Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Masalah Sepele


__ADS_3

JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.


JAZZAKUMULLAH KHAIR


****


Fatimah melangkah dengan mantap ke ruangan yang ditunjuk Tata. Tata sudah berlalu dari sana. Jadi Fatimah merasa lebih aman.


Tok tok tok. Suara pintu itu diketuk dengan buku jari Fatimah. Sembari mengetuk pintu, Fatimah kembali melamun. Memikirkan Tata yang sangat sedih setelah bertemu dengan Gus Ali.


Fatimah terus menunduk dan tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak sadar jika pintu sudah dibuka dan yang ia ketuk bukan lagi pintu, tapi wajah suaminya.


"Aduh, aduh. Fatimah?" panggil Gus Ali menyadarkan istrinya yang terus melamun.


"Eh, i, iya, Mas." Fatimah melihat wajah Gus Ali, lalu wajahnya kembali merenung.


Gus Ali memang tampan. Dan Bu Tata cantik dan pintar, keduanya begitu serasi. Tak sadar air mata membendung di kedua matanya.


"Anti ngelamun apa sih, Tim?" Gus Ali melihat sekeliling lalu menyentuh kedua pipi sang istri. Ia sedikit khawatir melihat keadaan Fatimah.


Gus Ali meletakkan punggung tangannya di dahi sang istri. Tidak panas. Gus Ali menyamakan dengan suhu badannya. Masih normal.


"Ayo masuk." Gus Ali menarik Fatimah ke dalam ruangannya lalu menutupnya.


Dengan wajah datar, Fatimah duduk di depan meja Gus Ali. Ia melihat sekeliling ruangan ini. Ruangannya sempit, tiba-tiba Fatimah merasa iba dengan suaminya. Bahkan di ruangan ini juga tidak ada kaca dan sisir, setidaknya Gus Ali tidak terlihat berantakan seperti tadi.


"Lihat apa?" tanya Gus Ali menyadari istrinya memperhatikan ruangan tempatnya bekerja.


"Sempit ya?" lanjut Gus Ali mengomentari tentang ruangannya sendiri.


"Iya, Mas." Fatimah mendesah pelan.


Tapi tiba-tiba dia teringat tentang Tata yang keluar dari sini dengan tangis. Dadanya terasa panas. Mungkin ia terbakar cemburu.


"Kenapa lagi?" Gus Ali terpaksa menanyai Fatimah terus karena wanita di depannya terus menatap lantai.


Merasa tidak direspon, Gus Ali mengambil satu makalah di mejanya lalu membaca isinya. Meski Gus Ali tidak bisa sangat berkonsentrasi.


Membolak-balik halaman beberapa kali, akhirnya Gus Ali meletakkan kembali makalahnya lalu menatap Fatimah lekat-lekat.


"Apa anti sudah mau pulang?" tanya Gus Ali lagi, frustasi menunggu Fatimah membuka suara.


Fatimah ingin menjawab. Tapi ia berubah pikiran hanya dalam beberapa detik. Masih malas berbicara dengan suaminya. Tentu saja masih kesal dengan Gus Ali yang ternyata masih begitu dekat dengan Tata.


"Apa antum sering berduaan dengan wanita lain di sini, Mas?" Fatimah lirih sekali, hampir tidak terdengar. Tapi karena ruangan yang kecil membuat suara Fatimah jelas terdengar.


"Enggaklah, anti satu-satunya wanita yang masuk kesini."


Fatimah terkejut. Ia mengira Gus Ali berbohong untuk menutupi kedekatannya dengan Tata. Fatimah jadi semakin jengkel.


Atau memang banyak sekali hal yang belum ia ketahui tentang suaminya? Apakah masih banyak juga yang ditutupi Gus Ali darinya?


"Kenapa? Anti tidak percaya?" tanya Gus Ali lagi melihat raut wajah tidak suka Fatimah.


Merasa tidak ada gunanya di sini, Fatimah berdiri dan ingin pergi. Ia melangkah dan tidak menghiraukan panggilan Gus Ali. Fatimah hanya ingin pulang. Ia lelah dan ia marah karena mengetahui suaminya berbohong.


Gus Ali panik dan segera meraih pergelangan tangan Fatimah. Ia tak perduli jika ada yang melihat keduanya. Bisa saja ia membongkar pernikahannya sekarang.


