip bintang dengan ratu rembulan yang indah, kami menyempurnakan ibadah kami sebagai suami istri.


Mas Adi begitu halus memperlakukanku dengan lembut. Kini, aku akan setia bersamanya sampai akhir hayat. Dialah imamku, imam yang akan menuntunku menuju syurga.


***


Mataku masih terasa berat, saat suara nada dering telepon Mas Adi terus menerus terdengar.


Aku memicingkan mata, Mas Adi bersandar dan mengangkat telepon. Samar-samar kudengar percakapan Mas Adi dengan seseorang di seberang.


Apalagi saat Mas Adi menyebut nama itu. Tak lama kemudian, Mas Adi bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


15 menit kemudian, ia telah kembali ke kamar dengan mengenakan kemeja warna marun. Bahkan wangi menthol dari sabun yang digunakannya mandi masih tercium. Aku mau tak mau mendekatinya. Sebenanrnya ada apa?


"Ada apa, Mas?" Tanyaku pelan.


"Aku harus pergi, Dik. Sofia membutuhkanku."


Mendengar Mas Adi menyebut namanya dan begitu mengkhawatirkannya, hatiku terasa sangat nyeri.


Bahkan rasa sakitnya segera direspon otak, kini air mataku berjatuhan saat dengan cepat Mas Adi melangkah meninggalkanku.


Bahkan huubungan kami baru saja membaik. Yang aku kira akan menjadi titik awal kebahagiaan kami. Tapi rupanya, Allah masih menyiapkan berjuta rintangan untuk menebalkan keimananku.

__ADS_1


Aku mengerjapkan mata, membiarkan air mata itu terus menetes membasahi selimut yang aku tutupkan. Mata ini beralih pada benda bulat yang berdetak di dinding. Ini baru pukul 23.15. Sepertinya, Mas Adi memang masih mencintai Sofia sampai tidak peduli malam begini pergi untuk menemuinya.


"Atau memang aku tidak akan pernah bisa menggantikan Sofia di hati Mas Adi?"


Penyesalan demi penyesalan sedikit membebani perasaanku. Cemburu, ya aku akui bahwa aku sedang terbakar cemburu. Lagipula, sudah sewajarnya seorang istri cemburu pada wanita lain yang dicintai suaminya. Seorang istri akan selalu ingin menjadi satu-satunya ratu di hati suaminya.


****


Hari berganti dengan pedih. Ya, setelah aku hanya bisa menatap nanar punggung Mas Adi yang hilang di balik pintu kamar kami. Alih alih aku bisa memejamkan mata, akhirnya aku memilih bangkit dan menyegarkan diri.


Lalu melantunkan ayat-ayat Allah di tengah kesunyian. Dan di sinilah aku masih termenung. Di atas sajadah.


Meski mata ini terasa sangat berat dan perih. Entahlah, saat ku putuskan mengulang surat Ar Rahman berkali kali, air mata seolah menderas tidak mau berhenti.


Sinar matahari menembus jendela, aku menemukan kesadaran kembali. Dengan langkah gontai aku bergerak sambil melepas mukena dan melipatnya kembali. Sekali lagi aku menatap pintu, sia-sia berharap suamiku akan muncul dari baliknya.


Aku juga tidak tahu semalam dia kemana dan tidur dimana. Yang aku tahu, dia hanya pergi menemui ustazah Sofia. Ya, ustazah Sofia.


Mengingat nama itu saja hatiku seperti ditombak sedemikian dalamnya. Dia adalah perempuan yang baik, dan shalihah.


Tapi mengapa kejadian demi kejadian ini membuatku meragukan keshalihan sahabatku itu. Ya Allah, kuatkanlah aku.


Cukupkanlah ujianMu pada keluarga kecilku ini. Aku kembali terhuyung dan jatuh bersimpuh. Menangis jiwa dan hatiku. Mengapa rasanya sulit sekali ya Allah? Untuk tawakal padaMu dengan semua ini?


Tangisku semakin menjadi. Dada ini terasa sangat sesak. Dihimpit dari segala arah hingga yang aku bisa hanya memohon datangnya Rahmat dari Allah.


Ceklek, suara pintu kamar terbuka. Aku segera menghapus air mata saat menyadari langkah kaki lelaki itu mendekat. Akhirnya, Mas Adi pulang.


Rasanya ingin sekali aku menghambur di pelukannya, dan menanyakan berjuta pertanyaan yang kini tengah meracuni pikiran.


Tapi tenggorokanku seakan tercekat saat menyadari ada guratan kesedihan di wajah Mas Adi. Laki-laki itu kini telah berada di hadapanku. Tanpa bersuara aku mengambil punggung tangannya dan kucium dengan takzim.


"Assalamualaikum, Mas. Mas sudah pulang," hanya itu yang bisa terucap dari bibirku. Aku masih menunduk.

__ADS_1


Menyembunyikan wajah burukku karena semalaman menangis. Mas Adi hanya menjawab salamku dengan lemah. Lalu memelukku dengan kuat. Aku hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa.


__ADS_2