Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Memeram Rindu


__ADS_3

Hari terus berganti, meski berat harus aku lalui. Hanya dengan segenap rindu yang kutabung. Semoga kelak perjumpaan dengan Afin di saat yang tepat.


Aku selalu menjaga komunikasi dengannya. Berusaha tak meretakkan kepercayaan di antara kami. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit Afin mau mengerti.


Bulan berganti bulan. Aku berharap bisa secepatnya pulang. Menemui istriku yang kini usia kandungannya sudah hampir paripurna.


Ya Rabbku, semoga diberikan kelancaran untuk istriku melahirkan sang buah hati. Semoga jalan jihadnya menjadi penebusan dosa. Dan pemberi pertolongan kelak di Yaumil akhir.


Aku menengadahkan tangan, berdoa dengan khusyuk hingga tak sadar air mata yang menggantung jatuh berguguran menetes di pipi.


Bulan depan, sidang dan aku harus menyiapkan dengan sangat baik. Setelah itu aku akan pulang. Semoga Allah memberikan waktu untukku menemani saat Afin melahirkan.


"Ana uhibuki Fillah," bisikku pada gambar Afin di layar handphone.


****


Semua berjalan lancar. Aku sudah bersiap untuk pulang kembali ke Indonesia. Sudah tidak sabar bertemu Afin dan menemaninya melahirkan. Katanya, ia sudah mulai merasakan kontraksi.


Aku cepat cepat memesan tiket pulang. Semoga masih keburu untuk menemaninya melahirkan.


Setelah mengunci pintu, aku segera berangkat ke bandara Sana'a. Di perjalanan tak lupa bibirku selalu berikhtiar dengan surat al-insyiroh. Doa agar diberi kemudahan.


...بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ...


اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَـكَ صَدۡرَكَۙ



Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?


وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَۙ


dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,


الَّذِىۡۤ اَنۡقَضَ ظَهۡرَكَۙ‏


yang memberatkan punggungmu,


وَرَفَعۡنَا لَـكَ ذِكۡرَكَؕ


dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.


فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا


Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,


اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا

__ADS_1


sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.


فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡۙ


Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),



وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ


8.


dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.


Melewati setiap perjalanan ini, aku menyadari bahwa kehidupanku sangat berubah setelah menikah. Afin, dia istri yang baik. Walau kadang menyebalkan. Ah, sebelum aku berada di pesawat dan tidak bisa menghubunginya, lebih baik sekarang aku menelponnya. Mumpung masih di jalan.


Tak lama panggilan tersambung. Afin terdengar sedikit cemas. Tapi ia mencoba menutupi.


"Assalamualaikum, Mas. Ada apa?" tanyanya.


"Waalaikumsalam, Fin? Anti baik-baik saja?"


"Heeeemmm. Ana baik-baik saja."


Aku mengernyit. Merasa janggal dengan suara Afin seperti menutupi sesuatu. Jika saja Yaman-Indonesia dekat, aku ingin sekali berada di sana.


"Ya sudah, Mas sudah sampai di bandara. Nanti kalau sudah sampai ana hubungi. Anti baik-baik ya," pesanku singkat.


"Waalaikumsalam."


*****


Hampir 5 jam, akhirnya aku berada di taksi yang akan mengantarkan ke Ngantang. Ke rumah ibu dan ayah mertuaku dimana Afin tinggal di sana untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.


Masalah pendidikan, sudahlah tak apa. Afin tak sampai lulus di Yaman. Barangkali nanti ia bisa kuliah di dekat sini saja. Itupun jika anak kami sudah cukup besar dan bisa ia tinggal.


Yang terpenting sekarang adalah aku segera bertemu Afin. Memendam rindu sekian purnama adalah siksa yang semakin menyakitkan jika tidak dituntaskan.


Itulah mengapa sebenarnya aku tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh. Aku terlalu terbiasa bersama Afin, hingga setengah mati bertahan tanpa Afin di sampingku.


Setelah ini lebih baik aku yang mengalah. Tak apa tinggal di Ngantang asal selalu bersama istri dan anakku.


Sesampai di depan rumah, terlihat rumah begitu ramai. Aku mengira-ngira ada apakah gerangan. Semoga tidak terjadi hal yang buruk.


