Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Disidang


__ADS_3

JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.


JAZZAKUMULLAH KHAIR


****


Fatimah pulang bersama Gus Ali. Karena kakinya masih sakit, Gus Ali membantu Fatimah untuk berjalan. Merasa tak mungkin membawa Fatimah yang sedang sakit dengan sepeda motornya, Gus Ali berinisiatif memesan taksi online.


Perhatian dan cara Gus Ali memperlakukannya, membuat dada Fatimah bergetar. Merasakan jika lelaki yang menjadi suaminya ini memang lelaki tulus yang mencintainya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Gus Ali ketika melirik bibir istrinya itu tersenyum.


Sontak Fatimah menoleh ke arah lain. Malu kepada suaminya. Tapi ia kembali berbicara dengan dirinya sendiri. Untuk apa malu, toh keduanya sudah menjadi pasangan sah.


"E, enggak, kok, Mas."


Fatimah menatap sisi lain mobil yang ia tumpangi bersama Gus Ali. Kakinya yang memar hanya sedikit berdarah. Tapi walau begitu tetap saja ngilu dipakai berjalan. Ia sampai harus menggunakan tongkat sampai rasa sakit itu hilang.


"Anti lebih baik izin dulu ya nggak masuk kuliah seminggu, sampai kaki anti sembuh," ujar Gus Ali selesai membaca setiap obat yang diberikan dokter.


"Tap, tapi, Mas. Ana nggak apa-apa kok."


"Nurut apa kata suami, Tim. Ana ini imam anti." Akhirnya Gus Ali gemas sendiri dengan istrinya. Dalam keadaan begini saja masih tidak memikirkan diri sendiri.


"Insyaallah saya kuat kok Mas. Lagipula saya tidak ingin terlambat lulus kuliah, ...."


"Anti jangan egois, anti masih sakit. Tolong sekali ini saja manut, nurut sama apa kata suami. Saya berkata begitu demi kesehatan anti. Bukan untuk saya sendiri."


Melihat kilatan mata marah Gus Ali, Fatimah langsung terdiam. Rasanya ia melihat Gus Ali sebagai dosen killer, ia sama sekali tak melihat lelaki yang selama ini menemaninya.


"Maaf, Tim. Mas hanya ingin yang terbaik untuk anti." Akhir Gus Ali.


Mereka sampai di rumah, dan Fatimah masih memilih diam karena takut kepada suaminya. Ketegasan Gus Ali yang nampak ketika ia berbincang dengan Fatimah, sangat mengejutkan Fatimah.


"Tim, sekarang istirahatlah, Mas buatkan makanan ya?" tawar Gus Ali yang belum menyadari jika Fatimah sejak tadi diam saja.


Fatimah tak menjawab hanya mengangguk pelan. Gus Ali keluar dari kamar dan menuju dapur. Ia akan memasak untuk Fatimah. Tentu saja memasak bukan hal yang mudah untuknya. Gus Ali dengan sigap mengetik di mesin pencarian tentang cara pembuatan sop.


Baru saja sayur sop yang ia masak matang dan terhidang di mangkok. Gus Ali kembali mencicipinya sebelum dibawa kepada Fatimah. Memastikan rasanya cukup enak agar menggugah selera makan Fatimah.


Suara dering telepon lumayan mengejutkan Gus Ali. Ia segera menerima panggilan. Mata Gus Ali terbuka lebar begitu mendengar perintah dari orang di seberang.


Tatapan mata Gus Ali sejenak luruh. Ia tahu, masalah ini pasti akan sedikit panjang. Dan ia harus menyiapkan hatinya jika ada bagian dari takdir Allah yang tidak sesuai harapannya.


Gus Ali membuang napas kasar. Ia menutup panggilan telepon dan wajahnya terasa lelah. Gus Ali kembali melirik semangkok sayur sup buatannya.


"Saya harus memastikan Fatimah makan dan minum obat dulu sebelum ke kampus," bisik Gus Ali lalu membawa sayur sup itu ke kamar tempat dimana Fatimah berada.


Di kamar, Fatimah menutup matanya. Rasa pusing di kepalanya terasa menjalar. Dadanya sedikit nyeri karena merasa dibentak oleh suaminya. Belum lagi masalah Mega yang sejak tadi meneleponnya, untungnya Fatimah memasang mode silent. Jadi ia tak terganggu oleh dering panggilan.


