
Pagi ini, Mega ingin bertemu dengan Ning Rere dan Gus Jaka. Ia ingin mengatakan yang sejujurnya. Mega berharap semua terjadi dengan lancar.
Tak lupa bibirnya terus beristighfar. Ia sudah membuat janji dengan sepasang suami istri itu di restoran dekat kampus. Kini Mega duduk sendirian, menanti Ning Rere dan Gus Jaka datang.
Duduk di tempat yang sama seperti saat pertama Ning Rere mendatanginya. Ingatan Mega kembali ke masa itu. Sekedar mengenang rasa bahagia namun juga penasaran karena yang datang bukan langsung lelaki yang ingin menikahinya.
Namun lewat peristiwa itu ia melihat hikmahnya. Yaitu Dika mengakui perasaan padanya. Dika bahkan melamarnya juga, walau ia sudah tahu kalau melamar di atas lamaran orang lain itu tidak diperbolehkan.
Mega hanya berusaha berkhusnuzon kepada takdir Allah. Jika dilihat dari kemanfaatan ia menikah, maka menikah dengan Dika adalah pilihan yang menurutnya tepat.
Dika dan dirinya sama-sama sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik. Dan jika mereka bersama, harapannya adalah agar mereka lebih Istiqomah.
"Afwan membuat anti menunggu lama, Meg. Kami baru selesai mengisi kajian." Ning Rere dan Gus Jaka akhirnya datang.
Keduanya duduk di hadapan Mega yang kini hanya bisa menunduk. Melihat wajah sepasang suami istri itu, hati Mega bergetar hebat. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk mengatakan semua yang sudah ia rencanakan.
"I, iya, Ning."
"Jadi ada apa anti ingin bertemu? Apakah anti sudah mantap menjawabnya?" Sejak semula memang selalu Ning Rere yang bicara.
Hal ini juga yang membuat Mega berpikir ulang. Ia kembali teringat mimpinya kala itu. Saat Dika berkata kepada Gus Jaka untuk tidak menikahinya hanya karena ingin menyenangkan hati istrinya.
"E, ana, ana ingin meminta maaf kepada Ning Rere dan Gus Jaka." Mega masih menunduk. Ini ia lakukan agar tidak terbebani saat melihat wajah kecewa sepasang suami istri itu.
"Kenapa, Meg? Anti baik-baik saja kan?" tanya Ning Rere lagi.
Mega menjadi berpikir jauh jika ia menikah dengan Gus Jaka, mungkin setiap hari mendapat kebawelan Ning Rere. Astaghfirullah. Mega telah berburuk sangka.
"Baik, Ning. Hanya saja ana merasa tidak akan mampu mengimbangi kualitas Ning dan Gus. Ana hanya seorang gadis yang ingin menjadi lebih baik, tapi ana ternyata tidak bisa memahami cinta kalian. Maafkan saya sekali lagi," jelas Mega berusaha menyelesaikan kegundahan hatinya.
"Oh, begitu." Komentar singkat Ning Rere itu dilanjutkan dengan tarikan napas panjang.
Mega sedikit menegang. Takut kalau perempuan itu tersakiti dengan kata-katanya. Padahal Mega hanya tidak ingin menjadi orang ketiga. Jika saat ini Ning Rere bisa menerima kehadirannya, apakah dirinya bisa menerima kehadiran Ning Rere?
Belum menjadi istri Gus Jaka saja Mega sudah merasa dadanya terbakar saat Ning Rere selalu berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ya sudah, Meg. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamilah yang harusnya meminta maaf karena terkesan memaksa anti." Kini Gus Jaka yang berbicara.
Mega melirik sebentar pria itu, namun saat sadar ia bukan apa-apanya, Mega langsung menundukkan pandangannya.
"Apa ada orang lain yang mengkhitbah anti, Meg?" Pertanyaan itu datangnya dari Ning Rere.
Mega tersentak. Ia tidak bisa menutupi keterkejutannya. Padahal ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa, tapi Ning Rere seolah bisa membaca pikiran.
Wajah kaget Mega seolah membenarkan apa dugaan Ning Rere.
"Ma, maaf, Ning. Iya benar, ada yang melamar ana selain anti."
Sebelum Ning Rere dan Gus Jaka datang, Mega akan berusaha menutupi tentang Dika yang melamarnya. Ini ia lakukan semata agar Dika tidak dianggap perebut jodoh orang.
Apa yang dilakukan Mega memang salah, tapi ia hanya ingin menjaga nama Dika sebagai calon suaminya.
