Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Khitbah Untuk Mega 2


__ADS_3

Mega dengan tergesa datang ke restoran di dekat kampus. Ia melihat sekitar. Masih sepi. Mega mengerjap. Ia segera mencari tempat duduk.


Seorang pelayan datang menawari minuman, tapi Mega menggeleng. Setelah pelayan muda itu berlalu. Mega kembali menunduk, sibuk dengan tasbih di tangannya.


Sesekali Mega melihat pintu masuk, tapi saat matanya tidak menemukan sosok yang akan ditemuinya, Mega kembali menunduk. Hatinya mulai harap-harap cemas.


||Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, ukhti Mega. Ana dari forum ta'aruf, ingin mengabarkan jika ada yang ingin mengenal ukhti lebih dekat. Katanya hari ini di Restoran Tsabit. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh.||


Mega kembali membaca pesan di layar handphonenya. Ia merasakan hatinya berdebar. Takut jika seseorang yang akan ia temui mengetahui masa lalu buruknya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Maaf, menunggu lama." Seorang perempuan datang ke mejanya.


Mega terkejut, ternyata seorang perempuan. Padahal ia mengira seorang lelaki yang akan menemuinya. Apalagi lewat forum resmi ta'aruf, yang berarti tidak mungkin ada orang iseng mengerjainya.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Silakan duduk." Mega mempersilakan perempuan itu duduk di depannya.


"Benar dengan ukhti Mega?"


"Naam."


Hening, Mega dan wanita di depannya diam. Mereka bersitatap sebentar lalu merapikan diri.


"Perkenalkan, nama ana Rebecca Althafunnisa. Panggil saja Rere," ujar wanita di depannya yang berparas manis.


"Ana Mega," balas Mega menjabat tangan Ning Rere di depannya.


"Jadi anti sedang mencari jodoh ya?"


Mega mengangguk. Ia masih berusaha mengetahui apa yang akan disampaikan wanita di depannya. Tentu saja Mega melihat ada sesuatu dalam diri Ning Rere. Mega segera mengetahui jika wanita itu bukan wanita biasa.


Ning Rere mengambil handphonenya. Mega hanya memperhatikan hingga Ning Rere memberikan handphone itu ke hadapannya. Di sana terlihat foto seorang laki-laki yang sedang tersenyum.


Mega tidak bisa menutupi rasa sukanya, ia tersenyum sangat samar. Lalu menunduk setelahnya. Wajah lelaki di handphone Ning Rere sangat tampan.


"Dialah yang ingin ana jodohkan dengan anti." Ning Rere melihat isyarat Mega langsung menyukai Gus Jaka.


"Kalau boleh tahu, siapa nama lelaki itu, Ning?" tanya Mega penasaran.


Ning Rere langsung terkejut. Memikirkan bagaimana perempuan di depannya mengetahui bahwa dirinya seorang Ning?

__ADS_1


"Gus Jaka," balas Ning Rere dengan dada berdebam.


Ning Rere terus berbicara tentang Gus Jaka yang bernama asli Muhammad Zaqial Rayyan. Seorang Gus muda yang kini berjuang untuk mencetak banyak hafiz Qur'an. Bahkan Ning Rere sempat mengatakan keinginannya bahwa jika Allah menakdirkan Mega menjadi istri dari Gus Jaka, Mega akan membantu perjuangan itu.


"Kapan anti ada waktu? Akan ana pertemukan dengan Gus Jaka."


"Ahad ini ana senggang." Mega tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia hampir kehilangan akal karena ketampanan wajah Gus Jaka.


"Ya sudah, nanti Ahad ana telepon ya. Minta nomornya." Ning Rere mengangsurkan handphonenya ke arah Mega.


Mega mengambil handphone itu. Ia sempat melihat wallpaper foto Gus Jaka dengan Ning Rere di sana. Ia tidak mau ambil pusing. Mungkin Gus Jaka dan Ning Rere adalah saudara. Jadi Ning Rere mencarikan jodoh untuk kakaknya.


Setelah menyimpan nomornya, Mega mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya.


"Nggak mau pesan minum atau makan dulu?" tanya Ning Rere lagi. Ia belum ingin mengakhiri pertemuan ini. Meski hatinya sudah terasa sangat sakit.


