
Sementara itu di tempat lain, Fatimah terbangun dari tidurnya. Ada perasaan yang bertumbuh di dadanya. Perasaan yang tidak bisa ia uraikan. Tak bisa ia mengerti dengan cepat.
Fatimah ingin kembali tidur, tapi kantuknya tiba-tiba sirna. Dengan malas Fatimah keluar dari kamarnya. Berjalan dan menemukan uminya masih di tempat murojaah. Mata Fatimah menyipit, melihat jam di dinding bahkan sudah melebihi jam tidur.
Tiba-tiba Fatimah teringat kata-kata Gus Ali padanya. "Berani bertanya, berani mendebat, dan ngeyel."
Dengan langkah kecil Fatimah menghampiri uminya dan duduk di samping sang ibunda. Menyadari ada Fatimah di sisinya, umi Afin masih melanjutkan murojaahnya. Lebih tepatnya murojaah hati, kembali mentadabburi setiap kejadian dalam hidupnya. Membaca surat Arrahman adalah murojaah sekaligus muhasabah hati untuk umi Afin. Surah itu begitu banyak mengubah hidupnya.
"Audzubillah himinnsyitonirrojim bismillahirrahmanirrahim."
"Arrahman."
"Allamal Qur'an."
Fatimah menutup matanya. Menikmati suara jernih umi Afin sekaligus menghayati setiap ayat yang menceritakan RahmanNya.
Tak terasa air mata Fatimah menetes di pipi. Hatinya bergetar hebat. Setelah selesai membaca tujuh puluh ayat itu, umi Afin menutup murojaahnya.
"Shodaqollahul adzim."
"Robbi zidni ilman nafia warzuqni Fahma."
[Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, dan berikanlah aku pengertian yang baik]
"Kok belum tidur, Fat?" Umi Afin menoleh dan tersenyum pada anaknya itu.
"Umi sendiri kok belum tidur?" Fatimah malah balik bertanya. Lalu menyandarkan kepala di pangkuan sang ibu.
"Umi lagi murojaah."
Fatimah merasakan elusan tangan umi di ujung kepalanya. Rasanya menentramkan sekali. Tapi tiba-tiba ia teringat saat ia menguping kedua orang tuanya berbicara tentang perjodohan.
__ADS_1
"Mi, maaf, Fatimah kemarin nguping," ujar Fatimah dengan rasa menyesal yang memenuhi hatinya.
Umi Afin sontak menjewer telinga anaknya dengan lembut. Kebiasaan buruk itu belum juga lenyap.
"Kebiasaan burukmu kapan ilang?"
"Aduh, duh. Maaf mi."
"Berubah dong, nduk. Nanti di neraka kupingmu ini ditusuk jarum panas."
Fatimah bergidik ngeri membayangkan siksaan yang dikatakan uminya. Baiklah. ia akan berubah mulai sekarang.
"Apa bener, Mi? Fatimah sudah dijodohkan? Tapi Fatimah masih mau kuliah. Masak nikah muda sih?"
Wajah Fatimah sedikit cemberut. Ia ingin menolak perjodohan itu. Setidaknya ini bukti kalau ia mendengar saran Gus Ali untuk berani mendebat dan ngeyel.
"Ada alasan lain, Tim? Nikah sambil kuliah juga nggak ada masalah. Dulu umi juga gitu," kenang umi Afin. Ingatannya sudah melayang jauh saat pernikahan terjadi begitu sangat cepat dengan mendiang suaminya, Syams.
"Umi belum cerita ya, Tim?"
Umi Afin menghela napas dalam. Sudah waktunya ia menceritakan kisah romantika Arrahman. Tentang pernikahan yang begitu cepat terlaksana sejak ia mengatakan iya. Dan lantunan yang menggetarkan langit membawa penerimaan umi Afin pada Syams.
Kisah selanjutnya membuat hati Fatimah teriris. Perpisahan yang begitu manis. Lalu hadirnya Abah Adi dan menjadi pengganti. Pelindung umi Afin. Pengentas fitnah dari status janda.
Tak terasa air mata Fatimah mengucur deras. Tak menyangka perjalanan umi Afin begitu dramatis. Dan menggetarkan sanubarinya.