"Tunggu, Tim. Anti kenapa sih?" tanya Gus Ali sedikit lelah dengan kelakuan Fatimah yang tidak ia mengerti.


"Fatimah mau pulang," jawab Fatimah berusaha melepaskan cekalan tangan Gus Ali.


"Anti kenapa sih? Pulang, iya oke Mas antar." Kepala Gus Ali sedikit pening. Ia bahkan belum makan siang sejak tadi.


"Nggak perlu, Mas lanjutkan saja pekerjaan Mas. Saya bisa pulang sendiri." Fatimah menunduk, ia tak berani menatap mata suaminya. Ia takut air mata akan membanjir.

__ADS_1


"Fatimah, tolong. Anti kenapa sih?" Gus Ali meraih Fatimah ke dalam dekapannya. Ia tak peduli lagi jika ada yang melihat keduanya berpelukan.


"Mas, biarkan saya pulang sendiri. Saya mau menenangkan diri." Fatimah merenggangkan pelukan suaminya. Ia takut ada yang melihat adegan itu.


"Menenangkan diri? Ada masalah apa, Tim? Anti bisa kan cerita sama Mas?" Suara Gus Ali kembali melemah. Tak pernah ia melihat Fatimah semarah ini hingga tak mau didekatinya.


"Bagaimana bisa ana percaya sama Mas? Mas saja membohongi saya, bagaimana saya memastikan Mas tidak sedang berdusta?" Suara Fatimah bergetar. Tenggorokannya terasa sakit. Menahan sesak ternyata sangat menyiksa.


Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Ia harus terus menunduk untuk menutupi kesedihannya. Menanggung cinta rupanya tak selalu bahagia. Ada duka yang teramat dalam saat pengkhianatan terjadi.


Fatimah langsung beristighfar. Kemana tempat kembalinya jika hatinya sedang kacau selain mengingat kembali RabbNya. Bisa-bisanya Fatimah terlena dengan dunia padahal dunia adalah tempat hukuman Nabi Adam.


"Bohong apa, Tim? Mas nggak pernah menutupi apapun dari anti." Gus Ali berusaha menahan diri. Ia sama sekali tidak mengerti kebohongan yang dimaksud Fatimah.


"Sudah, Mas. Fatimah pulang saja." Fatimah mempercepat langkahnya. Meski dengan tangis yang masih terus mengalir.


"Tunggu sebentar, Tim. Mas ambil tas." Gus Ali semakin panik dan tidak berkonsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Ia harus segera menyusul Fatimah.


Setelah mengambil tasnya, Gus Ali berlari menyusul Fatimah. Ia sedikit menyesal sebenarnya, mengapa Fatimah begitu cepat berubah?


Sejauh mata Gus Ali mencari keberadaan Fatimah, ia tak menemukannya. Hingga akhirnya Gus Ali berjalan ke parkiran. Bermaksud menyusul Fatimah dengan mobil agar lebih cepat.


Setelah sampai di sana dan tidak menemukan mobil merah milik Tata, barulah Gus Ali teringat jika ia telah mengembalikan mobil milik sahabatnya itu.


Tidak mengumpat, ia memilih beristighfar sembari menutup muka dengan kedua telapak tangan.


Melihat Pak Alatas di dalam musholla, Gus Ali tergerak untuk ke sana. Ia melirik jam di tangannya yang menunjukkan waktu sholat Ashar telah lewat beberapa menit lalu.


Gus Ali kembali beristighfar. Karena sibuk dengan urusan Fatimah, ia melupakan ibadah wajibnya. Bagaimana bisa ia begitu takut kehilangan istrinya sedangkan Allah menggenggam hati Fatimah?


Tak lagi terburu waktu, Gus Ali melangkahkan kaki ke musholla. Ia ingin mengadu kepada Allah tentang satu makhlukNya yang bernama Fatimah. Jika Fatimah tidak mau mendengar penjelasannya, mungkin Allah bisa melembutkan hati Fatimah untuk terbuka padanya.


Selesai sholat takhiyatul masjid, Gus Ali melaksanakan sholat Ashar dengan khusyuk. Ia tak ingin main-main saat berdialog dengan Tuhannya. Jika dengan manusia saja Gus Ali begitu serius, bagaimana dengan TuhanNya manusia? Gus Ali benar-benar menyerahkan diri pada Tuhannya.


