Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Bertemu dengan Tata


__ADS_3

Meski sedang di skors dan mata pelajarannya digantikan orang lain, Gus Ali tetap berangkat ke kampus. Ia ingin menyelesaikan semuanya. Termasuk jika nanti bertemu dengan Tata. Gus Ali telah berjaga-jaga dengan membawa surat nikahnya di tas.


Tak sendirian, Fatimah juga ikut Gus Ali. Selain karena hari ini ia juga ada jam kuliah, Fatimah juga ingin sekali bertemu Mega. Ia ingin memastikan kalau sahabatnya itu tidak terlibat seperti dugaan Gus Ali.


"Anti tidak apa-apa?" Gus Ali membuka ruangannya dan mempersilakan Fatimah masuk ke dalam ruangannya.


Kini Gus Ali tidak perlu menyembunyikan pernikahan mereka lagi. Setelah kejadian kemarin, Fatimah juga setuju jika pernikahan ini tidak baik jika disembunyikan.


Apalagi Minggu depan mereka akan melangsungkan resepsi dan bermaksud mengundang beberapa orang di sini.


"Tidak, Mas. Kaki ana sudah sembuh, kok." Fatimah menyangka kalau pertanyaan Gus Ali itu mengenai kakinya, padahal Gus Ali membahas hal lain. Yaitu kesiapan Fatimah mengungkapkan pernikahan mereka di depan Tata.


Seperti yang ia duga, pintu ruangan yang tidak ditutup rapat segera dibuka oleh Tata. Dosen muda itu sangat terkejut melihat Gus Ali bersama wanita yang ia kenali sebagai mahasiswi baru yang baik.


"Anti?"


"Iya, Ta. Dialah istri saya." Gus Ali tidak membuang-buang waktu. Ia juga mengambil surat nikah di tasnya dan meletakkannya di meja agar Tata tahu kalau dirinya tidak sedang bercanda.


"Dan ini, undangan resepsi pernikahan kami Minggu depan. Kami harap anti mau mendoakan kebaikan untuk kami." Gus Ali mengulurkan kertas undangan ke tangan Tata.


Tata mematung di tempatnya. Dadanya terasa sesak. Bahkan tubuhnya bagai ditelan bumi. Ia merasa langitnya runtuh saat melihat dengan mata kepalanya sendiri surat nikah itu asli. Dan memang foto di dalamnya adalah foto Gus Ali dan Fatimah.


Air mata Tata kembali mengucur. Tak tahan berada di sana lama-lama, Tata berlari keluar dari ruangan.


Entah kaki membawanya kemana, bahkan ia tidak peduli lagi dengan jadwal yang seharusnya setengah jam lagi ia masuk ke kelas.


Tata terus berlari, di kepalanya berputar kenangan saat bersama Gus Ali dan saat ia berkenalan dengan Fatimah yang cantik dan santun.


Air mata Tata terus mengalir ke pipi. Ia terus berlari dari kehidupan. Berharap ini semua hanya mimpi, tapi itu tidak mungkin. Semua memang kenyataan. Tata terjatuh saat sepatu heelsnya tersandung batu kerikil.


"Aduh." Ia mengaduh. Tak hanya karena kakinya teramat sakit, mungkin terkilir. Tapi juga hatinya yang remuk.


Tata masih memegangi pergelangan kakinya yang sakit sekali. Ia ingin meminta tolong, tapi tidak ingin orang di sekitarnya menyadari kalau Tata sedang menangis.


Tata menundukkan wajahnya. Tak membiarkan kesedihan di sana terlihat orang lain. Tak ia sadari, seorang perempuan yang melihatnya segera menghampiri.

__ADS_1


Ia mengajak Tata masuk ke dalam salon karena tidak tega melihat Tata kesakitan di trotoar jalan.


****


Kembali lagi ke ruangan dimana kini Gus Ali dan Fatimah saling diam. Keduanya memikirkan hal yang berbeda. Gus Ali memikirkan bagaimana cara agar Mega dan Dika mengaku, sedangkan Fatimah memikirkan bagaimana hancurnya hati Bu Tata.


"Mas, apa kita tidak keterlaluan pada Bu Tata?" tanya Fatimah terlihat cemas.


"Sudah, biar saja, Tim."


"Tapi, Mas. Bu Tata pasti patah hati banget. Gimana nanti kalau dia bunuh diri?"


Gus Ali ingin tertawa melihat pemikiran polos Fatimah. Ia yang sudah lama mengenal Tata, sudah paham kalau Tata akan emosional sesaat.


