
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Keduanya telah sampai di depan kost yang ditinggali oleh Fatimah. Tentu saja kost itu dekat dengan kost yang juga ditempati Mega. Fatimah harap-harap cemas. Semoga Mega benar tidak berada di kost.
Melihat pintu kamar kost Mega tertutup dari kejauhan, Fatimah segera bergerak ke kamar kostnya. Gus Ali ingin membantu, tapi tadi kata Fatimah tidak perlu. Barangnya di sini hanya sedikit.
Begitu kamar terbuka, saat itu juga kamar Mega terbuka dari dalam. Rupanya Mega ada di kostan. Gus Ali yang panik buru-buru menutup wajahnya dengan sorban yang ada di dashboard mobil.
Mega tidak terlalu peduli dengan lelaki di belakang setir mobil itu. Ia hanya melewati mobil itu untuk segera masuk dan menemui Fatimah.
"Assalamualaikum, Fatim. Ana kangen banget." Mega segera memeluk sahabatnya. Saking fokus dengan kebahagiaan bisa bertemu dengan Fatinah lagi, Mega tidak melihat raut gelisah di wajah sahabatnya.
"Waalaikumsalam, Mega." Fatimah diam saja. Sembari ia menerka apakah mungkin Mega melihat Gus Ali di depan atau Gus Ali tidak ada di sana.
"Anti beneran jadi pindah?" tanya Mega sambil memanyunkan bibirnya.
Fatimah mengangguk dengan wajah lesu. Tak bisa dipungkiri dia lelah setelah perjalanan jauh. Pun ia memikirkan bagaimana jika nanti Mega bertemu Gus Ali. Apa yang harus ia katakan?
"Maafkan ana jika selama tinggal di sini banyak salah pada anti, ya Meg." Fatimah merangkul sahabatnya.
Sejujurnya ia sedih dengan keadaan yang ia ciptakan sendiri. Ingin memberitahu Mega tapi belum saatnya. Kalau nanti Mega marah dan tidak mau mendengarkan cerita yang sebenarnya, itu malah gawat. Karena kedua orang tua Mega telah menitipkan pada Fatimah.
"Hu hu. Ana jadi sedih." Mega kembali memeluk sahabatnya dengan erat.
"Em, sudah Meg. Nanti anti bisa kok main ke rumah om ana, kita masih bisa ketemu kok. Insyaallah."
Fatimah dan Mega akhirnya saling melepaskan pelukannya. Lalu keduanya memulai memilah barang milik Fatimah dan meletakkannya di tas.
"Anti hati hati ya di sana," ucap Mega terlihat sangat serius.
"Naam, Meg. Anti juga hati hati ya di sini,"balas Fatimah terlihat menahan diri.
Setelah selesai mengemasi barang-barang dari kamar kost, keduanya berjalan ke rumah Bu kost. Tentu saja Fatimah harus berpamitan padanya. Ia datang dengan baik-baik maka ia harus berpamitan dengan baik-baik pula.
Saat melewati mobil dimana Gus Ali berada, Fatimah menahan tawanya. Melihat suaminya berkacamata hitam dan memakai sorban, perut Fatimah terasa kaku karena menahan tawa.
"Eh, omnya Fatimah ya?" tanya Mega yang baru menyadari keberadaan mobil dan orang yang pasti mengantar Fatimah.
"Naam, naam."
"Kalau begitu tasnya sudah di depan kamar, om. Kan berat jadi om aja yang angkatin ke mobil ya. Ana sama Fatimah mau ke Bu kost," jelas Mega terus nyerocos.
Gus Ali menahan diri, ia sebenarnya ingin marah tidak terima disuruh-suruh. Bahkan Fatimah pun tidak mengatakan apa-apa. Walau ia pasti akan melakukan itu untuk istrinya.
"Ya, silakan ketemu Bu kost dulu." Gus Ali mempersilakan lalu berjalan ke arah kamar Fatimah.
Sedangkan Fatimah menggigit bibirnya. Merasa Mega sedikit keterlaluan memerintah Gus Ali untuk mengangkat barang-barang miliknya.
"Harusnya nggak usah minta tolong, Meg. Ana kan bisa bawa tas sendiri."
"Ah, nggak apa-apa. Kan tasnya berat. Laki-laki kan punya tenaga yang lebih kuat." Mega terkikik.
