Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Kerajaan Kasih Sayang


__ADS_3

"Jadi, benar kau ini istri mendiang Mas Syams yang dinikahi Mas Adi?"


Rahman mendelik seakan tidak percaya. Aku mengangguk. Setelah mendapat suntikkan obat penenang aku terlelap. Baru 15 menit lalu aku terjaga kembali dan aku putuskan menceritakan kegelisahan yang membelengguku sejak pertama kali melihat wajah Rahman.


Setelah mendengar kisahku tentang dua bersaudara Syams dan Mas Adi, Rahman gantian menceritakan tentang dirinya.


Ternyata ia adalah bungsu dari 3 bersaudara itu. Mereka memang terlahir kembar identik tiga atau yang lazim disebut triplet. Bayi kembar tiga itu hidup saling terpisah karena kedua orang tuanya yang pada saat itu masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan. Syams lah yang diasuh oleh Abi dan Umi kandungnya, sedangkan Mas Adi dan Rahman saling terpisah.


Mas Adi diasuh oleh salah seorang jamaah perempuan yang begitu mendambakan anak. Aku heran, hal sebesar ini mengapa Mas Adi belum pernah menceritakannya? Apakah aku tidak berhak tahu tentang ini? Jujur saja rasa kecewa dan kesedihan merayap halus di dinding hati.


Mengapa aku harus mengetahui asal usul dan kisah hidup suamiku dari orang lain? Mengapa bukan suamiku sendiri yang menceritakannya? Apakah Mas Adi tidak mempercayaiku?


"Mbak? Mbak Afin melamun?"


Rahman memanggilku dengan sebutan 'Mbak' setelah mengetahui bahwa aku ini kakak iparnya. Aku menggelengkan kepala.


Kembali menatapnya, aku masih ingin mendengar banyak cerita tentang kehidupan suamiku dan keluarganya yang ternyata salah satu pemilik pondok pesantren di Jawa Timur. Walau mereka hidup terpisah, ketiganya mampu menjadi hafidz yang patuh dan akhirnya setelah lama tidak berjumpa.


Mereka dipertemukan di Yaman, tepatnya di Universitas Al-Amin. Aku tertegun saat mendengar cerita itu.


"Kami bertiga baru mengetahui jika kami saudara kembar saat kami bertemu di Al-Amin, tahukah mbak bagaimana perasaan kami saat itu? Campur aduk, ada sedih dan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."


Rahman terlihat menitikkan air mata saat menceritakan keharuannya saat bertemu kedua saudara kembarnya. Tanpa sadar, mataku pun ikut berembun membayangkan ketiga saudara sedarah yang terpisah bertahun-tahun lamanya akhirnya bertemu kembali.


Baru saja Rahman membuka mulutnya untuk melanjutkan cerita, tapi suara dering handphone menghentikan ceritanya. Laki-laki tegap dengan perbedaan paling mencolok karena ada tahilalat di dagunya itu segera mengusap layar pipih handphonenya.


"Dari Mas Adi," senyumnya berkembang.


"Tolong jangan bilang aku di sini," perintahku segera.


Jika mengingat apa yang menyebabkanku kabur dari rumah, hatiku kembali menjadi sakit. Aku benar-benar belum siap bertemu Mas Adi.

__ADS_1


"Kenapa harus berbohong, Mbak? Apakah kalian sedang ada masalah? Afwan mbak, bukan ana mau menggurui, tapi sebaiknya Mas Adi tahu posisi Mbak Afin sekarang." Jelas Rahman, membuat jantungku kembali berdentum-dentum.


Tidak mungkin aku menceritakan tentang masalah rumah tangga kami, ini adalah aib dan seorang istri harus pandai menyimpan aib keluarganya. Tapi sungguh, aku belum siap jika bertemu dengan Mas Adi.


Jika teringat kebahagiaan dan kedekatan Mas Adi dengan Ustazah Sofia, dadaku nyeri sekali. Bahkan lebih sakit dari kepalaku yang ternyata harus dibedah sedikit.


"Jika memang ada masalah, selesaikanlah berdua mbak. Jangan berlari atau menghindar, hadapilah." Ungkapan Rahman itu segera merasuk ke otak dan hati. Ya, nasehatnya benar juga. Sejauh apapun aku berlari, nanti aku harus menghadapi dan menyelesaikannya. Cepat atau lambat, Mas Adi akan menemukan keberadaanku karena tanpa terasa hari semakin gelap. Entah suamiku itu jadi menginap di rumah sakit bersama ustazah Sofia atau ia pulang ke rumah dan tidak menemukanku. Kalau pun ia mencoba menghubungi nomorku, pasti takkan tersambung karena handphone itu telah rusak saat aku tertabrak mobil tadi.


"Biarkan aku menenangkan diri dulu, kalau sudah siap aku akan segera menemui Mas Adi. Aku harap kamu mengerti." Jawabku singkat, memohon pengertian Rahman.


Mungkin melihat kondisiku Rahman mulai mengerti kerumitan masalah rumah tangga kami. Laki-laki itu menerima teleponnya tanpa menyinggung sedikitpun tentang aku.


"Assalamualaikum, Mas Adi, kaifa haluka?" Aku hanya memperhatikan percakapan kedua kakak adik itu. Rahman melirikku beberapa saat, mungkin kakaknya sedang menanyakan sesuatu tentang aku. Tapi bukankah Mas Adi belum mengenalkan ku pada adiknya ini? Dahiku mengerut. Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Mas Adi dan Rahman.


Baru setelah Rahman menutup telepon dan meletakkan kembali benda itu ke sakunya, aku bersiap mengatakan sesuatu padanya. Setidaknya aku penasaran apa yang Mas Adi katakan.