Sejenak memikirkan segala masalah di kepalanya. Tanpa komando, air bening menetes dari ujung matanya. Rasa sesak sudah pasti menyiksanya. Ia sendiri tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Semua semakin runyam.


"Fatimah, istriku," panggil Gus Ali sambil meletakkan mangkok sup di meja.


Gus Ali berusaha memasang senyum seperti biasa. Rupanya kecelakaan yang dialami Fatimah ada hikmahnya. Karena kejadian itu, Fatimah tidak tahu kejadian di kampus. Diam-diam Gus Ali bersyukur.


Dengan telaten Gus Ali mengaduk sup yang masih panas. Itu terbukti dari banyaknya kepulan asap di atas mangkok.


"Kenapa tidak meniupnya saja, Mas? Biar cepat dingin." Fatimah tak sabar menanti sup itu berpindah tangan. Bau harum bumbunya membuat perutnya lapar. Ia tak menyangka kalau sang suami pandai memasak.


"Sabar, Tim. Saat kita melakukan aktifitas yang melibatkan kegiatan mengeluarkan udara, seperti contohnya bernafas, berbicara, meniup, batuk, dan bersin, aktifitas tersebut akan menimbulkan partikel-partikel air yang ukurannya sangat kecil."


"Menurut beberapa penelitian partikel-partikel itu berukuran dari <1μm sampai > 20 μm dan sekali kita bernafas, kita dapat menghasilkan sampai 7000 partikel. Sedangkan jika dilihat dari ukuran rata-rata bakteri yaitu sekitar 0,2 – 2 μm, dan virus sekitar 17-300 nanometer, maka sangat mungkin jika mikroba-mikroba tersebut mencemari makanan kita melalui media partikel-partikel air yang kita produksi dari meniup makanan."


Fatimah tidak mengatakan apapun karena bingung akan mengatakan apa. Tapi yang jelas hal ini membuatnya takjub sekaligus ternganga.


"Lagipula dalam hadist juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang meniup minuman dan makanan, dan hal ini makruh, karena hal ini dapat mengubah aroma dari air, dan narasi dari Abi Sa’id al-Khudri juga menjelaskan bahwa larangan meniup makanan panas agar cepat dingin itu mengindikasikan sifat serakah dan tidak sabaran." Gus Ali mengerling usil. Membuat Fatimah semakin terdiam.


"Kok diem aja, nih sudah dingin. Apa Mas suapin aja?" tanya Gus Ali, ia sadar jika sang istri sedang adem panas karena godaannya.


"E, enggak, Mas. Yang sakit kan kaki saya, tangan saya bisa kok buat makan." Fatimah buru-buru meraih mangkok di tangan Gus Ali.


Suara handphone Gus Ali kembali berdering, membuat keduanya terdiam sesaat. Gus Ali meraih benda pipih itu di kantongnya, lalu melihat nama orang yang sama dengan tadi. Pasti ia sudah ditunggu. Tapi Gus Ali ragu untuk pergi melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanya Fatimah memperhatikan lelaki di depannya terlihat bingung. Wajah Gus Ali juga mendadak berubah setelah melihat layar handphonenya.


"E, enggak, Tim. Mas ternyata ada jadwal ngajar."


"Ya sudah, Mas ke kampus saja. Fatimah baik-baik saja, kok."


Gus Ali kembali menatap sang istri. Di wajah cantik Fatimah ia merasa menemukan semangat baru. Ia seharusnya tak perlu khawatir dengan keadaan Fatimah. Ada Allah yang menjaganya. Dan Gus Ali tahu benar itu. Apa yang ada di hidupnya sekarang, semua hanya titipan.


Pun jabatan sebagai dosen. Jika kelak titipan itu diambil oleh yang punya, Gus Ali harus siap. Gus Ali harus sabar, dan ikhlas.


"Beneran nggak apa-apa?" tanya Gus Ali ingin memastikan istrinya baik-baik saja.


"Ya sudah kalau begitu, Mas ke kampus ya. Nanti jangan lupa minum obatnya. Kalau butuh apa-apa bisa telepon Mas ya." Gus Ali menyentuh pipi istrinya.


Sebenarnya tidak tega meninggalkan Fatimah di saat seperti ini. Tapi apa boleh buat? Gus Ali harus menemui rektor. Desas-desus tentang Gus Ali sebagai dosen aktif yang berpelukan dengan wanita di lingkungan kampus, pasti sudah sampai ke telinga rektor. Dan kemungkinan terburuknya, Gus Ali harus mundur dari pekerjaannya.


