
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
"Ali. Antum sudah balik ke sini? Kapan?" Tata segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Gus Ali.
"Eh, iya Ta. Barusan, kok." Gus Ali langsung menunduk. Menjaga pandangan dan juga menjaga hati Fatimah yang sepertinya sangat pencemburu.
"Oh iya, keluarga gimana? Sehat, kan?" Tata kembali memborbardir Gus Ali dengan pertanyaan.
"Bu Tata, maaf jika tidak keberatan apa bisa suaranya sedikit lebih pelan?" ujar petugas perpustakaan membuat Tata tersadar jika perbuatannya tadi sangat tidak pantas.
"Maaf, Bu. Saya lupa."
Agar bisa leluasa berbincang, Tata mengajak Gus Ali keluar dari perpustakaan. Keduanya berjalan beriringan.
Tata masih tidak menyadari kalau Gus Ali terus berusaha melihat ke sekeliling. Jangan sampai Fatimah mengetahui kalau suaminya sedang bersama Tata. Bisa-bisa Gus Ali kedinginan malam ini.
"Kampus jadi sepi banget nggak ada antum. Nggak ada yang menghibur lagi." Tata terus bercerita banyak hal yang sebenarnya sangat membuat Gus Ali muak.
"Oh iya, ini kunci mobil anti. Mobilnya di parkir timur." Gus Ali mengalihkan perbincangan.
Tata meraih kunci itu. Tapi tatapan matanya tak beralih dari Gus Ali. Ada sedikit keheranan dalam dirinya karena Gus Ali terus menunduk. Apa mungkin menghindarinya?
"Ya sudah, Ta. Ana ke kelas dulu," pamit Gus Ali.
Sebelum lelaki itu beranjak, Tata telah menahan Gus Ali dengan tangannya. Rasanya masih terlalu rindu dengan sahabatnya itu.
"Maaf, Ta. Kita bukan mahram. Tidak boleh sembarangan bersentuhan," terang Gus Ali dengan cepat melepas tangan Tata. Jangan sampai Fatimah melihat kejadian ini.
"Ali, apa antum menghindari saya?" tanya Tata mengekor langkah Gus Ali keluar dari perpustakaan.
Gus Ali ingin menoleh dan mengatakan iya pada sahabatnya itu. Tapi mampukah dia? Sedangkan jasa kedua orang tua Tata terus terbayang di pelupuk matanya setiap melihat Tata.
"Afwan, Ta. Saya sedang sibuk. Tolonglah dimengerti."
Gus Ali melangkah meninggalkan Tata yang berdiri dengan lesu. Perasaannya menjadi sangat sakit melihat perubahan Gus Ali. Bahkan Gus Ali tidak peduli padanya sedikitpun. Atau menanyakan bekas memar di kepala Tata yang tidak tertangkap mata Gus Ali. Terang saja lelaki itu terus menunduk tidak menatapnya sedikitpun.
Memikirkan hal itu membuat kepalanya yang sakit, kini terasa pusing. Tata kehilangan keseimbangan dan harus merayap di tembok untuk berjalan.
"Bu Tata nggak apa-apa? Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" tanya seorang mahasiswa yang sejak tadi menunggu momen dimana Gus Ali meninggalkan Tata.
"Sudah, jangan dekat-dekat saya. Nanti saya kena sial lagi gara-gara kamu," tukas Tata menghindari Dika, mahasiswa yang telah lama menyimpan perasaan padanya.
Sayangnya Tata tak pernah mau membuka diri selain hanya fokus dengan perasaannya pada Gus Ali.
"Saya antar ke ruangan Ibu." Dika masih berusaha menawarkan diri. Ia tak akan menyerah demi hatinya dan perasaan yang sejak lama ia pendam. Alasan ingin terus melihat Bu Tata adalah penyebab ia selalu mencari masalah dengan dosen lainnya agar tidak segera lulus.
"Nggak usah, ingat ya, kepala saya sakit ya karena kamu," gertak Tata merasa jengkel dengan perilaku Dika yang sebenarnya sudah berusia di atasnya. Hanya saja postur dan gaya berpakaiannya begitu santai hingga tidak banyak yang menyadari jika Dika sebenarnya sudah lebih dewasa.
"Sudah berapa kali saya minta maaf, Bu." Dika menunduk. Ia menyadari betul kalau apa yang ia lakukan kemarin sangat salah. Hingga membuat Tata terluka karena terbentur meja.
