
Setelah makan bersama Gus Jaka dan Ning Rere di dalam mall, Mega meminta izin untuk ke kamar mandi. Tentu saja Ning Rere tersenyum.
"Iya, Meg. Nggak usah izin juga nggak apa-apa, kok." Ning Rere menyipitkan matanya. Berakting sinis tapi wajahnya yang lembut sangat tidak cocok.
Mega berdiri lalu berjalan ke kamar kecil. Tadi ia terlalu banyak minum air putih, sehingga sekarang ia perlu mengosongkan kandung kemih.
Setelah kepergian Mega ke toilet, baru Gus Jaka menatap sang istri dengan tajam dan serius.
"Anti jangan berharap lebih, Re. Ana tidak tertarik sama sekali dengan gadis yang anti bawa," ujar Gus Jaka.
"Kok tumben?" tanya Ning Rere membuat suaminya melebarkan mata.
"Kok tumben Mas nggak tertarik sama wanita yang ana bawa? Bukannya sebelum ini Mas tertarik sama wanita yang ana bawa," lanjut Ning Rere. Gus Jaka terhenyak dengan pengakuan istrinya itu.
Ingatannya langsung berlari ke beberapa pertemuan yang terjadi. Sama seperti ini, Ning Rere mengajak wanita itu bersama suaminya agar Gus Jaka menilai calon istri keduanya.
Jika sebelumnya Gus Jaka mengaku tertarik dengan wanita pilihan istrinya, kali ini ia sendiri langsung mengatakan sama sekali tidak berkenan dengan Mega meski wanita itu bercadar.
"Sudah, Re. Mas lelah mencoba membuka hati. Jangan turuti nafsu anti untuk mencari wanita lain. Ana sangat terluka." Mata Gus Jaka meredup.
Lelaki yang kini menginjak usia tiga puluh tahun itu terlihat menahan rasa sesak di dadanya. Siapa yang tidak sakit jika diminta menduakan cinta? Masalah anak, Gus Jaka sudah sangat pasrah kepada Allah.
Barangkali ia memang ditakdirkan demikian. Sedangkan istrinya itu juga tidak mau mengalahkan egonya. Ning Rere mengembuskan napas dalam.
Hatinya tidak pernah ragu dalam melangkah atau berbicara. Ia sudah sangat mantap menginginkan perempuan lain di samping suaminya. Ia sudah ridho. Ning Rere tidak akan patah semangat mencarikan wanita yang bisa memberikan keturunan kepada suaminya.
"Mas, percayalah yang ana lakukan ini hanya demi mencari ridho antum. Ana sama sekali tidak keberatan dan siap lahir batin jika Mas Jaka memiliki istri lagi." Ning Rere baru akan mengatakan lebih detail perasaannya, ketika dua laki-laki datang ke meja mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Gus." Gus Ali yang kebetulan juga sedang di mall menyalimi takzim kepada Gus Jaka yang notabene pernah nyantri di Ngantang.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, nggak nyangka bertemu antum di sini." Gus Jaka salah tingkah ketika bertemu Gus Ali. Mengingat keduanya dulu pernah bertengkar hebat di dalam pondok karena Gus Jaka tidak mengaku bahwa dirinya seorang Gus.
"Ning," Gus Ali mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Waktu pernikahan antum, ana datang terlambat. Katanya pengantin sudah masuk kamar."
__ADS_1
Keduanya tertawa berdua. Membiarkan Ning Rere dan Dika yang membersamai Gus Ali hanya terdiam.
"Antum ini membuat ana malu saja." Gus Ali menimpali dengan ringan. Ia sampai lupa mengenalkan Dika yang bersamanya.
Untung saja Gus Jaka memperhatikannya. Lalu menanyakan lelaki yang bersama Gus Ali.
"Ini kadhamah antum tah?"
"Bukan, dia mahasiswa sekaligus sepupu dari istri." Gus Ali mengenalkan Dika.
Dika hanya bersalaman. Sikapnya yang begitu membuat Gus Jaka menyadari jika lelaki itu bukan dari lingkungan pesantren.
"Gimana, sudah ada kabar baik?" tanya Gus Jaka bermaksud menanyakan istri Gus Ali sudah hamil atau belum.
"Mohon doanya saja, Gus." Gus Ali menjawabnya santai. Ia tak bertanya balik, melainkan mencoba membahas hal lain.
Keberadaan Ning Rere di sana adalah alasannya tidak membahas momongan. Gus Ali sudah mengetahui jika Gus Jaka dan Ning Rere sedang menjalani ujian penantian momongan.
