Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Kegelisahan Gus Ali


__ADS_3

Gus Ali sampai di kantor ustaz. Pagi tadi ia sangat terkejut mendapat kiriman sebuah surat yang berisi ia diminta menjadi dosen pengganti di kampusnya dulu.


Gus Ali memang mahasiswa yang cerdas. Hal ini pula yang mendasari ia bisa menjadi ustaz di usia muda. Dulu ketika sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, ia mendapat akselerasi.


"Assalamualaikum, Gus." Seorang ustaz yang paling berumur di Madrasah berjalan ke meja Gus Ali.


"Waalaikumsalam, ustaz." Gus Ali mengembangkan senyuman manis.


"Gimana permintaan kampus antum itu? Mau diterima atau tidak?" tanyanya lagi to the point. Ustaz Musa memang orang yang paling blak-blakan.


"Insyaallah, ustaz. Ini masih saya pikirkan."


"Istikharah dulu," saran ustaz Musa lalu berjalan meninggalkan meja Gus Ali.


Setelah bel istirahat berbunyi, ruang ustaz menjadi ramai. Para penghuninya mulai masuk ke kantor satu per satu.


Begitu ustaz Adi yang notabene Abah dari Fatimah, Gus Ali segera menyelesaikan pekerjaannya menulis jurnal lalu mendekat ke meja calon mertuanya itu.


"Abah, Fatimah dihukum keluar kelas." Gus Ali langsung berkata pada ustaz Adi. Secara kebetulan ustazah Maharani melintas dan mendengar kalimat Gus Ali itu.


"Afwan, Gus. Fatimah tadi tidur di kelas. Jadi saya keluarkan dari kelas demi kenyamanan bersama," terang ustazah bertubuh gemuk itu.


Gus Ali sedikit malu saat ustazah Maharani menyahut perkataannya kepada ustaz Adi. Ia sendiri berusaha tidak membicarakan urusan pribadi di kantor. Tapi ini tadi kok ya keceplosan.


Seluruh ustaz dan ustazah yang ada di sana saling berbisik. Semua penasaran dengan hubungan Gus Ali dengan Fatimah, putri ustaz Adi. Tidak ada yang tahu kejelasan hubungan keduanya. Hanya saja semua orang tahu kalau Gus Ali dan Fatimah sering whattsapp-an.


"Oalah, Gus. Saya kok baru sadar kalau Gus manggil ustaz Adi, Abah. Abah calon ya?" canda salah seorang ustazah yang cukup berani.


Sedangkan Gus Ali dan ustaz Adi hanya tersenyum kecil. Keduanya tidak menanggapi. Karena sudah pasti kalau ditanggapi akan semakin melebar gosip itu. Jadi biar saja hubungan antara Gus Ali dan Fatimah hanya diketahui oleh orang yang ada sangkut-pautnya saja.

__ADS_1


"Coba nanti saya tanya uminya, " respon ustaz Adi dengan suara tidak terlalu keras. Agar tidak banyak yang mendengar.


"Abah, ada masalah lain yang sedang saya hadapi. Bolehkah meminta pendapat Abah?" tanya Gus Ali setelah menimbang bagaimana baiknya.


Tentang tawaran menjadi dosen di Surabaya. Karena dibutuhkan secepatnya, Gus Ali juga harus segera mengambil keputusan. Yang jelas ini juga akan berpengaruh pada acara bulan depan.


"Naam, Gus. Jam ke tujuh delapan saya kosong," terang ustaz Adi sembari membuka kotak bekalnya.


Setelah kotak makan itu terbuka, aroma masakan umi Afin segera tercium hingga radius dua meter.


Aroma wangi itu juga menggoda penciuman Gus Ali. Pikirannya jadi kemana-mana. Jika nanti Fatimah jadi istrinya, apa ia juga akan mendapat bekal makanan lezat seperti ustaz Adi? Eh, Gus Ali mungkin lupa bahwa yang ia nikahi bukanlah seorang gadis yang siap berumah tangga.


Gus Ali kembali meyakinkan dirinya. Fatimah akan menikah dengannya di usia yang sangat muda. Akan banyak cobaan dalam hidup. Bukan hanya dari segi emosi Fatimah yang belum bisa ia kuasai, tapi juga pekerjaan rumah seperti memasak, Gus Ali tak boleh berharap banyak.


