
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Pagi ini terasa sangat berbeda dengan biasanya bagi Gus Ali. Ia menyaksikan bagaimana Fatimah berusaha keras menjadi istri yang baik. Pukul tujuh keduanya sudah bersiap di meja makan dengan makanan lezat hasil karya tangan Fatimah.
"Em, Mas, hari ini sarapannya sama ini dulu ya. Nanti ana belajar masak lagi," oceh Fatimah menunduk karena hasil masakannya tidak selezat tampilannya.
Demi menjaga hati istrinya, Gus Ali berusaha tenang. Ia memang sedikit ragu dengan nasi goreng yang terlihat lezat. Tapi demi Fatimah, ia segera menyendok nasi goreng itu ke mulutnya.
Wajah Fatimah terlihat sangat tegang. Ia merasa menjadi istri yang gagal. Tadi ketika ia memasak nasi goreng, tak sengaja garam di dalam wadah kecil itu tertumpah ke dalam wajan.
Jangan berpikir Fatimah tidak berusaha mencari solusi. Bahkan ia sudah menambah nasi agar rasanya tidak terlalu pahit. Sayangnya sedikitnya bumbu yang tak sesuai dengan banyaknya nasi, membuat rasanya hambar.
"Hem, makanan ini enak dan lezat," puji Gus Ali sambil tersenyum.
Alih-alih merasa bahagia, Fatimah malah menunduk dan meneteskan air mata. Gus Ali sedang berusaha menghiburnya. Di sisi lain hatinya ia sedih. Tapi di sisi lainnya penuh dengan rasa syukur. Gus Ali tipe suami yang tidak langsung menghakimi kesalahan istrinya.
"Maafkan saya, Mas," gumam Fatimah tetap dengan wajah menunduk.
Terang saja hal ini membuat Gus Ali tak enak hati. Rumah tangga itu seperti satu jiwa, saat yang satu sedih maka belahan yang lain juga akan murung. Tapi demi membuat belahan jiwanya kembali ceria, ia harus menutup kesedihannya.
"Sudah, menurut Mas makanan ini enak kok. Semoga Allah memberikan pahala dari kebaikan anti memberi makan saya."
Gus Ali mendekat lalu menghapus air mata Fatimah dengan tangannya. Karena Fatimah masih tidak bereaksi, Gus Ali menyentuh kedua bahu istrinya. Lalu mengangkat wajah Fatimah yang masih basah karena air mata.
"Hey, istri Mas kok nangis? Nggak ada yang perlu dibikin sedih. Makan batu pun asal bersama anti, Mas mau kok," lanjut Gus Ali memaksa wajah Fatimah tersenyum.
"Maafkan saya, Mas."
Merasa sangat membutuhkan semangat baru, Fatimah langsung mendekap suaminya. Tidak ada tempat terhangat yang menentramkan selain dekapan sang suami. Ialah laki-laki tempat seorang wanita menjadi dirinya sendiri.
"Sudah, Tim. Jangan menangis sayangnya Mas. Tangis anti itu merenggut separuh kebahagiaan dalam hidup Mas. Kalau anti menangis dan saya menangis, maka dunia saya sudah sangat menyedihkan." Gus Ali mengelus pucuk kepala istrinya.
Dalam hati, Fatimah semakin mencintai suaminya. Sikapnya yang lembut, tutur katanya yang halus, dan perlakuannya yang baik. Sungguh beruntung Fatimah mendapatkan suami seperti Gus Ali. Meski begitu banyak wanita yang menaruh hati pada Gusnya itu, ....
Senyum Fatimah memudar. Ia menggigit bibir bawahnya karena pikirannya sendiri yang berkelana. Bagaimana jika banyak yang mencintai Gus Ali? Bagaimana Gus Ali menghadapi itu? Dan bagaimana jika wanita yang menyukai Gus Ali tidak mau mengerti jika Gus Ali sudah memiliki istri?
"Kok ngelamun lagi?" Gus Ali berdecak.
Makhluk yang bernama perempuan itu sangat sulit dimengerti. Mungkin inilah yang membuat Nabi Adam sampai memakan buah khuldi. Karena perempuan. Ah, apa yang dipikirkan Gus Ali? Apakah ia sudah mulai kehilangan akal untuk memikirkan sesuatu yang sudah jelas tertulis dalam kitab?
