Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Pertemuan Dua Hati


__ADS_3

Hari terus bergulir. Dengan hati yang tidak utuh, Fatimah menjalani kehidupannya yang baru. Awal-awal masuk kuliah fakultas Tarbiyah, membuat Mega dan Fatimah sedikit cemas. Keduanya berusaha sangat disiplin untuk masuk ke kelas. Di semester satu ini keduanya banyak belajar tentang studi dan pengajaran pendidikan.


Tapi sesaat kemudian Fatimah seperti melihat sosok Gus Ali bersama seorang wanita. Fatimah berkali-kali mengucek matanya. Sosok seperti Gus Ali itu berjalan sembari berbincang dengan perempuan di sampingnya.


"Fatimah, jadi nanti kita harus berjalan menyusuri seluruh area kampus biar, ...."


"Fatimah? Dari tadi kamu nggak dengerin aku ngomong?" tanya Mega sebal.


Fatimah terlihat acuh dan matanya seperti mau keluar. Mega mencoba melihat ke arah yang sama, tapi saat itu juga keberadaan Gus Ali dan perempuan yang dilihat Fatimah tengah melewati koridor yang tertutup beberapa mahasiswa.


"Lihat apaan sih?" tanya Mega lagi, baru kali ini Fatimah tersadar jika sejak tadi Mega berbicara padanya.


"Eh, enggak kok." Fatimah mencoba tenang. Mungkin hanya kemiripan saja. Atau Fatimah salah lihat.


"Ana tahu. Anti pasti lagi liatin cowok itu ya? Yang pake kaos biru itu?" Mega menunjuk ke arah depan mereka. Tak sengaja orang yang ditunjuk Mega itu melihat kepada mereka.


"Jangan aneh-aneh deh. Aku nggak kok."


"Yaudah ayo ke kantin. Laper nih. Emang kamu nggak laper? Tadi kan kita telat jadi nggak sempat sarapan," ajak Mega menarik pergelangan tangan Fatimah. Akhirnya Fatimah menurut.


Kedua gadis itu lalu ke kantin. Dalam hati Fatimah berusaha menenangkan diri. Barangkali ia salah lihat. Atau memang Gus Ali ada di sini? Kan Gus Ali memang di Surabaya.


Pemikiran itu mulai mengganggu Fatimah. Tak mengira jika hal itu sangat berpengaruh. Di depan Mega, Fatimah berusaha terlihat baik-baik saja. Ia masih mengira hanya dirinya yang terlalu kepikiran Gus Ali hingga melihat orang lain mirip dengan Gusnya itu.


"Meg, ana ke kamar kecil dulu ya," pamit Fatimah saat ia baru saja duduk di kantin. Ia perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Setidaknya beberapa menit di kamar mandi nanti Fatimah bisa mengafirmasi dirinya sendiri untuk lebih tenang.


Sedang sahabatnya itu hanya mengangguk. Ia sibuk memesan makanan pada ibu-ibu yang menjaga warung. Saat hendak masuk ke kamar kecil, sudah seperti kebiasaan jika Fatimah mengangkat kedua tangannya lalu berdoa sebelum masuk ke kamar mandi. Ia juga sangat memperhatikan langkah kakinya yang kiri dulu saat masuk.


Bismillâhi Allâhumma innî a’ûdzu bika minal khubutsi wal khabâitsi


Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan iblis jantan dan betina.


Tak sadar jika tata cara dan adab Fatimah saat masuk ke kamar kecil menarik perhatian orang lain. Tak sengaja Tata ada di tempat itu juga. Melihat bagaimana mahasiswi baru di depannya. Tata mulai menaruh perhatian pada wanita yang sering ia lihat mengenakan gamis panjang dengan jilbab besar itu.


'Entah mengapa lihat anak ini bikin hati adem. Belum lagi wajahnya seperti ada kemiripan sama orang yang aku kenal,' batin Tata. Masih belum ingin menegur atau menyapa gadis di depannya.


Ia hanya berasumsi bahwa wanita di depannya itu pasti dididik di lingkungan yang pemahaman terhadap agamanya begitu baik. Diam-diam Tata jadi memikirkan bagaimana dirinya yang jauh dari kata baik.


