Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Lamaran


__ADS_3

Fatimah berkali-kali mengucapkan hamdalah. Jika teringat bagaimana Allah memberi pertolongan padanya tadi. Fatimah semakin yakin kalau Pertolongan Allah begitu dekat.


"Alhamdulillah ya, Meg. Kita datang pas owner-nya ulang tahun, jadi dapat gratisan."


Fatimah dan Mega sedang berbincang-bincang di depan parkiran. Mereka akan menunggu bus di sini untuk kembali ke Ngantang.


Satu hal yang tak disadari mereka adalah seorang lelaki membawa gitar di belakang mereka berdiri. Gus Ali yang baru saja keluar dari restoran berbincang sebentar dengan Tata yang memperlihatkan raut bahagianya.


"Thanks ya, Li. Lihat umi bahagia kayak tadi, aku seneng banget," kata Tata pada Ali.


Tak fokus dengan ucapan Tata, Gus Ali sibuk meraih handphonenya. Teringat jika esok adalah pengumuman kelulusan Fatimah. Ia tak ingin melewatkan momen itu.


"Iya, Ta. Sama-sama." Gus Ali hanya tersenyum samar. Masih memikirkan tentang Fatimah yang esok menerima kelulusan. Teringat kalau ia telah berjanji memberi hadiah pada gadis itu.


Dan lagi, Gus Ali sudah terlalu lama memendam rindu pada gadis itu. Selama ini ia menahan diri untuk tidak menghubungi Fatimah. Ia ingin menjadi surprise saat tiba-tiba mengetahui hasil kelulusan Fatimah. Tentunya dengan bantuan Haikal sebagai mata-matanya di Ngantang.


Gus Ali juga tak menyadari jika Tata menunduk karena begitu terpesona dengan senyumnya yang manis. Tata sudah tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi entah mengapa hatinya tak pernah menurut saat ia perintahkan membunuh rasa yang tumbuh sejak pertama mereka berjumpa.


Baru saja Gus Ali membuka handphonenya sebuah insiden tidak mengenakan terjadi. Seorang pria tidak diketahui identitasnya berlari menabraknya hingga handphone Gus Ali di tangannya jatuh.


"Hey!" pekiknya, Gus Ali tak lagi fokus dengan kisah Tata atau lelaki yang tadi menabraknya.


Gus Ali memungut handphonenya yang terlihat tidak baik-baik saja. Layarnya retak dan saat Gus Ali mencoba menghidupkannya, layar itu tetap tidak mau menyala. Gus Ali mengembuskan napas dalam.


Padahal ia sudah kangen berat untuk menelepon Fatimah. Tapi ada saja halangan untuknya menghubungi calon istri yang akan dinikahinya itu.


"Astaghfirullahalladzim." Gus Ali beristighfar. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Barangkali ia memang kurang memohon ampunan kepada RabbNya.


"Aduh, handphone-nya masih bisa hidup nggak?" tanya Tata simpatik.


"Mati sih, butuh masuk bengkel kali," balas Gus Ali santai.


Secara kebetulan Fatimah dan Mega yang berada di depan parkiran menyetop bus jurusan Jombang. Kedua wanita itu langsung naik dan bus berjalan meninggalkan tempat.


Di sisi lain Gus Ali masih berusaha menyalakan handphone di tangannya. Ia berharap handphone itu masih bisa digunakan untuk menghubungi rumah maupun Fatimah.


"Beneran nggak bisa nyala?" tanya Tata lagi, ia jadi tidak enak pada Gus Ali. Ingin membantu tapi sudah tahu watak Gus Ali yang tak mudah menerima bantuan orang lain. Apalagi lawan jenis.


"Iya, nih. Kebanyakan mudharatnya kali, makanya hapenya mati," terang Gus Ali mencoba terkekeh meski hatinya galau. Memikirkan cara menghubungi orang rumah dan Fatimah. Nomor mereka hanya ada di handphone itu.


Saat mengedarkan pandangan, tak sengaja Gus Ali melihat ke jendela bus yang baru berjalan, ia seperti melihat Fatimah di sana.


