
Saat di parkiran, Dika dan keluarga baru saja keluar dari mobil. Melihat sekelebat Tata, Dika segera menyusulnya. Ia sudah sangat rindu dengan wanita itu. Wanita yang baginya setara dengan matahari. Sangat diperlukan kehadirannya demi kelangsungan hidupnya.
"Tata," panggilnya.
Tata yang sibuk menghapus air mata yang meluber setelah keluar dari acara pernikahan Gus Ali, menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah suara.
Sayangnya, setelah Dika muncul dengan usaha kerasnya untuk terlihat manis malah membuat Tata muak.
"Kamu diundang juga?" Tata sedikit heran bisa bertemu Dika di sini.
"Iya, aku masih saudara dekat dengan Fatimah."
"Oh."
Tata baru saja akan kembali berjalan meninggalkan Dika. Tapi Dika tidak tinggal diam, ia segera mensejajari langkah Tata. Tak peduli dengan tamu-tamu lainnya yang juga berada di parkiran.
"Kamu jangan kurang ajar ya, saya ini dosen kamu." Suara Tata terdengar judes. Beberapa orang yang lalu lalang sempat berhenti sebentar, tapi memilih meninggalkan mereka.
"Kan kalau di kampus, Ta. Kalau di sini kan bukan kampus." Dika tersenyum tengil. Wajah Tata yang marah malah terlihat cantik di matanya.
"Tata, ayo pulang." Suara itu adalah uminya Tata yang tiba-tiba muncul di samping mobil. Tata merasa terselamatkan dari laki-laki aneh itu.
Tapi bagi Dika, itu adalah bencana. Apalagi di hadapan ibu dari wanita yang sangat ia cintai. Ini artinya lampu hijau dari kedua orang tuanya Tata akan sulit ia dapatkan.
"Eh, kamu yang viral itu kan?" Uminya Tata melihat Dika dari atas kepala hingga ujung kaki. Ia bertambah yakin jika apa yang ia lihat itu benar.
Mulut Tata terbuka ingin bertanya maksud uminya, tapi ia segera menutup mulut saat uminya menjelaskan.
"Kamu sudah terkenal kemana-mana menghamili anak orang, eh malah menggoda anak saya. Lebih baik tanggungjawab dengan apa yang sudah kamu lakukan. Ayo Tata kita pulang." Uminya Tata meraih pergelangan tangan Tata lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Tata yang terkejut dengan apa yang dikatakan ibunya tadi hanya terdiam. Ia tidak menyangka jika Dika melakukan hal buruk seperti itu. Ia kira kehadiran Dika yang mengejarnya bisa menjadi penghibur kala ia mencoba bangkit dari keterpurukannya.
Ternyata dugaan Tata salah. Bahkan lelaki seperti Dika mampu merusak kehormatan perempuan. Semakin buruk gambaran lelaki di mata Tata. Mungkin hidup sendiri tidak begitu buruk untuknya. Tata menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Dika yang kesal karena berita viral itu masih menghantuinya, hanya bisa memukul udara. Dika berbalik dan melihat seorang lelaki di sana menatapnya.
"Apa Lo?" tantang Dika membuat Haikal yang sejak tadi melihat perlakuan Dika kepada Tata sedikit tersulut emosi.
Tapi dibanding membuat onar di acara Gus-nya, Haikal memilih menyingkir dari hadapan pria bar-bar itu.
Sedangkan di sisi lain, Mega menutup mulutnya. Tak pernah menyangka jika cinta Dika kepada Tata sedalam itu. Mega yang memperhatikan jelas, Dika merasa frustasi karena Tata terus menolaknya.
Akhirnya Dika menyusul keluarganya untuk masuk ke tempat acara. Dika berjalan santai. Saat menyadari kalau bisa saja banyak yang mengenalinya, Dika kembali ke mobilnya. Ia mengambil topi untuk menutupi wajahnya.
Ia tidak mau video viral itu semakin meluas dan mengganggu hidupnya. Hal ini ia pelajari dari Mega. Setelah Sofia dan Rahman turut ke rumah Mega, akhirnya mereka bersepakat untuk Mega mengenakan cadar.
Sesampai di pelaminan, Dika menyalami Gus Ali dan Fatimah. Gus Ali yang melihat Dika mengenakan topi, berusaha bercanda dengan sepupu istrinya itu.
