Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Mood Swing = Petaka


__ADS_3

Hari ini aku hanya duduk di dipan kamar saja. Entahlah, perasaan ini tidak bisa kupahami. Aku bisa tiba-tiba sebal tanpa perlu alasan.


Apalagi sejak tadi Mas Adi tidak mengunjungiku sama sekali. Harusnya dia peka kalau seharian ini aku ingin dimanja. Harusnya dia datang kemarin untuk setidaknya membujukku untuk keluar.


Tiba-tiba saja pikiran buruk kembali menyerang pertahananku. Bagaimana kalau Sofia mencari cara untuk merebut Mas Adi? Bagaimana jika selama aku berada di ruangan ini ternyata Sofia berusaha mencari cara agar bisa berduaan dengan Mas Adi tanpa kuganggu?


Aku segera berdiri dan hendak keluar kamar. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika Sofia merayu Mas Adi? Bagaimana jika Rahman juga tidak menyadari perilaku menyimpang istrinya?


Ini petaka. Aku harus bergegas memperingatkan Rahman kalau istrinya itu akan berusaha merebut suamiku. Kakak iparnya sendiri.


Saat keluar dari kamar, aku tidak menemukan siapa-siapa. Kemana Mas Adi? Kemana juga Sofia? Atau jangan-jangan mereka berdua, ...


Sungguh aku tak habis pikir dengan Sofia. Rahman itu sudah baik akhlak dan wajahnya. Mau mencari yang bagaimana lagi sih?


Ngomong-ngomong sejak tadi mengurung diri di kamar, aku belum makan. Perutku terasa keroncongan. Astaghfirullah. Aku sudah zalim kepada calon anakku dengan Mas Adi. Bagaimana bisa ini?


"Makan dulu deh," ucapku sembari membuka tudung saji.


Mataku segera berbinar melihat ayam goreng dan lauk-pauk lainnya berada di atas piring. Langsung saja aku mengambil piring dan menikmati makan siangku.


"Ngomong-ngomong siapa yang masak ya? Apa mungkin Sofia? Atau Mas Adi? Kalau ini masakan Sofia gimana?" Nafsu makanku tiba-tiba sirna jika kembali teringat Sofia yang menggoda Mas Adi.


"Tapi sayang sih kalo nggak dimakan, udah terlanjur di piring. Pamali kalau nggak dimakan." Aku kembali berbicara sendiri. Dan memutuskan menghabiskan makanan di piring. Setelah itu aku harus menyelidiki siapa yang masak.


Lima belas menit, aku selesai mengunyah dan menelan semua makanan di piring. Bahkan piringnya juga sudah aku cuci bersih. Aku baru melangkah ingin kembali ke kamar lalu pintu depan terdengar berderit.

__ADS_1


Pikiran buruk kembali menyambangi. Siapakah yang pulang duluan? Apakah Mas Adi yang kuliah lalu kangen denganku sehingga memutuskan pulang, atau Sofia dan Rahman yang entah darimana aku tidak bisa menebak. Atau jangan-jangan malah Mas Adi dan Sofia yang baru pulang dari jalan berdua? Pikiran ini semakin membuatku emosi. Untunglah aku sudah makan. Jadi jika benar Mas Adi dan Sofia datang berdua aku bisa lebih bertenaga untuk memarahi keduanya.


Aku melangkah cepat ke ruang tamu. Terlihat Sofia baru masuk dengan membawa banyak sekali kantong belanjaan. Aku sampai melotot melihatnya.


"Eh, Afin."


Wajah Sofia terlihat menegang sesaat. Jangan-jangan benar dugaanku kalau Mas Adi ada main dengan Sofia sampai suamiku itu membelanjakan Sofia. Mataku sudah berkabut. Ingin marah, tapi yang ada aku malah sedih hingga air mata tumpah. Sofia terlihat bingung. Lalu bertanya padaku mengapa menangis.


"Anti jahat!" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Wajah Sofia mendadak pias. Aku tahu dia pasti merasa bersalah. Tapi aku sudah terlalu kecewa dengannya.


"Afin, anti nggak apa-apa?" tanyanya lalu maju dua langkah ke sampingku. Tapi aku menepis tangannya yang akan meraih pundakku.


