
Mataku masih terasa panas. ternyata telah lama aku menangisi ketidakmampuan hatiku menerima takdir Allah. Kini aku telah berada jauh dari kedua orang tuaku.
Air mata seakan tidak mau berhenti mengalir, dan ingatan terus memutar ulang kebersamaan dengan abi, umi. Wajah mereka berdua terus menghias pelupuk mata.
Di dalam pesawat menuju Yaman, aku duduk di sebuah kursi berwarna cokelat muda. Syams duduk di sampingku. Dia sedang sibuk membaca buku tebal berbahasa Arab.
Barangkali dia tidak menyadari tangis dan kesedihan yang melingkupi istrinya. Ah, apa pedulinya. Bukankah laki-laki tidak suka terbawa perasaan?
Aku menoleh ke arah jendela kaca yang memperlihatkan bongkahan awan dan daratan yang terlihat bak replika kota. Warna biru yang luas pastilah samudra.
Kesedihan kembali menguar, perpisahan ini membebani hati dan pikiranku. Bagaimana jika nanti di Yaman aku masih saja bersedih dan tidak konsentrasi menuntut ilmu? Pikiranku mulai berputar-putar.
Aku mulai ragu dengan langkah yang telah kuambil sendiri. Aku terkejut di saat Syams tiba-tiba menyentuh kedua pipiku dan ditatapnya mataku dalam-dalam.
Dia menggeleng, dengan suara yang halus dia menenangkanku yang rapuh ini.
"Tenanglah, sayang. Ikhlaslah agar hatimu tenang dan tawakal kepada Allah."
Kalimatnya teduh dan mengirimkan atmosfer ketenangan ke hatiku. Air mataku luruh sekali lagi. Rasanya sesak sekali.
Aku tidak berdaya dengan segala kegundahan yang mencoba meruntuhkan tekadku menuntut ilmu.
'Benar kata Syams, mungkin aku kurang tawakal dan ikhlas,' aku membenarkan kalimatnya tadi.
Tapi mengapa semua terasa sulit? Tangan Syams merogoh saku jaketnya dan menggenggamkan sesuatu di tanganku. Sebuah tasbih. Aku mengernyit heran.
"Tasbih cinta penjaga," kata Syams singkat.
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS ar-Ra'du:28).
Aku masih tertegun beberapa saat, meresapi ayat yang diungkapkan Syams. Sungguh benar ayat-ayat yang ada di dalam Al-quran, Ya Allah, bagaimana aku bisa bersedih atas takdir yang telah Engkau berikan?
"Maafkan aku, Syams."
Aku berbisik padanya. Tindakanku larut dalam kesedihan memang salah. Sungguh amat salah. Syams menggosok punggung tanganku.
Senyumnya yang bersahaja berhasil menenangkanku. Perjalanan ke Yaman akan kutempuh lebih singkat dengan pesawat terbang. Sebenarnya ingin menikmati perjalanan ini, namun sayangnya rasa kantuk datang dan membuaiku untuk menutup mata sebentar.
Kusadari tepukan-tepukan halus di pundak. Aku membuka mata dengan malas. beberapa kali mataku mengucek indra penglihatanku.
Ternyata sudah sampai. Aku dan Syams segera bersiap-siap turun. Kami telah sampai di international airport of Yemen.
__ADS_1
***
Setelah sampai di sebuah rumah sederhana di kawasan Tarim, aku merebahkan badanku di pangkuan Syams.
Aku mengulas sebuah senyum saat melihat mata berbinar milik suamiku. Dia memang luar biasa. Apa yang dikatakannya dulu, tentang rumah tempat tinggal di Yaman, memang benar adanya.
Dia telah menyiapkan rumah ini untuk kami tinggal berdua selama di Yaman.
Drrrt, drrt. getar handphone itu mengusik quality time kami berdua. Syams segera mengambil handphone itu dan mengusap layarnya.
Tertera nama abi di layarnya. Aku membenarkan posisi dudukku di samping Syams. Abi memanggil lewat aplikasi video call. Untung saja, Syams telah berpengalaman tinggal di Yaman, sehingga ia telah membeli kartu perdana baru di bandara Sana'a tadi.
"Assalamualaikum, umi," ucap Syams. Terlihat umi sedang bersama abi di ruang tamu.
Keduanya tersenyum dan bertanya bagaimana perjalanan kami. Aku dan Syams tersenyum dan menjelaskan kelegaan kami karena Allah melindungi perjalanan kami.
"Abi, abi kenapa?" Aku melihat wajah abi memucat. Abi menggeleng, dia berusaha menahan sesuatu. Aku dan Syams saling berpandangan. Namun, detik berikutnya, abi terlihat menjauh dari kamera dan umi terdengar berkali-kali menanyakan keadaan abi.
Aku dan Syams bingung dan berusaha menanyakan apa yang terjadi tapi umi tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, panggilan ditutup.
"Syams, ada apa sama abi?" Air mataku mengumpul di pelupuk mata. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada abi? Syams juga terlihat bingung. Dia berkali-kali mencoba menghubungi rumah, namun tidak ada jawaban.
Syams merengkuhku di pundaknya, berusaha menenangkan semampu yang ia bisa. Tapi pikiranku masih juga belum tenang. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk kepada abi?
