
Di sepanjang perjalanan, Mega terus beristighfar. Dika yang menyetir dengan ugal-ugalan. Entah mengapa, Mega merasa ialah sumber kemarahan Dika. Ia ingin menangis, tapi urung karena berusaha terlihat biasa di depan ibu dan Buleknya Dika.
Mega tidak ingin memperkeruh keadaan. Jika ia menangis, pasti nanti Dika akan diomelin lagi. Dan Mega tidak ingin lelaki itu semakin membencinya.
Mega turun di depan kostnya, tak lupa ia berterimakasih kepada ibu dan Buleknya Dika yang menumpanginya hari ini. Saat tak sengaja mata Mega bertemu dengan manik hitam Dika, Mega langsung menunduk.
Ia melihat kebencian yang sangat besar di mata Dika. Hal yang membuat Mega sedikit takut jika bertemu lelaki itu.
"Ya sudah, Tante balik ya. Nanti kita kabar-kabaran lewat WhatsApp. Anti hati-hati ya," ujar umi Naf mengecup ujung kepala gadis bercadar itu. Mega sempat terdiam. Namun ia segera menguasai keadaan.
Setelah mobil berlalu, Mega segera masuk ke dalam kost. Ia beristirahat sebentar. Sebelum menyiapkan diri untuk kuliah esok.
Ia kembali teringat kalimat mamanya. Hal yang tak pernah Mega duga sebelumnya. Mamanya itu memintanya mendekati Dika. Padahal, Mega sendiri dengan matanya tahu jika Dika menyukai orang lain.
"Bersaing dengan Bu Tata? Apalah dayaku, Bu Tata cantik, baik, dan dari keluarga terhormat. Sedangkan aku hanya anak desa, mungkin lebih baik aku menerima tawaran mama untuk menikah dengan pilihannya." Mata Mega kembali mendung. Dadanya sesak. Hatinya terluka. Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Mega lalu teringat Fatimah. Ia baru mengetik di handphonenya, panjang lebar ia ceritakan keluh kesahnya. Tapi mengingat Fatimah masih menikmati waktu sebagai pengantin baru, Mega urung mengirimnya. Dan memilih menghapusnya.
Sedangkan di seberang, Fatimah yang juga sedang memegang handphone, melihat nama Mega sedang mengetik. Fatimah menunggu, mungkin sahabatnya itu sedang ada masalah atau ada yang ingin disampaikan.
Lima menit menunggu, tulisan sedang mengetik berwarna hijau itu hilang dan tidak ada pesan masuk ke handphone Fatimah. Matanya langsung menelisik.
"Liatin handphone kok sampe begitu sih, Tim?" tegur Gus Ali yang sejak tadi memperhatikan istrinya memegang benda pipih itu.
"Ini lho, Mas. Mega habis ngetik kok nggak jadi dikirim. Ana jadi cemas ada sesuatu sama Mega." Fatimah memperlihatkan layar handphonenya.
"Mungkin nggak jadi," balas Gus Ali sekenanya.
"Saya kenal Mega Mas. Biasanya kalau dia ngetik lama banget itu dia mau curhat, lagi ada masalah."
"Kalau gitu ya anti telpon aja, tanya kabarnya. Gitu aja kok repot, Tim." Gus Ali gemas dengan wajah manyun istrinya. Ia berdiri lalu berjalan kepada istrinya.
__ADS_1
Setelah terdiam sesaat, Fatimah meyakinkan dirinya untuk menelpon Mega. Barangkali sahabatnya itu sedang butuh tempat bercerita. Seperti dirinya yang juga selalu butuh tempat berdiskusi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Fatimah ada apa tumben nelpon?" tanya Mega terkejut sahabatnya itu menelponnya. Ia langsung teringat jika beberapa menit lalu ia mengetik curahan hatinya, tapi kembali menghapusnya.
"Anti baik-baik saja, kan Meg?" tembak Fatimah langsung. Di seberang tentu saja Mega merasa sahabatnya itu pasti sudah punya feeling tentang dirinya.
"E, enggak, Tim. Ana nggak baik-baik saja." Akhirnya Mega mengaku. Ia menceritakan semua. Tentang bagaimana mamanya memintanya segera menikah agar memperbaiki kehormatannya, lalu juga tentang ia mendengar bahwa Dika sangat membencinya.
