
"Lalu bagaimana?" tanyaku frustasi.
Menghadapi Afin perlu kesabaran tingkat tinggi. Jangan sampai kata-kataku menyakitinya. Dia sedang dalam masa sulit.
"Entahlah."
Deg. Aku menggaruk dahi. Rasanya kualahan menghadapinya.
"Anti inginnya bagaimana?" Aku mencoba lagi bertanya dengan nada yang lebih lembut.
"Kangen umi."
Setelah mengatakan keinginannya, aku lihat setetes bening air mata kembali terjatuh dari kelopak matanya.
Aku menghela napas dalam. Sebenarnya aku ingin mengatakan permasalahan yang dihadapi Mas Rois, tapi takutnya Afin malah salah paham.
Mungkin lebih baik aku sembunyikan dulu. Nanti kalau Afin sudah mereda, baru aku katakan dengan lebih hati-hati.
"Ada yang ingin Mas katakan?" tanya Afin. Seketika aku gagap untuk mengatakan tidak.
Tapi menatap manik hitam istriku yang menyelidik seperti ini membuatku sedikit cemas kalau-kalau sebenarnya Afin mengikutiku.
Ah, mungkin hanya perasaanku. Jadi aku berusaha menyingkirkan perasaan tak enak itu.
"Ti, tidak."
"Kok wajah Mas Adi jadi bingung gitu?" desak Afin lagi.
Aku segera menggeleng. Tidak ingin Afin semakin curiga.
"Mas, ingat Maryam teman ana dulu?" lanjut Afin.
Untunglah dia membahas topik lain, aku bisa bernapas lega sekarang.
"Naam, bagaimana kabarnya sekarang?" timpalku dengan merilekskan punggung.
Aku siap mendengar cerita apa yang akan dikisahkan istri tersayangku ini. Jangan baper, ini bukan pertama kali. Aku memang menyediakan waktu luang untuk mendengar keluh kesah Afin.
Semata-mata untuk membuatnya lega. Setahuku wanita memerlukan berbicara 7000 kata per hari agar tidak stres. Walau aku sedang lelah, aku tetap berusaha mendengar keluh kesah atau apapun yang ingin ia ceritakan.
"Maryam dipoligami, Mas."
Aku tersentak. Sesama perempuan pasti Afin merasakan kesedihan saat mengetahui salah satu temanya harus berbagi suami.
Wanita memang makhluk yang unik. Meski bukan dia yang mengalami tapi dia bisa turut merasakannya.
__ADS_1
Makanya jangan heran kalau dia bisa tiba-tiba menangis kalau menonton drama Korea yang sedih-sedih.
"Lalu?" tanyaku pelan.
Rasanya ingin membanting tubuhku ke tembok karena dengan bodohnya aku bertanya lebih lanjut.
Dan benar saja wajah Afin berubah garang. Jangan sampai Afin menerkamku kali ini.
"Maksudku, benarkah?" Aku meralat pertanyaanku sebelum mata Afin semakin menyeramkan.
"Apa Mas juga pengen poligami?" tanyanya sambil mendekatkan wajah di depanku.
Apa-apaan ini? Afin menjebakku?
Seketika aku memutar otak, mencari alasan yang masuk akal. Sesuai kitab yang sering aku kaji.
"Ehem. Poligami tidak dilarang, kan, Fin? ...."
"Tuh kan Mas Adi mau poligami, hiks hiks." Afin bergerak menjauh dengan wajah ditekuk.
Mati aku. Salah ngomong lagi.
"Bukan itu maksud ana, Fin. Poligami itu dilakukan jika memang mampu. Kalau tidak mampu ya jangan coba-coba."
Berusaha membela diri rupanya tidak berhasil. Wajah Afin kembali garang. Persis induk harimau menerkam mangsanya.
Yaa Rabb, bagaimana cara menerangkan padanya? Tiba-tiba aku teringat ayat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang poligami.
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [An-Nisa/4 : 3]
"Tapi kan laki-laki tidak bisa berbuat adil?"
Aku terkejut, Afin berkata dengan nada meninggi. Yang berarti di hatinya tidak bisa menerima penjelasanku.
"Adil yang seperti apa?" balasku.
Entah mengapa aku merasa istriku sudah berubah. Pemahamannya mulai menyimpang. Apalagi tentang syariah yang sesungguhnya merujuk pada Al-Qur'an dan hadits. Astaghfirullahalladzim, aku berburuk sangka pada Afin.