Di dalam kamar mandi, setelah buang air kecil Fatimah tertegun di depan cermin. Ia berpikir hatinya akan sedikit tenang. Sayangnya hal itu justru berbalik. Hatinya semakin cemas. Pikirannya malah menjadi-jadi. Mulai memikirkan kemungkinan jika itu memang Gus Ali.


"Kalau memang itu Gus Ali, apa peduliku? Bukannya Gus Ali juga sudah tidak peduli denganku?" gumam Fatimah.


Ia berkali-kali menggelengkan kepala lalu memutuskan untuk kembali berwudhu. Menjaga wudhu agar juga bisa menjaga wiridnya. Jadi hal ini akan menjaganya dari berpikir hal yang tidak perlu. Selesai dari kamar mandi tak lupa Fatimah mendengungkan doa keluar dari kamar mandi


Guhfroonaka alhamdulillahi alladzi adzhaba ‘anni al-adza wa ‘aafaani. Allahumma ij’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathohhiriin. Allahumma thohhir qolbi minan nifaaqi wa hashshin farji minal fawaahisyi


Dengan mengharap ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan menyehatkan aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai bagian orang yang bertobat dan jadikanlah aku bagian dari orang yang suci. Ya Allah, bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan jaga kelaminku dari perbuatan keji (zina).


Tak sengaja matanya menemukan musholla di dekatnya. Dengan senyum berbinar Fatimah berjalan ke musholla dan mengambil wudhu di sana. Masih seperti tadi, sebelum masuk ke dalam musholla Fatimah juga melafalkan doa masuk ke musholla/tempat ibadah. Hal ini sudah melekat dalam dirinya.


Allahummaf tahlii abwaaba rohmatik


Artinya: "Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu"


Selesai mengambil wudhu, Fatimah terkejut dengan pemandangan di dalam musholla. Dua orang sejoli sedang melaksanakan sholat berjamaah. Meski keduanya terpisah tempat, keduanya tetap melaksanakan dengan khusyuk. Diam-diam Fatimah jadi iri pada mereka. Berandai-andai jika kelak ia menikah dengan Haikal dan melaksanakan sholat berjamaah.


Ah, iya. Ia bahkan lupa menghubungi calon suaminya itu. Duduk di pelataran musholla, Fatimah meraih handphonenya. Mencari nama Haikal dan menelponnya. Ia merasa tidak enak jika tidak mengabari calon suaminya itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Ada perlu apa ya Fatimah?" tanya Haikal kaku karena ia sendiri benar-benar terkejut dengan telepon itu.


"Ana mau ngabarin kalau ana di sini baik-baik saja. Antum gimana kabarnya?" tanya Fatimah gerogi. Tak menyangka kalau calon suaminya itu masih saja cuek padanya.


"Aku juga baik-baik saja."


Hening. Fatimah tak tahu harus memulai percakapan seperti apa. Sedangkan di seberang Haikal ingin segera mengakhiri perbincangan yang tidak seharusnya ini.


"Sudah tidak ada yang anti bicarakan lagi?" tanya Haikal dingin.


Sedangkan Fatimah di seberang sudah gemetaran. Hatinya sedikit menyesal menghubungi Haikal. Ia tak habis pikir calon suami yang dua bulan lalu meminangnya itu sangat kaku padanya.


"Ti, tidak ada."


"Ya sudah aku tutup ya."


"I, iya."


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Fatimah menatap layar handphonenya. Masih tertegun dan bingung. Mengapa Haikal masih seperti orang asing padanya? Mengapa lamaran itu tidak mengubah Haikal menjadi lebih perhatian atau ramah?


"Mungkin sama Pak Kyai memang harus tetap jauh begini, biar nggak ngganggu konsentrasi belajar." Fatimah berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Lama duduk di teras musholla. Ia tak menyadari seorang laki-laki lewat di belakangnya. Ialah laki-laki yang tadi mengimami sholat bersama Tata. Ialah Gus Ali.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," sapa seseorang dengan ramah kepada Fatimah.


