
Gus Ali menelan saliva. Matanya menunduk tak berani memandang wajah sepasang suami istri di depannya.
"Abah kok nggak langsung nolak?" bisik Gus Ali kepada Abahnya.
"Lha kamu tak kongkon ndang ngrabi Fatimah yo gak gelem kok," balas Pak Kyai dengan wajah puas mengerjai anaknya.
Kali ini Gus Ali benar-benar kepepet. Apalagi di depan rumah juga ada orang tua Fatimah. Gus Ali harus memeras otaknya. Mencari cara agar penolakannya tidak membuat tersinggung tamu-tamunya.
"Ngapunten bapak, ibu. Sebenarnya saya sudah punya calon."
Gus Ali berusaha memasang senyum. Giginya terasa kering karena sejak tadi memaksa tersenyum.
"Lho, masak? Kan belum lamaran? Tolong dipertimbangkan Mega, Anak kami yang baik, pinter, dan tidak sombong," ujar Pak Anton.
Masih berusaha menggoyahkan keputusan Gus Ali. Sedangkan Gus Ali hanya bisa menunduk tak berdaya. Sangat berharap dibantu Abahnya, tapi melihat wajah datar Abahnya itu seolah bahagia kalau Gus Ali dalam situasi yang seperti ini.
"Ngapunten sanget, ibu, bapak. Saya sebenarnya sudah memiliki calon. Yang insyaallah bulan depan saya lamar."
Gus Ali terpaksa berkata demikian karena tidj mungkin mengatakan kalau Gus Ali sudah melamar Fatimah sejak kecil. Bisa-bisa kedua orang tua Mega berpikir Pak Kyai memang mempermainkan mereka.
"Pa, gimana nih? Bisa-bisa Mega ngambek kalau nggak nikah sama ustaz ganteng itu." Ibu Anton nampak mendesak Pak Anton untuk terus berusaha memuluskan keinginan anak mereka.
"Gimana ya, Gus, Pak Kyai. Kami ini benar-benar ingin punya mantu seperti Gus Ali ini, agar bisa merubah Mega." Pak Anton terlihat bingung membujuk Gus Ali agar menerima lamarannya.
"Ngapunten sanget, Bapak, ibu, ini di depan ada calon mertua saya, mau ngomongin lamaran." Gus Ali menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Ternyata begini rasanya menolak lamaran orang yang menginginkannya. Tiba-tiba dada Gus Ali gerimis. Mungkin Pak Kyai selama ini juga tidak enak menolak lamaran yang datang untuknya. Walau umumnya laki-laki yang melamar, untuk mendapatkan mantu idaman seperti Gus Ali adalah hal yang bisa diterima.
Mungkin ini pula yang membuat Pak Kyai ingin segera menikahkan Gus Ali dengan Fatimah.
"Astaghfirullahalladzim. Maaf ya Gus, Pak Kyai. Kami berdua sampai lupa kalau kami ini tamu, tidak seharusnya memaksa."
"Tidak apa-apa, Pak, Bu," jawab Pak Kyai dengan senyum sumringah. Gus Ali bahkan belum pernah melihat senyum Abahnya seperti ini. Apa jangan-jangan ini karena Gus Ali berkata akan melamar Fatimah?
Gus Ali terdiam dengan pikirannya sendiri. Bayangannya ingin mengajak berkelana jauh. Tapi dengan segera ia menolak.
"Kami ini orang tua yang gagal, anak kami satu-satunya menjadi anak yang manja dan apa yang diinginkannya harus dituruti." Pak Anton akhirnya bercerita banyak tentang putrinya.
Meski Gus Ali hanya menanggapi sekilas. Dia menggeleng samar. Tadi saat mengajukan Mega Ayahnya Mega berkata Mega anak baik, tapi sekarang ayahnya itu berkata kalau Mega anak manja.
__ADS_1
"Ya jangan dituruti, biar belajar. Meski sudah terlanjur watak, ya biar belajar kalau nggak semua keinginan akan terwujud tanpa ikhtiar dan doa." Pak Kyai menanggapi.
Nasehat Pak Kyai juga masuk ke dalam hati Gus Ali. Menjadi ilmu baru untuknya yang kelak menjadi seorang ayah. Haduh, melamar saja Gus Ali belum berani. Kok sudah berpikir jauh. Pikirnya saling beradu pendapat.
Kedua orang tua di depan Pak Kyai hanya manggut-manggut. Setelah memberi wejangan dan saran, Pak Kyai terdiam. Berharap tamunya itu segera pulang.
Meski ia tahu kalau tindakan ini tidak benar. Tapi sangat bagus untuk kelanjutan dari keseriusan Gus Ali berkata akan melamar Fatimah sebulan lagi.
"Ya sudah Pak Kyai, kami mohon undur diri. Semoga acara lamaran Gus Ali berjalan lancar. Kami juga akan berusaha memberi pengertian kepada Mega kalau cinta tidak bisa dipaksakan." Kalimat Pak Anton disambut bahagia Pak Kyai.
"Pareng, Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Setelah dua orang itu menghilang di balik pintu, Pak Kyai segera menagih ucapan Gus Ali tadi.
