
Di dalam restoran, mereka berempat memilih duduk di meja dekat jendela. Mega terpaksa mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Berita yang sudah sampai di posting akun lambe-lambean, pasti wajahnya dan Dika sudah tersebar dan banyak yang mengenali.
Baru saja duduk, mata Mega langsung tertuju pada meja di dekat mereka. Sebelum mengatakan apa yang dia lihat, Mega sengaja memastikan dulu. Ia memfokuskan matanya dan terbelalak saat menyadari kalau matanya kali ini pasti tidak salah lihat.
Mega menowel tangan Fatimah di sampingnya. Ia membisiki Fatimah bahwa wanita di dekat mereka itulah yang melabrak dirinya dan Dika. Wanita itu juga yang diduga simpanan Abah Fatimah.
Mata Fatimah langsung melihatnya, dan saat melihat lelaki di samping perempuan itu, Fatimah tidak bisa menutupi keterkejutannya. Wanita itu adalah wanita yang membantunya pulang dari kampus. Sedangkan lelaki yang bersamanya wajahnya sangat mirip dengan Abahnya. Hanya saja Fatimah tidak yakin akan hal itu.
"Ana nggak mungkin salah mengenali kan, Tim. Itu Abah anti. Ustaz Adi," kata Mega. Dengan suara yang jelas itu, Gus Ali dan Dika mendengarnya.
Kedua laki-laki itu juga menatap ke arah yang dimaksud Mega. Gus Ali sangat terkejut karena yang bersama perempuan itu memang persis Abah Adi. Tapi Gus Ali seperti tidak mengenali ayah mertuanya itu.
Sedangkan Dika fokus ke arah lain, saat seorang laki-laki datang dan langsung memeluk si perempuan yang dimaksud Mega dan Fatimah.
Tidak bisa tinggal diam, Dika langsung menuju meja itu. Emosinya tidak terbendung. Pertama perempuan itu yang membuat fitnah dirinya dan Mega viral dan dianggap benar. Kedua ayahnya Dika datang dan memeluk ibu-ibu itu. Bahkan Dika tidak pernah semarah ini.
"Kamu perempuan jahat. Jangan ganggu ayahku!" Dika langsung menggebrak meja, membuat Rahman, Sofia, dan Fahmi terkejut bukan main.
Semua pengunjung restoran melihat mereka. Beruntungnya tidak ada yang peduli. Mereka hanya melihat sekilas lalu fokus dengan urusan masing-masing.
"Dika, apa yang antum lakukan?"
"Abah, perempuan ini yang memfitnah aku dan Mega." Dika menuding ke arah Sofia dengan telunjuknya.
"Lalu dia juga berselingkuh dengan Abahnya Fatimah, lalu Abah juga termakan bujuk rayunya sampai lupa kalau ada umi," teriak Dika.
Melihat kekacauan yang dibuat Dika, Gus Ali tidak bisa tinggal diam. Dia menghampiri meja itu dan menahan Dika yang akan bertindak kasar kepada Sofia. Rahman juga tidak kalah sigap, ia menahan tangan Dika. Jadi kini Dika ditahan oleh dua lelaki yang tentunya membuatnya tidak bisa bergerak.
Gus Ali meski dengan menahan Dika, ia juga menatap ke arah orang yang membantunya menahan Dika. Dari dekat, laki-laki itu memang sangat mirip dengan Abah mertuanya. Tapi mengapa ia tidak mengenalinya?
__ADS_1
"Afwan, teman kami sedang terkena masalah." Gus Ali berkata dengan lirih.
Abah Fahmi yang melihat melirik Sofia. Sepertinya memang benar dugaannya kalau Sofialah yang melabrak Dika dan Mega.
Fatimah dan Mega juga mendatangi meja itu. Umi Sofia langsung mengenali keduanya. Ia tersenyum ke arah Fatimah.
"Anti yang waktu itu, kan?" Sofia bertanya kepada Fatimah.
"Abah, ini lho perempuan yang umi maksud tempo hari." Umi Sofia menyentuh pundak Fatimah lalu berbicara dengan suaminya.
"Sudah, Dika antum jangan banyak bicara dulu. Ini Abah juga ketemu Bulekmu mau nanya soal itu." Abah Fahmi berkata untuk memperjelas suasana.