Selesai wirid, Gus Ali tak sengaja menyentuh wajahnya. Sedikit terkejut mendapati air mata di sana. Padahal ia tak merasa sedih, tapi air matanya menetes dengan jujur.


"I, iya, Pak." Gus Ali tersenyum samar. Menghormati dosen yang telah lama ia kagumi itu.


"Ada masalah apa? Barangkali saya bisa bantu." Pak Alatas tersenyum ringan. Membuat Gus Ali tertular senyuman itu.


"Masalah cinta ya?" tebak Pak Alatas melihat wajah dosen muda itu sedikit memerah.


"Al Hubbul haqiqi yakunu baina thorfaini wa yushohibuhus shidqu wal amanah. Wa maa ada dzalika fa yakuna khoyal"


"Cinta sejati selalu melibatkan dua hati dengan disertai kejujuran dan amanah. Jika tidak, maka cinta hanyalah hayalan belaka."


Gus Ali menyimak dengan seksama kata mutiara yang diucapkan Pak Alatas. Ia terkejut karena tahu Allah begitu cepat menjawab doa Gus Ali. Baru saja ia mengadu tentang masalahnya dengan Fatimah, tapi Allah langsung memberi jawaban lewat perantara Pak Alatas.


"Wah, Syukron katsiron, Pak. Jazzakumullah khair." Gus Ali mencium takdzim pada Pak Alatas.


"Loh, loh, kok terimakasih sama saya Pak? Berarti benar sedang ada masalah asmara ya?" Pak Alatas bermaksud ingin memperpanjang perbincangan.


"He he." Gus Ali tidak menjawab, melainkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar anak muda. Kalau saya boleh saran, mending langsung dihalalkan saja, Pak Ali. Cewek itu butuh kepastian. Nanti kalau sudah pasti, bisa kita didik perlahan," terang Pak Alatas membuat Gus Ali tersenyum malu.


"Iya, Pak. Mohon doanya saja." Hanya itu yang bisa diutarakan Gus Ali.


Sebenarnya ia tak masalah mengatakan sebenarnya kalau ia telah menikahi salah satu mahasiswi di sini. Bahkan Gus Ali yakin Pak Alatas sudah bertemu Fatimah. Hanya saja ia menghargai keinginan Fatimah. Sambil berharap nanti setelah resepsi terjadi, semua tidak lagi disembunyikan.


"Setengah bulan lagi," desah Gus Ali.


Untungnya Pak Alatas telah undur diri dari sana. Gus Ali merenung sesaat. Mengingat kembali kata-kata Pak Alatas, lalu menerapkannya dalam hati.


"Saya harus segera pulang, jangan sampai Fatimah merasa saya tinggalkan saat ada masalah," ujarnya lalu segera mengambil tasnya.

__ADS_1


***


Gus Ali sampai di depan rumah. Ia mengecek kunci di bawah pot, tidak ada. Jadi Gus Ali langsung memutar kenop pintu. Tidak terkunci. Gus Ali melangkah masuk. Tak lupa ia membawa sekotak donat yang ia beli di dekat kampus. Ia berharap Fatimah suka dengan oleh-oleh yang dibawanya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Fatimah?" Gus Ali memanggil Fatimah meski ragu istrinya itu akan menjawab. Menurut pengalaman temannya, wanita kalau sedang marah akan pura-pura buta, bisu, dan tuli.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Gus Ali hampir terlonjak. Fatimah muncul dari kamar tamu dan ada di depannya kini. Meski dengan wajah masih masam, Gus Ali sedikit lega karena Fatimah mau menjawab salamnya.


"Jangan ge-er, saya cuma melakukan kewajiban sebagai muslim. Tolong jangan panggil panggil saya." Fatimah langsung nyerocos dan kembali melangkah ke kamar tamu.


"Eh, ini Mas beliin donat." Sayangnya Fatimah sudah menutup pintunya.


Gus Ali hanya bisa mengembuskan napas. Rupanya Fatimah masih sangat marah. Dengan lesu Gus Ali melangkah ke dalam. Melihat di meja makan ada makanan, Gus Ali kembali tersenyum. Ternyata meski marah, Fatimah tetap melakukan kewajibannya.