Sebenarnya Dika tidak terlalu bersalah, hanya saja saat itu Tata sedang dalam keadaan letih dan marah karena Gus Ali tak juga kembali.
"Sudah, kamu masuk kelas sana. Jangan ganggu saya." Bu Tata berjalan meninggalkan Dika.
Perkataan Tata membuat Dika bergegas menuju kelas. Hari ini sebenarnya tidak ada kelas, sayangnya di jam istirahat ada pengumuman jika hari ini Pak Anton libur sehingga kelas diminta Pak Ali.
Dika segera masuk ke dalam kelas. Sayangnya sudah banyak yang duduk mendengarkan penjelasan Gus Ali yang menulis beberapa poin penting di kelasnya hari ini.
Gus Ali melirik jam tangan lagi. Fatimah dan Mega belum juga masuk ke kelasnya. Hal ini membuat konsentrasinya sedikit terganggu. Atau jika nanti Fatimah ada di depannya, ia juga akan merasa lebih terganggu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Akhirnya dua wanita masuk ke dalam kelas. Fatimah membeku di pintu. Tak menyangka jika sekarang jam suaminya. Padahal tidak ada di jadwalnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Kalian mahasiswi angkatan baru ya?" tanya Gus Ali berusaha sangat keras terlihat biasa.
Mega dan Fatimah masih berdiri di dekat pintu. Lalu mereka bersamaan mengangguk. Fatimah tak kalah berusaha menahan diri. Kalau saja ini di rumah, ia ingin sekali menggelitiki suaminya sampai Gus Ali meminta ampun.
"Em, begini saja. Untuk salam perkenalan, kalian bikin profil cendekiawan Muslim seratus halaman, besok saya tunggu di email saya," jelas Gus Ali.
Tanpa sadar mulut Mega menganga. Sedangkan Fatimah air mukanya langsung marah. Ingin protes, tapi ia tidak mau semua orang di sini tahu kalau dia istri dari dosen ganteng tapi killer ini.
"Kalian bisa duduk. Biar saya bisa melanjutkan materi saya," ujar Gus Ali setelah lama menunggu tidak ada respon dari dua wanita itu.
"Ganteng doang, mulut kek petasan," gumam Mega dengan sangat pelan. Kalimat itu hanya didengar jelas oleh Fatimah yang ada di sampingnya.
"Ganteng doang, tapi gak sisiran," balas Fatimah nimbrung keusilan Mega.
Ia sendiri pun tahu kalau tadi ia dan Gus Ali sama-sama terburu-buru. Hanya saja yang membuat Fatimah mengatakan itu karena bahkan setelah sampai di kampus, Gus Ali tidak menyisir rambutnya.
Hal itu membuat Fatimah gemas. Ingin sekali merapikannya. Sepertinya ia perlu melakukan sesuatu untuk suaminya itu. Sayangnya hal itu bukan perkara mudah karena mereka pura-pura tidak saling kenal.
Baiklah, Fatimah harus sedikit memutar otak. Fatimah menunggu saat yang tepat. Ia tidak bisa fokus mendengar penjelasan Gus Ali karena ketampanan suaminya itu.
"Baiklah, tugas Minggu kemarin bisa dikumpulkan sekarang," perintah Gus Ali setelah selesai menjelaskan tentang peradaban Islam sebagai pendahuluan sebelum masuk ke sejarah pendidikan Islam.
Gus Ali terlihat melirik Fatimah. Ia merasa khawatir jika istrinya itu belum mengerjakan tugas yang diberikannya Minggu lalu, saat tiba-tiba ia diminta pulang.
'Fatimah sudah bikin tugas belum ya? Apa saya kasih keringanan aja? Ah, nanti tidak adil sama yang lain,' batin Gus Ali.
Ia baru bisa bernapas lega melihat Fatimah memegang makalah. Wajah teduh wanita itu membuat bibirnya tersenyum samar. Fatimah memang sosok yang pandai. Pasti mudah bagi Fatimah mengerjakan tugas itu.
"Sudah?"
"Sudah, Pak."
"Saya akhiri, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Suara kelas bergema menjawab salam Gus Ali dengan kompak. Lalu Gus Ali melirik kembali Fatimah yang bersiap pergi. Ingin hati meminta istrinya itu menunggunya, tapi di depan banyak mahasiswa seperti ini tidak akan mungkin melakukan hal itu.