"Jadi wes manteb sewulan lagi lamaran?"
"E, e, anu, Bah. Tadi cuma alasan," kilah Gus Ali menggaruk tengkuknya.
"Opo? Sejak kapan anakku pinter ngapusi?"
Pak Kyai melepas sorbannya lalu memukulkan kain putih itu ke tubuh anaknya dengan geram. Bagaimana jadinya kalau laki-laki seperti Gus Ali pandai bersilat lidah?
"Neng ngendi akhlakmu, Li? Iso-isone Kowe ngapusi neng ngarep e abahmu?"
"Ampun, Bah. Ampun."
Sementara itu, Pak Anton dan Bu Anton keluar dari ruangan dan melihat dua orang di depan ndalem.
"Oh, niki calon besan e Pak Kyai," ujar Pak Anton menyalami ustaz Adi dan menangkupkan tangan kepada umi Afin.
Sedangkan kedua orang tua Fatimah itu hanya bisa melongo. Terutama umi Afin yang baru tahu semalam tentang perjodohan Fatimah dengan Ali.
Keduanya hanya bisa tersenyum canggung. Setelah Pak Anton dan Bu Anton berlalu, ustaz Adi dan umi Afin berjalan masuk ke ndalem.
Mereka disambut pemandangan yang tidak biasa. Gus Ali meringkukkan badan karena dipukul dengan sorban oleh Abahnya. Berkali-kali Gus Ali memohon ampun, tapi Pak Kyai belum menghentikan aksinya.
"Ampun opo, Kowe wes salah, kok."
__ADS_1
Kedua orang di ambang pintu ingin mengucap salam. Tapi juga ragu karena melihat datang di saat yang tidak tepat.
"Assalamualaikum ustaz Adi, dan umi Afin." Suara Gus Ali itu berhasil menghentikan hukuman Pak Kyai padanya.
Kini Pak Kyai menyadari ada orang lain di rumahnya. Ia segera mengenakan kembali sorbannya lalu melepaskan Gus Ali.
"Ono opo, ustaz? Tumben kesini sama istri?" Pak Kyai kembali duduk di tempatnya.
Kedua tamunya telah duduk sempurna di kursi sofa. Begitupun Gus Ali yang akhirnya terbebas dadi hukuman menyakitkan itu.
"Niki, Pak Kyai. Anu, ...." Ustaz Adi menoleh ke arah istrinya. Sebenarnya kedatangan mereka ke ndalem adalah untuk sowan selain itu untuk mengkonfirmasi perkataan ustaz Adi tentang perjodohan Fatimah dan Ali.
"Ngapunten Pak Kyai, dalem ajenge tanglet tentang perjodohan Gus Ali kalih Fatimah, niku leres nopo mboten?" Umi Afin akhirnya memberanikan diri bertanya tentang hal yang mengganjal di hati.
"Iyo, aku pengen Ali rabi karo Fatimah," balas Pak Kyai sembari menerawang malam itu. Malam dimana Gus Ali kecil mengatakan mimpinya.
"Ali iku mimpi yen jodone bernama Siti Fatimah, punya kembaran yang sudah tiada sejak bayi."
Mendengar cerita itu, umi Afin segera teringat bayi mungil yang tujuh belas tahun lalu lahir dengan kulit telah memucat. Air matanya sulit ditahan jika teringat saat itu.
"Lha aku ndelok dengan mata batin, Fatimah iku anakmu," jelas Pak Kyai kepada ustaz Adi.
Sedangkan Gus Ali masih terdiam di tempatnya. Mungkin memang belum saatnya dia berbicara. Tapi mendengar cerita Abahnya itu, sekilas Gus Ali masih ingat mimpinya itu.
"Ngene, Ali iku kan piatu. Aku yo wis tuwo, aku pengen Ali ndang rabi. Ustaz Adi yo iso bantu ngelengne yen Ali salah," ucap Pak Kyai lagi.
Kali ini Gus Ali menunduk. Merasakan ada aura duka di dalam hati Abahnya. Tak mengira jika sang Abah berpikir sejauh itu. Mengingat kematian adalah hal yang pasti.
"Lha dua orang tadi mau melamar Ali untuk anaknya, Ali njawab ga iso nerimo mergo ulan ngarep kate ngelamar Fatimah."
Ucapan terakhir Pak Kyai berhasil membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak. Kaget dengan keputusan itu. Bahkan Gus Ali juga terkejut Abahnya mengatakan begitu.
Padahal sejak dipukul dengan sorban tadi, Gus Ali berpikir lamaran itu tidak akan terjadi. Gus Ali ingin protes tapi melihat reaksi kedua orang tua Fatimah, Gus Ali mengurungkan niatnya.
"Jadi gimana?"
"Bulan depan, Pak Kyai?" tanya umi Afin tidak percaya. Tak lama kemudian ibu yang melahirkan Fatimah itu sempoyongan dan pingsan di tempat.
Semua terkejut, Gus Ali segera meraih minyak kayu putih di kotak obat dan memberikannya kepada ustaz Adi untuk membangunkan umi Afin.
__ADS_1