Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Pertemuan Sekaligus Perpisahan


__ADS_3

Aku berjalan pelan menghampiri Syams yang tampak duduk sambil memegangi kepalanya.Wajah putih Syams terlihat mulai memucat.Sedangkan Syams terlihat menahan sakit dengan menutup kedua matanya.Setelah berada di samping tempatnya duduk, aku mengelus pelan pipinya.Syams membuka matanya dan lagi-lagi terlihat memaksakan untuk mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Apa kamu sakit, Syams?Apa kita ke dokter saja?"Aku berusaha meminta kesediaannya untuk ke rumah sakit atau memanggil dokter.Tapi Syams menggeleng. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apakah benar Syams sakit? Lalu sakit apa yang kini diderita Syams? Ah, betapa malunya aku sebagai istri yang tidak tahu apa-apa tentang kondisi orang terdekatnya. Laki-laki beraroma yasmin ini membenarkan posisi duduknya sebelum mendekati wajahku.


"Syams, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, ayolah kita ke rumah sakit."Bujukku tak kurang akal. Dengan pura-pura merajuk, pasti Syams akan mau kubawa ke rumah sakit. Laki-laki berkemeja cokelat muda itu malah berlalu menuju kamar.Aku mendesis.Sejujurnya sebagi seorang istri aku merasa gagal menjaga suamiku.Apalagi malah mementingkan belajar daripada mengabdi kepada suami.Tanpa terasa, lelehan air mata menggenang kedua sudut mata.Rasanya aku terlempar ke jurang kesedihan.Aku takut terjadi apa-apa kepada Syams.


Aku mengalah.Akhirnya aku memilih melihat isi kulkas dan mulai memasak sesuatu yang hangat.Jika Syams sakit kepala atau mungkin jetlag, maka obat yang manjur adalah masakan sop yang hangat.Aku memeriksa sayur yang ada di kulkas.Aku berdecak karena hanya menemukan kubis dan tomat. Mau tidak mau aku terpaksa mengurungkan niatanku untuk membuatkan sup krim untuk Syams. Aku memutar otak lagi,kubis dan tomat ini enak diapakan? Desahku.


Aku baru saja akan melangkah ke dapur saat mendengar jeritan dari kamar. Tanpa menghiraukan kubis dan tomat yang jatuh ke lantai, aku berlari ke kamar.Siapa tahu Syams sedang membutuhkanku sekarang.


"Astagfirullahaladzim," aku beristigfar saat menemukan tubuh suamiku berada di samping ranjang.Syams menjerit sambil memegangi pelipisnya berkali-kali.


"Syams, ke dokter ya," bujukku lagi.Tapi Syams malah meraih tubuhku di hadapannya dan memelukku sangat erat.Melihat kondisinya, air mataku kembali meleleh membasahi jilbab dan gamis sederhana yang aku kenakan. Sebenarnya ada apa dengan Syams? Lama sekali ia memelukku erat tanpa berbicara apapun.


"Besok kita pulang ya, aku ingin kamu temenin aku, Fin. Kamu ambil cuti ya," bisik Syams di telingaku.Firasat buruk tiba-tiba mengisi hati dan pikiran.Tubuhku yang sedari tadi belum menerima makanan apapun terasa berat tidak bisa menopang diriku sendiri.Mataku yang sedari tadi mengucurkan sungai kesedihan dan kekhawatiran seolah ikut menambah pedih. Ada apa ini Ya Allah?


***


Keesokan harinya, seperti keinginan Syams.Aku meminta cuti tiga bulan untuk pulang ke Indonesia.Pukul 13.00 kami telah berada di bandara Sanaa Yaman untuk melakukan penerbangan pulang.Hatiku semakin tidak karuan, semalaman Syams berbaring di pangkuanku.Rupa laki-laki yang setahun lalu menikahiku itu berubah layu dan pucat. Seringkali ia meringis kesakitan. Tapi Syams selalu menolak saat aku mengajaknya ke rumah sakit.


"Semoga rasa sakit ini menjadi jalan penggugur dosa-dosamu, Syams.Syafakallah," bisikku pelan.Laki-laki itu kini tengah tertidur pulas di ruang tunggu bandara Sanaa Yaman. Kutatap lekat wajah laki-laki yang dulu segar, lincah dan ceria itu. Lamat-lamat kulihat guratan-guratan aneh yang menghias wajah tampannya.Aku kembali menyelami memori saat pertama kali kami bertemu, rasanya laki-laki di depanku ini bukanlah lelaki yang dulu menikahiku karena perubahannya setahun terakhir ini.Tubuhnya yang dulu sintal, kini terlihat kurus.Bahkan tulang-tulang di sekitar lehernya terlihat menonjol.Apakah Syams tidak makan dengan benar selama aku tidak ada di sampingnya?Batinku kembali bertanya-tanya.Jika kecantikan seorang istri sesuai dengan tanggungjawab suami, apakah kurusnya seorang suami karena istrinya yang tidak becus merawat suaminya?


"Ya Rabb, ampunilah dosaku yang tidak bisa menjaga dan mengabdi kepada suamiku," air mata yang sedari tadi mendesak keluar, terasa semakin penuh mengumpul di kantung mata.

__ADS_1


Suara announcer bandara terdengar mengumumkan penerbangan menuju Jakarta.Aku terpaksa mengusap bahu tipis Syams berkali-kali untuk membangunkannya.Walau sebenarnya aku tidak tega mengganggu istirahatnya yang begitu pulas.


