Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Perpisahan yang Manis


__ADS_3

Hari ini, mendung mengumpul di pelupuk mataku, memang berat menjalani kenyataan ini. Tiga hari lagi, aku harus masuk asrama dan Syams kembali ke Indonesia untuk memastikan keadaan abi.


Aku masih merasakan tangan tegap Syams merengkuhku dalam peluknya. Semalaman, kami berdua sama-sama menangis seusai shalat qiyamul lail hingga selesai Subuh.


Perpisahan ini sangat menyakitkan, apalagi aku baru saja mendapatkan kebahagiaan sebagai seorang istri yang berusaha melayani suamiku.


"Fin, jangan menangis lagi," suara Syams parau dan berat.


Tapi bagaimana melepaskan kesedihan ini? Bagaimana ujian ini datang begitu berat? Aku tidak menjawab apa-apa, hanya bisa mengeratkan tubuhku ke dalam pelukan Syams.


Beberapa detik kemudian, aku menoleh ke arahnya. Melihat wajah tampan itu menambah kalut dan kepekatan kesedihan. Ya Allah, beratnya ujian yang harus kami hadapi sebagai sepasang suami istri.


"Aku mencintaimu, suamiku." Bisikku, mengecup pipi laki-laki yang kini menatapku dengan sendu. Matanya kembali basah dan di ruangan ini, kami berdua sama-sama terisak.


Hati kami yang saling terikat begitu tidak tega meninggalkan satu sama lain. Tapi keadaan memaksa kami harus berpisah.


"Aku janji akan sering mengunjungimu begitu keadaan abi membaik," balas Syams mencium kedua tanganku. Tanpa kuminta, air mata terus menggenang di kedua mata ini.


Ya Allah, sungguh kami hanya manusia tanpa daya dan upaya tanpa kekuatan darimu, batinku mendesah.


Kutatap sekali lagi wajah teduh itu, pikiranku melayang jauh ke masa kecil. Di saat aku pertama kali bertemu dengannya, Adi, si anak humoris yang usil. Tanpa aba-aba, senyuman tipis tercipta di wajahku. Senyum yang mungkin hanya bisa aku rasakan.


"Ingatkah kamu, fin. Saat kita pertama bertemu dulu?" Syams seperti bisa membaca pikiranku. Aku mengatupkan kedua rahang. Bagaimana bisa aku melupakannya?


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, ana Syamsul Hadi, seharusnya ana sekarang masuk Madrasah Tsanawiyyah, tapi karena pindah, ana harus kembali masuk di Madrasah Ibtidaiyah."


Adi kecil mengucap salam ketika memperkenalkan diri di kelas Madrasah Ibtidaiyah. Aku duduk di pojok dan tidak memiliki teman sebangku dan karena itulah ustaz Ahmad menyuruh laki-laki berkopyah hitam itu untuk duduk di sampingku.


"Assalamualaikum ukhti."


Adi menyapaku sambil mengatupkan kedua tangannya. Aku yang tidak tertarik dengan keberadaan laki-laki itu tetap sibuk dengan buku pelajaran bahasa Arabku. Bocah laki-laki ini terlihat meletakkan tas dari gendongannya lalu berdehem untuk kembali meminta perhatianku.

__ADS_1


"Dari Abu Hurairah radiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim." Bisiknya, aku melongo mendengar hadist yang disampaikannya. Dengan tergagap aku membalas salamnya tadi.


"Namaku Adi, Syamsul Hadi,"katanya lagi.


"Aku Afin, Alfiana Nurrizki," balasku tanpa menoleh ke arahnya. Setelah perkenalan itu, hariku menjadi amat berantakan. Adi yang di hari pertama terlihat kalem, ternyata menyimpan sifat usil yang bukan main.


Semenjak kehadirannya, aku selalu cemberut. Pernah dia menyembunyikan buku pelajaranku atau bahkan mengambil penaku. Dia sangat menyebalkan.


Dari yang aku dengar, Adi adalah pindahan dari Lumajang karena abinya ditugaskan di Malang. Usianya mungkin berbeda jauh denganku. Tapi anehnya, dia selalu berusaha mendekatiku. Entah hanya perasaanku atau bagaimana. Dia selalu melirik ke arahku.


"Apaan sih lirik-lirik," tegurku sambil meletakkan buku di samping wajah agar Adi tidak bisa melihat wajahku.