"Nggak sopan ke acara orang pakai topi. Lepas aja topinya." Gus Ali mencoba menarik topi itu agar terlepas. Sayangnya Dika sudah memegangnya dengan sangat kuat.
"Udah, penganten nggak usah usil." Dika merengut. Ia masih kesal dengan kejadian di parkiran, kini malah dibuat semakin kesal.
"Eh, ana masih dosen antum lhoh. Hormati dong."
"Iyalah, sama mahasiswa seperti antum harus tegas."
"Kalo sama mahasiswi cantik kayak Fatimah ganjen," sindir Dika membuat Gus Ali terkikik.
"Kalo itu beda dong. Kan udah jadi istri. Emangnya antum ngejar Tata aja dicuekin mulu," balas Gus Ali membuat Dika semakin kesal.
"Taruhan yuk, kalo aku nggak bisa dapetin Tata, mobilku buat Pak Ali."
"Astaghfirullah halladzim. Mas Ali dan Dika nih apaan sih? Perempuan dijadikan taruhan. Dosa tahu?" omel Fatimah yang mendengar rencana gila sepupunya.
"Mas nggak ikutan lhoh, Tim. Tapi dia ini yang memang biangnya dosa. Bukannya tobat dan nikahin anak orang yang udah dicemarin nama baiknya, malah ngajak taruhan." Gus Ali bersidekap membuat Dika mendengus.
"Mega nggak aku apa-apain kok. Lagian aku nggak ada perasaan apapun sama Mega."
__ADS_1
"Jangan bilang gitu, nanti ada malaikat ternyata antum jodohnya Mega gimana?"
"Nggak mungkin."
"Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah berkehendak."
"Udah ah, laper. Tadi di rumah anti nggak ada makanan." Dika tidak menanggapi kata Gus Ali, lalu memilih turun dari pelaminan dan berjalan ke tempat makan.
Gus Ali dan Fatimah yang melihat hanya menggelengkan kepala. Mereka heran dengan lelaki model Dika. Tapi walau begitu mereka tidak boleh meremehkan. Gus Ali percaya setiap manusia akan dewasa di waktu yang tepat.
Setiap manusia juga pasti memiliki sisi baik, seburuk apapun perangainya. Karena hati manusia pasti akan berubah di setiap waktu.
"Mas kenapa sih suka banget gangguin Dika?" tanya Fatimah setelah mereka melihat Dika hilang di balik pintu.
"Dika itu sumbu pendek, Tim. Gampang bikin dia marah-marah."
"Tapi ya jangan gitu, dong Mas. Kan nggak enak sama Bulek dan Paklek."
"Iya, iya, sayang. Mas hanya bercanda. Berusaha mendekatkan diri dengan saudara."
Fatimah masih menyimpan rasa kesal. Ia menoleh ke arah lain dan terkejut melihat seorang wanita yang mengenakan cadar. Ia seperti mengenalnya, tapi Fatimah tidak pernah memiliki teman yang bercadar.
"Fatim, ini ana, Mega." Mega memeluk sahabatnya itu.
"Oh, anti? Ana kira siapa." Fatimah membalas pelukan Mega. Keduanya saling tersenyum. Mata Fatimah berkaca-kaca melihat Mega mengenakan cadar.
"Semoga Istiqomah, ya."
Fatimah terkejut saat Mega malah menggeleng. Dari matanya terlihat kurang bahagia. Padahal bagi Fatimah, memakai cadar dan busana syar'i itu tentunya perjuangan hijrah.
"Afwan, Tim. Ana merasa belum pantas memakai cadar. Apalagi hanya untuk menutupi aibku." Mega menunduk.
Gus Ali yang juga mendengar keluh kesah Mega, tapi ia menunggu saat yang tepat untuk ikut berbicara dengan mereka.
__ADS_1
"Tidak, Meg. Apapun yang dilakukan dengan niat karena Allah, pasti akan berdampak baik." Fatimah menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Ia merasa perlu membesarkan hati Mega. Ujian yang dihadapi Mega memang berat. Fatimah tidak tahu jika ujian seperti itu menimpa dirinya, mungkin dirinya tidak kuat.
Diam-diam Gus Ali tersenyum. Ia kagum dengan cara Fatimah membesarkan hati sahabatnya. Gus Ali merasa beruntung memiliki istri yang tidak hanya cantik di parasnya, tapi juga memiliki hati yang penuh empati.