"Enggak, Mas." Fatimah berusaha mengulum senyumnya lagi. Tak ingin Gus Ali mencemaskannya. Mungkin suaminya itu memang sangat mencintainya hingga tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya.
"Ya sudah, saya siap-siap pergi ke kampus ya, Mas." Fatimah beranjak dari tempatnya. Ia ingat harus melanjutkan pendidikannya. Meski ia telah menikah, ilmu itu sangat penting.
"Eits." Gus Ali menginterupsi. Fatimah yang berjarak tiga langkah darinya menghentikan langkah dan menoleh.
"Ada apa, Mas?"
"Mas juga kan ke kampus hari ini. Mas duluan yang ganti baju." Gus Ali berlari mendahului Fatimah lalu menutup pintu kamar.
"Lho, Mas kok curang sih." Fatimah mendesis.
Harusnya laki-laki mengerti kalau ia harus mendahulukan wanita. Sebagaimana quotes yang sangat masyhur, ladies first!.
__ADS_1
Tanpa diduga, Gus Ali kembali membuka pintu kamar dan melongok ke arah Fatimah tanpa menggunakan atasan. Hanya kaos tipis.
"Aaaaa." Teriak Fatimah langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Mas ngapain begitu?" Buru-buru Fatimah menghadap ke arah lain.
"Ck. Kayak nggak pernah lihat Mas tanpa baju aja, Tim. Anti kan juga perlu bersiap ke kampus. Mending barengan ganti bajunya biar cepet." Gus Ali meraih tangan Fatimah dan menariknya ke dalam kamar.
"Ih, Mas Ali," rintihnya tak bisa menolak keinginan suaminya.
Keduanya lalu bersiap ke kampus. Fatimah segera memasukkan laptop ke dalam tas. Kemarin ia hanya bertanya kepada Mega tentang tugas hari ini. Tapi ia tak tahu jadwalnya. Fatimah buru-buru berdandan. Ia mengenakan eyeliner dengan rapi. Sayangnya saat ia melukis eyeliner ke sebelah kelopak matanya, Gus Ali dengan sengaja menyenggol istrinya. Membuat eyeliner yang harusnya tercetak lurus di kelopak mata menjadi panjang hingga ke atas alis.
"Mas, jangan senggol, dong."
"Maaf, sengaja sih. Mau ke kampus apa ketemu siapa? Kok pake dandan sih?" tanya Gus Ali sembari memasukkan kancing kemejanya. Tak lupa ia bersisir dengan rapi.
"Ih, biasa aja kok Mas. Mas juga nyisirnya rapi banget, mau ketemu siapa?" Fatimah membalik keadaan. Membuat Gus Ali mengacak sedikit rambutnya.
"Tuh kan, mau ketemu siapa sih Mas?" tanya Fatimah lagi dengan nada mengejek. Memangnya hanya Gus Ali yang bisa memojokkan pasangannya? Fatimah juga bisa!
Merasa jengah dengan kecemburuan Fatimah yang dibuat-buat, Gus Ali akhirnya merecoki Fatimah yang kembali membuat garis eyeliner nya.
"Jangan cantik-cantik, nanti kalo ada yang naksir gimana?" tanya Gus Ali. Biarlah dia memperlihatkan kecemburuannya. Bukankah cemburunya seorang laki-laki itu tanda iman? Sangat berbeda dengan kecemburuan wanita yang bisa sampai buta akan segala hal. Mengingat hadits itu, Gus Ali jadi ingat ia harus pandai menjaga diri. Ia tak akan mampu mengatasi Fatimah yang cemburu.
"Ih, cuma pake eyeliner Mas."
"Jangan, udah polosan gitu aja," terang Gus Ali kembali mengganggu Fatimah berdandan.
"Astaghfirullah, sudah jam 9, Mas." Fatimah membelalakkan mata melihat pantulan jam di dinding di dalam cerminnya.
Gus Ali panik dan segera memakai meraih tas yang berisi laptopnya. Ia harus segera berangkat. Keduanya tergopoh-gopoh menuju mobil.