"Ana merasa sakit hati banget karena Kak Dika bilang dia benci sama ana, Tim." Keluh Mega mengurai beban di hatinya.
"Anti suka sama Dika?" tanya Fatimah tidak banyak basa-basi.
"E, enggak tahu, Tim." Hanya itu yang bisa dikatakan Mega karena memang ia sedang merasa sangat buruk.
"Jujur aja, Meg sama perasaan anti sendiri."
Fatimah yang mendengar jika sahabatnya ternyata tidak memiliki perasaan kepada sepupunya, merasa sedikit kecewa. Ia mengira Mega akan menjawab menyukai Dika, jadi ia memiliki alasan untuk mengajukan Mega pada kedua Bulek dan Paklek nya.
Sayangnya, pengakuan Mega kali ini membuatnya sedikit bingung. Jika Mega tidak menyukai Dika, mengapa Mega terlihat selalu menyebut nama itu? Fatimah bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Ka kalau begitu, nanti ana coba bicara dengan mama anti, Meg. Siapa tahu mama anti terketuk hatinya."
Mega menutup mulutnya untuk menahan tangis yang sudah di ujung matanya. Hal yang tak ia mengerti adalah mengapa ia mengatakan kalau ia tidak menyukai Dika, entah apa yang membuatnya sangat menyesak saat Dika membencinya.
"Sekarang anti fokus kuliah, ya. Jangan lupa perbanyak ibadah, mendekat kepada Allah. Agar diberi petunjuk terbaik untuk hidup anti." Fatimah menasehati. Ia merasakan keterpurukan Mega saat didesak untuk menikah.
Ia sendiri dulunya begitu takut untuk menikah. Entah bagaimana hidupnya jika bukan Gus Ali yang menjadi suaminya. Mengingat perjalanan itu, Fatimah merasa Mega pasti belum mampu seperti dirinya.
Bukan berarti Fatimah menyanjung dirinya sendiri, tapi memang menurutnya, Mega belum bisa ikhlas jika nanti akan dinikahkan dengan laki-laki yang tidak ia kenal.
__ADS_1
Fatimah segera bersiap untuk bersilaturahmi ke rumah orang tua Mega. Sedangkan Mega sendiri hanya bisa menangisi nasipnya.
Cukup lama, Mega merenung hingga menangis dan ia kembali menjadi kuat. Memang kadang menangis itu sebuah keharusan. Daripada memikirkan masalahnya, Mega memilih segera membersihkan diri, lalu belajar.
Sampai waktu terus berputar. Mega sudah bersiap tidur, saat panggilan masuk ke handphonenya. Melihat nama Fatimah, Mega buru buru mengangkatnya.
"Ana sudah berbicara dengan mama anti, Meg," kata Fatimah membuat Mega membulatkan matanya. Ia terkejut sekaligus terharu karena sahabatnya itu sangat peduli padanya.
"Allahu Karim, jadi anti sudah ke rumah, Tim?"
"Iya, Meg. Tapi, ...."
"Tapi kenapa, Tim?"
"Afwan ya, ana nggak bisa meluluhkan hati mama anti. Ana cuma bisa memberi waktu kepada anti untuk menemukan sendiri sosok yang akan anti nikahi."
Mega menghela napas. Hatinya yang berusaha keras melupakan masalah itu, mulai sedikit kesal. Tapi detik selanjutnya ia segera beristighfar.
Menyadari semua ini sudah ada yang mengatur, dan ia hanya boneka kecil yang harus manut kepada sang dalang. Mega menghirup napas dalam sebelum menanggapi kalimat sahabatnya itu.
"Makasih banyak ya, Tim. Ana sering banget ngerepotin anti."
"Nggak apa-apa, Meg. Selagi ana mampu, ana akan selalu membantu kesulitan anti. Sayangnya kali ini ana nggak berhasil."
"Enggak apa-apa, Tim. Ini sudah lebih dari cukup. Biar ana belajar sabar dan tawakal setelah ini."
"Alhamdulillah kalau anti berpikir begitu, Meg. Ana jadi lega dengarnya."
Keduanya lalu berbasa-basi sebentar, lalu akhirnya menutup telepon. Mega segera beristirahat.
Esok adalah hari yang berat, ia merasa akan sedikit sulit melupakan Dika. Mega jadi menyadari jika ia sebenarnya menaruh harapan pada Dika. Hanya saja hatinya tak mau mengakui.
__ADS_1