
Aku yang tertidur tiba-tiba terbangun setelah mendengar sesenggukan Afin di sampingku. Aku mengucek mata. Berusaha sadar dan segera menyentuh bahu Afin yang bergetar karena tangisnya.
"Ada apa?" tanyaku pendek. Terang saja nyawaku belum benar-benar terkumpul.
"Hikshiks."
Afin masih tidak menjawab. Masih terus menikmati tangisnya. Masih terus mengeluarkan air matanya.
Astaghfirullah. Kadang emosiku bisa naik jika tak ingat dia sedang hamil.
"Fin," panggilku.
Afin masih tidak menjawab. Aku mengembuskan napas untuk mengurangi kekesalan dalam diri.
Malam-malam begini tiba-tiba menangis dan tidak mau mengatakan apapun. Aku berusaha membiarkan dia meluapkan kesedihannya.
Mungkin nanti kalau dia lebih tenang bisa lebih mudah mengorek keterangan. Ah, sebenarnya mataku teramat berat. Masih sangat mengantuk.
"Ana ingin pulang," ucapnya singkat.
Kepalaku yang pusing karena masih ngantuk bertambah berat.
"Hari ini ana ada seminar, Fin. Bisakah ditunda?" tawarku.
Kembali menarik napas pelan agar tidak turut emosi.
"Mas Adi nggak usah ikut pulang."
Lidahku mendadak kelu saat pernyataan Afin itu terdengar seperti ancaman.
"Mana mungkin, Fin? Mas nggak tega anti naik pesawat sendirian, apalagi anti sedang hamil," elakku.
Tidak akan aku biarkan Afin menuruti nafsunya. Tak apa jika hatinya terluka kali ini. Tapi aku benar-benar tidak mau Afin melakukan hal yang tidak-tidak.
"Fin, ini masih tengah malam. Ayo kita tidur. Esok akan ana usahakan mengambil cuti."
Suaraku sedikit bergetar karena menahan amarah. Ternyata berdampingan dengan wanita bukan hal yang mudah. Mereka makhluk yang unik. Benarlah bahwa perumpamaan mereka adalah tulang yang bengkok.
Jika dibiarkan akan tetap bengkok. Jika dipaksa akan patah. Jadi harus pelan-pelan meluruskannya.
"Fin, Mas mohon jangan egois. Pikirkan juga anak yang anti kandung."
Aku mengelus bahunya. Aku masih sangat lelah. Mati-matian aku berusaha mengendalikan emosi, agar tak sampai melukai hati Afin yang sangat sensitif.
Afin masih diam seribu bahasa. Diamnya kali ini sangat menyeramkan. Sangat menakutkan. Semoga ia tidak berpikir macam-macam.
"Fin, Afwan. Mas benar-benar lelah. Mas istirahat dulu ya. Jangan berpikir yang macam-macam. Mas menyayangimu."
__ADS_1
Kuakhiri kataku dengan kecupan di pundaknya. Lalu aku kembali beristirahat. Apapun yang terjadi besok, semoga aku lebih sabar menghadapi Afin.
****
Azan subuh berkumandang. Aku langsung membuka mata. Menoleh ke arah Afin, ia sudah tidak di sana.
Terdengar suara air gemericik, aku sedikit lega. Ia sedang mandi.
Sebelum aku beranjak dari kamar mandi, tiba-tiba aku berinisiatif membuka handphone. Sebelum terjadi apa-apa, lebih baik aku mencegah hal yang tidak diinginkan.
Tanganku bergerak lincah di sana. Berusaha membekukan rekening tabunganku. Bukan aku tak percaya. Tapi jika Afin bertindak jauh, lebih baik aku mencegah Afin berpikir pulang ke Indonesia sendirian.
Tabunganku dan Afin memang aku yang memegang, jadi aku bisa melihat jumlah tabungan kami. Walau begitu aku masih khawatir jika Afin benar-benar nekad pulang ke Indonesia. Semoga saja tidak.
Karena Afin juga masih berstatus mahasiswa di sini. Tak mungkin ia akan mengecewakanku.
Setelah bangun, aku segera bersih-bersih lalu melaksanakan sholat subuh bersama Afin. Walau Afin masih begitu diam.
"Fin, maafkan, Mas ya."
Setelah berdzikir aku berbalik dan menatap wajah masam istriku. Sepertinya ia masih sangat kesal dengan kejadian semalam.
Pagi telah cerah. Aku bersiap untuk kegiatan hari ini. Bahkan Afin sampai memanggilku dua kali untuk sarapan. Sedangkan aku masih di depan laptop. Aku menyiapkan makalah untuk seminar hari ini.
Seandainya Afin tahu, aku sampai menerima tawaran menjadi pengisi seminar untuk mendapat biaya. Tak apa, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai suami.