'Wah kacau, saking kangennya sampe kebayang-bayang.' Gus Ali menggeleng cepat. Ia harus sadar kalau Fatimah tidak mungkin ada di sini. Fatimah tetap di Ngantang. Kecuali, ....


Gus Ali seketika teringat kata-kata Haikal tempo hari. Fatimah ingin kuliah. Mungkinkah Fatimah memang datang ke sini untuk kuliah di kampus tempatnya mengajar? Kepala Gus Ali terasa sedikit pusing setelah memikirkan kemungkinan yang bisa dibilang prosentase kebenarannya sangat kecil. Seandainya Fatimah kuliah di Surabaya, juga tidak menutup kemungkinan calon istrinya itu kuliah di kampus lain. Di Surabaya ada begitu banyak universitas terkemuka.


"Ngelantur pikiranku. Gara-gara hape rusak," gumam Gus Ali. Tak menyadari kalau Tata masih ada di sampingnya.


"Apa, Li?"


"Eh, tidak. Ini lo hape rusak beneran." Gus Ali berusaha tersenyum seperti biasa.


"Pake hape ana aja gimana? Nih, ana punya dua," ujar Tata sembari mengeluarkan hapenya dari dalam tas.


Sebenarnya Tata tidak yakin maksud baiknya akan diterima pria di hadapannya ini. Tapi melihat Gus Ali berkali-kali berusaha menghidupkan handphonenya, ia jadi iba.


"Afwan, Ta. Bukannya mau menolak kebaikanmu, tapi kayaknya nggak usah deh. Maaf ya."


Tata terdiam. Ia ingin berlaku biasa, tapi penolakan Gus Ali kali ini rasanya berbeda. Tata merasa Gus Ali perlu bantuannya, tapi gengsi yang membuat pria itu menolak lagi bantuan Tata.


"Eh, yaudah ana duluan ya. Ada jadwal jam tiga," pamit Gus Ali berjalan mendahului Tata. Tak lupa ia mengucap salam kepada wanita itu.


Gus Ali memang sengaja menghindari Tata. Sebagai laki-laki ia tahu benar kalau Tata baik padanya tidak murni, melainkan temannya itu memiliki perasaan lebih padanya.


Tata pernah mengungkapkannya dan Gus Ali hampir tergoda untuk menerima cinta gadis itu. Gitar yang di tangan Gus Ali adalah saksi bisu pembicaraan serius antara Gus Ali dan Tata tiga tahun lalu.


'Afwan, Ta. Anti juga sudah tahu kan kalo ana sudah punya calon.'


'Iya, Li. Nggak apa-apa kok. Tapi tolong terima gitar ini ya. Buat kenang-kenangan aja. Please, terima ya.' Tata memaksa Gus Ali menerima gitar akustik berharga sejutaan itu.


Gus Ali beberapa kali ingin mengembalikan gitar itu. Selain alasan tak enak menerimanya karena harganya yang bagi Gus Ali lumayan mahal, juga karena ia tak ingin terperangkap kenangan bersama Tata.


Hanya karena berusaha menghargai gadis itu dan kedua orang tua Tata yang baik padanya, akhirnya Gus Ali mau menerima dan menyimpan gitar itu.


Saat pulang ke Ngantang, Gus Ali buru-buru menyembunyikan gitar di kolong tempat tidurnya. Di area pesantren memang terkenal disiplin. Pak Kyai sendiri tidak melarang Gus Ali menyimpan pemberian temannya itu, hanya saja Pak Kyai memperingatkan untuk tidak menggunakannya di area pesantren.


Musik adalah bagian dari penggembira yang melenakan. Aturan di pesantren memang ketat. Perkara yang mengganggu konsentrasi belajar harus dihindari. Kita tidak pernah tahu seberapa halusnya syetan mempengaruhi hati dan pikiran. Bisa saja dari hal kecil seperti menikmati musik yang akhirnya membuat ilmu yang didapat tidak barokah dan malah membuat hati mengeras.


***


Di sisi lain, Fatimah baru sampai di rumah. Malam-malamnya kini sangat sepi. Karena Gus Ali tak lagi menghubunginya. Tidak ada pesan, tidak ada nasehat-nasehat dari laki-laki yang menemaninya sejak masih kecil itu.