"Bulek?" ulang Dika seolah tidak percaya.
"Iya, lihat wajah Bulekmu, jadi ketakutan gara-gara kamu marah-marah." Fahmi berdiri di samping Sofia. Saat mereka berdekatan begini, wajah keduanya banyak memiliki kesamaan.
"Maaf ya, Dik. Bulek asal nuduh saat itu." Sofia kini membuka suara. Sofia tidak malu mengaku salah. Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat klarifikasi mengenai video itu.
"Paklek Rahman?"
"Afwan, anti mengenal ana?" Rahman sedikit lupa dengan wajah keponakannya. Mereka sudah lama sekali tidak berkomunikasi.
"Itu Fatimah, Man. Yang Minggu depan resepsi." Kini seseorang keluar dari kamar mandi dan menatap mereka.
"Abah?" Fatimah langsung bergerak menghambur ke pelukan ayahnya. Untung saja Fatimah tidak gegabah. Mega jelas tidak tahu kalau Abahnya memiliki kembaran.
Kini tinggal Dika dan Gus Ali yang melongo tidak mengerti. Yang Dika tahu, wanita yang melabraknya adalah buleknya. Dan Abahnya Fatimah mirip dengan suami buleknya.
"Berarti aku dan Fatimah, ...." Kata-kata Dika menggantung.
__ADS_1
"Iya, kalian masih saudara." Abah Adi menimpali. Tidak menduga kalau keluarga besarnya kini bisa bertemu secara kebetulan.
"Sebentar, ustaz. Kalau ini Fatimah, berarti ini Gus Ali?" Abah Rahman menunjuk kepada Gus Ali yang diam saja sejak tadi.
Abah Adi mengangguk dan mendekati mantu kesayangannya itu. Lalu menanyakan kabar mereka.
"Oh, jadi ini dosen muda yang ana gantikan."
Mendengar ucapan Rahman, Gus Ali jadi menyadari sesuatu. Ternyata Pak Rahman, dosen yang akan menggantikannya adalah Paklek dari Fatimah.
"Pak Rahman dari Yaman?" Gus Ali mendongak, dan dibalas senyum oleh Rahman, adik dari ayah mertuanya.
Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Fatimah akhirnya bertemu dengan saudara kembar sang Abah. Ternyata yang namanya saudara kembar, ya memang wajahnya sama.
Pantas saja Mega sempat mengira ustaz Adi bersama wanita lain. Fatimah tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Mereka semua makan di meja yang sama. Tentu saja mereka semua akan menghadiri resepsi pernikahannya Minggu depan.
Melihat Gus Ali yang cepat akrab dengan saudara Abahnya, Fatimah tersenyum bahagia. Pun Mega, sahabatnya yang tadi sangat sedih, kini berangsur membaik.
Satu yang tidak disadari Fatimah, Mega terlihat mencuri pandang pada Dika. Dan Mega juga berusaha bersikap santun di hadapan Abah Fahmi, ayah dari Dika.
Selain makan, Dika, Mega, dan Sofia juga membuat video klarifikasi atas kabar yang beredar. Tak lupa mereka meminta maaf kepada masyarakat luas atas kabar yang membuat gempar itu.
Setelah video klarifikasi dibuat, mereka kira masalah sudah selesai. Dika dan Mega cukup lega bisa melewati ujian yang berat seperti ini. Mungkin pelajaran ini sangat berharga bagi mereka untuk lebih berhati-hati dengan sosial media. Untuk lebih berhati-hati saat berkata.
"Maafin Bulek ya, Dik. Gara-gara Bulek antum jadi sasaran nitijen." Sofia menyubit pipi keponakannya. Tidak kaget saat kakaknya, Fahmi, bercerita kalau anaknya itu bandel dan malas.
"Iya, Bulek. Tapi jangan cubit pipi Dika, dong. Sakit nih." Dika mengelus pipinya.
"Tapi kalo menurut Bulek, mending antum dinikahin. Biar ada yang ngatur. Sama kayak abahmu, kalau nggak ada Mbak Naf, bisa saja abahmu sekarang lebih bandel dari kamu," kisah Sofia diakhiri dengan tawa yang pecah diantara mereka.
__ADS_1
***