
Beberapa saat, aku terdiam menikmati aroma tubuh suami yang aku sayangi. Mataku terpejam merasakan hangat badannya yang kini membiarkanku meringkuk dalam pelukannya.
Tapi suara isakan segera membuyarkan semua kedamaian itu. Mas Adi menangis?
"Mas, ada apa? Mengapa Mas menangis?" Tanyaku pelan, beberapa detik lalu aku mencoba melepaskan pelukannya.
Tapi tangan Mas Adi mencegah tubuhku menjauh darinya. Ia kembali menggamit tubuh kecilku.
Bahkan Mas Adi juga tidak bersuara atau menanggapi pertanyaan ku tadi.
"Mas, sebenarnya ada apa?" Aku mengulang pertanyaan itu, berharap mendapatkan titik terang.
Beberapa menit menunggu, tapi hasilnya nihil. Mas Adi masih bungkam. Hanya isakannya melirik seperti tertahan sebuah beban yang berat.
"Aku mencintaimu," bisiknya lirih disela sela isakannya. Aku kembali membelalakkan mata, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Mas Adi tidak memberiku jawaban yang jelas?
"Aku pun mencintaimu karena Allab, Mas," tak terasa kalimatku bergetar. Sesak itu semakin menjadi.
Seolah takut akan terjadi sesuatu yang buruk. Astagfirullahaladzim. Aku berusaha menghapus pikiran buruk yang kini berusaha merasuki pikiran ku.
Hal terburuk yang sempat terlintas salah satunya adalah bayangan buruk bagi semua wanita saat cinta suaminya harus dibagi. Apa mungkin Mas Adi bertindak seperti ini karena ia akan memilih perempuan itu untuk menggantikan ku?
Astagfirullahaladzim. Begitu sulit berprasangka baik pada apa yang belum terjadi. Tapi jika pemikirannya ini benar, mampukah aku menerimanya?
Mampukah aku ikhlas menerima kenyataan bahwa aku nanti bukanlah satu-satunya? Mampukah aku hidup berdampingan dengannya? Dengan bidadari kedua dari suamiku?
Keheningan kami akhirnya terpecah saat nada dering telepon Mas Adi berbunyi nyaring.
Mas Adi melepaskan pelukannya dan merogoh saku celana bahannya untuk menerima telepon itu. Aku terdiam sesaat. Siapakah yang kini menghubungi Mas Adi? Apakah,...,?
"Assalamualaikum ada apa Sofia?" Mas Adi bergerak membelakangi ku untuk meneruskan pembicaraannya.
Sementara aku hanya bisa kembali menatap punggung Mas Adi. Dia berjalan menjauh dariku. Sebenarnya apa yang disembunyikan Mas Adi dariku? Mengapa kini dia seakan mencipta jarak di antara kami? Padahal yang aku tahu, Mas Adi dari awal berusaha terbuka padaku.
Astagfirullahaladzim. Aku menghembuskan napas kasar. Lebih baik aku menyiapkan sarapan untuk kami daripada aku tenggelam dalam terkaan yang akan menjadikanku sakit hati sendiri.
Aku berusaha menempatkan kepercayaan pada Mas Adi. Berusaha menjadi istri yang tidak pencemburu. Bukankah aku tahu bahwa kecemburuan seorang perempuan adalah kekufuran?
__ADS_1
Kini aku telah sampai di dapur. Setelah melihat beberapa bahan yang tersedia di kulkas, aku memutuskan membuat sayur bayam untuk sarapan kali ini.
Tak lupa sambal orek kesukaan suamiku. Aku mengulum senyum saat kembali teringat bagaimana ekspresi wajah Mas Adi saat pertama kali aku membuatkannya sambal orek dan sayur bening serta lauk tempe goreng tepung.
"Hem, rasanya cantik seperti yang buat," pipiku menghangat saat Mas Adi berkata seperti itu.
Duapuluh menit kemudian, aku sedang menyiapkan makanan di meja makan saat Mas Adi terlihat melangkah cepat dari kamar.
Dia melirik meja di depanku sebentar, tapi sayangnya apa yang aku harapkan tidak terjadi. Mas Adi terus berjalan menuju ruang tengah. Aku menunduk, mengapa Mas Adi berubah? Mengapa sikapnya membuat kami seolah menjauh?
"Sobahul bii khoir," sebuah suara membuatku mendongakkan kepala. Mas Adi berjalan menuju meja makan.
"Sobahul nur," balasku dengan cepat. Laki-laki berkemeja oranye pudar itu mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan di kening ku lalu duduk di tempat duduknya.
"Hem, baunya enak nih. Syukron dik, atas segalanya." Pujinya, aku menunduk.
Menyembunyikan pipiku yang mungkin kini mirip udang rebus. Aku hanya tersenyum lalu mengambilkan piring dan mengisi nya dengan nasi.
Akhirnya kami sarapan bersama. Alhamdulillah, semoga ini awal yang baik untuk hubungan kami.
Siapa tahu setelah sarapan Mas Adi akan menjelaskan perihal kepergiannya yang mendadak semalam. Aku tersenyum lega. Terima kasih ya Allah. Engkau kembalikan suami hamba.