Bahkan Gus Ali sempat mendengar jika Ning Rere berusaha mencari madu yang bisa memberikan keturunan pada suaminya. Padahal menurut Gus Ali, itu langkah yang menyakiti dirinya sendiri. Gus Ali berharap tidak pernah berada di posisi sesulit itu.
Lama berbincang, Mega berjalan kembali ke meja. Melihat keberadaan Gus Ali dan Dika, Mega terkejut. Tapi ia tetap bergerak duduk di samping Ning Rere.
Keberadaan Mega itu juga membuat Gus Ali terperangah. Nalurinya langsung berpikir jauh. Jangan-jangan Mega adalah kandidat yang akan menjadi madu dari Ning Rere?
Tiba-tiba Gus Ali merasa tidak nyaman berada di sini lama-lama. Apalagi melihat kedekatan Mega dengan Ning Rere, Gus Ali merasa semakin lama dia di sini, pikirannya semakin tidak tenang.
"Yasudah, Gus. Ana dan Dika harus kembali ke kampus karena ada jam." Gus Ali berdiri dari tempatnya.
Dika yang mendengar alasan tidak masuk akal Gus Ali, adalah rekaan saja. Mereka tidak sedang diburu waktu. Atau sebenarnya Dika mulai merasa risih jika Mega ada bersama sepasang suami istri itu?
Walau tidak tahu banyak tentang sepasang suami istri itu, Dika merasa Mega dalam bahaya.
Apalagi Gus Jaka tampan dan putih. Gadis seperti Mega yang sempat tergila-gila dengan Gus Ali yang menurutnya tidak lebih tampan dari Gus Jaka itu tidak mungkin tahan tidak naksir pria itu.
Walau sedetik kemudian Dika sadar jika Mega pasti tahu jika Gus Jaka telah beristri. Dika sedikit tenang mengetahui itu.
__ADS_1
"Tidak ada jam, Gus, ...."
"Ada, Dik."
Akhirnya Dika berjalan mengikuti langkah Gus Ali. Ia sempat dilema karena ia takut Mega kenapa-napa di sini, tapi ia juga tidak bisa berpisah dengan Gus Ali. Karena ia telah berkata ingin membersamai Gus Ali agar mendapat pelajaran.
Setelah berjalan agak jauh dari meja itu, Dika melihat wajah Gus Ali yang tidak tenang. Seperti ada yang dipikirkan oleh suami dari Fatimah itu.
"Gus, sepertinya ada yang antum pikirkan?" tanya Dika setelah keduanya berada di basement mall.
Bahkan Dika tidak habis pikir karena mereka belum juga ke supermarket untuk berbelanja seperti tujuan awalnya.
"Iya, Dik."
"Apa, Gus? Barangkali ana bisa membantu."
Gus Ali segera masuk ke dalam mobil. Ia mendesah pelan. Hatinya tidak tenang. Ia juga ragu untuk mengatakannya. Melihat Mega yang begitu dekat dengan Ning Rere, Gus Ali bingung mengatakannya.
"Ana harus bagaimana, Dik?" tanya Gus Ali terlihat wajahnya semakin kusut.
"Ada masalah apa, Gus?" Dika ikut cemas walau belum mengetahui duduk perkaranya.
"Mega, Dik."
Saat nama itu disebut, ada getaran aneh di dalam hati Dika. Seolah ia juga sangat cemas pada gadis itu.
"Ada apa, Gus?" Alih-alih mengatakan kalau Dika juga takut jika Mega menyukai suami orang, Dika malah menanyakan lagi apa yang sebenarnya Gus Ali risaukan tentang Mega.
"Ana ngerasa Mega akan dinikahi Gus Jaka dan dijadikan istri kedua," ungkap Gus Ali terlihat sangat tegang.
"Apa? Jadi benar Mega akan dinikahi Gus Jaka itu?" Wajah Dika memerah karena emosi.
"Nggak bisa dibiarkan, Gus. Ana harus ngasih tahu Mega kalau dia diincar Gus Jaka." Dika segera keluar dari mobil, tapi untungnya Gus Ali bisa mencegah Dika.
"Dika, jangan gegabah. Ingat mereka itu Gus dan Ning. Lagipula poligami itu boleh. Antum jangan lupa, antum bukan siapa-siapanya Mega." Gus Ali menasehati dengan tegas. Walau ia tahu kalimat terakhirnya membuat mata Dika meredup.
__ADS_1