Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Seringai Takdir di Serambi Petang


__ADS_3

Seringai Nasib Di Serambi Petang


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut : 57) ."


Aku terngiang kala suara lembut umi yang menyadarkan lamunanku. Dadaku masih terus bergetar kala mendengar lantunan tahlil bergema di ruang tamu rumah ini. Rasanya sulit sekali untuk tidak bersedih. Siapa yang tidak sedih? Ditinggalkan oleh seseorang yang menjadi separuh jiwa?


Mataku kembali menghangat. Bayangan kala kucium pipi jenazah Syams berkelebat di pelupuk mata. Wajah tampannya terlihat pucat dan terasa dingin. Aku menggigit bibir. Menahan air mata sekuat tenaga agar tidak menetes ke tubuhnya. Ikhlas itu memang sangat sulit. Tapi aku memang harus mengikhlaskannya. Dia milikNya dan pasti kembali padaNya.


Petang itu, suara salam menyadarkan aku yang masih membisu menggenggam buku yaasin. Kulihat siapa yang datang.


Saat mengenali wajah ayu itu, hatiku kembali terasa teriris. Ustazah Naf datang bersama seorang laki-laki yang berwajah persis dengan Syams. Aku mengucek kembali kedua mataku. Apa mungkin penglihatanku salah?


Tapi memang benar seseorang yang datang bersama ustazah Naf adalah Syams. Aku bangun dari dudukku. Mata ini masih terus memperhatikan laki-laki yang kini melangkah ke arahku.


"Yang sabar ya, Fin. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Syams." Ustazah Naf memelukku.


Tanpa komando, air mata luruh lagi mengaliri pipi. Bahkan aku tergugu. Usapan lembut dari ustazah Naf sedikit menenangkanku. Tapi rasanya masih saja tidak percaya jika usia suamiku hanya sampai hari kemarin.


"Dik, aku harap kamu kuat menghadapi ini semua. Ikhlaslah," suara bariton itu terdengar sedikit berbeda dengan suara halus Syams. Aku melepaskan pelukan ustazah Naf.


"Dia Adi, Fin. Kakak dari Syams," mulutku terbuka seakan tidak percaya. Mengapa Syams tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki saudara kembar? Sekali lagi aku memandang laki-laki itu dengan seksama.


Matanya, hidungnya dan semua yang ada di wajahnya sama dengan Syams. Sekali lagi mataku terasa perih.


***


"Jadi, Syams menderita getah bening sejak setahun yang lalu?" Aku menutup kedua mulutku dengan telapak tangan.


Bahkan aku tidak tahu jika suamiku berjuang melawan penyakitnya. Ditambah perpisahan kami yang memaksaku tidak bisa merawat suamiku.


Rasa bersalah terus menghunjam hati ini. Aku memang bodoh, aku tidak bisa menjaga suamiku.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirimu, Dik. Ini sudah menjadi garisNya." Lelaki itu terlihat lebih dewasa dari cara bicaranya.


Ustazah Naf kembali memelukku untuk menguatkan aku menghadapi ini semua. Jujur saja ini adalah cobaan yang berat, saat aku baru saja merasakan indahnya cinta. Tapi Allah berkehendak lain dengan mengambil orang yang aku cintai itu.


"Yang tabah ya, Fin. Jika kamu butuh apa-apa aku siap." Tambah ustazah Naf.


Kepalaku terasa pening setiap kali berkelebat kebersamaan antara aku dan Syams.


"Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali" (QS. Al-Anbiya: 35)


Aku menancapkan ayat itu di dadaku lagi dan lagi. Hanya ini yang aku bisa untuk bertahan. Aku tidak ingin merasa jauh dari rahmat Allah subhanahuwataala karena berputus asa.


Setelah kepulangan ustazah Naf bersama Mas Adi--yang entah mengapa, berbicaranya membuatku kembali mengulang masa kecil bersama Adi temanku dulu.


Padahal, Adi adalah Syams, tapi hatiku seolah yakin dnegan hal yang berbeda. bahwa Syams bukanlah Adi, tetapi Adi yang tadi bersama ustazah Naf-lah Adi kecilku yang usil--aku menggeleng kuat.


Aku tidak ingin memikirkan yang buruk tentang suamiku yang kini telah tenang di alam sana. Semoga kelak kami dipertemukan lagi di JannahNya.


****


Tapi abi dan umi tidak mengijinkannya. Bahkan kini, setelah masa iddahku sebagai seorang istri yang ditinggal wafat suaminya hampir berlalu.


Hari ini telah genap masa iddahku, yaitu empat bulan sepuluh hari. Aku ingin menyiapkan keperluan untuk kembali menimba ilmu di Yaman.