"Dan lelaki yang melamar di atas lamaran saudaranya sendiri, itu yang anti pilih?" Suara Ning Rere tetap tenang, namun kata-katanya tajam.
"Ma, maaf, Ning. Yang melamar saya memang bukan orang yang Sholih seperti Ning dan Gus, dia hanya lelaki yang sedang memperbaiki diri. Jika saya menolaknya, ia mungkin akan putus asa dalam memperbaiki diri." Ucapan Mega kali ini membuat mata Ning Rere berembun.
"Ya sudah Mega, kami harus segera pamit. Kami ada acara setelah ini. Meski kami tidak berjodoh dengan anti, semoga silaturahmi tetap terjaga." Ning Rere buru-buru berpamitan.
Mega melihat raut wajah Ning Rere berubah, tapi wanita itu tetap tersenyum saat akan melangkah pergi.
Sesampainya di dalam mobil, Ning Rere duduk dan menenangkan hatinya yang kacau. Tak terasa air matanya kembali menetes. Hati Ning Rere terasa sesak. Berkali-kali ia menggulirkan biji tasbih. Berusaha menghadirkan Allah dalam hatinya agar lebih tenang.
"Sudah, Re. Jangan bersedih. Apapun yang terjadi hari ini adalah takdir Allah. Jangan menyalahkan diri lagi." Gus Jaka mengelus pundak istrinya yang berguncang karena tangis.
"Lihat hikmahnya, Re. Mega tidak memilih kita karena ia ingin membersamai orang yang sedang memperbaiki diri. Dia pasti melibatkan Allah dalam memilihnya, Re," lanjut Gus Jaka.
Ning Rere menoleh pada suaminya, hati yabg semula remuk kini sedikit terobati oleh kata-kata suaminya. Benar apa yang dikatakan Gus Jaka. Ini semua sudah takdir Allah.
Di restoran, Mega duduk memikirkan apa yang baru saja terlewat di hidupnya. Jodoh yang Sholih, barangkali hidup dengan orang Sholih sedangkan dirinya masih sangat jauh dari makna Sholih akan membuat dirinya tidak tenteram.
Mega mengambil handphone di tasnya, ia ingin menghubungi seseorang untuk datang ke sini. Ia mengembuskan napas panjang sebelum mengetik pesan yang akan ia kirimkan.
__ADS_1
||Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Kak Dika. Afwan Mega baru bisa menghubungi sekarang. Mega bersedia menjadi calon pendamping hidup kakak, tapi jika Kakak ingin menemui Mega, tolong bawa Fatimah dan Gus Ali. Jadi agar kita tidak hanya berdua.||
Mega menekan tombol send dan beberapa saat dua centang hitam itu berubah menjadi biru. Rupanya Dika sedang online. Mega terkejut, hatinya mendadak berbunga-bunga. Tak lupa ia membasahi bibirnya dengan kalimat Allah, agar hatinya kembali tunduk pada ketentuan Allah.
***
Saat mengantarkan rantang makanan kepada Tata, Haikal memberanikan diri untuk bertanya perihal perkataan Tata tempo hari.
"Apa Mbak serius dengan perkataan Mbak itu?" Sebenarnya Haikal menahan detakan di hatinya yang semakin menggila ketika melihat Tata.
"Perkataan yang mana?" Tata malah balik bertanya, membuat Haikal kelimpungan menjawabnya.
"Yang tempo hari sama Hilma di taman."
"Soal apa?"
Deg. Mulut Haikal terasa kelu. Sulit sekali menghadapi seorang wanita.
"So, soal keinginan Hilma punya Mbak seperti Mbak Tata." Haikal memberanikan diri mengatakannya walau sangat berat.
"Ha ha ha. Itukan cuma bercanda, Kal. Jangan dibawa baper ah," jawab Tata tak sadar jika lelaki di depannya berusaha keras memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Mbak, hal seperti itu bukan untuk bercandaan." Wajah Haikal berubah. Rahangnya sedikit mengeras menahan rasa kecewa dan marah di hatinya.
"Lalu gimana? Saya kan cuma menjawab asal."
"Asal Mbak tahu saja, ana sudah menaruh harapan kepada anti."
Tata terdiam. Ia baru pertama kali ini melihat wajah Haikal seperti ini. Ia tak menyangka jika lelaki yang lebih muda darinya itu sangat serius.
"Jika masalah hati saja Mbak tidak pernah serius, lalu untuk apa Mbak memiliki hati?"
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Haikal mengucapkan salam lalu berlalu dari hadapan Tata.
Sedangkan Tata masih mematung di tempatnya. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Haikal. Apa ia keterlaluan?
__ADS_1