"Aku ingin menikahimu," bisiknya. Mataku melotot. yang benar saja, akku baru kelas 6 dia sudah berani mengatakan ingin menikahiku. Dasar Adi.


Aku bangun dari tempat dudukku, lalu berkacak pinggang.


"Kalau memang mau menikahiku, kau harus jadi penghapal al-quran, lulusan Timur Tengah dan maharnya, aku mau surah Ar-rahman yang mampu mendamaikan langit," tantangku saat itu.


Saat itu aku tidak menemukannya di bangku sebelahku selama satu minggu, karena penasaran, akhirnya aku berusaha mencari tahu. Betapa terkejutnya aku mendengar penuturan ustazah Ayu yang berkisah jika Adi berduka dan dia harus kembali ke Lumajang.


"Fin, sebelum ini, kita sudah pernah berpisah. Masih ingatkah, kau?" Kalimat Syams menyadarkanku untuk kembali ke masa ini. Masa dimana kenyataannya aku harus kembali berpisah dengan Adi atau Syams. Aku mengangguk lemah.


Hari itu, awan mendung mengumpul di langit Ngantang. Aku sedang mengaji sendirian di surau dekat Madrasah Ibtidaiyyah. Aku berusaha menghapal surah Ar-rahman. Surah Al-quran yang paling aku sukai karena maknanya yang indah.


Tiba-tiba suara Adi membantuku menghapal surah Ar-rahman. Dia yang lumayan usil ternyata bisa fasih melantunkan surah kesukaanku itu.


"Adi?" Aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum sangat manis sambil menatapku.


"Ayo, aku bantu menghapalkan surah Ar-rahman sebelum aku pergi," balasnya, mendekat ke arahku.


Kira-kira satu jam kebersamaan itu, akhirnya aku bisa menghapal dengan benar surah Ar-rahman.

__ADS_1


"Syukron, Adi," kataku berterima kasih.


Adi mengangguk ringan. Setelah itu aku membereskan bukuku dan bergegas keluar dari surau.


Namun aku menjerit seketika saat melihat ular melingkar di sandal biruku. Bahkan aku hampir menangis. Adi keluar dan malah menertawaiku. Pasti ini ulahnya.


Suara raungan tangisku mengundang ustaz yang sedang melintas. Dari ustaz jugalah saya tahu kalau ular tersebut hanya ular mainan.


"Perpisahan kita dulu, sangat manis ya, Fin," Syams mengembalikanku ke alam nyata.


Dia merengkuh tubuhku lagi. Rasanya tidak ingin menyudahi kebersamaan ini. Namun ada daya, lusa Syams akan terbang kembali ke Indonesia tanpa aku.


"Aku menyayangimu, Fin."


Semalaman, mataku seolah tidak mau terpejam. Perpisahan itu semakin ada di depan mata.


Seharian Syams menyiapkan keperluannya untuk terbang kembali ke Indonesia.


Sedangkan aku juga menyiapkan keperluanku untuk menuntut ilmu di sini. Berkali-kali bibirku kelu ketika air mata mengalir ke pipi. Perpisahan itu akan terjadi lagi.


*****


Waktu terus bergulir, sudah tiba saatnya untukku berpisah dengan Syams. Hari itu, langit seolah runtuh menimpaku. Yang paling menyakitkan adalah aku belum bisa ikhlas menerima ini semua.


Sebelum melepas Syams di bandara Sanaa, aku mencium punggung tangannya. Air mata yang kutahan sedari tadi, tiba-tiba mengalir deras. Syams menatapku sendu. Ya Allah, kuatkanlah aku.


Aku memeluk Syams lama sekali. Rasanya tidak ingin ditinggalkan suamiku. Aku masih ingin bersamanya.


Syams mendongak ke atas dan belum melepaskan pelukannya. Aku juga tidak peduli jika banyak pasang mata menyaksikan kemesraan ini.


Pelukan Syams baru merenggang saat suara halus customer service menghimbau kepada calon penumpang untuk segera bersiap menuju pesawat. Syams mengecup ujung kepalaku.

__ADS_1


"Jika nanti kamu rindu, bacalah surah Ar-rahman. Maka rindumu akan tersampai padaku," Syams berbisik. Rasanya berat sekali melepas tangannya.


__ADS_2