Tersadar ada orang lain di depannya, Fatimah meletakkan handphone di sampingnya. Di dekat tubuhnya.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Fatimah terdiam, wanita di depannya adalah wanita yang tadi ia lihat berbincang dengan sosok seperti Gus Ali.


"Kamu mahasiswi baru ya?" tanya Tata yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya pada sosok Fatimah.


"Iya, Kak."


"Kenalkan saya Tsabita. Panggil saja Tata," ucap Tata sembari mengulurkan tangan.

__ADS_1


Fatimah takjub. Seolah tak percaya dengan penglihatannya. Tsabita adalah nama salah seorang dosen muda di sini. Fatimah merasa sangat beruntung bertemu dengannya.


"Bu Tsabita? Wah, salah satu dosen yang akan mengajar saya di semester depan. Saya Fatimah, Bu." Fatimah meraih tangan Tsabita dan hendak menciumnya.


Tata menarik tangannya. Merasa tidak pantas dicium tangannya. Apalah dia hanya manusia biasa.


"Jangan cium tangan saya."


"Ke-kenapa Bu? Saya hanya ingin memuliakan ilmu yang Ibu miliki. Agar kelak menjadi berkah bagi saya. Tentunya dengan izin Allah." Fatimah terkejut karena baru kali ini ia bertemu orang yang tidak ingin dianggap berlebih.


Fatimah sadar apa yang ia lakukan mungkin memang tidak umum di kota sebesar Surabaya ini. Tapi kembali lagi Fatimah meluruskan niatnya. Bukankah 'Innamal a'malu binniyat'? Segala perbuatan tergantung niat.


"Masyaallah, baru kali ini saya bertemu mahasiswi sepertimu." Tata kembali dibuat takjub dengan keilmuan yang dimiliki Fatimah.


"Saya hanya mahasiswi dari pelosok desa, Bu."


"Jangan panggil, Bu. Panggil saja Mbak. Saya belum terlalu tua, kok. Mungkin hanya sleisih dua atau tiga tahun darimu," jelas Tata membuat Fatimah tertarik dengan wanita di depannya. Sudah seorang dosen, cantik, baik, dan ramah. Bagi Fatimah sosok di depannya menggambarkan kesempurnaan seorang wanita.


"Tapi Bu Tata adalah dosen, tidak mungkin saya memanggil denhan Mbak."


"Kalau gitu panggil Kak saja kalau tidak dikelas ya."


Fatimah akhirnya menerima permintaan khusus dari wanita di depannya. Bahkan terdiam sejenak menikmati sosok yang baginya sempurna itu. Tak jauh berbeda dengannya, Tata juga diam-diam semakin kagum dengan mahasiswi yang ia temui ini.


"Ya sudah saya masuk dulu, ya," pamit Tata setelah itu berlalu dari depan Fatimah. Tak lupa ia mengambil gawai yang ia letakkan di samping tasnya. Tak menyadari jika ia keliru mengambil benda pipih itu.


Setelah terdiam beberapa saat, Fatimah segera teringat Mega. Sahabat yang mungkin saat ini manyun karena menunggu Fatimah. Ia bergegas kembali ke kantin. Dan benar dugaannya. Mega duduk dengan wajah kesal. Apalagi melihat Fatimah, Mega semakin menunjukkan rasa sebalnya.


"Maaf, Meg. Tadi aku ke musholla. Maaf ya," ujar Fatimah merasa sangat bersalah.


"Yaudah, ayo makan. Habis ini nggak ada kelas, kan? Kita pulang ke kost yuk."


Untungnya Mega sekarang sudah lebih baik dari Mega yang dulu begitu manja. Tak menyadari kalau keberadaan Fatimah di hidupnya membawa pengaruh baik.


"Iya, Mega cantik." Fatimah memeluk sahabatnya itu. Senang dan lega karena Mega mampu bersikap dewasa dengan memaafkannya.


"Udah nggak usah ngerayu." Mega kembali memasang wajah kesalnya.


"Ini jam berapa sih?" tanya Mega membuat Fatimah segera melihat jam di layar handphonenya.


Saat itulah Fatimah bagai tersengat petir di siang hari. Saat layar handphone terkunci, foto yang terpasang disana membuat jantung Fatimah terhenti beberapa detik.