Senyum Gus Ali memudar saat memikirkannya, tapi ia kembali tersenyum meski dengan mimik sangat terpaksa. Diam-diam Fatimah memperhatikan. Ia curiga jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Mas nggak apa-apa?" tanya Fatimah menatap suaminya.


"Eh, enggak ada apa-apa, kok. Mas berangkat ya, anti hati-hati di rumah ya."


"Mas kenapa sih? Ya Mas yang harusnya hati-hati karena Mas yang keluar rumah." Fatimah melotot pada Gus Ali. Dia kesal dengan cara Gus Ali menyembunyikan sesuatu darinya.


Tak ingin memancing perdebatan lagi, Gus Ali mengecup kening sang istri lalu melangkah keluar.


Setelah Gus Ali pergi, Fatimah tetap mematung. Saat tersadar, ia melanjutkan makannya dan segera meminum obat. Ia harus segera sembuh.


Fatimah teringat handphonenya, ia mengambil handphonenya dan membuka satu per satu pesan yang masuk.


||Assalamualaikum, Tim. Kemana nih kok nggak kuliah? Ditelpon juga nggak diangkat.||


||Tim, anti baik-baik saja, kan?||


||Siti Fatimah, kenapa sulit dihubungi?||


||Ana ada kabar heboh nih.||


Fatimah mengembuskan napas kasar. Walau dengan perasaan yang berat karena beban kebohongannya, Fatimah bertekad menjelaskan kepada Mega tentang keadaannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Meg?"


"Tim, anti kenapa nggak masuk? Ada berita heboh lhoh di kampus. Anti jadi ketinggalan, deh." Mega langsung nyerocos.


Fatimah memutar bola matanya jengah. Ia tidak tertarik sama sekali dengan bahasan itu.


"Kemarin keserempet, Meg waktu mau berangkat."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Gimana keadaan anti sekarang, Tim? Anti sekarang dimana?" tanya Mega melupakan tentang apa yang ingin dia sampaikan setelah mendengar sahabatnya terkena musibah.


"Alhamdulillah nggak apa-apa, kok. Cuma memar dikit."


"Sekarang dimana?"


"Di rumah."


"Sendirian?"


"Heem, Meg."


"Ana kesana ya? Share loc dong."


"Iya, Meg."


Akhirnya Fatimah hanya bisa membiarkan garis takdir yang akan menuntunnya mengatakan dengan jujur apa yang sudah terjadi. Fatimah bertekad menyelesaikan kebohongannya. Mungkin ini sudah takdir Allah.


***


Di sisi lain, Gus Ali sedikit gemetar saat memasuki ruangan rektorat. Berkali-kali Gus Ali harus mengucapkan doa penenang untuk dirinya sendiri.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."

__ADS_1


Setelah dipersilakan masuk, Gus Ali masuk ke dalam ruangan. Ternyata sudah ada dekan, kaprodi, kajur, dan rektor. Sudah pasti semua yang berada di sana jabatannya di atas Gus Ali. Ia memasuki ruangan dengan menunduk.


"Jadi sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rektor dengan sabar. Walau ia berkata dengan pelan, Gus Ali merasakan ada hawa panas di dalam ruangan ini.


"Bicaralah, Li. Kalau ada yang perlu antum katakan," perintah Kaprodi yang juga adalah ayah dari Tata.


Setelah melihat wajah abinya Tata itu Gus Ali menunduk. Mengambil napas panjang sambil menyusun kalimat yang tepat.


"Saya telah menikahi wanita yang fotonya tersebar itu." Gus Ali terdengar pasrah. Ia merogoh tas lalu menyerahkan dua buah buku nikah atas nama dirinya dan Fatimah. Ini sebagai bukti dari ucapannya.


Tentu saja semua yang ada di dalam kantor terperangah. Tak percaya jika apa yang mereka lihat ternyata adalah fitnah belaka. Jadi Gus Ali sudah menikahi gadis yang ada dalam foto.


"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk membersihkan nama antum, Gus?" Kini gantian Kajur yang dijabat oleh Pak Alatas yang berkesempatan berbicara.


