Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Ketidaksukaan


__ADS_3

Apapun yang bergelayut di pikiranku setelah mendengar hadist yang disampaikan Mas Adi, sudah pasti mempengaruhi. Bahkan aku terdiam beberapa saat. Hingga tak menyadari ustazah Naf yang telah berganti baju, datang bersama Sofia ke dapur.


"Afwan, Fin. Ana tidak tahu diri dengan meminta anti memasak. " Ustazah Naf menggapai sayuran dan meraih pisau.


Sedangkan Sofia melirik kami berdua. Nampaknya dia juga ingin turut membantu memasak. Tapi bingung apa yang harus ia lakukan. Aku berinisiatif untuk memintanya mengambil beras dan mencucinya.


"Kita akan memasak apa?" tanya Ustazah Naf. Aku menggigit bibir karena belum mendapat ide. Semula aku ingin memasak sayur bening. Tapi kini sangsi. Bagaimana jika yang lain tidak suka dengan masakanku?


"Kesukaan Mas Adi?" lanjut Ustazah Naf, memancing ide.


Ah, mana mungkin aku mengatakan kalau aku tidak tahu makanan favorit suamiku?


"Sayur asem, sambal tomat, dan ayam goreng kuning." Sofia baru berbalik menyebutkan makanan yang kuduga kesukaan Mas Adi.


Tentu saja dadaku sedikit nyeri. Ternyata Sofia lebih tahu banyak tentang Mas Adi.


"Kita akan masak itu, kan?"


Aku melihat kilatan di mata kopi Sofia. Sejujurnya, kecemburuan masih bercokol di hati. Apalagi saat Sofia lebih tahu tentang suamiku.


Sesaat, ustazah Naf menatapku. Pasti ia menangkap rasa tidak nyamanku saat Sofia lebih mengetahui tentang kesukaan Mas Adi.


"Jangan salah paham, Bang Fahmi juga menyukai makanan yang sama. Makanya ana tahu."


Sofia tersenyum aneh. Aku jadi tidak bisa mengendalikan diri. Lalu aku mengambil napas dalam dan menghembuskannya saat teringat kata-kata Mas Adi.


Mas Adi sudah memilihku, dia menjadi suamiku. Bukan suami Sofia. Lagipula Rahman juga memiliki wajah yang sama dengan Mas Adi. Pasti tidak sulit mencintai kembaran Mas Adi itu.


Waktu berjalan cepat. Kami bertiga telah menyelesaikan masakan dan menatanya di meja makan yang tingginya lebih dari meja makan di Indonesia.


Sesaat, aku terdiam melihat ustazah Naf mengambilkan nasi di piring suaminya. Masih terlihat kaku. Mungkin belum terbiasa dengan status baru mereka. Hal yang sama juga terlihat di interaksi antara Sofia dan Rahman. Rahman yang terlihat terus menatap wajah istrinya, harus menelan kecewa karena nyatanya Sofia memilih menunduk. Baru saja aku akan mengambil piring untuk Mas Adi, Sofia segera mengambil piring lagi.

__ADS_1


"Mas Adi, ana ambilkan nasinya ya?"


Tanpa menunggu jawaban, Sofia menaruh nasi di piring dan berjalan mengangsurkan piring itu pada Mas Adi.


Aku menekan tangan sendiri. Rasanya aneh melihat Sofia yang sangat terlihat mendekati Mas Adi. Bagaimana bisa ia lupa jika kisah cinta mereka telah kandas?


"Ana ambilkan lauknya, ya?" Sofia baru mulai mendekat, aku langsung bergerak menggeser tubuhnya.


"Afwan, Sofia. Sepertinya Rahman belum anti ambilkan lauk." Aku menatap sinis sahabat lama itu lalu meraih piring Mas Adi dan mengisinya dengan berbagai macam lauk yang tersaji.


Tanpa sadar, aku meletakkan piring di depan Mas Adi dengan sedikit melemparnya. Aku terbawa kesal dengan sikap buruk Sofia.


"Sudah, mari makan. Jangan lupa berdoa." Mas Adi terlihat tak mau memperpanjang masalah, ia dengan khusyuk melahap makanan yang aku sajikan. Walau aku sadar tadi terlalu banyak mengambilkan makanan untuknya.


Benar dugaanku, Mas Adi bahkan belum selesai makan saat yang lain sudah meletakkan piringnya. Aku menggigit bibir dan menunduk. Emosi sesaat tadi sangat mengganggu dan akibat kebaperanku, aku menyusahkan suamiku.