"Kok ketawa sih?"


"Udahlah, Tim. Nggak usah mikir orang lain. Cukup pikirin suami anti ini saja." Gus Ali mengedipkan sebelah matanya, membuat Fatimah sedikit geli.


"Ih, Mas mah becanda mulu."


"Ih, nggak lucu Mas."


"Yaudah, yaudah. Maaf."


Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang mahasiswa kepercayaan Gus Ali datang karena menerima pesan singkat dari Gus Ali. Tentu saja mahasiswa itu sedikit terkejut melihat Fatimah berani berduaan dengan seorang dosen.


"Dia istri saya," kata Gus Ali singkat. Lalu Gus Ali meminta tolong kepadanya untuk memanggilkan Mega dan Dika.


Setelah mengerti, mahasiswa itu berpamitan keluar dari ruangan Gus Ali.


"Mas, Fatimah mohon jangan diperpanjang masalah ini."


"Enggak, Mas nggak mau memperpanjang masalah ini. Mas cuma mau tahu motif mereka apa."


Fatimah menyerah. Tidak lagi mendebat suaminya. Lagipula ia juga penasaran dengan alasan Mega. Ia juga ingin tahu lebih rinci masalah ini.

__ADS_1


Keduanya terkejut saat Mega dan Dika membuka pintu ruangan Gus Ali. Fatimah sedikit cemas jika masalah ini akan semakin rumit. Melihat Dika dengan kepala diperban, Fatimah tentu takut kalau lelaki itu akan macam-macam kepada suaminya.


"Masuk." Gus Ali hanya memperhatikan saat Mega dan Dika duduk di depannya. Melihat Fatimah yang cemas, Gus Ali mengelus punggung tangan istrinya. Bermaksud menenangkan Fatimah.


"Saya tidak akan memperpanjang masalah kemarin, asal kalian berdua mengatakan sejujurnya apa yang kalian rencanakan." Gus Ali langsung to the point.


Mega gemetar. Ia belum pernah melihat Gus Ali yang semarah sekarang. Saat ia mengingat-ingat kembali perasaannya kepada Gus Ali, Mega tersentak. Ternyata ia sama sekali tidak menyukai Gus Ali.


"Afwan, Gus. Saya yang salah." Mega menguak kebenaran, namun diragukan oleh Gus Ali dan Fatimah.


Tak kalah terkejut Dika dengan pengakuan Mega. Bukannya membiarkan Dika menanggung semua kesalahan, Mega malah melimpahkan semua kesalahan pada dirinya.


Dika merasa kagum kepada Mega. Entah mengapa karena kejadian ini, ia jadi dekat dengan Mega. Bahkan Mega yang biasa saja di matanya dulu, kini terasa berbeda.


"Tidak, Pak. Sayalah yang bersalah. Saya yang merencanakan ini semua. Saya dendam kepada Bapak karena Bu Tata sangat mencintai Bapak." Dika tidak mau menjadi pengecut dengan berlindung di belakang Mega.


Dika menjelaskan semua rencananya yang gagal. Gus Ali dan Fatimah menyimak cerita itu dengan napas panjang. Tak menyangka jika setan berhasil membujuk mereka untuk melakukan hal yang tidak terpuji.


"Kami sekarang menyesal telah melakukan hal seburuk itu. Kami meminta maaf sebesar-besarnya pada Pak Ali dan Bu Fatimah."


"Kalau begitu saya harap kalian benar-benar bertaubat kepada Allah. Tidak ada manfaatnya membalas dendam ataupun sakit hati. Yang ada kalian akan terus tidak puas dan iri dengan apa yang Allah takdirkan untuk kalian." Gus Ali menghela napas. Ia tidak habis pikir dengan kejadian ini.


Melihat raut wajah Dika dan Mega yang menyesal, Gus Ali tak tega memberi hukuman apapun. Biar saja Allah yang bertindak.


"Ya sudah, sekarang kalian boleh keluar," putus Gus Ali akhirnya.


"Tunggu." Fatimah menginterupsi. Membuat langkah Mega dan Dika terhenti.


"Mega, tunggu ana, kita kan satu kelas."


Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Fatimah, Mega sama sekali tidak menyangka kalau setelah kejadian ini, Fatimah masih mengganggapnya sahabat.


Mega mendekap sahabatnya dengan sangat erat. Air mata jatuh membasahi pipi keduanya. Gus Ali diam-diam tersenyum melihat Fatimah mampu menghapus dendamnya pada Mega.


"Maafkan ana, Tim."

__ADS_1


__ADS_2