"Ada apa sayang?"Syams lumayan terkejut saat mulai membuka matanya.


"Penerbangan kita sebentar lagi," aku berkata pelan.Aku mengembuskan napas kasar. Kami berdua bangkit dari kursi dan berjalan menuju pesawat yang akan kami tumpangi untuk pulang ke Indonesia.


"Oh, iya aku menemukan sebuah amplop di kotak surat kita, tapi atas nama Syamsul Mujahidin," aku membuka suara untuk meredakan kesedihan yang memporak-porandahkan pikiran dan hatiku.


"Sekarang suratnya mana?"Tanya Syams menyelidik. Kujelaskan padanya, di saat itu aku menelpon kantor pos di sana untuk mengirim kembali surat itu karena salah alamat. Namun anehnya, Syams malah meminta handphoneku dan menghubungi kantor pos tersebut.


"Assalamualaikum," Syams menunggu respon dari seberang.Barulah setelah ada jawaban Syams maju beberapa langkah untuk melanjutkan menelpon.Aku mengernyitkan kening.Ada yang aneh, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Syams dariku.Entah ini feeling seorang istri atau memang benar ada sesuatu yang tidak diceritakan Syams padaku.


Setelah berbincang lima menit dengan petugas kantor pos itu, Syams menyerahkan kembali handphone itu padaku. Aku sama sekali tidak bisa mendengar apapun yang dibincangkan Syams dengan petugas kantor pos. Kami berdua kembali berjalan untuk segera menuju pesawat.


****


"Assalamualaikum,"aku dan Syams mengucap salam dengan serempak. Terdengar abi dan umi menjawab dari ruang tengah.Kedua malaikat tanpa sayap itu menoleh.Tanpa menunggu lama lagi, aku berlari menghampur kea rah abi yang duduk di kursi roda.Air mata kerinduan tumpah ruah membanjiri wajahku.


"Afin kangen sama abi dan umi," ungkapku terbata karena tangis.


"Abi uga angen, Apin."Abi terlihat bersusah payah menggerakkan lidahnya untuk berbicara.Melihat itu, air mataku kembali mengalir.Ya Allah, hanya kepadaMulah aku memohon penjagaan untuk kedua orang tuaku. Tapi sesaat kemudian aku kembali terngiang kata-kata Syams sebelum ia memutuskan meninggalkanku di Yaman setahun yang lalu.


"Hidup, mati, sakit itu ada di tangan Allah.Kita hanya bisa berusaha menjaga.Tapi garis takdir tetap milikNya.Kita sebagai hamba harus ikhlas dan tawakal," pesan Syams dahulu.

__ADS_1


Setelah menyalami abi dan umi, aku dan Syams bergegas menuju kamar kami. Baru saja aku meletakkan tas di meja kamar, tapi Syams mengambil pergelangan tanganku untuk menurutinya duduk. Syams menyandarkan kepalanya di pangkuanku.Wajah Syams kembali terlihat pucat.


"Syams, dari kemarin kamu terlihat sakit.Mengapa kamu selalu tidak mau saat kuajak ke dokter?"Tanyaku sembari mengelus keningnya yang terasa berkeringat.


"A-aku tidak apa-apa, Fin. Bisakah kamu bersholawat burdah?Aku ingin mendengarnya untuk kujadikan lagu pengantar tidur," Syams memejamkan kedua matanya.Sebagai istri yang lama tidak bersua dnegan suaminya, aku berusaha tidak menyela atau memaksa.Pelan-pelan aku melantunkan sholawat burdah sambil mengelus ujung kepala Syams.


"Maulaya Sholi Wasalim Daiman Abada


'Ala Habibika Khoiril Kholqi Kullihimi


Ya Robbi Bil Musthofa Baligh Maqosidana


Waghfirlanaa Mamadho Ya Wasyi'al Karomi,"


Aku tersentak saat merasakan sebuah benjolan di leher Syams. Ada apa sebenarnya dengan suamiku ini?


"Syams, sepertinya ada benjolan di lehermu," aku mengusap halus kepalanya.Laki-laki itu tertidur pulas sekali di pangkuanku.Aku kembali mengusap pundaknya untuk membangunkannya. Kali ini, aku ingin mengetahui apa yang selama ini terjadi di saat kami berjauhan. Syams masih bergeming.Aku mulai sebal dengan tingkahnya.Aku mencubit pipinya.Tapi Syams juga tidak merespon.Kuhadapkan wajahnya dan kulihat wajah pucat Syams.


"Syams?Ini tidak lucu," aku kesal dan memukulnya lagi.Kugoyang-goyangkan tubuhnya.Tapi laki-laki itu tetap tidak merespon.Air mataku tiba-tiba menetes. Ada apa dengannya? Mengapa tidurnya begitu pulas?


"Umi, abi," teriakku mengundang kedua orang tuaku untuk melihat keadaan Syams.Buru-buru abi dan umi memasuki kamar kami.Abi mendekat dan memeriksa kondisi suamiku.


"Innalillahiwainnalillahi rojiun,"

__ADS_1


Mendengar kalimat itu, langitku seolah runtuh menimpa kepala.Rasanya aku seperti terjatuh ke jurang yang paling dalam.Apakah benar Syams telah tiada?Air mata ini sudah tidak bisa ditahan.


"Ya Allah, Syams, umi hubungi dokter umi," pintaku seperti memerintah umiku sendiri.Aku masih tidak percaya bahwa suamiku telah pergi untuk selama-lamanya. Ia pergi meninggalkanku di dunia ini sendirian.


__ADS_2