Awalnya Gus Ali keberatan. Selain ia tak rela kaki Fatimah lelah karena berjalan, juga karena waktu yang sudah sangat mepet. Bahkan ia saja nanti sampai di kampus sudah terlambat. Hanya saja berdebat dengan wanita yang keras kepala hanya sia-sia dan menghabiskan banyak waktu.
Gus Ali mengalah. Menurunkan Fatimah di dekat kampus lalu meninggalkannya dengan mobil yang ia tumpangi.
Sesampai di dalam kampus, Gus Ali masih mengamati pagar. Ia berharap Fatimah segera sampai. Sambil menunggu, Gus Ali berinisiatif untuk mengabari Pak Alatas, dosen yang hari ini berada di kelas Fatimah.
Untungnya ia sempat mengintip jadwal Fatimah. Jadi ia tahu kalau hari ini jadwal Pak Alatas. Gus Ali segera mengetik sebaris pesan dan segera mengirimkannya pada dosen yang dikenal galak itu.
Jika Pak Alatas dicap galak, maka Gus Ali adalah rajanya galak dan kejam. Hanya saja Gus Ali tak banyak bicara. Ia lebih suka bicara sedikit tapi bermakna daripada banyak berkata tapi tidak ada guna.
Gus Ali harus menunggu sedikit lagi. Nanti jam sebelas, barulah gilirannya untuk masuk ke dalam kelas Fatimah. Gus Ali tersenyum. Tak sabar menanti Fatimah melongo melihatnya masuk di kelasnya. Gus Ali sudah memastikan kalau Fatimah tidak tahu kalau hari ini jam milik dosen lain, telah digantikannya.
Lima belas menit, Gus Ali tidak menemukan Fatimah di gerbang. Mau tak mau ia harus ke kantornya karena ada tiga mahasiswa yang menunggunya sejak tadi pukul delapan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Gus Ali membuka pintu dan disusul tiga mahasiswa yang masuk ke ruangannya satu per satu.
Alih-alih menjawab salam yang diucapkan Gus Ali, Dika malah berkata tanpa menunggu Gus Ali mempersilakan ia masuk.
"Kami ingin meminta perbaikan dengan makalah kami," ujar Dika dengan berani menatap Gus Ali. Merasa mahasiswanya tidak sopan, Gus Ali menatap tajam.
"Makalah kamu terlalu tipis. Ganti topik dan buat lagi tujuh puluh halaman. Kumpulkan besok." Gus Ali berkata tanpa melihat makalah di tangan Dika.
"Tapi, Pak. Saya sudah, ...."
"Selanjutnya." Gus Ali beralih pada lelaki di samping Dika, ia tak mau mendengarkan apapun alasan yang keluar dari mulut mahasiswanya. Bukan karena marah, hanya saja ini ia lakukan untuk mendidik Dika yang selalu semaunya sendiri.
__ADS_1
Jika Dika saja mampu melakukan segala hal sesuai keinginannya, maka Gus Ali juga bisa melakukan hal yang sama. Itulah yang membuat Gus Ali sangat disegani di kelas maupun di antara dosen. Gus Ali memiliki tekhnik berbeda dalam menempa mahasiswanya.
Berpindah ke nasip Fatimah yang baru sampai di kelas. Pak Alatas dengan kepala plontosnya dan kacamata yang hampir melorot jatuh, mempersilakan Fatimah masuk dan mengikuti kelasnya.
Fatimah duduk di samping Mega. Keduanya berusaha berkomunikasi meski dengan berbisik.
"Anti kok bisa masuk? Tadi Ikbal diusir lhoh."
Tak ingin membuat kegaduhan, Fatimah hanya menggendikkan bahunya tak mengerti. Mungkin ini hanya kebetulan saja. Fatimah mengikuti kelas dengan serius. Untuk ilmu, ia tak boleh main-main. Jadi ia harus fokus menuntut ilmu.
Diam-diam Fatimah jadi teringat nasehat Abahnya sebelum ia mendaftar kuliah. Kebiasaan ngobrol setelah mengaji malam hari, menjadi sangat berarti. Apalagi di saat jauh dari orangtuanya seperti ini. Fatimah jadi mengingat kembali semua nasehat Abahnya.
"Orang berilmu itu sama Allah ditinggikan derajatnya."