"Dik, aku hari ini ada urusan. Mungkin akan pulang sore atau bahkan menginap. Kau tidak apa-apa kan di rumah sendirian?" Mas Adi menatapku lekat. Entah laki-laki ini menyadari perubahan air muka ku atau tidak.
Pasti ini berhubungan dengan ustazah Sofia. Apa belum cukup semalaman bersamanya? Mengapa hari ini Mas Adi pergi lagi menemuinya? Mengapa Mas Adi tega meninggalkanku hanya demi perempuan yang pernah dekat dengannya? Atau aku salah? Atau Mas Adi masih sangat mencintainya?
Dadaku seperti diremas. Sakit sekali. Mungkin semua wanita juga akan merasakan sakit yang saat ini aku rasakan?
Dengan senyum yang manis aku mengangguk. Entah Mas Adi menyadari nya atau tidak jika perilakunya telah menyakiti hati istri nya. Ya, aku mengijinkannya pergi menemui ustazah Sofia.
Mas Adi terasa menguatkan genggamannya sebentar sebelum ia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu dari depanku.
Mas Adi telah hilang dari pandangan, saat itulah air mata yang kutahan segera meluncur bebas.
Aku tersedu merasakan sakit ini. Kutip wajah dengan tangan untuk melerai air mata itu jatuh lagi. Tapi itu tidaklah mudah. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Adi. Apa saja yang ia lakukan di luar sana. Apa salahnya jika aku menyelidikinya? Bukankah tabayyun tanpa menyelidiki lebih lanjut adalah salah?
Aku memutuskan untuk pergi menyelidiki apa yang dilakukan suami ku di luar sana bersama seorang perempuan lajang. Dan yang sangat menyakitkan adalah perempuan itu sahabat ku sendiri yang kukira baik.
__ADS_1
****
Setelah Mas Adi berlalu dengan mobilnya, aku sengaja menyewa taksi untuk mengikutinya. Apakah ini berarti aku meragukan suamiku?
Tapi apakah keraguan ini salah setelah suamiku lebih memilih pergi dan menghabiskan waktu bersama seorang perempuan muda yang cantik? Aku menghembuskan napas dalam. Aku memang harus melakukannya.
Toh ini demi keutuhan rumah tanggaku. Dengan tangan membenarkan letak cadar, aku berjalan menuju pintu taksi yang kupesan tadi.
"Ikuti mobil di depan itu, Abu," perintahku dengan bahasa Arab.
Sopir taksi mengangguk dan menjalankan mobilnya.
Aku bersandar di tempat duduk taksi. Pikiran ini kembali berputar putar. Bayangan Mas Adi bersama perempuan lain beberapa kali terlintas di benakku.
Astagfirullahaladzim. Kuraup wajah dengan kedua tangan. Ya Allah, kuatkanlah aku untuk menghadapi situasi ini.
Aku terbelalak saat menyadari mobil Mas Adi terparkir di depan sebuah rumah sakit. Sebenarnya siapa yang sakit? Aku menerka-nerka.
Apakah ustazah Sofia yang sakit? Lalu semalam? Apakah Mas Adi menungguinya di sini? Sekamar dengan wanita yang bukan mahramnya? Aku menutup mulutku.
Ya Allah, hindarkan lah aku dari perbuatan yang tidak baik. Setelah membayar taksi, aku segera berjalan menuju pintu masuk rumah sakit yang bisa dibilang rumah sakit yang besar itu.
Dengan cadar yang kini aku kenakan, aku berjalan santai sambil mengedarkan pandangan.
Aku terdiam saat melihat ke arah taman yang berada di dalam rumah sakit. Mas Adi berada di sana dengan seorang wanita yang aku kenal. Bahkan sangat dekat denganku.
Ustazah Sofia. Tapi di tengah-tengah mereka ada pula seorang wanita yang duduk di kursi roda. Mereka bertiga terlihat berbincang-bincang santai sambil sesekali tertawa bahagia.
Mendadak mataku memanas melihat pemandangan itu. Tapi dari posisiku sekarang aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.
Dengan ragu-ragu aku melangkah menuju taman itu. Aku berpura-pura duduk di dekat mereka. Toh aku mengenakan cadar yang menutupi wajah. Semoga saja Mas Adi tidak mengenaliku.
"Kau adalah perindu yang menang, Sofia. Dengan doamu yang kuat, akhirnya kau mendapatkan apa yang kau inginkan sejak dulu." Aku mengernyitkan dahi saat mendengar suara parau wanita di kursi roda itu memuji-muji ustazah Sofia.
"Iya, umi. Sejak aku mengenalnya, aku tahu dia adalah seorang perindu sejati." Kini Mas Adi yang berbicara. Ia terlihat santai dan bebas saat berbicara.
"Aku percaya kau akan menemukan cinta sejatimu, nak. Dan sekarang apa yang kau munajat kan itu ada di depan mata."
__ADS_1
Mendengar perkataan wanita itu, dadaku kembali menyesak. Apakah ini berarti Mas Adi akan meninggalkanku?