Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Menjamu Cintanya


__ADS_3

Matahari kembali memendarkan sinarnya dari ufuk timur, adzan subuh yang menggema mengembalikan kesadaranku. Kubuka mata dan berusaha segera bangkit dari tidur.


Beberapa detik, kupandangi wajah pulas Mas Adi. Seminggu yang lalu, akhirnya Mas Adi diijinkan pulang dari rumah sakit setelah luka tusuk di bahunya mulai membaik. Sejenak, kata-kata Mas Adi tentang hubungannya dengan ustazah Sofia kembali memenuhi kepala. Jujur aku memendam penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Adi. Siapa itu Fahmi yang melakukan penusukan pada Mas Adi dan anehnya, Mas Adi memilih memaafkan pelaku. Bahkan Mas Adi tidak mengungkit sama sekali tentang kasus itu. Pun aku tidak berani memperpanjang masalah itu.


"Mas, sudah adzan subuh," panggilku sembari mengguncang bahunya. Mas Adi sedikit bergerak, lalu meraih pundak ku dan mendekap tubuh kecil ini. Karena kaget, aku sedikit terhuyung ke arah Mas Adi. Namun detik berikutnya aku telah bangkit dan melepaskan diri dari pelukannya.


"Mas, ayo sholat subuh," ajakku lagi. Kali ini ia membuka matanya dan bergegas bangun.


Kami bergantian menyegarkan diri dan wudhu. Lalu menggelar sajadah untuk melakukan sembahyang. Seperti biasa, Mas Adi menjadi imam. Selesai dua rakaat subuh, kami membaca Alquran sampai matahari bersinar terang.


****


Kami baru saja selesai sarapan dan aku membereskan meja. Sekilas kulirik wajah Mas Adi terlihat tegang dan menyimpan beban, beberapa kali matanya mengerjap saat bertemu pandanganku. Laki-laki itu kini menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal.


Aku berdehem, dan benar dugaanku, Mas Adi semakin terlihat kikuk. Aku bergerak menutup nasi dan lauk dengan tudung saji. Saat itulah Mas Adi berada tepat di hadapanku.


"Ada yang ingin kau bicarakan, Mas?" Wajah bingung Mas Adi sejenak menggelitikku. Tanpa sadar sebuah senyuman kecil menghias wajahku. Sedangkan Mas Adi masih menatapku tanpa berkomentar.


"A-aku, aku cuma mau bilang i love you. Jangan pergi jauh-jauh dariku, kalau tidak aku bisa sesak napas." Aku tertegun mendengar kata laki-laki itu. Kekakuannya dalam merayu malah membuat aku semakin mengembangkan senyuman.


"Kalau mau merayu jangan kaku dong, Mas." Aku melihat perubahan wajah mas Adi yang semula bingung menjadi merah tersipu. Apakah ia malu kugoda seperti itu?


"Dik, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Pintanya sambil meraih tanganku. Aku hanya menurut dan kembali duduk di kursi sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" Aku membenahi posisi duduk di samping Mas Adi. Laki-laki ini menatapku lagi.


"Hem, apa yang kau mimpikan saat menungguiku dulu, Fin?" Kalimat Mas Adi segera direspon cepat oleh otak, sehingga wajahku terasa terbakar. Suasana damai dan risau yang berpadu dalam mimpi itu seolah kembali mendatangi hati. Tanpa terasa, mataku telah berkabut.


"Katakanlah, dik." Ucapan Mas Adi itu kubalas dengan anggukan, walau kepala ini masih menunduk, kurasakan tubuh Mas Adi yang mendekat, bahkan sangat dekat. Bersamaan itu, sebuah tangan seolah membimbingku untuk menyandarkan kepala ke bahu bidangnya. Bahu yang dulu sempat terluka dan membuat aku sangat takut kehilangan Mas Adi.


"Aku bermimpi kalian bertiga mengaji Ar-rahman, namun saat aku lihat, Mas Adi pergi bersama Syams, dan, ...." Aku tidak kuasai melanjutkan ceritaku. Hanya bisa menggigit bibir bawahku untuk meredakan gejolak di dalam dada. Rasa itu, benar-benar membuatku melemah. Kurasakan tangan Mas Adi mengelus sisi jilbab yang aku kenakan.


"Kau berpikir aku akan mati lalu menyuruh Rahman menikahimu?" Aku takjub saat Mas Adi bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan. Menoleh ke arahnya dan menatap ke dalam matanya. Sebuah senyum kecil yang usil membuatku tertegun.


"Jika akhir kisah kita seperti itu, cerita ini tidak akan menarik, dik." Mas Adi mengerling genit, membuat mulutku terbuka. Tidak percaya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, jangan ragukan cinta ini karenaNya," Mas Adi bersenandung dengan nada yang diciptakannya sendiri. Aku semakin tidak habis pikir. Apa ada yang salah dengan Mas Adi? Atau luka tusuknya itu berpengaruh terhadap kesehatan jiwanya? Spontan, punggung tanganku kuletakkan di dahinya.


"Aku tidak akan kenapa-napa kalau kamu ada di sisiku, kumohon, jangan pergi lagi," mata Mas Adi meredup, mengalirkan kesenduan di hatiku.


Tatapannya sangat tulus meminta. Entah kenapa, melihatnya dengan ekspresi begini benar-benar membuat gejolak aneh dalam dada. Tapi aku tetap bingung dengan perubahan sikapnya yang mendadak manis.