Tidak munafik jika Fatimah merasakan kerinduan. Tapi ia berusaha keras mengalihkan pikiran itu dengan hal lain. Belajar menyanyikan lagu berbahasa Arab contohnya. Bukan hanya lagu romantis yang tempo hari tak sengaja diputar YouTube, Fatimah juga belajar beberapa sholawat yang dikemas dengan musik hadrah.


Roqqot ‘ainaa yashaukhon


(Kedua mataku penuh kerinduan)


Wali Toibatadhar fata ‘ishqon

__ADS_1


(Dan meneteskan air mata karena hilang Taiba)


Fa’ataytu ila habibi


(Aku datang menuju kekasihku)


Fahda’ ya qalbu warifqon


(Ketentraman, Sanubariku, dan menjadi lemah lembut)


Salli ‘ala Muhammad


(Bershalawatlah kepada Muhammad)


Assalamu alayka ya, Ya Rosululloh


(Semoga diberikan keselamatan atasmu Wahai Utusan Allah)


Assalamu alayka ya habibi, Ya NabiyyaAllah ( Semoga diberikan keselamatan atasmu duhai kekasihku)


Assalamu alayka ya, Ya Rosululloh


(Semoga diberikan keselamatan atasmu Wahai Utusan Allah)


Assalamu alayka ya habibi, Ya NabiyyaAllah ( Semoga diberikan keselamatan atasmu duhai kekasihku)


Ya Rasulullah


(Wahai Utusan Allah)


Qolbun bil Haqqi ta’allaq


(Hati yang melekat pada kebenaran Mutlak


Wabi ghari hira’a ta’allaq


(Dan yang mulai bersinar dalam Gua Hira)


Yabki yas’alu khaliqahu


(Menangis dan meminta (kepada) Pencipta-Nya)


Fa’atahul wahyu fa’ashraq


(Maka ketika wahyu datang kepadanya, dia bersinar)


Iqra’ iqra’ ya Muhammad


Assalamu alayka ya, Ya Rosululloh


(Semoga diberikan keselamatan atasmu Wahai Utusan Allah)


Assalamu alayka ya habibi, Ya NabiyyaAllah ( Semoga diberikan keselamatan atasmu duhai kekasihku)


Assalamu alayka ya, Ya Rosululloh


(Semoga diberikan keselamatan atasmu Wahai Utusan Allah)


Assalamu alayka ya habibi, Ya NabiyyaAllah ( Semoga diberikan keselamatan atasmu duhai kekasihku)


Ya Rasulullah


(Wahai Utusan Allah)


***


Umi Afin dan ustaz Adi sebenarnya tahu ada perubahan pada diri putrinya sejak Gus Ali pergi. Tapi keduanya juga tidak ingin mengganggu putrinya. Biar saja hatinya belajar untuk sabar dan setia. Kedua orang tua Fatimah itu juga sengaja tidak memberitahu kalau yang hari esok datang melamar adalah Gus Ali. Biar jadi surprise.


"Bah, gimana kalo umi bilang ke Fatimah kalau yang besok melamar itu Gus Ali?" tanya umi Afin suatu ketika. Tapi wajah sang suami berubah masam.


"Kalau Fatimah tahu lalu kabur gimana, Mi?"


"Fatimah nggak sekekanakan itu, Bah."


"Umi bisa jamin?"


"Enggak juga sih. Tapi masak Fatimah nggak dikasih tahu sih, Bah?"


"Biar saja, Mi. Biar berjalan apa adanya. Fatimah juga biar belajar sabar dalam senang dan susah."


Umi Afin terdiam setelah perbincangan itu. Hati kecilnya sungguh ingin memberitahu Fatimah. Tapi perkataan suaminya juga ada benarnya.


Hari ini ada dua hal penting yang akan terjadi. Paginya, kelulusan Fatimah akan diumumkan hari ini. Abahnya telah berada di madrasah untuk mengambil hasil belajar Fatimah selama tiga tahun.