Fatimah menyimak dengan seksama kata-kata Abahnya. Sedangkan di sisi lain Fatimah melihat wajah umi Afin berubah begitu membahas tentang kewajiban menuntut ilmu.
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).
Perlahan namun pasti wajah umi Afin memerah. Membuat Fatimah dan Abah Adi begitu terkejut.
"Ada apa, umi?" tanya Fatimah. Tidak ada jawaban dari pertanyaan Fatimah selain tatapan uminya yang terlihat basah.
"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR Tabrani).
Mendengar hadist yang dibacakan oleh Abahnya, tangis umi Afin pecah. Ibu yang telah melahirkan Fatimah itu langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya dengan tangis yang menyayat hati.
Fatimah yang tidak mengerti semakin dibuat penasaran. Apa yang membuat uminya begitu sedih? Tidak tahu harus berkata apa, Fatimah hanya diam dengan sejuta pertanyaan di kepala. Ia tak berani mengganggu Abah dan uminya.
Fatimah hanya memperhatikan umi Afin yang berkali-kali terdengar meminta maaf dan Abah Adi yang berkali-kali mengatakan tidak apa-apa.
Baru setelah tangis umi Afin reda, Abahnya memulai bercerita. Dahulu kala umi Afin disekolahkan oleh Abah Adi. Sayangnya umi Afin terlalu terbawa perasaan hingga memilih pulang ke Indonesia tanpa menyelesaikan pendidikannya.
Mendengar itu, Fatimah mengangguk. Makanya umi Afin sangat merasa bersalah.
"Jadikan kebaperan umimu sebagai pelajaran, Tim. Nanti jika anti menuntut ilmu, harus serius dan diniatkan untuk ibadah. Jika anti menganggap menuntut ilmu adalah kewajiban, maka belajar akan terasa sangat berat. Tapi jika anti tanamkan dalam hati menuntut ilmu adalah kebutuhan, dan anti memang berniat karena ingin memperbaiki beribadah kepada Allah, maka akan lebih ringan."
Fatimah tersenyum. Tentu saja mengingat momen itu membuat semangat belajarnya naik berkali-kali lipat. Ia harus menuntut ilmu. Bahkan setelah ia menikah.
"Baik, pembahasan hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa Minggu depan. Saya tidak memberikan tugas, melainkan kalian harus mengembangkan sendiri pengetahuan kalian," ucap Pak Alatas.
Tak lama kemudian dosen dengan wajah kaku itu mengucapkan salam dan berjalan keluar dari kelas. Fatimah kembali membaca catatan yang ia buat selama Pak Alatas menjelaskan rumusan-rumusan tentang pendidikan.
"Tim, tadi berangkat sama siapa?" tanya Mega sudah berdiri di samping Fatimah yang berjalan ke kantin.
"Naik angkot. Mana supirnya galak dan akhirnya telat." Fatimah mengarang cerita. Ia tak mengetahui sama sekali jika Gus Ali ada di sekitarnya. Tentu saja Gus Ali mendengar kata-kata itu.
Dalam hati, Gus Ali ngedumel. Bagaimana bisa Fatimah mengatakan dirinya galak? Padahal Gus Ali telah berusaha keras menjadi suami idaman untuknya.
Sejenak wajah Gus Ali berubah kecut. Keinginan nyamperin Fatimah ke kantin menjadi hal yang menyebalkan. Gus Ali memutar langkah ke perpustakaan.
Daripada semakin kesal dengan rangkaian cerita fiksi Fatimah kepada Mega, lebih baik Gus Ali membaca buku di perpustakaan.
Sesampai di perpustakaan, Gus Ali menghentikan langkah. Di tempat duduk yang biasanya ia tempati kini telah ditempati Tata.
Tak hanya membaca novel roman picisan. Tata yang duduk dan mengelus meja dimana biasanya ia meletakkan buku, membuatnya sedikit geli.
"Ingat, Ali. Sekarang antum sudah punya Fatimah. Jaga jarak sama Tata." Gus Ali membalikkan tubuh akan keluar dari perpustakaan saat suara Tata terdengar sangat jelas.
__ADS_1
"Ali!"
Tidakkah Tata tahu jika ini perpustakaan bukan hutan?