Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Keputusan yang Menghimpit Napas


__ADS_3

Aku menutup mataku sejenak, sekelebat bayangan saat aku menemukan Mas Adi dengan tangisnya tadi sore melintas.


Perasaanku sebagai seorang wanita ikut meratapi. Tanpa kuminta, rasa penasaran itu menggunung di dadaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Adi? Atau dia terbebani karena harus menikahiku hanya untuk melaksanakan wasiat Syams?


Aku tertegun, seandainya saja. Ah, aku menghapus pikuranku sendiri. Aku ini seorang muslimah. Tidak patut jika harus berduka secara berlebihan seperti ini. Pun aku tidak boleh mengkhayal apa yang sudah menjadi takdirNya.


Kulirik lelaki yang tertidur di atas ranjang. Wajah teduhnya nampak lelah. Pikiranku kembali berkecamuk. Apakah dia menangis karena aku tidak melayaninya sebagai mana seorang istri?


Kepalaku tiba-tiba saja pening. Kupegangi kedua pelipis untuk meredakan puaing dan berat yang terasa.


Aku masih memandangi wajah Mas Adi sekali lagi. Ada rasa bersalah dalam lubuk hatiku. Aku seaungguhnya paham jika suami istri itu pasti membutuhkan waktu untuk saling berkasih sayang.


Karena memang itulah tujuan dari menikah. Aku menimbang-nimbang pikiranku. Berusaha tetap memikirkan hal yang baik. Apa aku salah marah padanya?


Marah atas kata-katanya yang berkata bahwa ialah Adi kecil yang dulu selalu menggangguku, tapi terasa ada yang mengganjal dalam hati. Adi kecilku bernama Syamsul Hadi.


Bukan Syamsul Mujahidin. Pergolakan batin ini terasa menghimpit napas. Aku mengembuskan napas kasar. Mungkin memang saat ini, aku harus menjalani hidupku. Mungkin aku tidak boleh menyiksa suamiku.


Bukankah ibadah yang paling nikmat dari menikah adalah saling melepaskan hasrat kemanusiaan?


Aku kembali menimbang-nimbang pemikiranku sendiri. Jika memang harus aku lakukan kewajibanku, maka aku harus melakukannya dengan ikhlas. Bukan karena terpaksa.


Aku meluruskan pandangan. Di depanku, sebuah mushaf tengah terbuka. Beberapa menit yang lalu, jiwaku seolah dibetot karena sebuah ayat alquran yang kubaca.


"Astagfirullahalladzim," aku menangkupkan tangan di wajah dengan frustasi. Pemikiran yang sedari tadi mengumpul di kepala membuat kepalaku terasa sangat berat.


"Kamu tidak apa-apa, dik?" Aku terkejut mendapati lelaki yang tadi ada di atas dipan tiba-tiba ada di depanku. Sejak kapan ia berada di sini aku tidak tahu. Aku mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Kau masih kesal padaku, dik? Maafkan aku. Bukannya aku mengatakan jika Syams telah membohongimu. Tapi sungguh kenyataannya akulah Adi di masa kecil dulu. Aku terpaksa memakai nama Syams karena hanya ijazahnya yang ada di rumah kami." Aku menatapnya lekat.


Seolah ketidakpercayaan masih terus ada di dadaku. Setelah beberapa menit, tatapanku melunak. Aku bisa apa? Seorang istri harus terus menyenangkan suaminya. Aku tidak menyakiti hatinya.


"Apa kepalamu masih sakit?" Mas Adi membelai ujung mukena yang aku gunakan. Entah mengapa, di dalam hatiku terasa berdesir tidak karuan.


Mas Adi membimbing kepalaku ke dalam pangkuannya. Aku masih tidak bersuara dan menurut saja. Pikiran ini kembali berputar-putar.


Dahulu, Syams juga melakukan hal yang sama dengan Mas Adi. Meletakkan kepalaku di pangkuannya dan bersholawat.


Aku menggigit bibir saat menyadari Mas Adi tengah melantunkan sholawat burdah. Air mataku kembali mengucur deras. Kupejamkan mata menikmati suara baritonnya.


"Mas," panggilku setelah terdiam cukup lama.


"Iya, dik?" balasnya lirih.


"Bolehkah aku tahu mengapa kau sering menangis di kamar mandi?" Tanyaku hati-hati. Aku sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang membumbung tinggi. Aku ingin tahu mengapa ia sering menangis.