Aku tidak mau dia berubah begini hanya karena takut aku tinggalkan. Karena aku pribadi telah menerimanya sejak akad diucapkan dulu.


"Mas," panggilku lirih. Mas Adi kini mendekapku sangat erat, bahkan aku kesulitan bernapas untuk beberapa saat. Setelah ia melepaskan pelukannya, aku menatap matanya dalam-dalam. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Adi? Dia sangat aneh.


Kling, suara handphone di atas meja membuyarkan lamunan kami berdua. Dengan cepat kedua mataku melesat memandang handphone itu, tanganku segera meraihnya dan mengusap layarnya untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan. Jangan jangan, ....

__ADS_1


"Tenang aja, pasti bukan Sofia," Mas Adi bersedekap. Karena memang bukan nama itu yang muncul di layar, aku arahkan handphone itu pada Mas Adi. Tanpa sadar bibirku kembali mencebik.


Entahlah, mengingat nama ustazah Sofia saja bisa membakar seluruh mood baikku. Padahal Mas Adi telah berkali-kali menjelaskan betapa cintanya ia kepadaku. Tapi tetap saja ada yang mengganjal karena Mas Adi belum menceritakan semua dengan detail dan gamblang. Tentang malam itu ia pergi ke mana, dan apa maksud pembicaraannya dengan wanita tua dan ustazah Sofia di taman rumah sakit itu.


"Bersiaplah, kita akan ke Bandara Sanaa." Aku terkejut, apakah ada sesuatu yang terjadi di Ngantang sehingga Mas Adi mengajakku untuk segera ke Bandara untuk pulang?


"Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi di Ngantang?" Tanyaku, menatap tajam Mas Adi. Berharap kecemasanku ini tidak benar. Mas Adi menggeleng lalu berdecak sebal. "apa kalau kita ke bandara kita pasti akan pulang?" Aku menggeleng. Lalu untuk apa kita ke bandara? Mungkin kalimat inilah yang coba dijelaskan mataku pada Mas Adi lewat tatapan lekat.


"Kita harus menjemput Nafisah," aku mengerutkan dahi. Ustazah Naf ke Yaman? Untuk apa? Sebelum aku berhasil membaca pikiran Mas Adi, laki-laki ini telah menarik tanganku untuk segera berlalu dari meja makan. Sebelum sampai di mobil, aku berusaha melepaskan tangan Mas Adi. Aku juga berhak tahu perihal apa ustazah Naf ke Yaman? Apa ada hubungan dengan ini semua?


"Nanti aku jelaskan di mobil," balas Mas Adi, kembali menarik pergelangan tangan. Barulah setelah aku berkata bahwa aku tidak membawa tas, cengkeraman tangan Mas Adi melemah dan aku segera memeriksa pergelangan tanganku. Jangan jangan putus karena tarikan Mas Adi. Setelah menatapnya sinis beberapa menit, aku berlari kembali masuk rumah, mengambil tas dan segera menyusul Mas Adi yang sudah menunggu di dalam mobil. Setelah menempatkan tubuh di samping Mas Adi, aku menghembuskan napas dalam. Pikiranku kembali berputar, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mas Adi begitu sulit terbuka padaku?


"Sebenarnya, aku ingin menceritakan ini sejak lama, dik. Tentang aku dan Sofia," aku mengerjapkan mata. Akhirnya, Mas Adi akan menceritakan semua. Rasa penasaran yang selama ini menyiksa malam-malamku akan segera sirna.


"jangan melihatku seperti itu, kau membuat takut." Aku terkejut atas respon Mas Adi. Mengapa ia tidak melanjutkan ceritanya? Malah bergurau. Mataku membulat, seolah ingin menguliti tubuh Mas Adi. "sabar, innalloha ma'a shobirin."


"Cepat ceritakan Mas, kau tidak tahu rasanya tersiksa? Ha?" Sebalku sambil memukul bahu Mas Adi, sampai lupa bahwa bahu itu bahkan masih diperban. Mas Adi mengaduh, aku segera meminta maaf.


Ciiiittttt ...


Ban mobil beradu dengan aspal, Mas Adi terpaksa mengerem mendadak saat seorang laki-laki muda tiba-tiba menghadang laju mobil kami. "Fahmi, sabarlah sebentar, aku sedang membawanya padamu." Suara lirih Mas Adi menyita perhatianku. Apakah dia Fahmi? Laki-laki di depan itu? Lalu apa yang ia inginkan? Mas Adi segera turun dari mobilnya, tapi melarangku untuk ikut campur dalam urusan ini. Entahlah urusan apa, aku sendiri tidak tahu.


Aku melihat Mas Adi berjalan dan berhenti tepat di depan laki-laki bermata elang dengan kobaran api kemarahan itu. Lalu beberapa menit kemudian Mas Adi kembali ke dalam mobil, saat aku menanyakan apa yang ia bicarakan dengan laki-laki itu, Mas Adi hanya tersenyum. lalu aku tidak menemukan laki-laki itu di depan mobil. Entah kapan laki-laki itu berjalan menyingkir dari jalanan.

__ADS_1


Aku menggigit bibir bawah. Kepala ini semakin berputar-putar, sedangkan Mas Adi masih tidak menjawab pertanyaanku.


__ADS_2