"Ayo sholat, Fin. Agar pikiranmu lebih tenang," ajaknya. Aku menurut.
Kami berdua bergegas menyegarkan diri dan mengambil wudhu. Di salah satu ruangan yang bercat coklat muda, aku dan Syams menggelar sajadah untuk melaksanakan sembahyang.
Dalam sujud, aku kembali teringat wajah abi. Kesedihan itu menemani setiap gerakan sembahyangku. Ya Allah, jagalah abi dan umiku.
***
Hari berganti, pikiranku masih belum tenang. Rasanya, ingin aku pulang ke Indonesia saja untuk memastikan keadaan abi. Dan mereka juga belum bisa dihubungi.
Hari ini adalah jadwalku melihat-lihat kampus Al-Amin, sebuah universitas yang terletak di Mukalla, Hadramaut, Yaman. Kota kecil yang menjadi impian para penuntut ilmu. Aku ditemani Syams menemui Pak Abdul, salah satu pengurus beasiswa mahasiswa di sini.
Dia memberikanku banyak penjelasan tentang perkuliahan ini, juga sebuah amplop berisi peraturan-peraturan di sini.
Aku menggerakkan mataku, membaca satu per satu peraturan itu. Napasku seolah terhenti ketika membaca peraturan asrama bagi mahasiswa dan mahasiswi fakultas tarbiyah. Apalagi tanpa handphone dan laptop. Lalu bagaimana denganku yang telah menikah?
Bisakah aku tidak ikut asrama dan tinggal bersama suamiku? Saat kuajukan permintaan itu, Pak Abdul menggeleng kuat.
__ADS_1
"Tidak bisa, semua mahasiswa dan mahasiswi harus tinggal di asrama, mungkin kalian bisa berpisah dulu selama 4 tahun," katanya datar. Berkali-kali terngiang kata-kata Pak Abdul. Bagaimana bisa aku harus hidup dalam asrama tanpa suamiku?
"Tenanglah, Fin. Ini semua pasti akan ada jalan keluarnya," Syams mengecup halus ujung kepalaku. Bayangan perpisahan dengan seorang ikhwan yang aku sayangi mulai kentara. Membuat mataku terus berembun. Jangan jauhkan kami, Ya Allah.
****
Hari-hari berikutnya terasa hampa, setiap aku akan berangkat tidur, Syams selalu memelukku seperti tidak ingin kehilanganku.
Aku pun seolah tidak mau pergi dari sisinya. Bahkan aku seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya saat masuk sekolah pertama kali.
Aku tidak perduli! Beberapa hari lagi, aku harus menyiapkan barang-barang dan keperluan untuk di asrama.
Sore itu, aku tengah bermanja di atas pangkuan suamiku ketika bunyi handphone menjeda lantunan Syams mengaji.
"Assalamualaikum." Aku bangkit dan membenarkan dudukku di samping Syams.
Akhirnya, kabar dari abi datang juga. Aku menyimak baik-baik setiap perkataan umi.
Air mataku jatuh tidak tertahan kala tahu kondisi abi. Dan di saat seperti ini, aku tidak bisa menemaninya. tasbih pemberian Syams masih terus kupilin dan membesarkan Rabbku dalam hati.
Umi terlihat pura-pura tegar saat mengatakan abi telah melewati operasi karena beberapa hari lalu mengalami muntah darah yang terjadi pembuluh darah di otaknya pecah. Innalillahi wainnalillahi rojiun, aku mendesah sedih.
keinginanku untuk kembali ke Indonesia seolah tumbuh kembali. Apalagi kenyataannya, jika aku melanjutkan kuliah, aku harus berpisah dengan suamiku.
Setelah umi menutup panggilan, aku mengutarakan keinginanku kembali ke Indonesia. Tapi Syams menggeleng.
"Cita-citamu mulia, Fin. Jangan menyerah, kamu harus melanjutkan perjuanganmu untuk memajukan umat," jelasnya menatapku tajam.
"Tapi, aku tidak bisa tenang kalau tidak ada yang menjaga abi, dan, ...," kalimatku terhenti saat rengkuhan Syams mendekapku hangat.
"Aku akan menjagakan abi untukmu, Fin," bisiknya. Aku mengangkat kepala. Tidak terasa, air mata terus mengucur. Mengapa ini harus terjadi? Jika Syams menjaga abi, apakah berarti dia akan meninggalkanku di sini?
"Aku tahu, kamu bisa melanjutkan perjuanganmu, Fin. Aku akan selalu mendoakanmu dalam sujudku," Syams mengangkat wajahku. Air mata juga terlihat mengumpul di matanya.
"Tapi, ...,"
"Jangan khawatir, cintaku hanya untukmu. Jika Adam dan Hawa dipisahkan ratusan tahun saja bisa dipertemukan kembali, maka kita juga akan dipertemukan kembali," kalimat terakhir Syams berhasil meruntuhkan pertahananku. Aku mengeratkan dekapanku di pelukannya.
'Ya Allah, apa ini nyata? Aku harus berpisah dengan suamiku?' Syams terus mengecup keningku.
Aku masih tidak percaya, aku harus berpisah dengan suamiku demi ilmu. Syams menggenggam tanganku. Laki-laki yang aku sayangi itu kembali memelukku.
__ADS_1