"A-aku hanya, sedang berusaha kembali ke jalan yang benar, dik." Kalimatnya membuatku mengernyitkan kening. Apa maksudnya dengan kembali ke jalan yang benar?


"Cinta adalah sebuah perkara yang mana menyentuhnya harus dengan syariat," Mas Adi memalingkan pandangannya. Aku semakin tidak mengerti. Apa maksud ucapannya? Apakah ini berarti tidak akan ada cinta untukku?


"Dik, aku tahu kualitasmu. Aku yakin kau akan bijak bersikap setelah mendengar ceritaku." Aku menyimak setiap perkataan yang terlontar dari bibirnya.


"Sejak perpisahan kita dahulu, aku selalu berdoa untuk bisa menikahimu. Aku melakukan tiga syarat yang kau ajukan. Tapi Allah berkehendak lain. Aku dan Syams sering bertukar pikiran. Bahkan aku sering bercerita tentangmu padanya. Tanpa aku tahu dia telah menyukaimu karena ceritaku."


Mendengar cerita Mas Adi aku terdiam. Kemana arah pembicaraan ini? Apakah ini berarti Mas Adi mencintaiku?

__ADS_1


Astagfirullahaladzim, lalu bagaimana bisa ia menahan diri untuk tidak menyentuhku sedari pernikahan kamu? Aku menunggu Mas Adi melanjutkan ceritanya.


"Lalu setelah aku mengetahui bahwa Syams menikahimu, aku segera bertaubat pada Allah. Aku berusaha melepaskan cinta itu walau dengan rasa berat." Air mataku menggenang di pelupuk mata.


"Dengan berjalannya waktu, aku bisa melupakanmu, dik. Walau dengan susah payah aku menghindari pertemuan denganmu di Al-Amin. Aku hanya beberapa kali melihat wajahmu dari jauh. Wajah yang pernah membuatku buta dan terus bermunajat kepada Allah." Dadaku mulai naik turun menyimak cerita Mas Adi. Aku tahu, menahan diri itu pasti sangat sulit.


"Dan di saat aku bisa menemukan wanita lain, Syams memintaku menikahimu."


Kalimat terakhir Mas Adi terlihat getir mengatakannya. Ya Rabb, ternyata selama ini suamiku telah mengalami penderitaan seberat itu.


"Setelah membaca surat wasiat Syams, aku mendatangi wanita itu. Kami memang belum terikat. Kami hanya pernah saling mengungkapkan sindiran."


Mataku memanas, lelehan air mata membasahi mukena yang aku gunakan. Ternyata karena aku, Mas Adi harus melepas wanita pilihannya.


Aku mengalihkan pandangan ke arah dinding kamar. Detik ini juga, dadaku seperti disayat belati tajam. Rasa sakit yang tidak berdarah.


"Apakah Mas Adi masih mencintainya?" Tanyaku, berusaha menstabilkan suara agar tidak bergetar karena gejolak di dada. Mas Adi terlihat menunduk. Dari raut wajahnya, aku tahu kalau dia masih mencibtai wanita pilihannya itu.


"Mas Adi boleh menceraikan aku, agar bisa menikahinya." Kataku cepat. Aku tidak mungkin menyiksa batinnya lebih dari ini. Dia menikahiku hanya karena Syams. Dan Mas Adi pantas untuk bahagia. Aku tidak boleh egois. Mas Adi menggeleng.


"Jangan mudah berkata cerai, dik. Kita menikah karena Allah. Aku akan berusaha melupakannya dan belajar mencintaimu." Balasnya, mengelus kembali ujung mukena yang aku gunakan. Aku masih mematung.


"Dik, sudah hampir dinihari. Tidurlah, besok kau harus mendaftar ke Al-Amin." Mas Adi menghadiahi kecupan lembut di ujung kepala sebelum membenarkan posisiku.


Laki-laki itu melepas mukena yang aku gunakan dengan tangan. Lalu beranjak menggendongku ke atas dipan. Aku masih membisu. Berada digendongan tangan kekarnya membuat dadaku berdesir tidak karuan.


Aku tidak mengerti. Kini aku mulai melihat sosok Adi di wajahnya. Bahkan aku mulai tidak menemukan kesamaan antara Syams dan Mas Adi selain rupanya saja.

__ADS_1


"Tidurlah." Mas Adi mengelus keningku. Kupejamkan mata untuk segera terlelap.


__ADS_2