Ah, Gus Ali kembali menginjak bumi. Tak menyadari kalau dari tadi ustaz Adi memanggilnya untuk mencoba masakan bekalnya.


Ternyata ia tidak salah pilih. Meski saat memakan nasi goreng buatan tangan Fatimah itu terasa kelebihan garam, tapi Gus Ali merasa cukup senang mengetahui kalau Fatimah suka di dapur. Entah itu benar atau tidak, nanti akan terbukti setelah mereka menikah.


Gus Ali kembali melayang. Entah kenapa ia jadi ingin segera memiliki Fatimah. Setidaknya untuk menenangkan nafsunya yang selalu memikirkan Fatimah. Apa lebih baik ia minta langsung dinikahkan saja? Ah, Gus Ali segera beristighfar. Apa yang ia pikirkan terlalu muluk. Biar saja Allah mengatur cintanya yang akan berlabuh pada Fatimah entah dengan kisah yang bagaimana.


***


Setelah jam istirahat, Gus Ali dan ustaz Adi duduk berdampingan di kantor. Gus Ali terdiam setelah memberikan surat permohonan dari rektor universitasnya dulu.


Setelah membaca dengan seksama surat itu, ustaz Adi kembali memasukkan surat itu ke amplopnya. Berpikir lebih jauh. Tapi ia merasa tak boleh egois. Gus Ali sedang dibutuhkan ilmunya di sana. Dan di sini Gus Ali hanya mengajar dua kelas.


"Kalau menurut saya, ya terserah antum, Gus. Tapi jika ini demi kebaikan banyak manusia, tentu pilihlah dimana Gus lebih dibutuhkan."


Perkataan ustaz Adi diresapi dalam-dalam oleh Gus Ali. Benar kata calon Abahnya itu. Ilmunya yang banyak harus diamalkan. Jika tidak, ilmu itu hanya akan menambah hisabnya.

__ADS_1


"Tapi ini berarti saat lamaran saya tidak bisa ikut," kata Gus Ali risau.


Sudah lama sekali Gus Ali membayangkan hari itu. Hari saat Fatimah mengetahui siapa lelaki yang sudah melamarnya sejak dulu. Tapi kini bayangan itu seakan memudar. Terancam tak terjadi.


"Nggak apa-apa, Gus. Nanti kalau Fatimah pengen kuliah, kan jadi lebih aman ada Gus di sana. Biar Fatimah nggak nglewes." Ustaz Adi nyengir.


Ia tahu pria muda di depannya ini sedang dilema. Tapi ia mencoba mencairkan suasana. Agar tidak kaku.


"Atau minta pendapat Pak Kyai dulu, Gus."


Gus Ali mengangguk. Jika pihak ustaz Adi sudah memberi lampu hijau untuknya berangkat ke Surabaya, maka penentuannya tinggal keputusan dari Abahnya.


Mendadak Gus Ali bersedih. Membayangkan harus jauh dari Fatimah. Tapi di sisi lain ia juga perlu belajar agar tidak terbutakan oleh cinta pada Fatimah. Barangkali Allah mencipta jarak antara Fatimah dan dirinya agar cinta itu kembali murni. Tidak hanya karena nafsu.


"Kira-kira Fatimah akan salah paham atau tidak, Bah?" tanya Gus Ali lagi.


Ia menjadi sangat takut kalau nanti saat lamaran ia tak hadir, lalu terjadi salah paham. Jangan sampai dikira ia akan dinikahkan dengan Pak Kyai.


Membayangkan itu, Gus Ali jadi ingin tertawa. Bagaimana jika kesalahpahaman terjadi sedemikian rumit? Apakah Fatimah tidak cukup pintar untuk mengerti kalau Gus Alilah yang sebenarnya akan menjadi suaminya.


"Ya nggak, Gus. Kan nanti ada Pak Kyai yang menjelaskan," balas ustaz Adi tersenyum geli.


"Nanti dikira Abah yang mau nikahi Fatimah?"


"Oalah, ya nggak mungkin, Gus. Pak Kyai kan sudah menganggap Fatimah seperti putrinya."


"Ya siapa tahu, Bah. Nanti calon istriku ditikung ayahku."


Keduanya lalu tertawa keras. Kata-kata Gus Ali memang sangat beralasan. Tapi Gus Ali juga tidak boleh terlalu khawatir tentang hal yang belum terjadi.

__ADS_1


__ADS_2