Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Hidayah Itu Mahal 2


__ADS_3

Seusai mengikuti kajian islami dengan penceramah Gus Jaka, Mega tidak segera pulang. Bahkan ia membiarkan Umi Nafisah pulang duluan. Ia masih ingin di masjid.


Tak tahunya ada seseorang yang datang menemuinya. Tiada lain adalah Ning Rere. Ia tadinya tidak menyadari jika Mega juga hadir di antara jemaah suaminya.


Begitu ingin pulang, Ning Rere melihat sosok Mega yang tetap tinggal di masjid. Awalnya Ning Rere ingin menemuinya bersama Gus Jaka. Tapi suaminya itu tidak mau dan menyuruh Ning Rere sendiri yang menemuinya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh ukhti Mega."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Ning Rere juga ada di sini?" tanya Mega sedikit terkejut tapi memaklumi setelahnya. Sudah pasti seorang istri akan membersamai kemanapun langkah suaminya.


Setelahnya Mega menunduk, membayangkan jika nanti ia menjadi istri kedua, mungkinkah Ning Rere akan rela ada orang lain yang ikut mereka?


"Iya, Meg. Afwan ya ana nggak bilang kalau ada majelis di sekitar sini. Kalau kost anti dekat sini, kan seharusnya ana sekalian mampir."


"Tidak, Ning. Ning tidak salah." Entah apa yang dikatakan Mega. Karena pikirannya yang campur aduk, ia sampai tidak menjawab perkataan Ning Rere dengan semestinya.


Merasa gadis di depannya tidak memperhatikan dirinya, Ning Rere sedikit cemas. Tentu saja ia takut jika gadis ini akhirnya menolak menjadi madunya.


Jika dibayangkan seberapa panjang perjalanannya mencari, menyeleksi, dan membujuk suaminya untuk mau melakukan apa yang diinginkannya, mata Ning Rere berkabut.


Ia mencoba bermuhasabah apakah masih ada kotoran di sudut hatinya atau sikapnya yang maksiat kepada Allah, hingga Allah masih menunda mengabulkan doanya?


"Afwan, Ning. Ana ingin bertanya, sejujurnya mengapa Ning rela dimadu? Sedangkan setahu ana tidak ada hati perempuan yang rela jika suaminya memiliki wanita lain." Mega memberanikan diri bertanya. Barangkali mengetahui alasan utama Ning Rere mencari selir hati untuk suaminya.


"Sebenarnya, ana adalah anak dari istri kedua Abah, Meg. Kalau Abah dan umi saja bisa rukun, mengapa ana tidak? Selain itu juga karena Gus Jaka seorang pendakwah, ia butuh penerus yang ana belum bisa memberikannya."


Ning Rere tersenyum hangat. Padahal Mega melihatnya seakan tak percaya. Ada wanita yang baik dan mampu mengungkapkan kekurangannya secara gamblang.


"Afwan, Ning. Ana masih belum bisa menjawab karena hati ana belum mendapat kemantapan." Mega menyesal sendiri mengatakannya. Mengapa ia tidak berkata iya saja, toh sejak melihat bagaimana Gus Jaka berdakwah, Mega merasa cocok dan menjadi istrinya.

__ADS_1


"Iya, Mega. Yang paling utama anti tanya orang tua anti. Atau jika anti tidak bisa menjelaskannya, biar ana yang menjelaskannya." Ning Rere kembali menawarkan dirinya. Melihat kebaikan Ning Rere, Mega merasa malu.


Siapa dirinya yang bisa bersaing dengan Ning Rere?


"Ya sudah, ana pulang dulu ya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Inggih, Ning. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Mega turut bangkit dari tempatnya dan membersamai Ning Rere keluar dari masjid. Di saat itu, Mega tidak sengaja melihat Gus Jaka yang berada di mobil. Lelaki itu juga terlihat menatapnya. Ah, mungkin perasaan Mega saja. Bisa saja Gus Jaka menatap istrinya.


Setelah Ning Rere masuk ke dalam mobil, Mega segera pulang. Hatinya semakin tidak karuan. Keraguan kembali menghampiri. Ia sadar diri belum pantas hidup bersama orang Sholih seperti Gus Jaka dan Ning Rere.