"Adil bukan berarti disamakan, Fin. Hakikatnya adil itu tidak begitu."
Dada Afin terlihat naik turun. Mungkin sedikit tertekan dengan keterangan itu. Tapi apa yang Haq dan bathil memang harus disampaikan.
Agar berpikir dan mengambil pelajaran dari setiap perbuatan.
"Allah meletakkan adil itu bukan berarti sama. Lihat pohon ceri, buahnya kecil tapi pohonnya begitu kokoh dan tinggi. Sedangkan semangka, buahnya besar tapi pohonnya merambat. Apa itu adil?" pancingku.
__ADS_1
Afin menatapku tidak mengerti. Aku berancang-ancang meneruskan kalimatku.
"Allah menempatkan keadilan itu bukan pada kesamaan, Fin. Tapi sesuai kebutuhan. Tanaman semangka merambat, agar buahnya berada di bawah. Agar mudah dipetik. Bayangkan jika pohon semangka begitu besar dan tinggi, saat ia matang tak sengaja jatuh dan menimpa kepalamu."
Afin melotot. Aku sengaja memberi candaan di akhir kalimat agar mencairkan suasana. Tanganku bergerak mengelus puncak kepalanya.
"Kepala ini kan bisa gegar otak."
"Oh, begitu ya, Mas."
Afin menunduk. Aku senang melihatnya berpikir dalam seperti itu. Barangkali aku kurang memerhatikan bahan bacaan Afin hingga ia bisa tersesat kepada pemahaman yang kurang benar.
"Poligami itu Sunnah bagi yang mampu. Kita tidak boleh mencelanya. Bagi kita yang belum mampu istri satu saja kualahan."
Wajah Afin yang antusias begitu menggemaskan. Tanganku bergerak meraih kedua pipinya lalu mencubit lembut pipi yang mulai gembul itu.
Mungkin nanti semakin besar kehamilannya, ia akan semakin gemuk. Ah, tak apa. Demi zuriat. Dan tak lupa aku kembali mengingat bahwa anak adalah amanah dan titipan.
Amanah yang berarti aku dan Afin sebagai orang tua berkewajiban memberinya nafkah lahir dan bathin. Titipan, harus ikhlas dan tawakal apapun yang terjadi nanti. Kalau harapanku sebagai manusia pasti ingin anak dan istriku sehat serta selamat.
Tapi Wallahu'alam. Semua masih menjadi misteri bagi manusia. Hanya di atas lauhul Mahfuz sana semua tertulis. Jodoh, rezeki, dan maut.
"Afwan, Mas. Ana tadi baper." Afin kembali menunduk.
Aku rasa sejak hamil, Afin jadi lebih pendiam. Aku merasa hari-hariku menjadi lebih sepi saat seorang istri berkurang keceriaannya. Mungkin dia masih terpengaruh hormon kehamilan.
Aku tak menjawab lagi. Hanya menggeleng kecil. Semoga Allah selalu memberkahi setiap apa yang kami lakukan di dunia ini sebagai sarana ibadah.
"Habisnya, Mas Rois nyuruh Mas menikahi Mbak Nusaibah, ...."
Aku langsung menoleh ke arah Afin yang langsung menutup mulutnya dengan tangan. Jadi Afin benar-benar mengikutiku? Jadi Afin yang membuat pot di depan rumah Mas Rois jatuh dan kami hanya mengira kucing.
"Jadi anti kucingnya?" tanyaku mencubit hidung Afin.
Ternyata instingku sebagai seorang suami belum terasah. Bahkan aku tidak bisa mengetahui kalau Afin ada di sekitarku. Benar-benar tidak peka.
"Nikah muhallil kan dibolehkan, Mas? Kenapa Mas menolak?"
Aku berdehem. Untunglah Afin menguping tidak setengah-setengah. Jadi penolakanku dia juga tahu. Baguslah. Dia memang penguntit yang baik. Pencuri dengar yang maksimal. Hehe.
"Ana tidak akan melakukannya, karena bagi ana, satu istri yang patuh dan penyayang seperti anti sudah cukup bagi manusia yang tidak sempurna ini," rayuku sembari meraih kedua telapak tangannya.
Berhasil. Afin mendekat dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Tapi jika nanti Mas jatuh cinta lagi, lebih baik Mas menikah lagi daripada berselingkuh."
__ADS_1
Alisku tertaut. Terkejut dengan kalimat terakhir Afin. Apa Afin masih begitu mencurigaiku mencintai wanita lain?