"Kenapa anti tega merusak rumah tangga kakakmu sendiri ustazah Sofia? Kenapa? Apa salah ana?" Aku berkata dengan lantang. Sofia semakin terlihat kelimpungan. Dia pasti tidak menduga karena mendapat amukan dariku.


"Astaghfirullah, Afin istighfar. Afin istighfar." Dia meraih pundakku.


Sofia terlihat kebingungan. Dia mencari handphone di dalam tasnya, tapi aku segera menegurnya lagi. Rasanya walau aku memakinya takkan mengurangi rasa sakit hatiku karena Sofia diam-diam ada main dengan Mas Adi.


"Anti tadi keluar sama Mas Adi, kan?" tembakku dan Sofia tergagap akan menjawab. Benar dugaanku, pasti Mas Adi dan Sofia ada sesuatu.


"Katakan Sof, antara anti sama Mas Adi pasti ada sesuatu yang disembunyikan kan? Jawab!" Aku berteriak sambil menangis. Persis orang kesetanan. Astaghfirullah, kesetanan? Bahkan aku tidak pernah melihat setan. Kalau setan berwujud manusia pernah. Yaitu Sofia, perusak rumah tanggaku.


"Afin tenang dulu, ana bisa jelasin."


"La, anti jahat!"

__ADS_1


"Ada apa ini?" Rahman tiba-tiba masuk. Aku segera mendekat padanya untuk mengadukan perbuatan istrinya.


"Rahman lihat, antum lihat kan bagaimana kelakuan istri antum? Dia belanja sebanyak itu, ..."


"Ana yang membelanjakannya, Kak."


Aku melongo. Apa? Jadi Sofia pergi dengan Rahman? Otomatis aku melihat pintu yang masih terbuka. Barangkali aku lihat Mas Adi dari sini. Tapi nihil. Aku masih terdiam, memikirkan segala perkara yang sejak tadi aku lakukan.


Rahman mendekat pada Sofia. Keduanya tampak bersitatap lalu Rahman meminta undur diri. Keduanya lantas berjalan dan hilang di balik pintu kamar. Karena masih tak percaya, aku mengendap-endap mendekat pintu kamar mereka. Yang terdengar hanya suara Rahman. Dia berusaha menenangkan Sofia yang kuduga menangis. Reflek aku menyentuh mulutku. Astaghfirullah, sepertinya lisanku begitu kejam.


"Tenanglah, Sofia. Maafkan Afin." Suara lembut Rahman itu semakin membuatku merasa bersalah.


Sepertinya aku berhalusinasi dan apa yang aku katakan tadi di luar kendali. Aku sudah sangat menyakiti Sofia.


"Ana mohon, bawa ana pergi dari tempat ini. Meski tinggal di gubuk, ana mau." Sofia memohon dengan lirih bahkan hampir tidak terdengar.


Air mata kembali menetes membasahi pipiku. Astaghfirullah. Aku sudah sangat bersalah. Hanya karena pemikiranku sendiri aku melukai istri adikku. Yang pasti itu juga melukai hati adik suamiku. Astaghfirullah.


"Ana akan berusaha. Sekarang tenanglah, mungkin ini pengaruh hormon kehamilannya. Tolong anti sebagai sesama wanita berusaha mengerti." Rahman kembali menenangkan Sofia dan aku berjalan menjauh.


Aku masuk dan menutup pintu kamar. Kutumpahkan air mata di sini. Jika teringat kata-kata yang tadi aku lontarkan, pasti sangat menyakiti hati Sofia.


Aku menangis meraung-raung. Meratapi lemahnya imanku. Sampai-sampai hati ini mengeras. Begitu grusa-grusu mengambil keputusan. Otakku juga tak sempat memikirkan dahulu kata-kata yang akan terucap.


"Assalamualaikum." Mas Adi mengetuk pintu kamar. Aku merapikan diri lalu bergegas membuka pintu sembari menjawab salam.

__ADS_1


Setelah melihat wajah suamiku, aku langsung menghambur di pelukannya. Air mata kembali mengalir deras. Aku telah bersalah. Menuduh yang tidak beralasan. Dan sekarang aku mencipta tembok pemisah antara Mas Adi dan Rahman. Padahal mereka baru bertemu. Ya Allah aku sangat bersalah.


"Anti baik-baik saja, kan?" tanya Mas Adi dan aku belum bisa berkata apapun selain menangisi kesalahanku.


__ADS_2