Sesampainya di kost, Mega yang lelah membersihkan diri dan segera beristirahat. Tak lama kemudian ia tertidur.


Dalam mimpinya ia seperti melihat Dika di sana. Lelaki itu sedang berusaha mengaji di depan Gus Jaka.


Mereka berdua sangat berkonsentrasi dalam mengaji kitab kuning. Bahkan tidak memedulikan Mega yang juga berada di sana.


"Antum jangan melamar di atas lamaran saudara semuslim, atau antum memang ingin ada perpecahan?" tanya Gus Jaka pada Dika lirih, Mega hampir terlonjak. Mimpi macam apa ini?


"Antum juga, kalau tidak yakin bisa mencintainya, jangan menikahinya hanya karena ingin menyenangkan hati istri antum." Kini Dika yang berbicara. Nadanya seolah tidak takut dengan keGusan orang di depannya.


Mega terbangun dengan keringat menyembul di dahinya. Ia bisa mengingat jelas bagaimana kata kedua lelaki yang melamarnya.


Merasa semakin bingung, Mega mengambil handphone. Ia menelpon mamanya untuk menceritakan apa yang sedang ia hadapi. Barangkali akan ada jalan keluar yang diberikan mamanya.


Bukankah ridho Allah tergantung ridho orang tuanya?


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, mama."

__ADS_1


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Meg. Tumben telepon ada apa?"


Mega dengan terbata-bata menceritakan masalahnya. Bahkan tentang mimpi yang barusan datang padanya.


"Mama sama Papa ikut pilihan Mega saja. Maafkan mama dan papa ya selama ini membuat Mega tertekan karena memaksa menikah secepatnya." Suara mamanya sedikit serak, barangkali wanita itu menahan tangis.


Mau tak mau Mega juga turut menangis. Ia merasakan juga kesedihan mamanya. Sekali lagi mamanya Mega tidak mau memaksakan Mega harus menikah dengan siapa. Mama dan papanya ridho dengan pilihan hati Mega.


Selain itu mamanya menyarankan Mega melakukan istikharah jika Mega benar-benar tidak bisa memilih yang baik untuknya.


Panggilan diakhiri dengan doa dari mamanya untuk segala hajat sang putri. Mega tersenyum bahagia. Hatinya ada rindu yang tak terbendung.


Mega merasa sedikit lega setelah menceritakan masalah yang dihadapinya pada sang ibu. Memilih membersihkan diri dan mendirikan sholat untuk menenangkan hatinya.


Tak sengaja saat ia mengaji, ia sampai pada sebuah ayat yang mengetuk hatinya dengan lembut.


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).


Mega berdoa dalam hati, semoga diberi kemantapan melaksanakan istikharah untuk hal sebesar ini.


Sebelum tidur malam, Mega mengangkat kedua tangannya. Memohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk atas siapa yang harus ia terima.


Setelahnya, Mega kembali tertidur. Baru beberapa menit ia memejamkan mata. Ia kembali seperti melihat usaha keras Dika untuk mengaji.


Melihatnya Mega tersenyum penuh arti. Menyadari bahwa ia juga berada di fase yang sama. Memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Walau hanya dalam mimpi, Mega seperti mendapat pencerahan bahwa ia juga harus memikirkan Dika.


Lelaki itu pernah patah hati dengan wanita, jika Mega menolaknya dan membuatnya patah hati kedua kali, itu tidak akan baik. Mega baru menyadarinya saat ini. Saat ia berada di sekitar Dika dan melihatnya yang penuh konsentrasi menimba ilmu dengan kitab kuning.


Gadis ini menyadari apa yang selama ini tertutup olehnya. Dika sedang memperbaiki diri dan butuh dukungan. Sedangkan Gus Jaka sudah berada di jalan yang benar. Jika Dika akan rapuh dan patah hati jika ia tolak, maka Gus Jaka sudah mampu mengendalikan hatinya yang tidak akan berpengaruh terhadap penolakan Mega.

__ADS_1


Mungkin ini yang terbaik. Dan Allah memberi petunjuk mana yang lebih besar manfaatnya untuk Mega dan calonnya.


Merasa hatinya lega mendapat petunjuk dari Allah, Mega tidak bisa menahan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu. Tangis ini bukan tangis penyesalan atau kesedihan.


__ADS_2