"Tapi apa yang terjadi ini bisa saja turut mencoreng nama baik sekolah. Kita tidak bisa meremehkannya," debat seorang dari mereka dengan name tag Pak Gunawan. Ialah dekan yang selalu memikirkan kebaikan kampusnya.


"Tapi tidak semua klarifikasi akan membersihkan nama Gus Ali. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Contohnya dengan membiarkan Gus Ali mengajar seperti biasa. Biar saja berita miring ini hilang ditelan waktu."


Semua terdiam. Gus Ali berkali-kali bertahmid. Bersyukur karena masalah ini bisa ia lewati dengan mudah. Tentu saja masalah ini suatu saat akan menjadi bahan bakar orang yang tidak menyukainya.


Pun ia memikirkan siapa yang berhasil mengambil gambar itu. Tapi jika diingat, Gus Ali memang tidak perhatian dengan sekitar saat itu.


"Ya sudah, kita harus menemukan siapa yang menyebarkan gambar itu untuk menghentikannya. Untuk sementara, Gus Ali bisa digantikan dahulu dengan dosen lainnya sampai masalah ini selesai," putus Rektor, seorang profesor yang mengenyam pendidikan di negeri Timur Tengah.


"Lalu siapa yang akan menggantikan?" tanya orang yang lainnya. Pertanyaan itu seolah menguap di udara karena tidak ada jawaban sama sekali.


Akhirnya Gus Ali diperbolehkan keluar dari ruangan. Meski ia mendapat hukuman dengan skorsing, Gus Ali tetap bersyukur karena apapun yang terjadi hari ini adalah takdir Allah. Gus Ali yakin ada campur tangan Allah di segala aspek kehidupannya.


Gus Ali melangkah keluar dengan hati sedikit lega. Namun ia juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena insiden ini.


"Tidak apa jelek di mata manusia, hanya Allah Yang Mahatahu apa yang sejatinya terjadi." Gus Ali meyakinkan dirinya lalu menghapus air mata yang menumpuk di sana.


Tak sengaja saat baru keluar dari rektorat, Gus Ali bertemu dengan Tata. Melihat wajah tegang Gus Ali, Tata mendekat. Ia juga tak bisa menyembunyikan kerinduannya pada laki-laki itu.


"Ali, kemana aja sih? Ana kangen lhoh." Tata segera mendekat, tapi Gus Ali malah mengambil jarak darinya.


Apalagi di dekat ruangan rektor, Gus Ali tak mau menyakiti hati Tata. Gus Ali sedikit menjauh. Tak membiarkan Tata mendekat.


"Stop, cukup. Di sana saja, Ta."


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa antum menjauh?"


"Karena kita bukan mahram."


Alis mata Tata sedikit naik. Tapi ia hanya mengartikan kalimat Gus Ali seperti biasanya, saat dia harus menjaga jarak.


"Ke resto yuk, Li. Banyak yang mau ana bincangkan dengan antum."


"Maaf, Ta. Istri ana sedang sakit, jadi ana harus ada di sampingnya."


"Istri?" Bagai terkena petir di siang bolong, Tata berusaha mencerna kata itu. Tapi nihil, dia tetap tidak bisa menerima.


"Hahahaha." Detik selanjutnya Tata tertawa terbahak. Ia mengira Gus Ali beralibi untuk menghindarinya.


"Antum bikin ana sakit perut. Ha ha ha."


"Tidak, Ta. Ana tidak bercanda."


"Oh, ana tahu. Karena ada gosip itu ya? Tenang saja, ana yakin itu hanya editan. Udah nggak usah terlalu dipikirkan," jelas Tata.


Gus Ali memandang Tata dengan tatapan iba. Sepertinya sahabatnya itu memang belum bisa menerima kalau Gus Ali tidak berjodoh dengannya.


"Udah, ana pamit pulang," pamit Gus Ali meninggalkan Tata yang masih tertawa.


"Eh, ana ikut, Li. Pengen ketemu istri antum."


Tata menyusul langkah Gus Ali. Tata sebenarnya tidak ingin main ke rumah Gus Ali. Ia tidak mungkin berduaan saja dengan Gus Ali. Tata masih tetap pada pendiriannya, Gus Ali tidak mungkin mengingkari janji.


Gus Ali akan menikah jika Tata sudah memiliki jodoh. Dan Tata merasa Gus Ali cukup kuat memegang prinsipnya.

__ADS_1


__ADS_2