Tak tahan di sini, aku berlari masuk kamar. Tak memedulikan semua yang menatapku. Saat duduk di tepi ranjang, air mata langsung luruh. Sesak dan nyeri di dada kini bercampur.


"Ada apa, sayang? Anti jadi berbeda dari biasanya?"


Mendengar suara Mas Adi, tubuhku jadi gemetar. Tanpa aba-aba aku berdiri dan memeluk suami tercintaku. Di dada bidangnya air mataku kembali tumpah. Bahkan aku harus menggigit bibir agar suara tangisku tidak memenuhi ruangan.


Tangan kekar Mas Adi mengelus ujung bergo yang aku gunakan. Ketenangannya kini menentramkan. Barangkali inilah nikmat cinta yang benar. Rahmat Ilahi.


Pembawaan Mas Adi yang begitu tenang selalu membuatku malu atas tingkah kekanakan yang selalu berakhir menyusahkannya. Tapi Mas Adi selalu sabar menghadapiku.


"Entah kenapa ana takut kehilangan Mas. Sofia seperti mau merebut Mas," bisikku di sela-sela tangis yang belum usai.


Aku melihat pupil mata Mas Adi melebar sesaat. Sepertinya ia terkejut. Tapi tetap berusaha menutupinya.


"Apa anti merasa mual?"

__ADS_1


Aku tak bisa menutupi keterkejutan saat mendengar pertanyaan Mas Adi. Hey, bagaimana ia mengira aku mual? Aku hanya sedang sangat sensitif. Apa hubungannya dengan mual?


Hanya dengan gelengan aku menjawab pertanyaan konyol itu. Benar-benar tidak habis pikir karena Mas Adi menanyakan hal yang tidak ada kaitannya sama sekali.


Masih tidak mengalihkan pandangan dari menatap wajah Mas Adi. Ia sedang berpikir. Dalam diamnya aku tahu ia sedang berpikir.


Mas Adi bergerak. Meraih sesuatu yang dibungkusnya. Entah sejak kapan bungkusan itu ada di laci dekat lemari bajunya, sepertinya aku sangat lama tidak memeriksa benda-benda di sana.


Mataku membulat penuh saat bungkusan itu diserahkan Mas Adi padaku. Sebuah test pack?


"Bisakah anti mengeceknya sekarang?"


Aku masih terkesiap. Mas Adi menggenggamkan benda itu di telapak tangan. Aku menggeleng tidak siap. Entah tidak siap untuk mengecewakan Mas Adi, atau mengecewakan diriku sendiri. Sepertinya aku tidak memiliki tanda-tanda kehamilan. Hanya sikapku yang akhir-akhir ini sedikit sensitif.


Masalah haid yang tak kunjung datang, bagiku itu normal dan tidak terlalu perlu dipikirkan karena aku selalu mendapatkannya di tanggal yang berbeda setiap bulan. Apalagi akhir-akhir ini aku dibuat tertekan dengan kekacauan yang terjadi dengan kehadiran Sofia, Fahmi, ataupun Rahman.


Mas Adi menyentuh kedua pundakku. Membawa kesadaran kembali dan melihat tatapan mata Mas Adi. Sebagai suami, ia pasti sangat berharap untuk segera memiliki momongan.


"Apapun hasilnya, ana akan syukuri dan ana akan selalu menguatkan anti." Senyuman Mas Adi yang manis menghipnotis sesaat.


Bagaimana bisa aku mengecewakan laki-laki sebaik ia?


"Baik, Mas."


Tanpa ba-bi-bu, aku berjalan melewati tubuh Mas Adi. Menuju kamar mandi. Sesaat memegang gagang pintu, dadaku berdentum keras. Tubuhku menjadi sedikit aneh. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku juga mengharapkan kehadiran janin sebagai buah cinta antara aku dan Mas Adi.


Aku mengambil napas dalam. Lalu membaca petunjuk di bungkus testpack dengan seksama dan melakukan langkah demi langkah sesuai yang tertera disana.


Saat menunggu hasilnya. Tubuhku benar-benar gemetar. Entah sejak kapan harapanku sangat tinggi. Bahkan lupa jika aku masih berkuliah di Al Amin. Bagaimana dengan kuliahku jika aku hamil?


Lima menit berselang. Aku meninjau kembali aplikator untuk melihat hasil dari test kehamilan ini.

__ADS_1


Dan mataku melebar saat melihat hasil yang terlihat jelas di sana.


__ADS_2