"Eh, tapi Tim. Om anti kok pakaiannya gitu sih?"
"E, om kan pulang dari Yaman. Jadi, jadi pakaiannya kayak orang Yaman." Fatimah berhasil mencari alasan. Dalam hati ia meminta maaf karena kembali berbohong.
"Terus suaranya kok kayak familiar sih?" Mega terlihat serius berpikir. Ia sepertinya sering mendengar suara Om dari Fatimah ini.
__ADS_1
"Mirip aja, mungkin. Kan beliau lama tinggal di Yaman," kilah Fatimah berusaha meyakinkan Mega.
Mega mencerna jawaban Fatimah. Meski sedikit ragu, tapi ia segera menghilangkan kecurigaan itu.
"Yaudah yuk ketemu Bu Kost." Keduanya berjalan menuju rumah pemilik kost.
Ibu pemilik kost Fatimah memang baik. Setelah berpamitan, Fatimah juga berpamitan pada Mega. Mereka mungkin akan sedikit jarang bersama. Tapi Fatimah berusaha tak bersedih. Bukankah mereka bisa bersama di kampus.
"Yaudah, ana pamit ya Meg. Nanti ana kirim alamat rumah Om, biar anti bisa main." Fatimah melambaikan tangannya ke Mega dan mobil segera meluncur.
Setelah keadaan aman dan sudah tidak terlihat Mega, Gus Ali segera melepas sorban yang ia pakai menutup kepala hingga wajahnya.
"Harusnya anti jujur saja, Tim. Dengan anti nggak jujur begini, akan banyak masalah tercipta." Gus Ali langsung mengatakan ketidaksukaannya pada kebohongan Fatimah. Cepat atau lambat, pernikahan mereka akan terbongkar.
"Saya mohon, Mas. Biar ana mencari waktu yang tepat buat cerita semua ke Mega."
Gus Ali hanya berdehem. Dengan tidak terus terang tentang pernikahan mereka, Gus Ali merasa ia takkan mudah di dekat Fatimah. Belum lagi masalah Tata.
"Yaudah, terserah anti. Kalau ada masalah jangan libatkan Mas ya."
"Jangan mengancam dong, Mas. Lagipula Mas kan suami saya, harusnya mengayomi." Fatimah pura-pura playing victim.
"Sudah jangan manyun, masak istri saya jelek gitu."
"Emang kalau senyum cantik ya?"
"Ya enggak sih, tetep jelek."
Fatimah bersungut. Merasa candaan suaminya kali ini sedikit menyebalkan.
"Kok Mas nyebelin sih."
"Dulu kan Mas hanya menampakkan kebaikan Mas, ternyata hanya settingan semata. Saya merasa kecele." Fatimah bersidekap. Ia sebal kalau Gus Ali sok jual mahal begitu. Apa susahnya mengatakan kalau istrinya itu cantik?
"Ha ha. Anti bisa saja, Tim. Mas hanya bercanda. Gitu aja sewot." Gus Ali mengacak jilbab di kepala istrinya. Ia sangat gemas dengan Fatimah.
"Tau ah."
Jawaban singkat itu tentu saja bom atom yang bisa meledak kapanpun jika Gus Ali tidak segera menyenangkan sang istri. Kata Abahnya marah sang istri harus disiram dengan keromantisan. Tapi Gus Ali jadi berpikir kalau setiap Fatimah marah, ia harus romantis maka ke depannya bisa saja Fatimah menuntut hal yang lebih. Dan itu akan berbahaya bagi Gus Ali.
Bukankah manusia tidak akan pernah puas dengan segala kenikmatan yang didapatkannya. Jadi lebih baik Gus Ali tidak melakukan apa yang disarankan Abahnya. Gus Ali tetap melajukan mobil. Pura-pura tidak peduli dengan Fatimah yang masih memanyunkan wajah.
"Ih, Mas kok nggak peka sih. Masak istrinya marah gitu dibiarin?" gumam Fatimah dalam hati. Ia menanti Gus Ali merayunya atau sekedar membujuknya untuk tersenyum. Tapi sayangnya hingga sampai di depan sebuah rumah sederhana di belakang kampus, Gus Ali sama sekali tidak menggubrisnya.