Aku melangkah dengan gamang. Rasa penasaran dan kekhawatiran terus menghantui. Bagaimana jika terjadi sesuatu?


Saat aku mendekat, seseorang menyentuh pundakku. Perasaanku semakin tidak enak. Hingga saat aku tiba di depan pintu, aku melihat Afin menangis sangat pilu.

__ADS_1


Ia menggendong bayi yang masih begitu merah. Dan tergugu terus menciuminya.


Afin sudah melahirkan? Lalu siapa yang sebenarnya membuat suasana duka begitu kental? Aku mempercepat langkah dan sampai di depan Afin yang matanya sangat sembab.


"Afin, ada apa, Fin?" tanyaku sambil memerhatikan wajah bayi merah di gendongan Afin. Cantik, sangat cantik. Dadaku menghangat melihat parasnya yang mirip denganku.


"Anak kita, Mas."


Aku tak bisa menerima kalimat Afin barusan. Ada apa dengan anak kita? Bukankah ia sedang tertidur di gendongan Afin?


Reflek tanganku menyentuh dahi bayi merah yang ada di gendongan Afin. Hangat. Berarti anak kami sehat walafiat. Alhamdulillah. Aku sanagt bersyukur. Lalu apa maksud Afin?


"Anak kita baik-baik saja, Fin."


Mataku masih tertuju pada bayi mungil dalam gendongan Afin. Tapi ternyata tangis Afin kembali pecah. Ibu mertua meraih bayi dalam gendongan Afin, dan mempersilakan aku beristirahat dulu.


Aku masih linglung. Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Afin melahirkan anak kembar, yang satu hidup yang lainnya telah tiada."


Innalilahi wa innailaihi rojiun. Aku terdiam. Bagai ditimpa beton tepat di kepala. Anakku, jadi anakku yang tiada?


Aku mencoba tabah. Berusaha sabar dan tawakal. Meski aku sempat menahan napas sebentar untuk meredakan nyeri di dalam dada.


Ternyata salah satu anakku telah kembali ke syurga. Menjadi penjemput untukku dan Afin nanti. Robbihabliminassholihin. Semoga anak-anak menjadi anak-anak yang Sholihah.


Setelah membersihkan diri, aku mengambil bayi yang sejak tadi hanya aku lihat. Aku menggendongnya dan tak sadar tersenyum melihat bayi mungil itu tertidur pulas.


"Maafkan Afin, Mas. Tak memberitahu jika anak yang kukandung kembar."


Air mata Afin kembali luruh. Aku menggeleng untuk mengajarkannya ikhlas. Tak perlu ada yang disesali. Sekarang yang terpenting kita merawat baik-baik anak ini.


"Siapa nama bayi cantik ini, Mas?" tanya Afin padaku yang masih menatap takjub dengan makhluk yang bernama bayi.


"Dia belum anti beri nama?"


Afin menggeleng. Aku berpikir sejenak. Mencari nama seperti membuat sebuah doa untuk hidupnya.


"Siti Fatimah."


Aku melirik Afin, meminta persetujuannya. Dan Afin mengangguk setelahnya. Alhamdulillah. Ia menyetujui nama yang aku sematkan untuk anak kami.


Esok, aku ingin ke makam anak kami yang lain. Aku ingin memberinya nama Siti Aisyah. Ya, bagaimanapun juga ia adalah darah dagingku.


Malam telah datang. Banyak tetangga datang untuk bertahlil. Menahlili Siti Aisyah yang lebih dahulu pergi ke syurga. Di sisi lain aku ingin menangis. Tapi di sisi lain aku masih bersyukur Allah menyehatkan anakku yang lain.


Kini aku dan Afin telah menjadi orang tua. Kami harus lebih hati-hati dalam bertindak. Segala perbuatan dan ucapan orang tua, adalah doa untuk anaknya.

__ADS_1


"Fin, Mas minta maaf ya karena tak bisa mengantarmu dulu."


Aku mengingat kembali saat Afin pulang ke Indonesia sendirian. Jujur aku merasa bersalah membiarkannya melalui perjalanan jauh sendiri.


__ADS_2