Gus Ali memutar otak sejenak. Ujung matanya melihat tumpukan makalah. Baiklah, tumpukan makalah ini akan jadi sarana untuk meminta Fatimah bersamanya.
"Kayaknya keseleo deh, anti bisa bantu bawakan makalah ini ke ruangan saya?" Gus Ali masih berakting kesakitan. Fatimah melirik suaminya, bisa saja Gus Ali mencari cara untuk berduaan dengannya.
Fatimah maju dua langkah, sayangnya Dika yang duduk di depan Gus Ali langsung berdiri dan membantu Gus Ali untuk membawakan tumpukan makalah.
"Saya saja, Pak yang bawa." Dika segera maju dan meraih tumpukan makalah lalu berjalan keluar kelas.
Membuat Gus Ali terdiam sesaat. Rencananya untuk mengajak Fatimah ke ruangannya gagal. Gus Ali hanya menelan ludah. Sedangkan Fatimah yang terlanjur berdiri, tidak bisa menahan tawanya.
Wajah kecewa dan kesal Gus Ali sangat lucu. Ia terpingkal-pingkal sampai Gus Ali menatapnya lalu berjalan keluar kelas.
"Anti kok berani sih nertawain Pak Ali? Hati-hati besok dapet C lhoh," peringat salah satu mahasiswa di sana.
"Eh, enggak kok. Ana ngetawain kucing lewat tadi," tukas Fatimah menunjuk depan pintu kelas.
"Hati-hati sama Pak Ali, dia meski ganteng tapi kejem," bisik mahasiswa yang lainnya.
Kelas terasa sepi. Satu per satu mahasiswa keluar. Kini tinggal Fatimah dan Mega yang sama-sama memikirkan hukuman dari Gus Ali tadi.
"Kita kok bisa telat, sih. Dapet hukuman, deh," sesal Mega. Padahal tadi keduanya sedang asyik makan saat tahu ada jadwal di jam itu.
"Nggak apa-apa, Meg. Jangan anggap hukuman, anggap saja ini latihan supaya kita lebih berwawasan," hibur Fatimah.
"Habis ini kemana?" tanya Mega pada temannya.
"Pulang, sih. Belum masakin, .... om nih." Fatimah menegangkan otot wajahnya. Hampir saja keceplosan masakin suami.
"Emang istrinya om anti kemana kok anti yang masakin?" tanya Mega dengan heran.
"Tante masih pengajian, iya. Pengajian." Fatimah meremas ujung jilbabnya merasa kebohongannya semakin hari semakin banyak.
__ADS_1
Ia tidak akan mampu menanggung dosa berbohong sebanyak itu. Fatimah menunduk. Untungnya Mega percaya saja. Lalu keduanya berpisah di depan gerbang kampus.
Sedangkan Gus Ali bersama Dika baru sampai di ruangan Gus Ali. Menatap mahasiswanya itu lekat-lekat. Sedikit kesal, tapi ia tak mungkin memperlihatkan.
"Ya sudah, Dik. Terima kasih ya."
"Iya, Pak."
Dika berjalan keluar dari ruangannya, baru beberapa langkah Dika bertemu dengan rekannya sesama mahasiswa. Kebetulan Gus Ali ingin minta tolong, Gus Ali berdiri di belakang Dika. Ia baru akan membuka mulut untuk memanggil Dika, tapi urung karena mendengar ucapan Dika pada temannya.
"Tumben mau bantuin Dosen Killer itu?"
"Tadi si dosen ini mau cari sasaran baru, makanya aku pepetin aja. Enak aja, Bu Tata dicuekin mau cari mangsa baru. Tunggu aja pembalasanku." Dika menyunggingkan senyum sinis.
Tak menyadari kalau orang yang dibicarakannya ada di belakangnya dan mendengar dengan jelas perbincangan itu.
"Oh, jadi Dika ada dendam sama saya," batin Gus Ali lalu kembali berjalan ke ruangannya.
Ia hanya berharap Dika, si mahasiswa yang malas mengerjakan tugas tidak mengganggu istrinya. Semoga saja. Gus Ali berharap tidak ada niatan Dika untuk mengganggu Fatimah.
Baru saja membuka pintu ruangan, Gus Ali dikejutkan dari dalam. Rupanya Tata diam-diam masuk ke dalam ruangannya. Bahkan Tata meletakkan coklat di atas meja Gus Ali. Tak lupa juga Tata memberi sepucuk surat di sana.