"Afwan, ana sedang berpuasa."


Jawaban itu membuat Ning Rere kagum. Barangkali Mega adalah jawaban dari doanya. Semoga kualitas Mega juga sekufu dengan Gus Jaka dan dirinya. Agar mereka bertiga bisa hidup rukun dan hanya mengharap ridho Allah SWT.


Awalnya Ning Rere ingin bercerita lebih banyak. Tapi ia merasa belum mampu. Nanti yang ada Mega akan menolak perjodohan ini. Ning Rere tidak ingin rencananya kali ini gagal.


Di tempat yang sama, Tata duduk di dapur restoran dengan membawa rantang. Salah satu pegawai restoran datang menghampiri. Ialah Riska, seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu.


"Dikirim lagi ya, Non?" tanya Riska ramah. Memang sudah seminggu ini Tata datang ke restoran sambil membawa rantang.


"Huum. Eh, panggil Tata aja, jangan non."


Riska ingin protes, tapi urung dilakukan. Ia hanya mengangguk pelan. Lalu mencuci rantang yang ada di depan Tata.


"Memangnya siapa sih yang selalu ngirim makanan? Jangan-jangan naksir nih," komentar Riska. Ia memang sudah akrab dengan Tata.


"Bukan siapa-siapa, kok. Ana juga udah bilang nggak usah. Tapi tetep dikirim." Tata membenahi jilbabnya.


Membahas hal ini, ia langsung teringat Haikal yang rutin setiap jam satu menemuinya untuk memberikan rantang. Tata selalu kehilangan kata-kata saat di depan lelaki itu.


Awalnya ia selalu mencuci rantang di kampus, tapi sejak ia menolak lamaran Dika, salah satu mahasiswanya, Tata tidak ingin berkeliaran di kampus.


Apalagi jika ia ingat lelaki yang mengejarnya itu kini sering terlihat bersama Gus Ali dan istrinya. Masih merasa butuh waktu melupakan luka itu, Tata memilih ke restorannya saat waktu lengang.

__ADS_1


Tata terdiam. Ia kembali teringat tentang kisah Rabiah Al-Adawiyah. Kisah tentang sufi selalu berpengaruh terhadap pikirannya.


"Apa ana hanya melihat kulitnya?" tanya Tata pada diri sendiri, tapi juga terdengar jelas oleh Riska yang selesai mengelap rantang itu.


"Kulit itu tidak penting, yang penting isinya," tukas Riska membuat Tata tersadar.


"Tapi makanan yang nggak ada kulitnya, emang anti mau makan? Misalnya pisang tanpa kulit gitu?" tanya Tata dengan serius.


"Ya nggak mau." Riska membalas dengan menyerah.


"Nah kan, berarti kulit itu juga penting."


Riska menunduk. Ia tidak menampik kata-kata Tata. Terang saja, Tata adalah dosen. Ilmunya pasti sudah luas. Apalah dirinya yang hanya mahasiswa.


"Udah deh, ana balikin rantang dulu ya." Tata berpamitan pada Riska. Lalu mengambil rantangnya.


"Ciye mau apel," ledek Riska.


"Apaan sih."


"Suruh lamar aja."


"Masih kecil."


"Gimana le adek kok manise, bikin jatuh cinta terbayang-bayange, aku jadi gimana gimana gitu ya dek, aku udah gede suka sama dek adek." Riska bernyanyi dengan suara agak keras.


Membuat Tata kembali dan mencubit lengannya. Di saat yang sama, uminya Tata yang ternyata mendengar nyanyian Riska datang.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, umi." Tata coba tersenyum manis.


"Eh, umi. Selamat datang." Riska ikut menyalimi pemilik restoran.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Siapa yang suka sama adek adek?" tanya uminya Tata menatap putrinya dengan serius.


"Eng, nggak ada kok, mi. Ini Riska cuma lagi bikin video tiktok." Tata berkilah. Ia memaksa Riska juga untuk membenarkan kalimatnya agar sang ibu tidak banyak bertanya.


"Aduh. Eh, iya mi. Nggak ada kok. Riska lagi bikin tiktok."


"Oh begitu?"

__ADS_1


__ADS_2