Setelah mobil berhenti, Fatimah segera keluar dari dalam mobil. Ia lalu meraih tasnya dan berjalan ke depan pintu. Sayangnya ia lupa kalau pintu itu pasti masih dikunci. Fatimah kembali manyun dan menanti Gus Ali yang membawa banyak tas ke depan pintu.
"Oalah, Fatimah. Istri Mas sayang. Mbok ya Mas kesulitan gini dibantuin," ujar Gus Ali saat dua ransel dan tas besar di tangannya jatuh saat ia mencari kunci rumah di dalam tas kecil.
Meski masih dengan diam saja, Fatimah maju dan meraih dua tas ransel miliknya. Bahkan ia membiarkan tas yang berisi baju Gus Ali tetap jatuh di depan pintu.
'Astaghfirullahalladzim,' desah Gus Ali dalam hati. Sepertinya ini peringatan pertama kalau ia tidak boleh membiarkan istrinya marah terlalu lama. Kalau tidak ya beginilah akibatnya. Ia yang kesulitan sendiri.
Setelah pintu dibuka, Fatimah segera masuk. Ia mencari kamar dan sedikit terkejut melihat ruangan sederhana ini tertata rapi. Ia heran karena tidak berantakan seperti kamarnya di ndalem.
Gus Ali yang membawa banyak tas tidak melihat kalau Fatimah berhenti di depan pintu. Keduanya bertubrukan dan jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah." Fatimah hanya beristighfar tanpa banyak berkomentar.
Ia begitu menyadari jika dalam kata-kata perempuan yang sedang marah, bisa saja banyak pedang yang menghunus hati yang mendengar. Fatimah berusaha diam agar bisa meredam emosinya sendiri.
"Ada apa Tim?" Gus Ali yang sudah tidak tahan dengan diamnya Fatimah. Rasanya kepala mau pecah kalau istrinya manyun. Belum lagi ditambah lelahnya perjalanan. Gus Ali jadi ingin marah juga. Tapi sehebat apapun akhlak seseorang, akan lebih baik jika bisa menahan amarah.
__ADS_1
"Maafkan saya jika ada kata-kata Mas ada yang melukai hati anti. Tapi tolong lihat kondisinya jika mau marah. Mas juga lelah nyetir dari pagi. Bagaimana kalau Mas juga terpancing marah?" ujar Gus Ali sedikit tegas. Ia hanya ingin Fatimah mengerti kalau ia harus bisa menempatkan diri.
Fatimah masih diam. Setelah mendengar ucapan suaminya itu, ia segera meraih tas ranselnya dan berjalan ke kamar. Sepertinya bukan kamar Gus Ali, melainkan kamar tamu karena kamarnya terlihat belum pernah digunakan.
"Tim, kamar saya ada di sana, ...."
Tanpa menghiraukan Gus Ali, Fatimah menutup kamar itu. Ia ingin menyendiri. Air matanya langsung jatuh perlahan. Fatimah juga tidak tahu mengapa rasa hatinya sangat sakit. Ia butuh waktu untuk menyendiri.
Sedangkan Gus Ali segera bangkit dan membawa tasnya ke kamarnya. Menghadapi Fatimah yang sedang dalam keadaan marah saja Gus Ali tidak bisa. Mungkinkah rumah tangga lain juga mengalami hal seperti ini? Atau hanya rumah tangganya? Gus Ali merenung dalam-dalam.
Pintu kamarnya sengaja ia buka, agar jika Fatimah keluar dari kamar tamu itu ia bisa melihat dan mengajak Fatimah berbincang.
Satu jam, dua jam. Kamar tempat Fatimah berada tidak juga terbuka. Gus Ali semakin kepikiran. Apa mungkin ini karena Fatimah lelah? Atau karena Fatimah masih abege labil? Gus Ali menerka-nerka.
Ia juga berusaha bermuhasabah jika ia sendiri suka terbawa emosi. Gampang tersulut amarah. Gus Ali harus meningkatkan kesabaran dan kesadaran dirinya. Barangkali jiwa mudanya belum terlalu siap menerima tugas baru sebagai suami, pemimpin. Tapi Gus Ali harus mulai menerima tanggung jawab itu.
Gus Ali terus menatap pintu yang tidak terbuka. Ia yang lelah karena menyetir, akhirnya tertidur.