"Mbak, Mas Adi mencarimu. Bahkan ia memintaku datang ke rumah untuk membantunya mencarimu." Kata-kata yang tadi siap meluncur, tiba-tiba kutelan kembali.


"Mas Adi sangat peduli padamu, mbak. Jangan ragukan kesetiaannya." Aku mendelik, Rahman dapat membaca pikiranku. Dengan cepat kuarahkan pandangan menghindarinya.


"Jika waktunya sudah tepat, aku akan pulang." Lirihku tanpa memandangnya. Mataku malah melirik selang infus yang kini menancap di pergelangan tangan.


*****


Hari berganti, aku menguap dan tidak lupa mengucapkan Alhamdulillah. Allah masih memberiku umur hingga detik ini. Pun aku tidak bisa menerka sampai kapan napas ini masih berhembus.


Bismillahitawakaltualallah, bisiknya pelan sambil menutup mataku. Hari ini, aku akan keluar dari rumah sakit. Sungguh rasanya aku tidak sabar untuk pulang dan menemui suamiku. Sudah cukup tiga hari aku menjauh darinya. Kini aku benar-benar siap menemuinya. Toh aku telah mendengar cerita dari Rahman bagaimana kesedihan Mas Adi tanpa kehadiranku. Bahkan ia berani menjamin cinta Mas Adi padaku. Rahman selalu meyakinkanku untuk kembali pada suamiku.


"Aku pulang, Mas." Lirihku memecah keheningan pagi ini.


Rindu, akupun merasakan deraannya yang begitu memilukan. Selalu terlintas saat bersama Mas Adi. Senyumnya, caranya berkata-kata, dan saat kami bersama beribadah.

__ADS_1


Memang jarak adalah sebuah ujian untuk tetap setia dan percaya pada qadarullah.


Aku bangkit dari ranjang dan merapikan diri. Mungkin Rahman sebentar lagi akan menjemputmu untuk mengantarku kembali ke rumah. Berkali-kali aku harus mengembuskan napas dalam untuk menstabilkan detak jantung. Ya, aku sudah sangat rindu kepada Mas Adi. Aku ingin kembali menjalani hari-hari bersamanya.


"Assalamualaikum," kepala Rahman muncul dari pintu. Ku sambut dengan senyuman.


"Sudah siap pulang Mbak?" Rahman melirikku yang sudah beres memasukkan barang-barangku. Aku mengangguk sambil tangan ini bergerak menutup resleting tas.


Kuhadapkan diri padanya. Setelah merapihkan Khimar yang aku gunakan, aku bergerak membuntuti Rahman yang sudah berjalan ke arah resepsionis menyelesaikan administrasi perawatanku selama tiga hari ini.


Akhirnya, aku akan berjumpa lagi dengan Mas Adi, suamiku. Kini aku telah duduk di samping Rahman yang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalan kota Tarim. Semakin dekat jarak rumah, semakin jantungku berdetak tidak karuan.


Satu jam kemudian, mobil yang aku tumpangi telah berhenti di depan sebuah rumah yang kusebut kerajaan kasih sayang. Ya, kasih sayang Mas Adi padaku.


Rumah yang penuh dengan kenangan kami. Memang sejujurnya aku telah mencintainya. Pikiranku yang sempat keruh kini mulai jernih. Aku sudah sangat berdosa karena meragukan cinta suami. Meski aku pun belum tahu alasan Mas Adi dekat dengan ustazah Sofia. Aku berjanji akan meminta maaf kepada Mas Adi karena telah berburuk sangka kepadanya. Tapi aku juga akan menuntut penjelasan nya secara rinci.


Aku mulai membuka pintu mobil Rahman, dengan tergesa aku berjalan menuju rumah. Aku sudah tidak bisa sabar untuk memeluk suamiku. Tanganku beberapa kali menekan bel, tapi tidak ada sahutan. Akhirnya aku mencari kunci rumah ini yang berada di bawah pot bunga. Ya, kami sengaja meletakkan kunci itu di tempat yang kira-kira tidak mudah ditebak orang. Kunci rumah ada di sana, aku segera membuka pintu dan mengedarkan pandangan. Kemana Mas Adi?


Tak biasanya suamiku sudah tidak di rumah saat jam masih menunjukkan pukul 09.00. Tanpa sadar Rahman telah ada di sampingku. Entah kapan ia menyusul ku. Aku tidak tahu.


Aku berdecak sebal. Rasa rindu ini sudah sampai ubun-ubun. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Setelah memastikan Mas Adi tidak berada di rumah, aku menjatuhkan diri di atas sofa.


"Aku coba hubungi nomor Mas Adi dari tadi tidak terhubung, mbak." Rahman duduk di sofa depanku, tangannya masih terus sibuk mengusap layar telepon untuk menelpon Mas Adi.


Kring, suara telepon rumah menyadarkan lamunanku. Untung saja meja kecil itu berada tepat di sampingku. Dengan sedikit mencondongkan tubuh, aku meraih gagang telepon.


"Halo, assalamualaikum," aku menunggu respon dari penelpon. Sedetik kemudian terdengar suara orang lain yang tidak aku kenali. Ia bertanya apakah benar ini rumah Mas Adi.


"Na'am, ana Alfiana Nurrizki," aku memasang telinga baik-baik. Siapa tahu ini sangat penting.


"Tuan Syamsul Hadi ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka tusuk di bagian bahu, kini ia dirawat di rumah sakit." Tulang belulangku seolah dilolosi satu persatu. Lemas sekali, aku shock mendengar kata laki-laki yang ternyata seorang resepsionis di rumah sakit tempat Mas Adi dirawat.

__ADS_1


__ADS_2