"Gus Ali?"


Fatimah mengucek matanya, lalu kembali mengecek gawai di tangannya. Tidak berubah. Tetap gambar Gus Ali dengan gitarnya.


"Ada apa Fat? Kayak habis lihat setan?" tanya Mega setelah memasukkan buku-bukunya ke tas. Tadi sambil menunggu kedatangan Fatimah, Mega membaca buku pelajarannya.


"Ini Meg," balas Fatimah sambil memperlihatkan handphone di tangannya. Seketika Mega melongo mengetahui foto Gus Ali dengan gitar di pangkuannya.


"Kapan anti dapat foto itu?" tanya Mega. Fatimah tak bisa menjawab. Ia fokus mengingat handphone ini milik siapa yang bisa ada padanya.


Tak mendapat jawaban, Mega segera mengambil handphone di tangan Fatimah. Ia mengutak-atik handphone yang ternyata tidak diberi kata sandi itu.


Otomatis Fatimah melihat ke arah handphone yang kini memutar sebuah video. Yaitu video saat Gus Ali menyanyi dengan gitar di tangannya.


Paas Aaye


(kau mendekat)


Dooriyan Phir Bhi Kam Na Hui


(namun jarak di antara kita tak jua berkurang)


Ek Adhuri Si Hamari Kahani Rahi


(satu kisah kita yang seolah tak kunjung tuntas)


Aasmaan Ko Zameen Yeh Zaroori Nahin Jaa Mile.. Jaa Mile..


(bumi tak harus selalu berjumpa dengan langit)


Ishq Sachcha Wohi Jisko Milti Nahin Manzilein.. Manzilein..


(cinta sejati adalah yang tak mencapai tujuannya)


Rang The, Noor Tha, Jab Kareeb Tu Tha


(saat dulu kau di dekatku, duniaku penuh warna dan bercahaya)


Ek Jannat Sa Tha Yeh Jahaan


(dunia ini terasa bagai sebuah surga)


Waqt Ki Raeth Pe


(di atas pasir waktu)


Kuch Mere Naam Sa, Likh Ke Chhod Gaya


(kau tulis sesuatu seperti namaku lalu pergi meninggalkannya)


Tu Kahaan


(di manakah dirimu?)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani

__ADS_1


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Khushbuon Se Teri Yunhi Takra Gaye


(tak sengaja kuberpapasan dengan keharumanmu)


Chalte Chalte, Dekho Na, Hum Kahan Aa Gaye


(sambil berjalan, lihatlah, di mana kita telah tiba)


Jannatein Gar Yahin, Tu Dikhe Kyun Nahin


(jika ini adalah surga, mengapa dirimu tak terlihat?)


Chaand Suraj Sabhi Hai Yahan


(rembulan dan mentari, semuanya ada di sini)


Intezaar Tera Sadiyon Se Kar Raha


(aku sedang menunggumu sejak berabad lamanya)


Pyaasi Baithi Hai Kab Se Yahaan Hamari Adhuri Kahani


(sejak lama kisah kita yang belum tuntas terduduk di sini menahan dahaga)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita yang belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Pyaas Ka Yeh Safar Khatam Ho Jayega


(perjalanan untuk memadamkan dahaga ini akan segera berakhir)


Kuch Adhura Sa Jo Tha Poora Ho Jayega


(sesuatu yang dulu belum tuntas akan segera tuntas)


Jhuk Gaya Aasmaan, Mil Gaye Do Jahan


(langit telah bersimpuh, dua dunia telah bertemu)


Har Taraf Hai Milan Ka Samaa


(di segala penjuru terasa suasana pertemuan)


Doliyan Hain Saji, Khushbooyein Har Kahin


(tandu pengantin telah dihias, wangi bunga di setiap tempat)


Padhne Aaya Khuda Khud Yahan, Hamari Adhuri Kahani


(Tuhan datang sendiri ke sini untuk membaca kisah kita yang belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita yang belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


Hamari Adhuri Kahani


(kisah kita belum tuntas)


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.

__ADS_1


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏


__ADS_2