Aku melahap nasi goreng yang terhidang dengan melirik wajah Afin yang belum banyak berubah. Masih masam.
Aku menghela napas. Apa aku kurang merayu dan memanjakan Afin? Atau aku tidak seperti Syams dulu yang begitu manis pada istrinya?
Astaghfirullahalladzim. Bagaimana bisa aku membandingkan diriku dengan suami Afin sebelum aku. Meski dia adalah adikku sendiri.
"Sayang, masih marah ya sama Mas?" tanyaku menyentuh dagu Afin.
Meski ia mengangkat wajahnya, tapi tetap saja tidak ada senyum di sana.
"Senyum dong istriku, Mas tidak suka melihat anti cemberut begini."
Afin bereaksi. Lengkung senyumnya begitu tipis. Tapi aku sudah cukup senang melihatnya.
"Ya sudah, Mas seminar dulu ya. Nanti sepulang dari acara kita bicarakan lagi tentang pulang ke Indonesia."
Aku mengelus pipi Afin dan mencium keningnya sebelum berangkat. Semoga istriku selalu dijaga Allah. Dan aku dilimpahi banyak kesabaran untuk mendidiknya.
"Assalamualaikum, sayang. Mas berangkat ya," pamitku.
Afin menjawab dan mencium tanganku. Tak tahu kenapa langkahku terasa berat. Masih ingin memandang istriku ini.
__ADS_1
"Mas, sudah siang. Segera berangkat," peringat Afin.
Aku malah mencebik. Kenapa aku kesal ya dengan dia mengusirku begini. Padahal aku masih ingin berlama-lama dengan istriku.
"Anti sudah tidak sayang ya sama suamimu ini? Kenapa mengusir?"
"Tidak, tapi ini sudah siang."
Afin menunjukkan jam tangan di pergelangannya. Aku tersenyum. Tapi sebelah hatiku begitu berat untuk melangkah. Semoga bukan pertanda buruk.
"Yasudah, Mas berangkat ya."
Aku kembali mengecup ujung kepalanya. Entahlah perasaan ini tiba-tiba tidak enak. Wajah Afin yang masih kaku sangat merisaukan.
Setelah itu aku berangkat ke salah satu gedung di kampus Al-Amin. Berusaha berkonsentrasi untuk menyampaikan materi hari ini. Masih tentang pendidikan Islam.
Fakultas Tarbiyah. Tiba-tiba teringat Afin yang juga mengambil jurusan ini. Kelak jika ia sudah lulus, aku ingin mengajaknya kembali ke Indonesia.
Memajukan pendidikan di Indonesia seperti cita-cita mulianya. Menggeser gunung. Tanpa sadar aku tersenyum. Jika ingat wajah Afin, yang ada dadaku berdebar. Aku sangat menyayanginya.
"Terimakasih, Syams, telah menitipkannya padaku," bisikku sangat pelan.
Aku segera beranjak. Menyiapkan diri untuk presentasi hari ini. Semoga lancar.
Tak lupa aku berdoa sebelum berada di depan para mahasiswa. Robis shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli.Doa yang dikutip dari Surah Taha dalam Al Quran itu bermakna,” Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku.
Hampir empat jam aku presentasi dan berdialog dengan para mahasiswa di sini. Akhirnya acara seminar selesai dengan baik. Ini semua pasti ada campur tangan Allah dalam hidupku.
Saat azan dhuhur berkumandang, aku menutup acara. Tak lupa berdoa agar ilmu yang tak banyak ini bermanfaat bagi orang lain.
Aku duduk di pojok ruangan. Tanganku begitu gatal untuk melihat gawai. Siapa tahu Afin mengirim pesan untuk memberi semangat padaku.
Melihat tak ada satupun pesan di sana, hatiku sedikit berkabut. Apakah Afin masih marah?
Aku putuskan untuk menghubungi nomornya. Barangkali aku lagi harus mengalah. Aku lagi harus memulai memperbaiki hubungan kami.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Aku terlonjak. Aku coba sekali lagi masih dijawab oleh operator. Kucoba menghubungi telepon rumah juga tidak diangkat.
Kali ini aku benar-benar tidak tenang. Apa yang terjadi pada Afin? Dimana dia?
Setelah sholat Dhuhur aku segera memacu kuda besiku untuk kembali ke rumah. Semoga tidak ada yang terjadi.
Sesampai di depan rumah, kondisi rumah terkunci. Otomatis aku mengambil kunci cadangan di balik pot bunga. Afin tidak di rumah?
"Assalamualaikum, Afin?" panggilku dengan lantang.
Masih berharap Afin segera menyambutku. Aku berharap Afin tidak benar-benar pergi. Apalagi tabungan sedang aku bekukan. Kemana Afin pergi?
__ADS_1
Aku segera melangkah ke kamar tidur dan menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Afin.
Untuk Mas Adi.