Sedangkan Fatimah di dalam kamar tamu sedang mengerjakan tugas dari dosen ganteng tapi killer. Tentu saja tugas spesial karena ia dan Mega terlambat masuk kelasnya.


"Huh, masak istrinya juga dihukum sih," keluhnya masih sangat sebal.


Fatimah mengucek matanya yang sedikit terasa pedas. Sejak dua jam yang lalu ia menatap monitor laptop.


Fatimah menoleh sebentar, membiarkan matanya beristirahat. Bagaimanapun juga matanya sudah lelah. Mungkin nanti malam ia bisa melanjutkan tugas ini. Toh ia dan Gus Ali sedang perang dingin, yang artinya ia tidak perlu risau akan diganggu Gus Ali.


Fatimah menatap awang-awang. Membayangkan sikap Gus Ali yang begitu baik. Tapi tidak hanya padanya. Juga pada banyak wanita. Dia semakin sebal dengan suaminya itu. Apalagi Gus Ali tak berusaha menjelaskan, merayu, atau meminta maaf.


Fatimah melirik pintu. Berharap Gus Ali mengetuknya untuk meminta berbicara dengannya. Atau mengantarkan donat tadi untuknya. Atau jangan-jangan Gus Ali tidak peduli padanya.


"Huh, padahal meski marah ana tetap memasak untuknya, tapi kenapa Mas Ali tidak peka sih. Ke sini kek." Fatimah memukul meja, sayangnya ia jadi kesakitan sendiri. Dengan tatapan nanar, Fatimah melihat telapak tangannya yang memerah.


Fatimah beralih mengambil handphone.


Kebetulan Mega sedang menelponnya. Fatimah sedikit gugup. Tapi ia tak ingin membuat Mega curiga. Jadi Fatimah berusaha seperti biasa. Diam-diam Fatimah menyesali perbuatannya menutup pernikahannya. Ia tak menyangka hal itu aka menjadi bumerang untuknya sendiri. Atau juga untuk Gus Ali.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Meg."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Anti sudah ngerjain tugas dari Gus Ali belum?" tanya Mega di seberang.


"Ini baru dapet sepuluh halaman, Meg. Anti gimana?"


Mega menceritakan kalau ia belum menyentuh laptop sama sekali. Ia sedang diserang malas akut. Makanya ia memilih menelpon Fatimah.


"Jangan main-main deh sama Gus Ali, mending anti ngerjain daripada kena masalah sama dia." Fatimah menasehati. Bagaimanapun juga ia harus membuat Mega semangat mengerjakan tugas dari Gus Ali.


"Eh, betewe gimana kabar Haikal?" tanya Mega tiba-tiba. Sudah pasti Fatimah yang bertelepon dengannya dan sedang meminum segelas air putih langsung tersedak.


Bahkan air tumpah ke keyboard laptopnya. Fatimah refleks mengambil tisu untuk mengelap laptopnya.


"Eh, Fatimah?" tanya Mega merasa diabaikan.


"Maaf, Meg. Tadi ana keselek air, ini bentar deh ana bersihin dulu." Fatimah menjawab Mega sembari mengeringkan keyboard laptopnya.


"Maaf, maaf, anti pasti kaget ya? He he." Mega masih sempat-sempatnya tertawa.


Fatimah hanya mendengkus sebal. Kalau bukan karena ayah dan ibu Mega menitipkan Mega padanya, ia pasti melepas Mega.


"Meg, kenapa tanya soal Haikal?" tanya Fatimah. Sebenarnya ia bingung untuk menjawab pertanyaan Mega tadi. Ia merasa belum siap mengatakan pada Mega kalau selama ini ia salah paham.


"Enggak, sih. Anti jangan salah paham lhoh ya. Ana cuma tanya aja. Soalnya kalian kan udah lamaran, ana jadi kepo dong kapan nikahnya."


Bola mata Fatimah langsung melebar. Ia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia juga tidak menyiapkan jawaban apapun. Fatimah hanya bisa terdiam.


"Tim? Masih disana kan?"


"E, eh, iya Meg. Masih kok."

__ADS_1


"Ya, cuma mau bilang aja kalo nikah jangan lupa undang ana ya. Masak sahabatnya nikah ana nggak diundang."


Fatimah hanya bisa mematung di tempatnya. Ia merasa bersalah telah menutupi kenyataan tentang pernikahannya dengan Gus Ali.


__ADS_2