Siapa tahu aku bisa melupakan kenangan-kenangan bersama Syams yang terus membuatku meneteskan air mata.


Namun, abi dan umi sekali lagi tidak mengijinkanku kembali ke Yaman sebelum aku benar-benar tenang. Abi dan umi tidak ingin menuntut ilmu di Yaman hanya menjadi pelarianku dari kesedihan.


Langit terlihat gelap, aku berjalan menuju dapur bermaksud membuat teh untuk menghangatkan tubuh. Namun aku menghentikan langkah saat melihat abi dan umi sedang berbincang dengan tamu-tamunya.


Tiga orang pria yang kini duduk berseberangan dengan umi dan abi. Mereka terlihat menyimak apa yang diungkapkan salah satu laki-laki berkacamata yang membuka sebuah amplop cokelat.

__ADS_1


Mataku menelisik, apa itu amplop coklat yang dulu kutemukan di kotak surat di Yaman? Karena penasaran, aku mendekat.


"Kak Adi, maaf aku telah mencintai apa yang kau cintai. Kini, di saat aku merasa hidupku tak lama lagi. Aku ingin Kak Adi menjagakan seseorang yang Kak Adi cintai sejak kecil dulu. Tolong kakak nikahi Alfiana Nurrizki jika masa iddahnya telah selesai. Aku mohon, jagakan dia untukku."


Mataku membulat mendengar isi surat yang ada di dalam amplop coklat yang dibacakan Mas Adi.


Aku melangkah mendekat dan umi yang melihat keberadaanku, mengundangku untuk turut berembuk tentang wasiat terakhir mendiang Syams.


"Seorang janda yang ditinggal wafat suaminya, boleh-boleh saja untuk kawin lagi dengan syarat setelah selesai menjalani iddah, yaitu 4 (empat) bulan 10 hari, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 234: "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.


Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." Kalimat yang diutarakan Mas Adi itu seperti tidak bisa dicerna kepalaku. Aku masih bertahan terdiam dan tidak menanggapi apapun.


"Aku akan menikahimu," tambah Mas Adi. Membuatku terperanjat seketika. Aku menggeleng. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain sementara masa iddahku baru berakhir. Apalagi hatiku masih sangat mencintai Syams.


"Maaf, mas, Aku tidak bisa," balasku cepat. Umi dan abi memandangku nanar. Entah apa yang mereka pikirkan.


"Tapi ini wasiat dari adikku, Syams." Mas Adi kembali bersuara dengan ekspresi datar. Aku tidak mengerti, mengapa Syams membuat wasiat seperti itu? Mengapa ia menjodohkanku dengan Mas Adi yang terlihat dingin, dan keras. Tidak seperti Syams yang humoris dan bisa membuatku tersenyum apapun yang dia lakukan.


Aku kembali menolak permintaan Mas Adi. Aku tidak bisa menikah dengannya yang tidak aku kenali.


"Abi, bolehkah saya menikahi Afin? Jika Sayyidina Abu Bakar tidak memerlukan persetujuan Siti Aisyah untuk menikahkannya dengan Kanjeng Nabi Muhammad, lalu apa saya harus menunggu persetujuan Afin? Mohon abi pertimbangkan dengan bijak. Saya juga tinggal di Yaman, saya bisa mengawasi Afin karena saya juga salah satu pembimbing di Al-Amin."


Aku mendelik mendnegar pernyataan yang menyudutkanku itu. Kini, aku hanya bisa berharap abi tidak gegabah mengambil keputusan.


Aku meneliti wajah abi dan umi yang saling berpandangan. Keduanya menatapku sebentar, sebelum akhirnya menghadap Mas Adi dan mengangguk.


"Mas kawin apa yang kamu minta, Fin?" Mas Adi kembali berkata. Sedangkan aku masih membuang muka padanya.


"Uang dan emas," ucapku akhirnya.


"Baiklah, kita menikah malam ini. Aku telah menyiapkan emas 18 karat dan uang sejumlah dua juta rupiah. Apa itu cukup, Fin?"

__ADS_1


Mas Adi menatapku mengejek. Sebenarnya aku berkata demikian agar pernikahan itu tidak dilaksanakan secepat ini. Tetapi aku salah, mas kawin telah siap di atas meja. Abi mewakilkan diri kepada seorang laki-laki yang akhirnya aku tahu bahwa ia adalah petugas KUA.


"Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur haalan," air mataku deras menetes saat aku tersadar kini telah sah menjadi istri seseorang. Sekelebat acara sakral ini melintas di kepalaku. Rasanya baru kemarin aku menikah dengan Syams, dan kini aku menikah dengan kakaknya, Syamsul Mujahidin.


__ADS_2