"Tapi bagaimana umi bisa mencintai Abah?" tanya Fatimah sekali lagi.
"Karena cinta abahmu pada Allah yang membuat umi mencintai abahmu."
Umi Afin tersenyum tipis. Tiba-tiba ia melihat putrinya sudah begitu dewasa. Wajahnya mirip dengan ustaz Adi. Begitupun wataknya yang kadang menyebalkan dan suka menyembunyikan masalahnya sendiri.
__ADS_1
"Fatimah mau kan menikah dengan pilihan abahmu? Dia orang yang Sholeh dan sekufu." Umi Afin menyentuh pipi anaknya.
Fatimah masih tak menjawab. Ia memikirkan hatinya yang tiba-tiba melemah. Ia ingin tabarukan pada kisah kedua orang tuanya. Rasa ingin menolak perjodohan itu kian luntur.
"Tapi siapa yang sebenarnya ingin melamar Fatimah, Mi? Fatim ingin tau orangnya."
"Istikharah, Tim. Nanti kamu bisa mengetahuinya."
Umi Afin melihat jam di dinding dan berpamitan pada Fatimah. Ia meninggalkan putrinya yang terdiam itu. Rasa kantuknya sudah lenyap. Ia memikirkan kata-kata uminya.
"Mungkin aku harus sholat istikharah untuk menemukan laki-laki itu," kata Fatimah pada diri sendiri.
Dia beranjak dan membersihkan diri. Ia akan melaksanakan perintah uminya. Sholat istikharah.
Hening sekali saat Fatimah takbirotul ikhrom untuk pertama kalinya melaksanakan sholat istikharah.
"Allaahumma innii astakhiiru bi'ilmika wa astaqdiru bi qudratika as'aluka min fadhlikal a'zham fainnaka aqdiru wa ta'lamu wa laa a'lamu wa anta 'allaamul ghuyuubu. Allaahumma in kunta ta'lamu anna hadzal amra khairunlii fi diini wa ma'aasyi wa aaqibati amri faqdirhuli wa yassirhu lii tsumma baariklii fiihi wa in kunta ta'lamu anna hadzlamra syarrunlii fii diini wa ma'aasyi wa aaqibati amri fashrifhu 'anni fashrifni 'anhu waqdirliyal khaira haautsu kaana tsumma ardhini bihi innaka 'alaa kulli syai'in qadiir."
Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepada-Mu memilihkan mana yang baik menurut pengetahuan-Mu dan saya memohon kepada-Mu untuk memberi ketentuan dengan kekuasaan-Mu, dan saya memohon anugerah-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan saya tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui akan yang gaib. Ya Allah apabila Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagiku, dalam agamaku, penghidupanku, dan baik akibatnya maka tetapkanlah perkara itu untukku dan mudahkahlah bagiku dan berikanlah keberkahan bagiku. Apabila Engkau ketahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, untuk penghidupanku dan buruk akibatnya maka jauhkanlah perkara itu dariku dan jauhkanlah aku dari padanya dan tetapkanlah yang baik untukku di mana saja berada. Lalu jadikanlah saya rida denganmu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Setelah membaca doa itu. Tiba-tiba mata Fatimah terasa mengantuk berat. Ia sampai menguap berkali-kali. Karena sangat tidak tertahankan, Fatimah sampai tertidur di atas sajadah.
Matanya seakan terbuka. Melihat Gus Ali berdiri di depannya sembari tersenyum. Melihat wajah rupawan dihiasi dua lesung pipi itu Fatimah ikut tersenyum. Seolah senyum di wajah Gus Ali memiliki efek menular.
Tak lama kemudian Fatimah terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Ia masih ingat jelas mimpinya tadi. Tapi ia tidak berani mengatakan bahwa mimpi itu adalah pertanda dari Allah.
"Mungkin istikharah ini terlalu terburu nafsu jadinya ngawur."
Fatimah menggelengkan kepala. Lalu berusaha melupakan mimpi itu. Dan berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan sholat istikharah di saat hatinya benar-benar bersih. Ia tak mau kalau wajah Gus Ali lagi yang muncul.
Baginya Gus Ali hanya sahabat. Meski ada perasaan lebih di hatinya, tapi ia tak mungkin berharap banyak pada seorang anak kyai itu.
__ADS_1