Sedangkan sorenya, keluarga calon suaminya akan datang. Fatimah harus mempersiapkan hari ini dengan sebaik-baiknya. Meski menjalani hari dengan rasa yang tidak lengkap. Semula ia pikir hatinya akan baik-baik saja meski Gus Ali tidak lagi menghubunginya. Tapi kini hatinya meragukan keputusan itu.


'Gimana kalau aku tidak bisa mencintai Haikal?' tanyanya pada diri sendiri.


Pukul sembilan tepat, ustaz Adi pulang membawa amplop cokelat. Di sana akan tertera nilai dan keterangan lulus atau tidaknya. Sejak tadi pagi, Fatimah berada di tempat sholat. Ia berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ya Allah."


Ustaz Adi dan umi Afin berjalan masuk. Keduanya tersenyum berbinar. Mendengar suara uminya itu Fatimah melepas mukena dan berjalan ke depan.


"Gimana, Bah? Apa Fatimah lulus?" tanyanya penasaran.


"Alhamdulillah, nduk. Lulus. Bahkan, nih lihat." Umi Afin mengangsurkan sebuah piagam ke tangan Fatimah. Piagam lulusan terbaik. Peringkat satu paralel.


Fatimah melakukan sujud syukur. Air matanya tumpah ke tanah. Rasa bahagia dan syukur memenuhi hatinya.


"Barakallah ya, Tim," kata ustaz Adi sembari mengelus ujung kepala anaknya. Ia bangga kepada anaknya. Meski di balik itu ia tetap saja bersedih karena dengan kelulusan ini, berarti Fatimah akan segera hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikannya.


Ustaz Adi dan umi Afin sebenarnya salah menduga anaknya itu tetap berhubugna dengan Gus Ali di Surabaya. Mereka mengira Fatimah memilih universitas setelah berdiskusi dengan Gus Ali, calon suaminya.


"Kapan pengumuman awal kegiatan di kampus, Tim?" tanya ustaz Adi serius. Ia ingin memastikan kalau Fatimah akan baik-baik saja di Surabaya nanti.


"Bulan sepuluh, Bah. Insyaallah nanti satu fakultas sama Mega," terang Fatimah meski dirinya sendiri merasa ada yang kurang di balik kebahagiaannya.


Waktu terus berjalan, tak terasa senja telah datang. Hari ini adalah hari dimana Fatimah akan dilamar Haikal. Fatimah duduk gelisah di pinggir dipannya, ia berusaha tenang. Tapi tidak berhasil.


"Gus, panjenengan kemana? Kok nggak ada kabarnya sama sekali? Apa panjenengan sehat? Apa panjenengan sudah lupa janji padaku?"


Tanpa sadar mata Fatimah yang telah dirias mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar galau jika memikirkan Gus Ali yang menghilang tiba-tiba.


Dengan tangan gemetar, Fatimah meraih gawainya. Ia benar-benar tidak tahan. Ia akan menanyakan langsung pada Gus Ali. Barangkali ia juga akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Perasaan gelisah dan gundah sejak kepergian Gus Ali.


'Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif.' Sekali lagi Fatimah mencoba menghubungi Gus Ali. Hatinya benar-benar tidak tenang sekaligus takut dengan acara lamaran yang sebentar lagi akan terjadi.


Sementara itu, fokus Gus Ali terpecah karena mencari bahan untuk metode mengajar di kelas. Ia bahkan melupakan hari lamarannya. Handphonenya masih di tempat servis, membuat ia tak bisa dihubungi. Bahkan oleh Pak Kyai sendiri.


"Pripun Niki, Gus? Ali dereng dugi, mpun wekdalipun?" tanya Ning Faza resah. Sedangkan suaminya masih terdiam. Laki-laki tidak akan banyak bersuara ketika berpikir.


"Kita tetap berangkat saja, biar aku yang bilang kalau Ali tidak bisa datang."


Gus Badar menatap pintu kamar Pak Kyai yang belum terbuka. Lelaki yang sudah sepuh itu pasti juga bingung memikirkan acara hari ini. Hanya saja dia tak banyak bercerita. Lelaki memang lebih suka menanggung dukanya sendiri.