"Anti kok di sini? Bukannya sudah nggak ada jam ya?" tanya Gus Ali lalu menundukkan kepala. Setiap ia melihat Tata atau wanita lain, wajah Fatimah langsung ada di pelupuk matanya. Gus Ali ingin menghargai wanita yang telah menjadi istrinya.
"Hangout, kuy. Lama nih nggak nongkrong." Tata duduk di depan Gus Ali.
Untung saja Gus Ali melihat tumpukan makalah itu. Bisa ia gunakan sebagai alasan untuk menolak ajakan Tata.
"Anti nggak lihat tumpukan makalah yang belum saya periksa? Maaf, bisa tinggalkan saya?" pinta Gus Ali sembari membuka pintu ruangannya.
"Kok antum jadi kasar sih?" Tata langsung cemberut. Wajahnya langsung berubah sedih bercampur marah. Bahkan Gus Ali masih tidak menyadari luka di dahi Tata.
"Nggak, nggak gitu. Tapi tugas saya masih banyak." Gus Ali masih berusaha menjelaskan meski dengan hati yang bingung.
"Antum berubah!" Tata langsung meraih tasnya lalu keluar dari ruangan itu. Ia kecewa dengan perubahan Gus Ali memperlakukannya.
Dahulu menurutnya, Gus Ali selalu bersikap manis padanya. Selalu tak bisa menolak permintaannya. Tapi kini Gus Ali bahkan bernada tinggi memintanya keluar dari ruangan.
Di hati kecil Tata merasakan ada hal yang terjadi di saat Gus Ali pulang ke Ngantang. Dan hal itu seolah menjadi titik balik penolakan Gus Ali terhadap dirinya.
Tata baru berjalan beberapa langkah. Air matanya meleleh seperti cintanya. Hatinya terasa sakit dengan perubahan Gus Ali. Jika boleh ia meminta, Tata ingin dikembalikan ke masa lalu. Masa dimana Gus Ali tidak pernah menyakitinya.
Bersamaan itu, Fatimah berjalan mencari ruangan Gus Ali. Saat keduanya bertemu, Fatimah langsung mendekat. Ia heran melihat air mata di wajah Bu Tata.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Bu eh Kak kok nangis?" Fatimah menghentikan langkahnya.
Tata yang sedang sangat membutuhkan tempat bercerita langsung memeluk wanita di depannya. Tangisnya langsung pecah.
"Kenapa dia berubah, Tim? Kenapa dia tidak seperti dulu?" tanya Tata di tengah tangisnya.
Fatimah tidak menanggapi. Hanya saja ia menerka-nerka siapa yang dimaksud dosennya. Atau jangan-jangan, suaminya yang menyakiti Tata.
Diam-diam Fatimah jadi teringat gosip yang banyak terdengar di lingkungan kampus. Ia seringkali mendengar teman-teman sesama mahasiswa menyanjung kesetiaan Bu Tata bersama laki-laki yang bermulut kejam.
Hati Fatimah mulai ragu. Tapi ia juga merasa iba kepada Tata.
"Laa tahzan, Innallaha maana." Hanya pesan singkat itu yang bisa diucapkan Fatimah.
"Makasih ya Tim, mau dengerin kegalauanku. Btw kok belum pulang?" tanya Tata setelah sedikit tenang.
"Em, anu, dipanggil Gus, eh Pak Ali ke ruangannya. Tapi saya belum tahu."
Tata menatap Fatimah penuh selidik. Ia sedikit aneh karena Gus Ali memanggil mahasiswinya ke ruangannya. Biasanya Gus Ali menerima ajuan makalah atau judul skripsi khusus untuk mahasiswi di perpustakaan.
"Beneran dipanggil Ali?" tanya Tata meyakinkan dirinya. Meski ia masih merasa ada yang janggal.
Fatimah mengangguk. Ia sendiri bingung mencari alasan apa lagi.
__ADS_1
"Kak Tata tahu ruangan Pak Ali?" tanya Fatimah setelah was-was beberapa lama.
Tata langsung menunjuk ruangan yang baru saja ia lewati. Sejenak Fatimah teringat kalau Tata menangis setelah keluar dari ruangan itu. Jadi yang dimaksud Tata memang benar Gus Ali. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.