Saat itu pintu terbuka, Fatimah sudah merasa lebih baik dari emosinya tadi. Melihat Gus Ali tertidur di kamar dengan pintu terbuka, Fatimah menghampiri suaminya.
Ia melekatkan pandangan pada sosok yang telah mengambil tanggungjawab atas dirinya itu. Fatimah tersentak dan tersadar jika apa yang ia lakukan itu salah. Sebagai seorang istri, nanti di hari akhir yang pertama ditanyakan setelah perkara sholat, tentu saja perkara hak suami yang ada pada ketaatan sang istri.
Fatimah mengecup kedua belah pipi suaminya. Sebelum akhirnya ia menyelimuti tubuh Gus Ali lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Suara adzan yang berkumandang dari handphone di nakas samping Gus Ali, membuat laki-laki itu segera terbangun. Ternyata sudah Ashar. Gus Ali kembali melihat pintu kamar tamu tempat Fatimah yang masih tertutup.
Gus Ali sama sekali tak sadar jika Fatimah sudah keluar dari kamar. Ia kira selama ia tidur tadi Fatimah masih di dalam kamar tamu itu.
Karena penasaran, akhirnya Gus Ali segera membersihkan diri lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu. Ternyata kamar itu tidak dikuncinya dan yang lebih mengejutkan lagi Fatimah tidak ada di sana.
Gus Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apalagi yang harus ia lakukan untuk menghadapi istrinya itu? Gus Ali berpikir keras. Saking kerasnya ia tak mengetahui kalau Fatimah ada di sampingnya dengan memakai mukena.
"Dor!"
Fatimah sengaja mengejutkan suaminya hingga Gus Ali terbentur kusen pintu. Melihat wajah meringis Gus Ali, kebahagiaan Fatimah langsung berubah menjadi kecemasan.
"Maafkan saya Mas." Air muka Fatimah langsung berubah murung. Apalagi melihat bekas merah di pelipis Gus Ali.
"Sudah tidak apa-apa, Tim. Maafkan Mas juga ya tadi marah-marah," balas Gus Ali mengambil kesempatan untuk berbaikan dengan Fatimah.
"Iya, Mas. Ayo kita sholat berjamaah," pinta Fatimah.
Keduanya sholat berjamaah dengan khusyuk. Meski pelipisnya sedikit memar dan benjol, Gus Ali merasa tak perlu ada yang disesali. Karena ia dan Fatimah kini telah berbaikan. Bagi Gus Ali itu saja sudah cukup.
"Mas, tolong ceritakan sebuah kisah." Setelah wirid dan akan beranjak dari sajadahnya.
"Bukan kisah, Tim. Tapi Mas punya nasehat yang bagus."
Fatimah menyimak perkataan Gus Ali. Baginya menimba ilmu sangat penting. Ia sendiri belum tentu paham hakikat ilmu.
"Amarah, itu seperti anjing, Tim. Anjing itu tempatnya di luar rumah. Untuk menjaga rumah. Lha kalau kita biarkan anjing itu masuk ke dalam rumah, ia akan mengambil makanan kita. Bahkan bisa saja ia buang air besar di dalam rumah." Gus Ali menjeda ceritanya. Melihat Fatimah antusias, Gus Ali tersenyum samar.
"Begitu juga dengan nafsu amarah. Sekali kita terbuai dengan nafsu amarah itu, maka nafsu itu akan menuntut lebih pada kita."
Fatimah mengangguk. Mengerti kemana arah pembicaraan Gus Ali. Ia sendiri tersadar kalau ia tak boleh terbawa amarah.
"Lalu obatnya marah apa, Mas?" Fatima tidak tahan untuk bertanya. Ia benar-benar ingin mendapat penawar dari amarahnya.
"Istighfar, Tim. Jangan dianggap Mas sudah sempurna atau baik, Mas juga masih perlu banyak belajar." Akhir Gus Ali lalu tersenyum melihat wajah teduh istrinya.
Dalam hati ia bersyukur karena telah berbaikan dengan Fatimah. Pikirannya sudah jauh sekali. Biarlah keromantisan Gus Ali hanya dirasakan oleh Fatimah. Gus Ali berusaha menahan diri untuk tidak bermanja pada istrinya. Apalagi besok adalah hari pertama mereka akan bertemu di kampus sebagai seorang dosen dan mahasiswi.
__ADS_1