"Gimana, Gus? Apa saya bilang Abah?" tanya Ning Faza lagi. Gus Badar memberi tanda agar dirinya saja yang berbicara dengan Pak Kyai.


Dengan ragu, Gus Badar mengetuk pintu kamar Pak Kyai. Setelah dipersilakan masuk, ia segera masuk dengan setengah membungkuk. Memasuki kamar orang yang lebih tua harus mengedepankan adab.


"Pripun Niki, Bah? Ali dereng dugi."


Gus Badar melihat dengan mata kepalanya sendiri, ayah mertuanya itu menghirup napas dalam. Sepertinya beban ini sangat berat bagi Pak Kyai. Gus Badar hanya tidak ingin beban pikiran itu memicu serangan jantung bagi Pak Kyai.


"Piye penak e, Dar? Opo diundur?" tanya Pak Kyai sembari membalikkan badan pada anak menantunya.


"Ngapunten, Bah. Lekne diundur tanpa konfirmasi ke besan, apa tidak bikin curiga?" tanya Gus Badar hati-hati.


Pak Kyai yang sudah tidak kuat berpikir terlalu berat tidak ingin berdebat. Jika apa yang dipikir mantunya itu baik, maka Pak Kyai turut saja.


"Penak e piye?"


"Pripun lekne Kulo wakili kemawon?"


"Iyo wes, aku melok Kowe ae."


Akhirnya Pak Kyai sepakat. Ia keluar dari kamar. Acara lamaran yang rencananya memboyong seluruh keluarga besar itu diatur ulang. Beberapa tetangga dan saudara yang belum datang dikabari untuk turut saat acara pernikahan saja. Karena lamaran ini akan dilaksanakan sederhana saja.


Bakda isya, rombongan Pak Kyai yang terdiri dari delapan orang tiba di rumah sederhana ustaz Adi. Mereka disambut dengan hangat meski di dalam hati kedua orang tua Fatimah mempertanyakan keberadaan calon suami Fatimah yang tidak nampak.


Sementara Fatimah sudah bersiap di kamar. Hatinya masih belum membaik. Rasa rindu dan bertanya-tanya kepada Gus Ali bertumbuh menjadi kesal dan benci. Ia merasa dirinya tidak berarti bagi ustaz yang dulu sangat ia kagumi itu.


'Kalau nanti kita ketemu, aku tidak akan menegurmu, Gus. Biar saja kita menjadi orang asing,' bisik Fatimah pada dirinya.


Sepanjang acara, Fatimah memilih menunduk. Haikal yang ia pikir calon suaminya duduk di samping Gus Badar. Fatimah tidak fokus sama sekali, ia bahkan tak mendengar saat nama Gus Ali Nur Hidayat disebutkan sebagai calon suaminya.


Yang Fatimah sadari saat ini adalah hatinya yang compang-camping. Seluruh perasaan rindu dan kagumnya berubah menjadi benci, kesal, dan kecewa.


Kedua orang tua Fatimah sebenarnya menyadari perubahan wajah anaknya, tapi keduanya tidak mungkin menegur putrinya saat acara sedang berlangsung.


Pukul 21. 00, keluarga Gus Ali pulang meninggalkan tempat. Fatimah masih menunduk dengan raut tidak bahagianya. Membuat kedua orang tuanya khawatir.


"Apa kamu tidak senang dengan perjodohan ini?" tanya umi Afin sembari memegang sebuah kalung dan cincin yang dijadikan peningset.


Fatimah yang tak ingin kedua orang tuanya cemas, langsung memasang senyum. Ia menggeleng. Menutupi segala perasaannya yang tidak karuan.


"Fatimah bahagia, umi. Apalagi calon suami Fatimah adalah laki-laki yang sekufu dan insyaallah Sholeh."


Umi Afin memeluk putrinya. Ia merasa ada sesuatu yang ditutupi Fatimah. Tapi ia tidak boleh memaksakan kehendak. Umi Afin hanya berpikir kalau Fatimah kecewa karena Gus Ali tidak ikut datang.


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.

__ADS_1


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏


__ADS_2